expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 22 April 2014

Menggendut dan instagram.

Sepertinya orang stres itu kemungkinannya cuma ada dua: kalo nggak menggendut, ya mengurus (EYD-nya udah bener belum ya). Tapi sepertinya menggendut yang tepat buat saya, soalnya akhir-akhir ini dan sepertinya untuk beberapa waktu ke depan saya rajin mengemil. Apa saja dicemilin. Dan timbangan pun menunjukkan angka berkepala tujuh,, rrrr..
Lucunya, saya punya partner in crime untuk masalah ngemil-mengemil. Sebut saja Icha, 24 tahun. Teman saya yang baru pulang dari negeri samurai ini doyan banget ngemil. Hahahah..merasa ada teman sependeritaan (apanya yang menderita). Ngemil itu bukan dosa :P Yeah, Icha rajin mengirim foto-foto masakan dan makanan yang seru-seru. Mau nggak mau saya sering merasa lapar. Nggak apa-apalah. Kalo urusan referensi makanan unik dan bernilai sejarah warisan ada tetangga blog saya (hehehe), nah kalo referensi makanan yg tampilan menarik mungkin Icha jagonya. Gantian deh saya balas dengan mengirim makanan-makanan yang sepertinya biasa aja seperti risol, lontong, serba gorengan. Percakapan yang terhubung jadinya kocak sih, selalu dalam kerangka berpikir "makanan/cemilan" bhahaha.. Ternyata hidup ini lucu. Tak cukup berteman dengan tetangga blog saya, dimana saya dan dia selalu terhubung dalam kerangka berpikir "budaya". Budaya,,wisata,,bhahaha *mabok.
Yeah,, jaman makin canggih. Apa-apa di-instagram-in. Diburek-burekin, dikasih frame, dibuat terasa tempo doeloe, seakan-akan bersejarah *eh, dan jadinya tampak elegan. Kebetulan saya adalah pendatang baru yang lagi doyan maenan instagram. Lama-lama saya mikir kenapa foto mesti dipalsukan dengan efek-efek ya?? Ya supaya bagus lah. Dan lama-lama, saya merasa bahwa tanpa filter sejatinya lebih baik. Hanya foto. Efek hanya pemanis, bukan esensi (halah..) Dan kemudian saya jadi malas buka twitter (biasanya rajin liat berita terbaru), malah seneng buka instagram. Dasar, anak sok gahul (note to myself :P). Dan punya instagram memang bikin gendut. Yang difollow malah instagram makanan..cemilan.. rrrrrr....

Senin, 31 Maret 2014

Meet up PARE at Botani

Kakak kelas kami, Doddy, sedang kembali ke tanah air. Saatnya alumni PARE kembali berkumpul! *bacanya pare ala logat inggris ya bukan dibaca pare sayuran :D. Alhamdulilah, beruntung kami semua sedang kumpul di kota hujan Bogor, jadilah Botani Square sebagai venue kami untuk meet up.
Seakan udah seabad nggak ketemu, tempat kumpul kami serasa milik kami aja, hehe. Berisik seru! Gimana nggak, Kak Doddy adalah guide setia kami - kontingen asal Indonesia - saat berkunjung ke Sapporo tahun lalu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu tulisan-tulisan Jepang, hehehe. *saya cuma tahu huruf 'no' yg mirip huruf 'e'.. wkwkwk* Kak Doddy juga yang jadi konselor halal kami selama mencari makan dan jajan di Sapporo. Tempat-tempat seru di sana dia juga yang menjelaskan kepada kami dengan senang hati. Always highways, begitu sih motto hidup dia, ahahaha.. Topik obrolan kami (dan nggak ada bosan-bosannya) adalah seputar perkembangan teman-teman PARE kami yang makin seru aja. Tak lupa kedodolan kami selama di sana: diungkit-ungkit lagi tanpa ampun. Dikupas semua secara tajam, setajam golok. Bahahaha.

Tiga jam ngobrol memang nggak kerasa. Banyak banget yang pengen diobrolin. Alamat bakal diusir Botani kalo ga pergi-pergi. Akhirnya, sesaat setelah Tara, temen Sapu dateng, kami langsung pamit pulang. Kak Doddy juga harus kembali ke Jepang. Pertemuan yang amat singkat di tengah-tengah kesibukan kami (sibuk nggak sibuk sih kalo aku, asal timing-nya bisa mah ayok aja hehe). Temen-temenku yang lain aku juga salut: masih menyempatkan untuk bisa kumpul. Yeah, berkumpul adalah obat mujarab untuk pembangkit mood.
Semoga ada kumpul-kumpul PARE lagi yang lebih seru :-)

Haik chiizuu! Tawakiki smile please! :D



Taman Mini

Liburan singkat kemarin saya bikin taman mini. Bukan Taman Mini Indonesia Indah ya..haha. Ini adalah taman mini dalam artian sebenarnya. Bener-bener mini. Ceritanya rumah kakak halamannya mau didesain ulang. Jadilah saya iseng bikin konsep. Konsepnya sih healthy-natural-minimalist *konsep ngarang-ngarang :P.

Bahan-bahannya adalah:
1) batu koral tabur ukuran sedang (Rp 30.000-40.000/karung);
2) rumput gajah mini (Rp 25.000 per meter)
3) lili paris (Rp 1500/polibag)
4) ophiopogon (Rp 1000/polibag)

Cara membuatnya adalah: ratakan permukaan tanah, lalu tanam lempeng rumput gajah mini dengan jarak 10-15 cm. Untuk area yang akan ditaburi batu, padatkan dulu tanahnya lalu isi dengan pasir setebal 5-10 cm. Padatkan lagi. Tabur deh dengan batu. Perhatikan drainase-nya ya. Drainase ini penting untuk membuang kelebihan air saat hujan ataupun lagi nyiram halaman. Kebetulan area yang akan diisi batu adalah pijakan tangga serta area di bawah teritisan.
Lalu tanamlah lili paris dan ophiopogon sebagai border. Jangan lupa disiram. Beri pupuk kompos, atau air bekas cucian air hujan kalo males beli. Voila... this is it.. Jadi deh taman mini-nya. Bisa buat refleksi lho, atau buat nimpuk orang, hahahaha.. Jalan-jalan aja di atas batu sampe bosen kalo lagi ga ada kerjaan. Gas di rumah lagi habis padahal pengen masak? Bisa bikin api lho ala-ala anak pramuka, adu aja batunya + ranting kering, hihi :D
Selamat mencoba.

Tahap persiapan. Siapkan lahan yang akan ditanam. Ratakan permukaan tanah.

Padatkan tanah pada area yang akan ditaburi batu. Tambahkan pasir lalu taburkan batu. Jangan lupa drainasenya. Bisa pakai paralon diameter kecil untuk buang kelebihan air yang selanjutnya dialirkan ke pembuangan air. Sisa lahan lalu ditanami rumput gajah mini.

Voila, this is it. Taman mininya jadi deh. Budgetnya emang mahal di batunya sih. Kalo tanaman mah murah kok. 

Kamis, 27 Maret 2014

Politik?

Banyak yang berpendapat kalau politik itu kotor. Yaudah, rendem,,, terus kucek,,, jemur :D Sebenarnya pikiran kaya gitu yang selama ini bikin kita terstigma bahwa politik itu kotor. Banyak hal di dalam kehidupan yang kita dapat sebagai dampak dari kegiatan politik. Misalnya, kebijakan untuk beasiswa atau BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Siapa coba yang merumuskan kebijakan beasiswa untuk sekolah kalau bukan para pejabat yang duduk di pemerintahan? Apa tau-tau turun dari langit begitu tringg.. Tentu ndak begitu pemirsa, hehe. Ada politik yang berperan disitu. 
Kemudian terkait jaminan kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ya itu juga hasil dari politik juga. Bikin KTP? Ngurus surat-surat, paspor segala macam. Sebenarnya itu juga politik karena terkait dengan pemerintah asing. Naik pesawat terbang kalau nggak ada perjanjian politik nggak boleh tuh mendarat seenaknya. Misal: saya mau umrah terus kalau kedua belah pihak pemerintah nggak sepakat membuka hubungan diplomatik ya nggak bakal bisa mendarat di bandara sana :D

Yeah, tahun ini (katanya) adalah tahun 'panas' karena masyarakat Indonesia akan melangsungkan pemilihan umum. Sedihnya, banyak teman mahasiswa saya yang notabene sudah mengenyam bangku pendidikan yang cukup baik malah memilih untuk golput, alias golongan putih (putih putih melati alibaba.. merah merah delima pinokio..)
"Semua partai sama aja, korup semua."
"Nggak ngefek milih kok, hidup tetap berjalan.." dan sejumlah alasan-alasan lain mereka kemukakan.

Konsekuensi hidup di negara demokrasi yang berbentuk republik seperti Indonesia ini, akan berdampak pada mekanisme perpolitikan melalui keberadaan sejumlah partai. Tidak ada partai yang tidak korup, begitu asumsi saat ini. Semua partai maupun caleg hanya ngincer duit, ibarat kata kasarnya seperti itu. Yah, tiap hari berita di media massa tiada bosannya melaporkan kasus korupsi. Sampe bosan dah nontonnya.

Saya barangkali beruntung sempat nyicip dunia perpolitikan kampus. Sedikit banyak jadi tahu bagaimana mekanisme pemilihan ketua senat (voting, atau musyawarah, bagian dari perpolitikan), mengevaluasi anggaran dari para himpunan profesi (budgeting, bagian politik juga), bermusyawarah dengan teman-teman dari lembaga lain (politik juga,,). Sempet mengalami juga namanya intrik dan tipu muslihat: saat pemilihan presiden mahasiswa. Black campaign. Representasi Indonesia dalam wujud kehidupan kampus.

Ngomongin politik ngeri banget ya..hehe

Tapi ya itu. Politik yang sekarang dipahami oleh banyak orang hanyalah politik praktis: yang tampak saja. Coba kamu perhatikan, saat kamu di rumah misalnya, merembukkan destinasi jalan-jalan bersama keluarga juga bagian dari politik lho.
"Pa, saya nggak mau ke pantai,, saya mau udara yang segar," kata anak yang satu.
"Pa, saya nggak mau ke gunung, saya pasti kedinginan," kata anak yang lain.
"Pa, Mama nggak mau yang jauh-jauh, nanti capek," Mama turun bicara.
"Yasudah, kita jalan-jalan ke taman kota saja yuk. Dekat dari rumah, udaranya segar, yang pasti juga ga capek," ujar sang Ayah bijak mengakhiri sesi 'lobi politik' bersama anggota keluarganya. Bayangkan, apabila si Mama itu nggak ikut serta dalam lobi tersebut. Apatis.

Nah lho. Politik lagi. 

Udah pada ambil kuliah statistik kan ya? Hehe,, Pasti kamu bisa menilai setiap partai dengan beberapa variabel yang nantinya bisa dipilih mana partai yang sesuai dengan kriteria. Apapun bisa kamu buat menjadi variabel untuk menilai. Pastilah ada partai yang memiliki nilai yang tinggi dong.

Jadi, buat kalian warganegara Indonesia, seharusnya ikut berpartisipasi dengan memilih wakil ralyat untuk duduk di pemerintahan. Kalau kamu apatis, masa bodoh, cuek, golput,,,sebenarnya bisa dipertanyakan status kewarganegaraanmu. Kamu itu WNI atau bukan sih? Jangan-jangan warga planet Mars, hehe... Udah saatnya kita lebih terbuka wawasan dan pikiran.. Banyak baca dan menganalisis informasi. 

"Trus kalo saya milih partai X trus kalah gimana dong? Aspirasi saya gimana? Rugi juga kan jadinya.."
Weits,, lumrah banget seperti itu. Menurutku, dengan masyarakat berjuta-juta kayak gini, peluang dan kombinasi yang muncul mutlak terjadi. Setidaknya dengan berusaha mencari tahu informasi yang benar, kita akan punya dasar untuk memilih partai apa. Gitu. Milih partai aja belum tentu menang, apalagi nggak milih? Sama kaya pakai helm aja mungkin masih mengalami kecelakaan apalagi nggak pakai helm?

Jadi, say no to golput ya :D

soundcloud dan arti mendengarkan

Beberapa teman artis saya di Tengtong Family 43 menyukai soundcloud. Saya mengartikannya sebagai 'suara awan', haha. Nggak minat awalnya dan nggak pernah buka juga itu yang namanya soundcloud. Tetapi saat saya iseng membuka soundcloud teman-teman artis saya itu, saya langsung suka. Lagu yang antimainstream menurut saya. Bagus. Easy listening. Mengingatkan saya pada koleksi kaset jadul Bapak yang ada di almari ruang tamu di rumah. Bapak suka Koes Plus,Teti Kadi, Ebiet, dan artis-artis Indonesia lama lain (saya enggak hapal). Saya menyebut lagu-lagu Koes Plus dan teman-temannya sebagai lagu abadi - legenda.  Bapak dan Mama otomatis mendendangkannya saat stasiun radio tengah memutar koleksi lagu lama.

Mendengarkan memang menyenangkan. Mengapa saya baru menyadarinya ya? Ternyata lewat lagu-lagu yang teman saya mainkan, saya bisa melamun panjang dan berangan-angan. Saya tinggal klik-klik ikon 'play' saja di soundcloud. Selain lagu, bisa juga ternyata ya mengunggah cerita di soundcloud. Mbak Ika, teman artis saya, mengunggah cerita tentang anak berkebutuhan khusus yang mengalami sindrom Down (tuna grahita). Bagus lho. Meski saya tak tahu seperti apa videonya, tetapi cukup mendengarkan saya bisa merasakan dan meresapinya *jjiaah.. Berkat Mbak Ika, saya jadi bisa tau lagu Indonesia jadul, haha.. (suwun mbak Ik). Ada juga teman artis saya, Dicky dan Tish, yang pernah nggonjreng gitar bareng. Menyanyikan lagunya Kotak. Dan itu sangat kocak dan menghibur saya :D Saat saya mendengarkan suara mereka via soundcloud, sekelebat saat itu juga saya seperti melihat mereka dalam pikiran saya. Tish sendiri pernah mengisi narasi untuk video tugas kelas saya lho. Bagus dia mengisinya. Asli, mirip seperti mbak-mbak presenter di televisi :D.

Dalam pikiran saya, bagi banyak orang, mendengarkan lagu mungkin adalah romantisme tersendiri. Berbeda rasanya saat menonton film: visual dan audio dipadukan. Pikiran sudah diarahkan pada visual yang disajikan. Beda ketika kita diharuskan mendengarkan. Sama halnya ketika mendengar suara Ibu menelepon via ponsel, menanyakan kabar. Tidak ada wujud ibu yang tampak: hanya suara beliau saja. Tapi dalam pikiran saya langsung terbayang wajah ibu yang panik. Atau ketika saya mendengarkan suara hujan lebat turun: teringat rumah dan mendadak panik dengan banjir. Atau ketika saya mulai jengah mengetik laporan akhir saya ini: saya lalu menyalakan mp3 dengan macam-macam aliran: dangdut, pop, rock, bahkan instrumental biola yang justru bikin tidur. Atau saat Jumat tiba: terdengar lantunan ayat suci pertanda waktu shalat akan segera tiba.

Jadi orang memang harus mau mendengarkan. Sedapat mungkin dengarkan yang baik-baik ya :D
Listening is not just hearing.




Kamis, 20 Maret 2014

Nostalgia Taman Suropati

Before-after,,hahaha.. Empat tahun yang lalu dengan sekarang

Ceritanya, saya dan beberapa teman dari TengtongFamily 43 berkumpul di Taman Suropati. Siapa yang tak kenal dengan taman ini? (sayaa... :P). Taman ini berlokasi di kawasan elite Menteng yang bersejarah. Banyak pohon rindang, air mancur, bangku taman, hamparan rumput, serta iringan orkes biola ketika sore. Ada juga beberapa sculpture dari negara-negara ASEAN. Yang saya ingat hanya patung karya pematung Sunaryo dari Indonesia yang ada di sisi barat laut, saung padi-nya Myanmar, sama lambangnya Brunei. Yang lainnya entah darimana, hehehe. Nuansa  taman ini menurut saya bagus untuk kabur sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta. Relax!Siapapun pasti menyukainya, termasuk saya. Cuma agak jiper kalo ada gukguk. Sebenernya kasihan saya lihat gukguk2 di Jakarta. Pasti butuh space yang luas buat bermain sama tuannya. Gukguk aja butuh space untuk bermain apalagi manusia.. Jadi, keberadaan taman itu bukan sekedar kosmetik yah, tapi udah jadi kebutuhan.

Tepatnya empat tahun lalu taman ini menjadi objek penelitian skripsi saya: ngukur suhu sambil cari responden. Kebanyakan memang pada ketakutan saat saya wawancara, hihihi, entah mengapa. Untunglah saya punya partner in crime yang baik hati. Budut namanya. Kebetulan lokasi penelitian dia bersinggungan dengan skripsi saya: dia meneliti jalur hijau jalan, saya taman kota. Salah satu lokasi penelitian Budut yang ada di kawasan Menteng yaitu Jalan Diponegoro sama MH Thamrin. Jadilah kami saling bahu-membantu agar data lapang bisa segera beres. Rute Diponegoro-Bunderan HI-Thamrin udah kami taklukan lho. By foot alias jalan kaki. Sehat! Jangan dibandingin dah badan saya dulu dan sekarang, hahaha.  Yang saya inget badan saya yaa cuma sekitar 59 kg-an beratnya. Langsing sekali, dan sekarang jadinya langsung. Tapi senang kok bisa penelitian di situ. At least I have visited the best park in this city. :D

Dan sekarang, taman kota itu berbenah dan semakin cantik bak gadis muda beranjak dewasa yang dipoles sana-sini *lebay, haha. Tapi bener deh, kalau kalian lagi lewat daerah Menteng, cobain singgah ke Taman Suropati. Karena lingkungan sekitar yang berupa perumahan mewah maupun kedutaan, suasana jadi cukup kondusif. Untuk fasilitas nggak usah khawatir: ada pedagang makanan/minuman keliling pakai sepeda. Toilet ada di dekat pos pengamanan Taman Suropati. Mau sholat? Jalan dikit ke selatan (Jalan Madiun) dan kalian akan temui Masjid Sunda Kelapa plus pusat jajannya yang hmmm.. Bikin males pergi deh dari sini.

Jangan lupa jaga kebersihan ya teman-teman :D








Jumat, 14 Maret 2014

Langsung aja naik mas

Ceritanya waktu itu saya sedang ke lokasi penelitian di kawasan Bogor. Mau bertemu dengan orang kantor manajemen buat ngurus surat izin. Namanya mau ke kantor, otomatis saya pakailah kemeja putih kotak-kotak, sama sepatu formal. Ceritanya biar sopan gitu. Teman saya dulu banyak yang komen kalo kemeja itu mirip kemeja pembimbing S-1 saya dulu. Padahal dulu pas beli enggak diniatin buat nyamain kemejanya si pembimbing. Ketika saya ke meja penerima tamu, belum juga ngomong, mbak-mbak penjaga begitu melihat saya tanpa ba-bi-bu langsung bilang "oh langsung aja naik mas, ada tangga trus ada ruangan wawancara, masuk aja mas."
Saya bingung, "mbak saya mau urus izin penelitian,..". Mbak-mbak itu langsung memicingkan matanya menatap saya, "lho kirain mas mau wawancara kerja, maap mas.." Gubrakk..  "langsung ke kantor di sebelah sana aja ya" lanjut si mbak-mbak itu.
Dan ketika saya tak sengaja memutar badan, di belakang saya berdiri ada sederetan orang sepantaran saya yang style-nya hampir mirip seperti saya: rapi jali berkemeja dan sepatu rapi,  tapi mereka semua bawa map. Ow ow.. :O

*Langsung kepikiran buat koleksi kaos berkerah.

Rabu, 05 Maret 2014

Ngabita sama si Bubur Ayam Kabita

*entah kenapa gambarnya miring begini* Ini adalah penampakan dari bubur ayam kabita

Pagi di Bogor Kota senantiasa diwarnai oleh kemacetan, khususnya pada simpul-simpul pertigaan. Parahnya, perut saya belum diisi alias belum sarapan. Memasuki Jalan Mayjen Ishak Djuarsa dari arah Loji, berarti akan melewati Pasar Gunung Batu yang lumayan macet. Pasalnya, di ujung jalan ada pertigaan yang bercabang: ke Bogor Kota serta Ciomas. Tiba-tiba teringat cerita teman kelas saya, Ray, tentang tempat makan bubur ayam yang bernama Bubur Ayam Kabita. Udah lama sih dia cerita tentang Bubur Ayam Kabita ini. Kalo dia yang rekomendasi saya percaya pasti enak soalnya dia pecinta kuliner, hahaha.
Letak Bubur Ayam Kabita ada di seberang Pasar Gunung Batu (ada spanduk "Bubur Ayam Kabita" yang lumayan gede). Segera saya pesan seporsi bubur ayam ke teteh yang stand by di depan panci bubur (buburnya ngepul-ngepul,, harap bersabar makan buburnya pemirsa). Hmm..  ternyata rasanya sedapp.. Kuah buburnya terasa beda dengan bubur yang biasa saya makan, lebih terasa, sulit diungkap dengan kata-kata *hahaha. Ayamnya juga enak. Mungkin karena dampak lapar ya, mangkok saya seolah-olah bocor alias cepat tandas :D. Kamu bisa tambahin sambel, kecap, telur puyuh, atau kerupuk. Karena baru pertama kali ini makan, saya makan versi originalnya. Makan bubur sambil menikmati kemacetan jalan.. *kemudian bikin puisi. Sambil makan, saya liat-liat interiornya: ada foto yang bertuliskan "Alm. H. Lukman 1971". Waw..ternyata sudah lama sekali ada.. Saya berpikir pasti bubur ayam ini cukup melegenda.
Buat kamu yang sedang melintas di kawasan Gunung Batu, Bogor, jangan lupa cobain bubur ayam ini ya. Ngenyangin kok, saya aja ngerasa kenyang hehehe.

Minggu, 02 Maret 2014

karikatur cepat saji

Last month, my friend Mutty asked me to made caricatures. She wanna made scrapbook. Just make it good, up to you - she told me. I remembered that I have some photographs from Bali and Malang. I think it is pretty good to take photograph without people in - just the object or the landscape. After I drew the sketch, I edit in .psd format and put the photograph as the background.

Balinese gate with red-brick and gold. Taken from Ubud, Bali

Lighting + tree. Taken from Batu Night Spectacular, Malang

Doing this funny things is helpful enough for me to kill the boredom, yeah.