expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 23 Juli 2014

Memori Ramadhan

1994

Saya masih bisa mengingat dengan jelas, waktu itu saya sarapan di kolong meja makan. Meja makan rumah kami agak tinggi, cukup untuk tempat ngumpet anak-anak berbadan kecil seperti saya. Entah kepikiran dari mana untuk berperilaku seperti itu. Saat itu hari Minggu, dan masa awal-awal Ramadhan. Ibu saya memberikan sarapan kepada saya yang kelaparan. Kakak-kakak saya waktu itu juga masih sekolah dasar dan belajar berpuasa. Senangnya 'belajar berpuasa' adalah dimana saya bisa berbuka saat azan zuhur untuk makan-minum dan lanjut kembali sampai bedug maghrib :D


1998

Bapak mengajak pulang ke rumah si mbah untuk beberapa hari - dan saya lupa dalam rangka apa pulang. Waktu itu tengah-tengah puasa. Cuaca sangat panas. Kami pergi berdua naik kereta api. Waktu itu saya baru kelas lima. Sepulangnya dari kampung, badan saya mendadak sangat lemas hingga akhirnya batal berpuasa. Di Stasiun Jatinegara, saya terduduk lemas. Tubuh benar-benar tidak fit. Waktu itu rasanya aneh. Membatalkan puasa, di tengah hari. Amat sayang sih, tetapi mau bagaimana lagi. Bapak juga bilang tidak perlu memaksakan diri.


2001

Menjadi anak baru gede memang biasanya selalu disuruh-suruh dan pasti disuruh-suruh. Saya bersungut-sungut kesal kebagian disuruh mencuci piring dan gelas kotor setelah waktu berbuka di masjid di kampung kami. Belum ada spons pencuci piring seperti sekarang: kuning seperti spongebob. Apalagi cairan bersih kesat aroma jeruk. Hanya ada plastik yang mendadak jadi spons dan sabun colek yang aromanya terkadang tersisa di piring dan gelas. Hal yang paling membingungkan ketika para pemberi takjil tidak menyertakan nama di nampan. Bagaimana caranya mengembalikan nampan kepada mereka?
Teman-teman saya sudah terlanjur kabur duluan. Yasudah, kabur juga lah.


2002

Kebijakan pemerintah untuk meliburkan kami selama puasa sepertinya salah besar. Tugas LKS membanjiri meja belajar (yang ujung-ujungnya diselesaikan dalam last minute :D ). Saya bahkan masih ingat lupa caranya untuk menulis. Pulpen seperti benda yang sulit dipakai setelah libur puasa dan lebaran berakhir. Yeah, kebanyakan liburan itu nggak bagus. Puasa jadi tidak produktif. Meski malas, sedikit-sedikit saya mengerjakan LKS aneka mata pelajaran sambil nonton televisi. Yang paling dinanti sih 'hidangan ramadhan'. Kadang sambil membayangkan nikmatnya minum sirup dingin gara-gara lihat iklan sirup marjan.

Saat hari H Idul Fitri, anak-anak yang lebih besar mengangkut mimbar, dan karpet menggunakan mobil bak terbuka. Shalat Ied diadakan di lapangan besar di depan gang kampung kami. Suara takbir membahana, sementara jalan raya yang ada di sisi lapangan mendadak lengang tanpa kendaraan. Baju-baju putih bersih dan bau baru membuat nuansa baru Idul Fitri semakin terasa. Apalagi setelah shalat Ied kami akan dapat salam tempel, hihihihi


2003

Ikutan pesantren kilat (sanlat) dan tengah booming lagu jagalah hati-nya Snada. Itu nge-hits banget lho. Saking nge-hits-nya kakak perempuan saya membeli kasetnya. Saat sanlat, kaset Snada itu diputar entah berapa kali. Kegiatan sanlat salah satunya adalah mendengarkan ceramah. Saya yang hobinya tidur, amat sangat tidak tahan dengan ceramah di ujung malam. Dan ketika jam dua malam - dua jam sebelum waktu sahur - kami shalat tahajud bersama.
Tahun ini pertama kalinya ikutan membagikan zakat fitrah di malam takbiran. Anak-anak yang lebih besar di kampung saya bertugas mendorong gerobak penuh dengan beras. Badan mereka besar-besar dan sering berkelakar khas anak-anak besar. Beberapa diantara mereka memegang amplop berisi uang dan bertuliskan nama para mustahik. Sementara saya - golongan anak-anak kecil dan sedang - ikut meramaikan suasana dengan membantu mendorong gerobak yang sudah renta. Dasar gerobak renta itu penuh dengan ceceran beras gara-gara kantung plastik yang tipis. Belum lagi sepanjang jalan kami semua tidak menyadari ada ceceran beras yang juga nelangsa di gang-gang sempit menuju rumah mustahik Yang saya ingat saya berdoa semoga dosa kami diampuni.


2005

Warga di kampung kami semakin banyak. Pendatang. Membawa anak istri dan kerabatnya. Satu per satu rumah-rumah muncul. Saya semakin bingung dengan nama-nama yang terdaftar di dalam daftar para mustahik. Yah, ibukota. Perubahan yang begitu cepat, tetapi tidak secepat gerobak renta kami yang terseok mengangkut karung-karung beras. Gerobak itu masih sanggup menyusuri gang-gang sempit, menyelesaikan tugas mulia mengantarkan zakat fitrah.


2007

Saya dan teman saya mencoba safari tarawih: nyobain tarawih di berbagai masjid yang tersebar di sekitar kampung kami. Kami mencoba ke masjid di kampung sebelah kampung yang lebih besar. Ternyata, mereka melaksanakan tarawih 23 rakaat. Dua kali salam. Dan itu sungguh cepat, hampir-hampir saya merasa kalau saya sedang erobik. Uwoo..capeknyaa.. Masjid yang kami datangi ini kubahnya lucu, seperti jamur. Makanya teman saya sering nyeletuk kapan lagi bisa tarawih di masjid mario bross itu.
Sementara itu, masjid di kampung saya saat itu tengah dibangun. Semoga masjid cepat selesai, begitu pinta saya yang saya ingat saat itu. Masjid di kampung hanya sebelas rakaat. Lumayan, tidak terlalu ngos-ngosan dan bisa santai.


2009

"Kepada remaja, dimohon jangan pulang dulu untuk membantu membereskan masjid"
Takmir masjid mengumumkan pengumuman itu selepas shalat Ied selesai. Yeah, tahun-tahun belakangan ini kami melakukan shalat Ied di masjid - tidak lagi di lapangan besar di depan gang kampung kami. Lapangan besar tersebut padahal lumayan asyik untuk shalat: bisa menampung sekitar 3-4 kampung di sekitarnya.
Aku dan temanku bergegas kabur. Oh no, membereskan masjid..(udah nggak tahan pengen sambal goreng kentang :P). Tahun lalu kami harus menghitung belasan uang dari kotak amal dan menggulung karpet. Gatal sekali rasanya, pengen pulang. Tahun ini, akhirnya saya benar-benar kabur.


2014

Saya sekarang 26 tahun, Fyuuh..

Ramadhan tahun ini, kami digilir untuk naik ke atas mimbar: membacakan hadits-hadits. Rasanya lebih seram daripada sidang ketemu dosen. Masjid, rumah Allah. Banyak sesepuh kampung dan para bapak yang sudah bergelar haji. Saya cuma berharap saya tidak keseleo lidah lagi saat naik mimbar (saat pertemuan pertama saya menyebutkan 'Abu Musa' menjadi 'Nabi Musa').
Setelah beberapa tahun yang 'kosong', tahun ini takmir mengadakan belajar tajwid. Lumayanlah membenarkan bacaan saya yang suka terpeleset. Alhamdulilah ya Allah saya diberikan kesempatan bertemu Ramadan tahun ini... :)

Rabu, 02 Juli 2014

Jo Farewell 'Party'

Sobat saya, Jo, akhirnya berhasil lulus (berhasil..berhasil..berhasil..hore..*dora*) dan diterima bekerja di sebuah perguruan tinggi di Kota Malang. Hmm..yeah, rasanya sedih juga kehilangan partner in crime selama saya di Bogor ini.. *lempar tisu*

Jo meminta saya dan Dwica untuk datang ke bread*talk-nya ala IPB alias bread unit yang ada di Fateta IPB. Ceritanya farewell. Hemm,, males banget sebenarnya, bread unit lagi dah :D Itu tempat adalah salah satu tempat di kampus kami yang kami anggap nyaman buat kongkow ampe bosen. Kehadiran si bread unit beberapa tahun lalu menjadi pelipur lapar kami akan kue-kue enak dengan harga mahasiswa. Lucunya, banyak juga temen-temen kampus kami yang nggak ngeh akan keberadaan si bread unit. Untunglah saya doyan gentayangan di kampus, jadi cepet tanggap sama 'objek baru' di kampus, hehehe.

Untunglah saya bawa leptop dan modem, mayan bisa bikin foto farewell-farewellan begini. Pengunjung bread unit lagi sedikit, dan tanpa rasa malu (ga tau malu tepatnya) kita foto-foto dah. Sinting :P

Kelakuan mahasiswa...yeah..beginilah.. :D

Ini saya kasih judul 'Giok di Tengah Salju', bhahaha. Film Tiongkok era 90-an.

Tuker badan bentar yeah

Eeerghh... -__-"
Alay style -__-" hahahaha.. Semoga sukses Jo!

Yeah, mungkin tempat ini bakal jadi tempat ketemuan lagi. Suatu saat. Sambil menikmati kue-kue, dan ngobrol. Sampai tutup. :')

Kamis, 26 Juni 2014

Membenci Jakarta

Kebanyakan teman-teman saya membenci Jakarta, khususnya yang bukan berasal dari Jakarta sih. Wajarlah menurut saya. Temen-temen yang berasal dari Jakarta sih fine-fine aja dengan ibukota Indonesia itu. Ya bagaimana ya,tanah kelahiran sih, meskipun entah bapak-ibu nya bukan asli Betawi, suku asli Jakarta. 

Jakarta memang kota yang keras. Banjir, macet, polusi, sudah jadi konsumsi sehari-hari. Gedung-gedung tinggi yang senantiasa tumbuh dan berkembang entah kapan, menyulap lahan-lahan kosong menjadi sesuatu yang bermakna ekonomi. Uang. Yah, orang-orang mencari uang di Jakarta. Orang-orang datang dari berbagai penjuru, datang berburu uang di Jakarta. Hingga akhirnya saya menyadari itulah ikatan rasa yang dimiliki oleh kebanyakan penduduk Jakarta. Motif ekonomi, mencari penghidupan yang layak dan lebih baik. Suatu alasan yang sangat reasonable.

Namun pada akhirnya, tidak ada suatu rasa yang mengikat penduduk Jakarta (yang notabene kebanyakan pendatang) dengan situasi Jakarta. Jakarta 'menjelma' menjadi kawasan transit nan rumit, hanya untuk sekedar singgah. Kasarnya, Jakarta hanyalah sekedar tempat mencari nafkah. Tidak dipungkiri juga, banyak aktivitas penting yang pasti pernah harus kamu lakukan di kota ini. Kamu harus mengunjungi kota ini (dan sudah pasti tidak ada kata nyaman). Heterogenitas-nya Jakarta, memastikanmu bahwa tidak hanya ada suku Betawi. Pada setiap jengkal tanah Jakarta, akan ada Sunda, Jawa, Batak, Padang, Banjar, Makassar, dan entah ratusan suku lain yang semuanya membaur, bekerja.

Banyak yang berpendapat, Jakarta seharusnya menjadi kota yang totally a city. Sebenar-benarnya kota. Kota yang fasilitasnya sempurna, modern, canggih, tidak ada spot kekumuhan. Tidak semestinya memiliki wujud seperti kampung.

Bukankah Jakarta juga sebuah 'kampung'?

Bukankah semua orang, kita, saya dan kamu, berasal dari kampung? 

Kota bukanlah sesuatu yang statis. Ia terus berkembang dari sebuah kampung-lalu menjadi kota, mendapat tekanan akibat penduduk yang semakin lama semakin membludak. Bahkan dari dalam Jakarta pun, dimana para orang-orang berkuasa pada wewenang banyak bersemayam, tidak otomatis menjadikan Jakarta lebih baik dan manusiawi. Jakarta mungkin sudah terpoles sana-sini, dibenahi berulang kali, didandani, diberi bedak dan minyak wangi. Tetap saja, kau akan tetap dapat temui permukiman kumuh di beberapa bagian Jakarta. Banyak warga submarjinal, yang beradaptasi dengan kehidupan kolong jembatan. Seringkah melihat tukang asongan di perempatan jalan? Atau melihat gerobak pedagang di tepian jalan?

Menurut orang kebanyakan, mungkin hal-hal tersebut mengurangi nilai estetika kota. Mungkin.

(Saya pernah merasa sangat tertolong ketika turun dari bus kota dan hujan turun dengan lebatnya. Seorang ibu pedagang buah, di dekat saya turun dari bis, menawarkan saya untuk berteduh di lapaknya yang sempit.)


Apa yang nampak megah, terbarukan, rupa yang mahasempurna, tidak langsung menciptakan nilai estetika suatu kota. Pembangunan fisik tidak serta merta menjadikan seorang manusia lantas bahagia. Yah, itulah yang saya rasa terhadap kota Jakarta ini. Penduduk kota-nya lah yang bertanggung jawab menjadikan kota ini manusiawi. Menurut saya, manusiawi adalah nilai estetika tertinggi. Masih ada kebaikan sebenarnya yang dimiliki oleh penduduk kota ini.

Aku hanya tersenyum pasrah mendengar cacian segelintir (atau sejamak?) orang, betapa tidak-enaknya-hidup di Jakarta. Saat hujan, banyak yang mencaci. Saat panas menyengat, juga lantas mencaci. Saat terjebak macet dan kendaraan yang kita tumpangi seperti-tak-bergerak semili-pun, cacian meluncur dengan mudah. Fasum dan fasos yang kondisinya tak memadai, dan hhm... Jakarta, selalu tampak 'bersalah'.

Bagaimanapun, kota ini selayaknya tetap mendapat tempat di hati penduduknya. Begitulah.

Selamat menua, Jakarta.


Selasa, 10 Juni 2014

Kebayoran Baru, Kota Taman di Selatan Jakarta

Mendengar kata 'Jakarta' orang-orang kebanyakan akan terbayang kata 'panas', 'gersang', dll.. Eits, jangan salah. Cobalah berkunjung ke kawasan Kebayoran Baru di Kota Administratif Jakarta Selatan. Kesan panas-gersang dll akan segera sirna. Kawasan ini adalah kawasan dengan jumlah taman terbanyak di Jakarta. Kebayoran Baru merupakan kota taman pertama di Indonesia yang dirancang oleh arsitek Indonesia, M. Soesilo pada 18 Maret 1949 (wuih..masa-masa awal kemerdekaan negara kita nih :D).

Di kawasan ini, taman-taman terhampar di setiap sudut. Penyajian terbaik sebuah kawasan yang berwawasan lingkungan, menurutku. Pohon-pohon rindang, taman-taman lingkungan yang ada di setiap blok, rumah-rumah yang memiliki halaman,, hm.. pengen deh bertempat tinggal di sini. Ademm :D Di sini kawasan elitnya Jakarta. Kalau nonton film luar neger (yang Amerika) pasti suka liat rumah-rumah yang punya halaman luas,, ada tamannya,, Kawasan Kebayoran Baru ini hampir mirip seperti itu. Rumah-rumah di sini banyak yang desainnya jadul (banyak juga yang desainnya tiba-tiba minimalis modern...pffft).
Berkunjung ke sini, seperti melihat masa lalu, rumah-rumah Indonesia tempo dulu pada awal-awal kemerdekaan. Anak-anak bermain di taman, keliling kompleks naik sepeda. polusi suara juga relatif rendah karena tegakan pohon secara massal mengurangi intensitas bising di luar kawasan.

Ancaman untuk kawasan ini, dari pengamatanku, adalah gempuran pembangunan 'hutan beton' yang tidak memperhatikan langgam atau pakem kawasan Kebayoran Baru. Kawasan Kebayoran Baru seperti terhimpit oleh kawasan di sekitarnya yang semakin berubah secara drastis. Pembangunan perkantoran, apartemen, mall,, huahh... Semoga taman-taman, pohon, serta suasana asri dan rindang yang ada di Kebayoran Baru tidak hilang.

bunga apa ini hayo..

Ngeliat desain pagar ini, Jakarta banget menurutku. Jadul,.hehe


Siapa yang nggak seneng di pojokan tiba-tiba ada penampakan taman kayak gini?

Taman Kerinci di Jalan Kerinci XII. Ada permainan anak, ada bangku,, hmm.. tenangggg

Beringin. Di sini ada papan nama pohon lho, plus nama latinnya. Ayo,, kenali pohon! Tak kenal maka kenalan dong..

Hmm..ini tipikal signage jadul ya,hahaha..klasik, tapi tetep suka sih.

Anak-anaknya di bawa ke sini, Pak,, Bu,, jangan di ajak ke mal aja. Ayo main! :D

Terakhir kali main ini pas TK, ahahaha..

Kesemutan, pusing-pusing, linu? Cobain deh jalan di batu-batu terapi ini. Aw..aw..aw..!

Money can buy happiness! Indeed... With money, you can build many many many parks.. :D

Selasa, 03 Juni 2014

Bogor 532

Bogor 532 tahun. Lebih tua daripada Jakarta yang hanya 486 tahun ternyata :D
Semoga Bogor semakin baik di segala bidang: semakin manusiawi, semakin ramah anak, semakin banyak pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki, semakin asri dan hijau, semakin banyak taman kota dan taman lingkungan, semakin bersih dan rapi, semakin tertib lalu lintasnya, semakin aman, semakin banyak festival kesenian dan kebudayaan, semakin sadar akan lingkungan, semakin eco, dan.. semakin lezat dan beragam kulinernya :D

Selasa, 20 Mei 2014

Tamasya ke Solo, Jawa Tengah

Kota Solo bisa jadi pilihanmu untuk destinasi wisata. Selain aksesnya sangat mudah dicapai (bisa dicapai dengan kereta api, bis, maupun pesawat udara), kota ini memiliki nuansa kebudayaan Jawa yang khas. Berikut sedikit reportase saya saat jalan-jalan ke Solo :D

Yang saya suka di Solo, banyak papan nama instansi, nama jalan, nama tempat, menggunakan aksara jawa. Meski saya nggak bisa baca huruf hanacaraka itu, setidaknya ada elemen kebudayaan yang melekat di kota ini.


Yang menarik, sepengamatan saya, orang Solo itu banyak yang hobi jajan lho. Hehe,, tengoklah ke pelosok kota ini. Mudah sekali kamu temui berbagai macam warung, wedangan, lesehan, dll. Dengan harga murah, kamu bisa nikmati berbagai sajian lezat. Yang ini adalah soto kuali. Cobalah juga sosis solo, seperti risol tetapi isinya ayam (mungkin modifikasi sosis ya? kreatif :D).


Ini namanya bestik. Daging cacah lembut berkuah yang,,hmm,,,uenakee.. Harganya memang nggak murah, tapi rasanya jangan tanya. Mantap!

Ini nih namanya selat solo. Katanya sih adaptasi dari hidangan 'salad' yang diadaptasikan ke lidah masyarakat Jawa. Ada telur rebusnya, ada kentang, daging,wortel, buncis, tomat (sehat banget :D). Kuahnya...hmmm segarr.. Meskipun secara porsi emang kurang mengenyangkan, selat solo ini jawara rasa :D

Es dawet gentong. Saya mulanya hanya lewat saja di kawasan Manahan, tiba-tiba ketemu mas-mas penjual ini. Lumayan lah seger-seger dikala panas nyengat.

Jalan Supit Urang. Bentuknya jika dilihat dari citra udara memang seperti supit (sumpit). Ini adalah jalan satu arah. Temboknya menjulang tinggi. Saya sering  melalui jalur ini sebelum mencapai Pasar Klewer dan Masjid Ageng. Entah mengapa bagi saya terasa sekali nuansa keratonnya di kala melalui jalan ini.

Gapura alun-alun selatan keraton (Alun-alun Kidul)

Pura Mangkunegaran. Biasa digunakan sebagai tempat melangsungkan kegiatan kesenian/kebudayaan. 

Bisa saya simpulkan bahwa jalan-jalan di Kota Solo memang mengasyikkan: budaya dan kuliner :D

Lombok #3

Berbeda dengan tetangganya yang lebih dulu pesat berkembang yaitu Bali, Lombok masih dalam tahapan berkembang. Sebenarnya banyak lokasi wisata yang juga tidak kalah lho dengan Bali, seperti Gili Trawangan dkk di Lombok Utara, Pantai Kuta (ini namanya sama seperti di Bali, hehe) yang ada di Lombok Tengah, dan Senggigi (yang ini sudah terkenal menurutku). Kamu juga bisa naik gunung ke Gunung Rinjani lho, dan itu hutannya mirip di Bogor. Hutan hujan tropis. Kontras dengan wilayah Lombok pada umumnya yang relatif kering.

Buat kamu yang lagi di Senggigi, kamu juga bisa melihat Gunung Agung yang ada di Bali. Biasanya nampak di kala pagi atau sore yang cerah. Istilahya borrowed landscape, yaitu meminjam lanskap dari wilayah luar sebagai sumberdaya estetika kawasan :D

Objek yang tak kalah seru di Lombok adalah wisata budaya *budaya.. Dari Bandara Internasional Lombok di Praya, kamu bisa ke arah selatan menuju Kampung Adat Suku Sasak di Sade. Disini kamu bisa liat bentuk bangunan asli rumah Suku Sasak. Menariknya, lantai rumah mereka terbuat dari kotoran sapi lho, hehehe.. Nggak bau kok. Ekologis banget ya :D. Akan ada pemandu yang senang hati menjelaskan kepada kamu mengenai kampung adat ini. Jika beruntung, akan ada lagu selamat datang. Oya, kebetulan kami beruntung karena ada tamu lain datang lalu disambut oleh lagu selamat datang. Bukan lagu sih tepatnya adalah gamelan. Sepintas mirip dengan gamelan Bali, tetapi ada bedanya (dan saya susah mendeskripsikan bedanya dimana, hahaha).
Di wilayah Lombok Barat, kita bisa melihat 'Bali' lho. Di wilayah Lombok Barat (Kawasan Mataram, Ampenan, dan sekitarnya) cukup banyak penduduk etnis Bali yang hidup bersama dengan masyarakat lokal. Cara mudah membedakannya lihat saja arsitektur bangunan rumahnya. Jika pemiliknya orang Bali pasti ada ukir-ukiran khas Bali, hehehe. Menurut bapak supir yang mengantar kami, di Mataram ketika Nyepi tidak ada pemadaman. Upacara adat seperti pawai ogoh-ogoh juga ada. Jadi inilah yang dikatakan kita bisa melihat Bali di Lombok :D 

Tenun khas Sasak, Lombok. Di desa adat sini, kamu bisa beli berbagai macam cinderamata/kerajinan penduduk lokal. Ada sarung, taplak meja, selimut, kain untuk bahan membuat pakaian, gelang, kalung, gantungan kunci, dll.

Yang ini bagus banget buat taplak meja, tapi mahal banget guys. Hehe. Tapi buat kamu yang suka etnik, sebaiknya sih beli :D

Atap yang bersahabat dengan lingkungan: eco-roof. Jadi inget Kampung Naga di Garut (padahal belom pernah juga ke Kampung Naga... -__-)

Bale bengong. Tempat yang asik untuk bengong-bengong. Hehe

Ukir-ukiran khas Lombok. Budaya. Ah, budaya..entah tiba-tiba kenapa tertarik membahas budaya :D

Beli ah buat tatakan gelas. Itu bunganya dibuat dari kulit telur. Udah banyak sih yang buat. Berhubung etnik, dibeli :D

Atap khas Lombok. Itu buat menyimpan hasil panen lho (padi). Elemen budaya banyak diaplikasikan di dalam arsitektur bangunan di Lombok. Perhatikan atap bandara, atap gedung pemerintahan, pendidikan,, Rata-rata mengambil bentuk dari atap rumah adat Sasak dan dapat memberikan 'keterbacaan'  identitas wilayah


Lombok #2

Kuliner Lombok ternyata didominasi oleh selera pedas, hahaha. Kabar baik bagi pecinta rasa pedas! :D Sajian khas yang terkenal di Lombok adalah Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung. Ada juga yang namanya beberok yang mirip seperti karedok di Jawa Barat. Untuk minuman menurut saya standar saja. Berhubung musim kemarau menyengat, kami biasa memesan serba dingin: es teh, es jeruk, atau es kelapa. Di tempat makan tertentu tersedia paket juga lho, ada yang berempat, berlima, dan harganya lumayan terjangkau. Berikut dokumentasi makanan yang saya makan (hehe..)

Perjalanan menuju Sekotong, Lombok Barat. Ceritanya kami memesan pecel ayam komplit di sebuah warung makan pinggir jalan. Dan jreng jreng... Selain ayam, terdapat pula tempe goreng, lalap berupa timun dan kacang panjang, serta sayur bayam segar dengan kuah kunyit. Jangan harap sambalnya tidak pedas, hahaha. Menurut saya sih tidak begitu pedas :D

Nasi Goreng Jawa. Penjual makanan ini dekat dengan tempat kami menginap. Kebetulan yang memasak orang Jawa, jadi biar gampang sebut saja Bunga, eh, nasi goreng jawa. Yaelah, nasi goreng mah dimana-mana ada.. tapi, rasa nggak pernah bohong. Dengan harga yang lumayan murah, nasi goreng jawa ini cocok dengan perut, pas dengan kantong :P

Plecing Kangkung. Biasanya disantap bersama menu Ayam Taliwang. Tipe kangkung dari Lombok berbeda dengan kangkung yang saya jumpai dan nikmati di Pulau Jawa (hehe..). Kangkung Lombok lebih lembut, panjang, dan sedap. Selain kangkung, bahan lain yang digunakan adalah toge, bayam, parutan kelapa, sambal, dan jeruk nipis. Pedas dan segar, hmmm.. :))

Ini dia,, Ayam Taliwang! Menurut si bapak yang mengantarkan kami, Taliwang adalah sebuah daerah dekat Mataram. Dan dari sinilah ayam taliwang tersohor. Ayam ini adalah jenis ayam kampung yang masih berusia muda dan harus hidup secara liar/bebas. Ayam taliwang menurut saya enak. Pedas dan dagingnya lunak (masih remaja soalnya :D). Jangan lupa minum es kelapa biar makin heboh makannya :D

Ini namanya Soto Lombok. Kami makan ini di daerah Pringgabaya, Lombok Timur. Rasanya agak mirip dengan rawon. Kamu bisa pesan soto lombok dengan kikil, ayam, tulang (balung). Isi dari soto ada bihun, kacang goreng, toge, telur puyuh. Jangan lupa pakai kerupuk.. dan jangan lupa nambah, hahaha

Nggak bakal jauh dari yang namanya cabe, kamu harus coba ayam taliwang di wilayah Praya. Pedesnya mak nyus.. Seger sih. Dan pasti bikin nagih :D

Nah, ketemu lagi dengan plecing kangkung.

Ini namanya beberok. Mirip sama karedok di Jawa Barat. Isinya ada irisan timun, kacang panjang, tomat, terong. Kecut-segar-mengejutkan dah :D