expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Minggu, 19 Juli 2015

Selamat Idul Fitri 1436 H

Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur

Banyak warga Jakarta yang merasa bahagia kala Lebaran tiba. Sekejap jalanan menjadi lancar jaya. Tidak ada lagi dering klakson kendaraan bermotor yang menyebalkan, asap-asap knalpot jahat yang membumbung tinggi, pemotor yang menyemut-tak-amat-sangat-sabaran, serta keluh kesah karena waktu yang habis di jalan. Mudik mungkin adalah event penyelamat lingkungan Jakarta yang Masya Allah sudah luar biasa tidak manusiawi. Mobil-mobil dan motor-motor sebagian telah berpindah, enyah sesaat dari Ibukota. Bisa ditarik kesimpulan bahwa penduduk Jakarta sebagian besar adalah warga pendatang dari penjuru Indonesia. Saat hari lebaran tiba, mereka absen keberadaannya di ibukota. Tak heran, kota ini seperti kehilangan jiwa. Berapa banyak orang yang benci dengan Jakarta namun tetap saja bekerja di Jakarta? Mencintai kota ini mungkin seperti suatu hal yang mustahil. Tetapi dibalik parahnya kondisi Ibukota, ada iming-iming uang dan janji kehidupan yang layak yang menjanjikan. Sepertinya.
.
Pemerintah kota mungkin sudah amat sangat terlambat berpikir untuk transportasi makro. Untuk pengembangan jalan tol yang melingkari Jakarta dengan kota-kota penyangganya, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi, mungkin sudah cukup mumpuni secara fisik. Kenyataannya, kemacetan justru menggila di hari kerja. Cara berpikir bahwa 'membangun fasilitas jalan raya sebanyak-banyaknya untuk mengurangi kemacetan' harus dipikirkan kembali. Bukannya malah justru menjadi pembenaran orang untuk menggunakan kendaraan pribadi?

"Gw kredit mobil aja ah, toh jalan tol makin banyak dibangun."
"Transportasi umum udah nggak jelas, nggak aman, boro-boro nyaman."


Kiri: Bandara Halim PK | Kanan: Kalibata-Jatinegara | Atas: Ps Rebo-Bogor | Bawah: Cawang-Tj Priok

Kereta api lantas menjadi moda transportasi favorit warga. Jalurnya jelas, ada jadwalnya, dan yang pasti, tidak perlu stuck terjebak kemacetan jalanan. Bisa mengangkut ribuan orang sekaligus sekali jalan. Tapi menurut saya, jaringan kereta api seharusnya sudah merambah luas ke penjuru kota. Layaknya proyek MRT yang sedang dikerjakan oleh pemprov DKI saat ini. Kenapa nggak dibikin dari dulu-dulu ya? Pikir saya begitu. Untung udah dirintis sekarang. Untung. Yeah, untunglah.

Mimpi saya, saya membayangkan ada stasiun MRT di Cililitan. Seperti foto saya di atas.  Dari stasiun MRT Cililitan, saya bisa dengan nyaman menjangkau stasiun MRT Terminal Kp Rambutan saat pulang kampung, atau main ke stasiun MRT Baranangsiang untuk leha-leha ke Kebun Raya Bogor, atau meluncur ke stasiun MRT Gambir untuk naik ke puncak Monas, bahkan saya bisa ke stasiun MRT Bandara Soetta tanpa harus bersumpah serapah karena kemacetan.

Saya berdoa orang-orang cerdas dan orang-orang baik yang sayang dengan Jakarta tetap lebih banyak jumlahnya dari mereka yang culas. Kota ini butuh pengobatan.

19.07.2015
Hari ke-3 Lebaran 1436 H
Masih menikmati jalanan yang belum menggila ~










Senin, 01 Juni 2015

Komunikasi

Katanya, komunikasi itu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya, perlu adanya komunikasi, baik verbal maupun nonverbal. Karena manusia itu bukan Tuhan yang tahu segalanya, kau harus menyampaikan apa yang ingin kau mau kepada orang lain bukan?

Komunikasi dengan orang tua atau dosen, misalnya, tentu akan berbeda dengan teman sebaya atau kenalan baru. Saya cenderung 'bersikap' jika berkomunikasi dengan beliau-beliau itu. Komunikasi dengan teman sebaya tentunya jauh dari kata kaku: kau bisa ngobrol sesukamu tanpa perlu khawatir lawan bicaramu akan merasa tersinggung. Bahkan sampai ada istilah curcol alias curhat colongan (curhat itu sendiri juga singkatan dari curahan hati). Ya termasuk saya ini, curcol via ngeblog :D

Jangan lupa, tiap orang itu berbeda. Adakalanya bercandaan dengan teman justru berujung pada kesalahpahaman. Atau bahkan, pesan via ponsel juga diinterpretasikan lain. Well, yeah, manusiawi kok. 

Dalam hubungan pertemanan, seringkali timbul dengan apa yang disebut sebagai miskom, alias miskomunikasi. Bagusnya, jika hal itu bisa sesegera mungkin diselesaikan dengan waktu yang tepat. Tetapi, tak bisa dihindari bahwa kadang hal tersebut juga dapat berlarut-larut. Ruwet. Apalagi, berbicara manusia sebagai objek yang punya rasa, tentunya harus diperhatikan cara penyampaian kita agar pesan yang ingin kita utarakan tidak menimbulkan salah penafsiran.

Ada orang yang punya masalah komunikasi, dan berlarut-larut. Jujur, saya sangat tidak mau seperti itu. 

Sebagai orang dengan tipe yang bukan ingin berlarut-larut dalam masalah komunikasi, adakalanya hal ini membuat saya pusing. Usia saya sudah tidak muda. Semakin tambah usia (ada yang bilang sebenarnya berkurang usai) tentunya tanggung jawab serta pola pikir juga harus berubah. Permasalahan komunikasi memang sudah seharusnya saya lawan dan saya atasi sedemikian rupa agar tidak mengganggu hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya.

Sekali lagi saya, Anda, bukanlah Tuhan yang bisa tahu hati dan pikiran orang kan?

Tak menjamin pula bahwa berkomunikasi menyelesaikan masalah. Setidaknya, komunikasi adalah jembatan terbaik untuk memahami apa yang tengah terjadi. Setidaknya, ada informasi yang tersampaikan, ada maksud yang terucapkan, ada keluh-kesah yang didengarkan. Sehingga dari sekian informasi, pesan, maksud dll itu, dapat dipikirkan tindak lanjut berikutnya. Banyak orang yang berbicara untuk didengarkan lawan bicara, tapi sedikit yang berusaha memahami maksud lawan bicara.








Minggu, 31 Mei 2015

Fix You



(Coldplay - Fix You (Boyce Avenue feat. Tyler Ward acoustic cover) on iTunes & Spotify)

The Wedding Marathon #3: Cirebon

Ngeblog marathon.

Okelah, karena ini adalah momen-momen spesial, ngetiknya dirapel biar finish :v

Perjalanan dari Jakarta-Cirebon ditempuh selama tiga jam dengan kereta Tegal Arum. Awalnya kami duduk terpisah karena ada ibu-ibu yang minta tukar bangku (hrrrrrr). Akhirnya setelah melobi orang yang asik pacaran biar pindah duduknya, kami bisa duduk bersama. Bangku tiga diisi 4 orang. Bhaahahha.kebayanglah rusuhnya. Nggak lupa si Sapu bawa kartu-kartu andalannya buat ngisi rasa bosan kami sepanjang perjalanan di kereta. Wokeeh..

Ini aslinya kartu buat mainan tebak kata gitu, tapi ujung-ujungnya kita buat kaya gini demi si Glory 

Penampakan bangku untuk tiga orang diisi dengan empat orang.

Sesaat sebelum tiba di Cirebon, saya menghubungi Glory dan juga bapaknya glory. Kata glory nanti kalo udah mau tiba Cirebon telpon bapaknya aja. Nggak lama ada nomor nggak dikenal menghubungi saya. Ternyata suara ibu-ibu. Saya pikir itu adalah kerabat Glory. Okeh. Setiba di Stasiun Cirebon Prujakan (khusus untuk penumpang kelas ekonomi, kalo ekse di Stasiun Cirebon Kejaksan), saya dihubungi lagi sama ibu-ibu itu. Setelah bertemu di parkiran stasiun, ternyata si ibu itu nggak tau Glory dan Mbak Noe. Dan katanya cuma diminta temennya nyambut temen--temennya Glory yang dari Bogor. Kami lalu diajak kerumahnya untuk makan malam. Saat itu bapaknya Glory juga tiba, naik elf bersama rombongan dari Jawa Timur sana. Saya mau ngobrol tapi udah capek, akhirnya ngikut-ngikut ajalah. Lapar pula. Ternyataa,,kami disuruh makan malaaam. Aih baiknya ibu ituu,,mau menampung anak-anak kesusahan seperti kami. Mana kami makannya nambah pula. Ayam gorengnya emang enak sih, krenyes gitu. Dasar mahasiswaaa :v

Setelah makan, cuci piring (nggak enak, udah makan gratis *nambah pula* masa nggak bantu beberes) dan mengucapkan terima kasih ke ibu baik hati itu, kami bergegas pergi lagi. Jadi, rombongan Jawa Timur di dalam elf tadi istirahat di rumah ibu-ibu baik hati itu. Kami temen-temen Glory diminta menginap di desa. Kami langsung ke desanya mbak Noe malam itu juga, naik elf, bersama bapaknya Glory.

Desa yang masih alami
 Dari Kota Cirebon ke lokasi resepsi lumayan jauh lho, Ada kali sejam perjalanan tanpa macet. Ahahahah..males banget kalo inget Bogor: dari Darmaga ke Laladon aja pas macet bisa sejam. Setelah melalui jalan raya Cirebon-Kuningan yang mulus halus, elf berbelok menuju jalan yang tiba-tiba tak mulus halus lagi. Kata Glory sih daerahnya persawahan dan ada RTB alias Ruang Terbuka Biru. Lenskep banget dah pokoknya. Tapi boro-boro bisa ngeliat pemandangan luar karena dah larut malam, kami cuma duduk manis disergap kantuk kekenyangan, wkwkwk.

Kami tiba di sebuah desa yang ada jembatannya dan ada rumah yang sudah dihias dengan tenda. Ada Mbak Noe menyambut kami. Kami semua kebetulan sudah kenal dengan Mbak Noe dari tahun 2012 lalu. Mbak Noe senang kami semua datang. "Ayo kalian istirahat dulu ya," kata Mbak Noe. Saat itu waktu sudah sekitar jam 11 malam.

Kami tiba di rumah kerabat Mbak Noe. Rumahnya lumayan besar dengan ruang tamu yang besar pula dan sudah disiapkan karpet. Yess..tiduuuuurr...ahahaha..zzz


Pagar kasep euy..
 Paginya, setelah shalat subuh dan mandi, kami sarapan nasi uduk. Ngemilin peyek dan keripik sama pisang. Rombongan teman-teman Mbak Noe yang dari Jakarta tak lama datang. Mereka berangkat tengah malam dari Jakarta. Sekitar pukul tujuh pagi, dua orang anak perempuan masuk ke rumah. "Om Ray, Om Pram, sama Om Refi disuruh ke rumah mau didandanin," ujar mereka dengan wajah polos anak-anak.

Huahahahahha, ya ampun.. selain ngakak karena mereka fasih menyebut nama kami, kami ngakak ngebayangin mungkin mereka selama perjalanan ke sini sibuk ngapalin nama kami bertiga. Ray, Pram, sama Refi. Bukan nama yang familiar sepertinya sih. Dan mereka hapal. Disitu saya merasa lucu, ahahaha.didandaniin..




Suka sama kreasi ini :)
 Eng ing eeeng.. dan memang kami didandanin T_T kami dialasbedakin gitu. Biar makin kasep maresep barangkali. Jadilah kami pakai jas dan blangkon Sunda. Tak lupa kain dilipat di pinggang. Untung juga lah pakaian pagar kasep ala Sunda ini tergolong ringkas. Coba kalo adat Jawa, mesti pakai kain sama selop trus jalannya selow, huahahaha.
Selamat Glory dan Mbak Noe, semoga jadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Amiiin
 Akad berlangsung pukul 9 pagi di mesjid desa dan berlangsung mengharukan. Ijab kabul pun pakai bahasa Arab, jadi sempet cengo juga karena tau-tau udah 'saaah' hehehe.. Selamat Glory dan Mbak Noe! Kami semua juga jadi saksi pernikahan kalian :D

Tim Wedding Marathon bersama mempelai :D
 Ternyata tugas kami sebagai pagar kasep nggak susah-susah amat. Tinggal berdiri dan menyambut tamu aja. Pagar geulis (bener nggak sih istilahnya) kebetulan adalah gadis-gadis desa-nya mbak Noe. Tapi kayaknya mereka masih seumuran SMP-SMA gitu. Kebantinglah sama pagar kasepnya ini. Hahahaa..Setelah makan, salaman dan berfoto, kami menyumbang lagu untuk kedua mempelai akademisi ini. Lagunya I can't help falling in love with you sama lagu mawar merah. Bhuahahahaha...entahlah di rekaman video nikahan kami udah kaya apa. Mungkin Maroon 5.

Akhirnya nyicip nasi jamblang juga. Alhamdulilah enaak. Ada cumi, kentang, tahu, tempe, sate usus, ati, sambel *lalu genduut
 Sorenya, kami pamit. Kami diantar menuju Kota Cirebon. Setelah sejam lebih perjalanan, kami tiba di daerah Jalan Siliwangi. Kami browsing hotel untuk menginap semalam. Akhirnya nemu juga hotel yang namanya kaya gunung di Tegal itu (*hayo tebak). Beres mandi-shalat, kami ngeluyur buat makan malam.
Berfoto di Alun-alun Kejaksan, latar Masjid At-Taqwa

Empal asem. Temennya empal gentong. Kuahnya segerrr

Mie Koclok. Kalo di Bandung ada mi koclok. Kalo ini beda lagi. Mi instan disiram kuah santan ada toge sama telor gitu, trus ada merica bubuk di pojokan *di pojokan,,kaya apaan aja*

Es kacang merah.

Om-om ipb. Dari rombongan kami yang delapan orang ini, cuma kami bertiga yang om-om.

MASUK. Ini taman lampunya berbayar lho alias tak gratis. Karena malam membayar, jadilah kami berfoto di MASUK. Lumayan lah,,yang penting keren :v

Jalan Tentara Pelajar dan aksara jawa-nya. 

Esoknya, kami jalan mencari oleh-oleh. Saya beli terasi sama petis buat orang rumah. Lalu kami jalan kaki menuju keraton Kanoman.
Siap ngeluyur sebelum balik ke Jakarta

Antik

Pasar Pagi, Jalan Siliwangi Cirebon. Di sekitar sini kamu bisa nemu berbagai oleh-oleh Cirebon. Khasnya sih olahan dari hasil laut gitu. Ada terasi, petis, segala jenis kerupuk keripik dll

Dari klenteng ke klenteng. Nggak di Tangerang, nggak di Bogor, nggak di Cirebon. Udah jodoh ketemu sama bangunan pusaka ini. Lokasinya di Jalan Winaon, arah ke Keraton Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman. Kanoman, anom, artinya baru. Bisa juga diartikan hanoman yaitu sebangsa kera dalam mitologi Hindu. Menurut cerita kuncen keraton sih begitu. Penasara? Datang aja.. :D
 Ada pemandu yang memberikan penjelasan kepada kami mengenai kesejarahan Keraton Kanoman ini. Kami juga diajak membasuh wajah dengan air yang dipercaya untuk memudahkan jodoh gitu, Ahahaha.. saya niatkan ajalah buat basuh wajah. Wajah udah lumayan lengket karena keringat. Cirebon kota yang panas guys, jangan lupa pakai topi atao terpal kalo ke kota ini, wkwk
Museum Keraton Kanoman. Sayang pas lagi tutup.

Swafotoooo
 Beres dari Keraton Kanoman, kami makan siang dilanjut makan duren. Hadeuh. Siap-siap timbangan bakal naek dah :D.


Duren dengan es krim.. Hmmmmmm

Akhirnya, setelah tiga kondangan kami hadiri, saatnya kami kembali pulang ke Bogor. Selamat berbahagia teman-teman.. mohon doa ya buat kami yang belum menikah ini, hehehe.

Perjalanan wedding marathon berakhir di Kota Cirebon! :D


Sabtu, 30 Mei 2015

The Wedding Marathon #2: Bogor

Kembali ke homebase, Kota Bogor.

Sabtunya, kami pergi ke nikahan Potter di kawasan Tajur. Kali ini dengan pasukan yang lebih banyak lagi, temen-temen arl pasca 2012. Skenarionya adalah: rombongan dari Darmaga nitip barang di kosan Ray, lalu kami ngangkot menuju Tajur. Setelah dari resepsi Potter, kami akan langsung meluncur ke Cirebon. Ohyeahhh..


Kol banda (Pisonia alba) jadi latar swafoto jamaah kami :v
 Sepanjang jalan kami memperkirakan waktu kami untuk acara Potter. Satu jam untuk resepsi, lalu balik ke kosan Ray, lalu ke Stasiun Bogor. Okeh sip. Kami tiba di gedung resepsi Potter jam 11 kurang. Tak lama, acara pun dimulai, dan teman-teman kami satu persatu muncul. Kali ini resepsi menggunakan adat Jawa. Kalo saya lihat sih, warna hitam-cokelat ini warna ala Solo gitu sih. Warna khas Jawa pedalaman. Blangkonnya pun gaya Solo. Lipatan kain atau wiru juga gaya Solo. Oya, pakaian adat pernikahan Jogja dan Solo berbeda lho. Apa bedanya? Googling aja ya bro sis.. *kumat lagi ngomongin budaya* :v

Setelah salaman dengan Potter dan Mas Andik, kami lanjut dengan isi perut. Perjalanan jauh, mari makan dulu teman-teman, ahahahaha. Lucunya adalah, lagi-lagi kami ketemu bapak dan ibu dosen yang dua hari sebelumnya juga ketemu di Bandung. "Lho, kalian lagi.." celetuk beliau-beliau itu. Yeaah secara temen-temennya ya kami-kami ini, hahaha.. Bahkan mereka kaget setelah kami ceritakan bahwa kami akan lanjut maraton ke Cirebon. Setelah makan dan berfoto, kami lanjut perjalanan ke kosan Ray untuk shalat zuhur, packing, lalu ke Stasiun Bogor.

Selamat Potter dan Mas Andik! Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah! Aamiin 

Wedding marathon kali ini temanya adat Jawa. Kereeen..

Swafoto jamaah #1

Swafoto jamaah #2

Kereta yang hendak kami naiki, Tegal Arum, berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 16.30. Sementara kereta yang kami naiki dari Bogor baru jalan jam setengah tiga. Mepeeet...sepanjang jalan di dalam kereta saya sempet khawatir. Tapi karena temen-temen ga ada yang nampak khawatir yaudah saya biasa aja, ahahaha. Kami turun di Stasiun Cikini jam 4 kurang 15 menit. Empat puluh lima menit tersisaaa.. lanjut dah pake kancil. Kami tiba di Pasar Senen jam 16.05. 

Tiba di Stasiun Cikini nyambung kancil ke Stasiun Pasar Senen. Let's go!
Cirebon, we're comiiing!!!!

The Wedding Marathon #1: Bandung

Oke, mungkin pertama kali dalam hidup saya yang udah seperempat lebih ini, saya mengalami jalan-jalan yang agak nyeleneh. Sebenernya bukan jalan-jalan sih. Jadi ini kelas kami ada tiga orang yang menikah dan harinya deketan semua (kapan giliran Pram ya Allah.. *hikss *plaak). Mereka yang berbahagia itu adalah Icha, Potter, sama Glory. Nah, mereka semua adalah teman saya dan mereka semua spesial ibarat martabak, jadi saya berniat menghadiri resepsi mereka semua.

Inilah, wedding marathon.

Target pertama, kondangan Icha di Bandung.

Dimulai dengan bawa baju seada-adanya lalu saya ngereta ke Bogor. Saya saat ini sedang tunakosan gitu. Jadilah kosan siRay yang kebetulan kosannya prestisius di tengah kota jadi sasaran saya buat ngungsi. Setelah ketemu Ray buat nitip barang-barang, saya lalu konsul ketemu dosen, lalu sorenya ke kosan Ray lagi bareng bro Ref. 

Si bapak kenek bis ikutan kefoto euy :v
Kali ini kami ditemani sama gadis-gadis HPT: Ita sama Putse, temennya Icha. Emang bener ya, banyak jalan, banyak ketemu orang, dapet kenalan, ahahha. Dua gadis itu udah nggak sabaran nunggu kami di Masjid Alumni Baranangsiang. Kami tiba di masjid untuk shalat maghrib, mereka udah keburu ngeluyur ke Terminal Baranangsiang. Selepas shalat magrib, ujan turun. Brrssss. Saya sempetin beli amunisi buat di bis. Bis AC. Pasti dingin. Kalo dingin trus lapar.

Untunglah ketemu mereka di bus. Brmmmm... Bandung...we are coming!

Tiba di Bandung sekitar jam 11 malam. Tiba di Leuwipanjang, kami nyambung angkot ke Kebon Kalapa lalu ke Jalan Aceh. Alhamdulilah nyampe juga. Bandung malem tu segerrrrr. Menurut saya ini kota emang diberkati banget, dikasih hawa yang sejuk,, kaum hawa-nya juga sejuk-sejuk *lho. Icha sudah menyiapkan kamar buat kami di areal resepsinya. Malam sekitar jam setengah satu kami baru beranjak tidur setelah mengabarkan ke Icha dan mamanya bahwa kami sudah fix tiba dan mau tidur.

#omomipb bersama gadis-gadis HPT. Mereka seneng lho bisa jalan sama #omomipb :v
Paginya kami ikut menyaksikan akad. Akad berlangsung khidmat di mesjid. Beberapa dosen lenskep juga ikut menyaksikan. Saya juga ketemu si Isti, temen SMA saya yang juga IPB. Lah ternyata dia satu kantor sama Ayip. Ahahaha..dunia sempit. Sekitar sejam lebih akad berlangsung, dilanjutkan dengan tradisi nyaweran dan lempar bunga sekaligus pot-potnya. Hehehe..enggak ding. Lempar bunga aja. Habis itu kami langsung ke lokasi resepsi tak jauh dari mesjid.

Acara nikahan Icha dan Ayip bergaya Sunda. Kalo hal gaya adat budaya,,hmm...saya nyerah. Saya serahkan Ray untuk dianalisis, kwkwkwk. Adat Sunda masih mirip sama adat Jawa. Ya namanya masih satu pulau, masih mirip-mirip. Pake blangkon. Kain batik. Kembang-kembang di kepala penganten perempuan. Rangkaian melati *trus diambilin gitu biar cepet nikahnya bhuahaha. Bedanya mungkin yang saya baru tahu setelah dijelaskan Ray, penganten perempuan Sunda pakai semacam hiasan di kening gitu, Bentuknya kayak wajik yang ditoreh. Apa ini pengaruh kebudayaan Hindu pada zaman era Hindu-Buddha dulu di Indonesia? Entahlah. 

Ini jadi kenapa ngobrolnya berat yak -_-

Intinya, Icha dan Ayip hari itu keren banget. Dekor resepsinya juga bagus. Ada aki-aki yang selalu nongol kaya jadi pembuka acara gitu (lupa namanya aki siapa). Ada penari laki dan perempuan juga yang menyambut rombongan penganten dari depan pintu menuju pelaminan. 

Barakallahu Icha dan Ayip! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiiin!

Suasana riuh rendah. Lumayan rame. Gedung yang tadinya rada dingin mendadak panas karena tamu juga banyak banget. Tapi tetep mata kami bersliweran menyapu pemandangan: mau makan apa yaa..ahahaha. Satu persatu, teman-teman kami datang. Rombongan bis dari kampus juga tiba. Ritual kondangan dimulai: salaman, lalu makan, lalu dipanggil buat foto bersama. Rombongan dari kampus dan teman-teman kami yang pada bawa mobil pergi sekitar pukul setengah dua siang.Tadinya saya dan teman-teman ditawari ikut rombongan bis dosen buat balik ke Bogor. Berhubung kami mesti pamit ke Icha dan keluarganya dahulu (dan pengen cuci mata dulu), kami nggak jadi ikut rombongan.
Sekitar pukul 14.30, setelah pamit ke Icha-Ayyip dan keluarganya, kami pamit.


Gagal fokus: ngelirik menu makanan. Ada salaaaad
 Dari Jalan Aceh, kami menuju Alun-alun Bandung. Hmm.. kayak apa ya alun-alun di kotanya Pak Ridwan Kamil ini? Let's check it out!


Setelah shalat Ashar di Masjid Raya Bandung, tadinya mau nyobain selonjoran di lapangan rumput anyarnya itu...tapi..
Setelah shalat Ashar di Masjid Raya Bandung yang lumayan gede rame, kami berjalan menuju alun-alun yang lagi ngetrend itu. Wooow....Ruame bangeettt.. Itu lapangan rumput artifisial, dan orang-orang duduk menyemut. Sempet kepikiran mau nyari lapak buat duduk, tapi nggak jadi deh. Cukup memandang dari jauh, udah bahagia rasanya *halah. Tapi memang kelihatannya rame-nya over sih. Masyarakat Bandung memang butuh ruang untuk kumpul-kumpul kayaknya. Ray nyeletuk, kalo alun-alun Bandung adalah produk lanskap yang terlalu berhasil. Huahahaha..baiklah.. 

Ternyata..seramai ini :O
 Kami berjalan menuju Jalan Asia-Afrika lalu ke Jalan Braga. Itu Jalan Braga katanya semacam jalan wajib gitu kalo kamu mau dibilang udah pernah ke Bandung. Masa iya sih. Kebetulan saya juga belom pernah ke Jalan Braga. Ya isinya pusaka-pusaka gitu, Gedung-gedung art deco. Gedung jaman Belanda. Pusakalah intinya. Ga cuma di Jalan Braga aja sih. Banyak kawasan di kota kembang ini yang punya bangunan bersejarah pusaka-pusaka gitu. Tapi memang sepertinya sudah terbenam sama bangunan modern masa kini. 
Kalo saya, Ray dan bro Ref, kami menyoroti street furniture yang kami perhatikan. Memang bagus sih. tapi tampaknya terlalu kosmetik. Well, dont judge it as a bad things. Keren banget kok buat kamu yang suka foto dan difoto. Emang disini tempatnya buat mengabadikan diri dan pemandangan ala-ala KAA gitu :D
Gagal paham sama desain ini: ada si modern papan penunjuk jalan, ada gapura yang islami, ada bangunan kolonial..

Ibukotanya Asia-Afrika: Bandung

Gedung Merdeka

The #omomipb walking on Braga Street *halah
 "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum" katanya M.A.W Brouwer. Ada yang tahu siapakah Bapak itu? Saya juga nggak tahu *jdengg. Yeah, memang Jawa Barat ini eksotik sih. Bahkan kompeni Belanda pun betah di Bandung. Saya sendiri sebenernya masih kurang puas nginep di Bandung. Hawanya itu lho..segerrr.. beda sama hawa di Bogor. Apalagi Jakarta. Kayaknya asik aja ngeluyur malam-malam, berjaket gitu, minum sama makan yang panas-panas. bhehe.

Udaah. Ayo balik ke Bogor!

See you next time, Bandung! :)

Sabtu, 23 Mei 2015

Jabodetabek Study Forum 2015

Pertengahan Maret 2015 kemarin, saya dan teman-teman saya berpartisipasi dalam acara Jabodetabek Study Forum 2015 di IICC IPB. Acara tersebut juga menjadi ajang ketemuan sama teman-teman yang bekerja di Unitri Malang. Saya dan teman-teman dari tim Hore-hore Semarang, alhamdulilah, bisa ikutan acara ini. Yang lucu adalah penggagas untuk membuat paper mengenai Semarang ini adalah si Loli. Entah karena lama berkutat dengan jurnal, tesis, abstrak, dll, Loli mengusulkan kami menulis paper (lagi) tentang Semarang. Kali ini topiknya lebih kepada wisata, ahahaha. Secara Semarang memang kota yang punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata, khususnya kuliner. 

Tim "Hore-hore Semarang". Tim yang digagas ama Loli karena terinspirasi dari kuliner Semarang yang enak-enak :v. 
Kali ini saya ikut dalam dua tim, tim Hore-hore Semarang dan tim polutan. Tim polutan beranggotakan member of plantaholic sekaligus alumni asisten TL, hehe. Entah kenapa kami jadi suka membuat abstrak, paper, poster, dan sejenisnya. Kaya lagi nge-hits gitu. Tak lain dan tak bukan si Ray lah biang kerok yang bikin kami semua jadi tersepona sama paper :D Tim Semarang dan tim polutan sama-sama presentasi poster. Tadinya, kami ditawari untuk presentasi oral, namun karena satu dan lain hal, kami memilih presentasi poster saja.

 Muda-mudi ARL Pasca IPB
Acara Jabodetabek Study Forum berlangsung selama dua hari, hari pertama yaitu di IICC IPB Botani Square dan hari kedua field trip ke Sungai Ciliwung dan Alam Sutera Serpong. Hari pertama semua pemakalah memaparkan paper yang telah dibuat dan dipresentasikan dengan sistem panelis. Jadi, kamu bisa memilih presentasi yang sesuai dengan minat kamu berdasarkan guide book yang disediakan.
Acara rutin tentang Jabodetabek ini bagus banget buat kamu yang punya minat sama perkembangan Jabodetabek :D
Tema-tema yang dibahas dalam forum ini tentunya seputar fenomena permasalahan Jabodetabek dan sekitarnya, mulai dari masalah kebijakan pembangunan, arsitektur kota, masalah lingkungan, kemacetan, sosial, dll. Sebenernya tidak terbatas pada Jabodetabek saja sih, buktinya kelompok saya membahas Semarang, hehehe. Ceritanya antimainstream gitu. 

Tim saya yang berikutnya, tim polutan, yang membahas peran taman kota dalam mengurangi polutan di perkotaan (wih...saintis benerr). Ahahahah.. Kali ini bersama sobat saya sejak S-1 yang sama-sama plantaholic.

Harapan saya dari acara-acara seperti ini adalah semoga hasil dari forum ini bisa ditransformasikan dalam bentuk kebijakan lingkungan serta diimplementasikan (*bahasanya formal abiss,,ahaha). Setidaknya masih banyak yang peduli terhadap Jabodetabek dan sekitarnya ini. Orang Indonesia itu pintar-pintar. Sayang banget kalo hasil pemikiran yang udah dihasilkan lalu tidak diterapkan.

Jabodetabek yang dinamis, semoga bisa berpartisipasi lagi di tahun-tahun berikutnya! :D

Rabu, 06 Mei 2015

Bogor Heritage Run 2015

Akhir April lalu, si Ray ngasih informasi bahwa ada acara Bogor Heritage Run (lari-lari Bogor pusaka, wkwk). Seperti biasa, saya malas lari ngelilingin Kebun Raya Bogor. Lumayan itu track-nya. Saya udah ngebayangin, karena pernah ikutan ngiring karnaval ngelilingin Kebun Raya: nanjak di sebelum Tugu Kujang, melandai di Raya Padjadjaran, menurun menuju Sempur, nanjak menuju Istana Bogor, lalu landai-menanjak sampai Suryakencana.


Peserta bejibun. Bujubuneeeng,, maaaakk
Akhirnya, kami rencana lari bertigaan, bareng si Refi. Refi bilang saya dan dia harus gangguin peserta yang lain biar Ray juara. Kebayanglah konyolmya kayak apa. Bhahaha.. Yeah kami berdua larinya jauh dah di bawah kapasitas si Ray. Kami maunya ikut yang kategori umum, tapi si Ray maunya yang profesional karena nanti dapat medali. Okelah, kami pilih kategori profesional.

Malam sebelum hari-H, Refi mengalami musibah sehingga harus pulang ke rumahnya, jadilah tinggal kami berdua yang tersisa. Jadi ragu mau lari, soalnya si Ray kalo lari kaya cheetah. Cheetah cheetahtah. Saya mah, war wer war wer doang. Keberatan lemak.


Asli capeknya, padahal cuma 6,5 km

Nekat mendaftar sebagai kategori profesional, jiper sebenernya ikut acara kaya gini. Bodo amat lah, yang penting lari. Ternyata garis start pun lumayan repot: dari dalam Kebun Raya, ngelilingin sampe deket Istana, keluar di gerbang utama, muter lewat Padjadjaran - Jalak Harupat - Juanda - dan berakhir di Suryakencana. Ray udah ninggalin saya sejak di Kebun Raya. Yowislah. Saya lari biasa aja, Yang penting nyampe, pikir saya. Saya sempet jalan lumayan lama, nggak kuat ama tanjakan. Setibanya di garis finish, saya udah nggak mikir apa-apa. Rasanya cuapeek. Belom pernah ngelilingin Kebun Raya Bogor, lari pula, terseok-seok, bahahaha.. Ray udah tiba lebih dulu, sayang sih dia nggak dapat medali 100 terbaik. Dia mah latihan lari tiap hari. Lah saya, ujug-ujug dateng tanpa latihan dan langsung lari *nekat. Oya, lari ini kami persembahkan buat Bro Ref. Lupa mau bikin tulisan di kertas.



Pada akhirnya, lagi-lagi saya mengakui, bahwa berkeringat karena lari memang menyenangkan dan menyehatkan. Olahraga yang menggerakkan hampir semua bagian tubuh, dan selalu bikin saya pegel setelahnya hehe. I will keep on running!