expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Minggu, 10 April 2016

Konser Piano Allevi

Nonton konser? Baru sekali. Dulu konsernya Boi Akih di kampus, jaman saya masih S-1, udah lamaa banget. Itupun ikut-ikutan teman-teman saya. Konsernya pun di gedung GWW. Kalau tidak salah dia aliran jazz apa ya. Ada lagi yang namanya Jazz Goes to Campus, acara jazz masuk kampus. Saya juga males dateng. Bukan tipe yang menyukai nonton ke lapang, berdiri, hahahihi dst sih. Sama temen kelas saya, Sapu, saya juga sering diajak nonton konser biola dll. Tapi saya malas. Di pikiran saya nonton konser harus pakai setelan jas, pantofel, dasi kupu-kupu, duduk, ngantuk. Ndeso bener dah ah saya ini :D

Suatu ketika akhirnya saya diajak Ray nonton konser piano gratis Giovanni Allevi, pianis terkenal dari negeri pizza. Jujur saya males awalnya. Piano. Pasti ngantuk. Tapi karena Ray bilang dia keren dan nggak menimbulkan kantuk (dikira minum obat gitu) akhirnya saya ikutan. Kami mengirim email ke pusat kebudayaan Italia Jakarta lalu mengambil tiket beberapa hari sebelum konser.



Dari sekian banyak pengunjung yang dateng, saya mungkin paling saltum. Sepatu flat, jaket (parno sama dinginnya AC), jeans, kaos. Sebelas dua belas lah sama style-nya Ray. Kami kelewat nyantai sepertinya. Tamu-tamu yang dateng rata-rata pake baju ala-ala pesta Eropa. Ada yang mukanya mirip Thalia, ada yang mirip pemain telenovela, ada pastur, pokoknya saya merasa saya lagi nggak di Indonesia. Ukuran badannya juga kelewat tinggi-tinggi mereka. Makan apa ya mereka, keju, susu, spageti apa ya yang bikin badan jadi jangkung, halah.

Sebelum saya dan Ray masuk, kami mencari Mr Nao Jadi Ray punya kawan Italia, dan kawannya itu menyuruh Ray menemui Mr Nao karena beliau semacam tim-nya Allevi (Kawannya Ray itu udah kenal baik sama si Allevi). Dengan pede-nya saya menegur Mr Nao dengan "Hi I am Pram. Buenos noches" Kemudian Mr Nao agak bingung dan berkata "It is Spanish, not Italian. It must be buona sera" Jreeeng.. Oo.. Ray nahan ngakak. Kena lo Pram, sotoy mau ngomong bahasa Italia yang nongol malah bahasa Spanyol :v

Setelah mengobrol sebentar dengan Mr Nao, saya dan Ray masuk ke dalam ruang pertunjukkan. Hal yang buat saya takjub adalah saya ngeliat piano di tengah-tengah . Piano rumahan saya sering lihat sebelumnya: di rumah Pak Nizar, di rumah Sapu, di rumah temen SMA saya. Tak lama konser dibuka dengan penampilan pianis Indonesia yang memainkan karya Giovanni Allevi, Secret Love. Setelah itu, Allevi muncul dan memainkan karya-karyanya. Di sela-sela pergantian lagu, Allevi menceritakan kisah dibalik terciptanya karya yang ia hasilkan. Karena listening English saya amat kacau, saya berusaha menangkap apa yang dimaksud Allevi. Sementara itu saya melirik Ray di sebelah saya yang tampak mengerti khusyuk menyimak Allevi sambil senyam-senyum. Dalam hati saya "waduh Allevi ini lagi ngomongin apa yaa..gw ga ngertii"

Tampil sekitar satu jam lebih, Allevi memang memukau. Jago banget main pianonya. Meski di tengah-tengah saya sempet tertidur pulas, saya kembali melek berkat disikut Ray. Udah dingin, dengerin piano, lengkap sudah. Di akhir penampilannya, sejumlah panitia dan tamu penting naik panggung, memberikan bunga, lalu berfoto bersama. Allevi tampak terharu dan senang. Oya  dia juga nggak pakai pakaian formal lho, hanya kaos dan jeans kasual (trus kenapa, hahaha).





Selesai acara, kami keluar ruang pertunjukkan. Allevi sudah dikerubuti oleh para fans-nya. Saya dan Ray mendekati kerumuman orang biar dapat tanda tangan dan bisa berfoto bersama. Ray juga bawa CD nya Allevi. Saya ikut-ikutan aja nimbrung :v Cekrekk...foto dah. Allevi orangnya ramah. Udah mau kepala lima, tapi gayanya kaya mas-mas 30-an haha. Kekonyolan berikutnya ketika saya menerima tiket konser saya yang sudah ditandatangani oleh Allevi, "Gracias" ujar saya. Allevi membalas sambil tertawa "Grazie". Oalah,.saya lupa lagi sama kosakata bahasa Italia. Hahahaha.. mau keren-kerenan ngomong Italia malah nyasar Spanyol.

Sukses ya Om Allevi semoga makin mahir main piano :D




Senin, 04 April 2016

Drama Tugas Akhir


Mengerjakan tugas akhir bagi beberapa orang bukanlah masalah. Beberapa orang yang lain, menjadi masalah. Ibarat pintu gerbang, tugas akhir adalah gerbang bagi setiap mahasiswa yang ingin 'keluar' dari kampus. Mungkin baru kali ini saya mengalami masa studi yang diisi dengan berbagai jenis masalah yang lebih kompleks  daripada ketika saya kuliah S-1 dulu.

omomipb sama brahmanagirls :D

Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada beberapa faktor utama terkait tingkat kecepatan penyelesaian studi. Ada yang bersumber dari mahasiswanya, dari dosen pembimbingnya, atau memang kondisi luar yang seringkali tidak terduga. Apapun kesulitan yang dihadapi, percayalah, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir (hehe..ini jeritan hati mahasiswa tingkat akhir yang udah dicetak dibikin kaos :D). Carilah partner in crime kamu dalam mengerjakan tesis. Saya sangat menyarankan ini, khususnya bagi kamu yang nggak bisa belajar sendiri. Buatlah kegembiraan, ciptakan keceriaan. Mengerjakan tesis, frustasi, itu banyak terjadi. Sebagai mahasiswa yang menyandang status 'tingkat akhir' harus menguatkan diri dan tetap memupuk semangat. Carilah dukungan dari keluarga, teman, dan orang-orang terdekat.

Well, pada akhirnya setiap orang akan memiliki 'drama'-nya masing-masing dalam menyelesaikan tugas akhir.  Dan nantinya, drama itu kelak akan jadi kisah yang menyenangkan untuk diceritakan.

Minggu, 13 Maret 2016

Wisata Jalan Kaki di Bogor

Suatu hari, tamu negara yang sudah mengirimi kami ikan teri Sulawesi, Ibu Julia, datang berkunjung ke Bogor. Well, saya dan Ray bertugas menjadi guide Ibu Julia. Awalnya kami berdua bingung, mau ajak Ibu Julia kemana.. Akhirnya tercetus ide untuk mengajak Ibu Julia berwisata jalan kaki mengitari Kebun Raya :D

Rute jalan kaki kami: Stasiun Bogor - Jalan Kapten Muslihat - Jalan Ir H Djuanda - Jalan Jalak Harupat - Jalan Salak - Taman Kencana - Jalan Papandayan - Jalan Padjadjaran - Jalan Otto Iskandardinata - kembali ke Jalan Ir H Djuanda ;D

Jalur Pedestrian di pertigaan Jalan Ir H Djuanda-Jalan Kapten Muslihat. Hati-hati saat hujan, keramik lumayan licin
 Jalan kaki? Siapa tak pernah jalan kaki? Aktivitas menyehatkan ini seharusnya rutin dilakukan. Saya sendiri selalu berusaha berjalan kaki saat mengujungi Bogor. Maklum, waktu saya habis di kendaraan :D Sejak saya SD-SMA, saya biasa jalan kaki sekitar 1 km setiap harinya. Saat saya kuliah di Darmaga, lebih lagi. Saya selalu jalan kaki. Hingga akhirnya budaya saya berubah saat memiliki sepeda motor: saya jadi suka naik motor.

Jalur pedestrian Jalan Kapten Muslihat, di sisi Sekolah Mardi Yuana-Kantor Polisi. Lumayan lebar dan ada jalur untuk penyandang tuna netra 


Jalur pedestrian di Jalan Jalak Harupat
Jalur pedestrian di Bogor ini masih belum nyaman. Sekeliling Kebun Raya, fasilitas pedestrian masih kurang 'lega' (hanya sekitar 1,5 meter lebarnya) dan terasa licin karena adanya tegel keramik yang seharusnya tidak digunakan. Penggunaan tegel keramik seharusnya dihindari karena intensitas hujan yang tinggi memungkinkan pejalan kaki terpeleset. 


Paving di Taman Kencana 
Sepanjang rute yang saya tempuh bersama Ray dan Ibu Julia: ada banyak pemandangan yang menarik. Gereja Katolik dan Sekolah Mardi Yuana, Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor, Sekolah Regina Pacis, Taman Sempur dan Taman Ekspresi, Taman Kencana, Kampus IPB Gunung Gede, Taman Jalan Salak, Taman Bogor, FO dan Hotel di sepanjang Jalan Padjadjaran, IPB Baranangsiang, Tugu Kujang, dan Pasar Bogor.

Perjalanan kami berakhir di Gerbang Suryakencana. Ibu Julia melanjutkan naik angkot menuju stasiun dan kami berdua berjalan kaki menyusuri Jalan Ir H Djuanda.



Tak banyak orang yang datang ke Taman Kencana saat hujan tiba. Kalau mau selfie sepuasnya, inilah tempatnya :D


Yang akan kamu lihat saat berjalan di perempatan Jalan Salak-Jalan Lodaya-Jalan Padjadjaran
Tak menampik bahwa berjalan kaki di Bogor saat hujan itu menyenangkan. Wisata jalan kaki adalah wisata murah yang bisa dicoba, hehe. Saya berharap bahwa kedepannya kualitas fasilitas pedestrian di Bogor akan semakin nyaman dan aman. Tidak ada lubang-lubang, keramik pecah dan licin, batang pohon di tengah pedestrian, tiang-tiang besi, listrik, dan rambu, dan seterusnya. Tak mustahil nantinya Bogor akan menjadi kota layak pejalan kaki, bukan? :D

Jalur pedestrian Jalan Padjadjaran, di sisi Kebun Raya Bogor

Ayo wisata jalan kaki di Bogor :D


Gerhana



Foto-foto di atas sama sekali nggak representatif menunjukkan gerhana matahari yak :D Saya dan Refi sedang menginap di Bogor di tempat Ray. Nggak ada niatan mau merayakan gerhana matahari layaknya turis-turis yang pada pergi ke Palembang, Bangka-Belitong, Pontianak, Balikpapan, Palu, atau Ternate sana. Kami punya urusan masing-masing yang menyebabkan kami jadinya berkumpul di kota hujan.

Pagi hari, saya dan Ray keluar kos, melihat gerhana matahari. Refi nggak mau ikutan, katanya ngantuk.

Saya dan Ray nggak modal kacamata hitam atau kaca film. Kebetulan di luar kosan udah ada bapak-bapak dan istrinya udah pake kacamata hitam. "Dek ayo sini dek, udah gerhana tuh, dipakai kacamata hitamnya" ~ kacamata hitam siapa pula.. saya dan Ray ga punya. "Nih coba lihat pake kacamata hitam saya" kata si bapak-bapak itu. Dengan wajah polos saya bilang makasih dan saya coba "Waw.. subhanallah iya Pak keliatan" seru saya.

Konyol banget, udeh nggak modal kacamata item mau nonton gerhana :D

Sekonyong-konyong langit menjadi agak mendung. Separuh matahari tertutup bulan. Kalo kata berita gerhana ini momen langka. Makanya orang-orang pada rela pergi ke kota-kota yang saya sebut di atas untuk menikmati fenomena alam langka tersebut. Banyak turis asing datang ke Indonesia karena kebetulan hanya Indonesia yang mengalami gerhana matahari total ini.

Bersyukurlah Bogor masih kebagian liat gerhana meski hanya sebagian. Banyak-banyak berdoa dan solat gerhana kalo kata sunnah nabi.

Nah, saya dan Ray mau ikut solat gerhana di mesjid tapi udah keburu mulai :O Whew..mau masbuk juga nggak mungkin. Yaudah deh saya ngiterin jalan raya di seputaran Kebun Raya yang lumayan sepi. Selang setengah jam berlalu, matahari pun kembali terik. Balik ke kosan, Refi nanya "gimana gerhananya? Kelihatan" Ahahahaha..

 See you next time, gerhana! :D


Main ke ISTN



Akhirnya saya main ke ISTN, salah satu dari sekian kampus yang punya jurusan Arsitektur Lanskap yang juga jadi tempat si master Ray ngajar hehe. ISTN alias Institut Sains dan Teknologi Nasional ini berada di Kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Asli, tempatnya masih lumayan asri. Dekat dengan lokasi wisata budaya Kampung Betawi Setu Babakan. Lokasi Jagakarsa sepengetahuan saya memang 'kantong hijau'-nya Jakarta Selatan. Ada Kebun Binatang Ragunan (masuk Kecamatan Ps Minggu dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Jagakarsa), ada Kampus UP, Kampus Polimedia, Kampus UI serta Gunadarma. Naek Commuter Line juga mudah. Aksesibel banget :D


Saya dan teman-teman datang ke ISTN dalam rangka menghadiri seminar terbuka ISTN yang temanya tentang Wisata Alam, Sejarah, dan Budaya dari Perspektif Arsitektur Lanskap. Pembicaranya adalah temen saya yang udah kesohor dengan buku Student Traveller-nya, Annisa 'Potter' Hasannah, dan gadis Pangandaran, Hanni Adriani :D Bangga rasanya melihat mereka jadi pembicara.
Annisa Potter menjelaskan tentang pengalamannya jalan-jalan ke 21 negara. Waaw.. mupeeng :D. Paling kiri adalah Deria, mahasiswa yang sudah lulus dan meneliti tentang perencanaan Kampung Betawi Setu Babakan, keren dah. Nah sebelahnya ada Digo yang mendesain kampung budaya Padang +lumionnya, mantaap... :D 

Hanni Adriani menjelaskan tentang lanskap pesisir serta pengalamannya yang banyak di bidang pesisir. Manteepp :D Di sebelahnya adalah mahasiswa ISTN yang membahas tentang lanskap kebun binatang (kereen..). Belom pernah ada dah mahasiswa IPB setahu saya yang membahas kebun binatang,,hehe

Dosen di ISTN juga banyak yang dari IPB. Saran saya memang harus ada komunikasi ilmiah antara ARL IPB dengan ISTN karena kebetulan core atau inti pengajaran antara IPB dan ISTN berbeda. Kalau di IPB, sangat saintifik, sangat tanaman (apa coba sangat tanaman? wkwkw) dan konsep-konsep yang ditekankan. Di ISTN yang saya lihat memang kuat di perancangannya, material, dan ada step-step pengenalan serta studio desain yang bertahap. Memang harus ada kolaborasi jadi nantinya lulusan ARL IPB maupun ISTN bisa siap menghadapi permintaan pasar. Sukses! ~

Puding mangga, made by @liebeloly Hahahaha

Oya, satu lagi, teman saya si @madebyliebeloly juga ikutan nimbrung di acara Seminar Terbuka ARL ISTN. Jadi ada semacam bazar kecil-kecilan. Dia jualan kreasi jahitannya yang keren-keren serta jualan puding.  Bahkan ibu-ibu dosen ISTN sempat kagum kok sempet-sempetnya anak pasca IPB bikin acara jual-jualan. Wkwkwk.. Terima kasih untuk Pak Dosen Ray yang udah membawa bala tentara IPB ke ISTN. Semoga ada acara-acara keren bin seru kaya begini lagi kedepannya dah :D

My Kwetiau

Can't wait to taste, can't forget it :)

Hidup saya belakangan sedang banyak masalah. Orang-orang dekat saya bilang, saya mau naik kelas. Amiinn :D Kalo kata Mbak Agnes life is never flat. Okedeh. Salah satu hal menyenangkan yang bisa saya lakukan untuk bikin saya amnesia sama masalah adalah makan. Ahahahaha.. Yeah, makan makanan enak adalah hal yang bikin saya senang. Satu lagi makanan yang masuk list makanan yang membuat hati gembira (lebhayy..) adalah kwetiau goreng. Makanan ini saya makan tepat saat saya berulang tahun. Kurang tahun sih tepatnya, usia saya makin berkurang di dunia yang fana ini :v Sayang sih mau nunjukkin betapa lezatnya kwetiau tapi gagal fokus. Fokusnya malah ke telor ceplok :O Apalah arti sebuah foto, yang penting rasanya bro. Wuiih.. udah enak, kenyaang. Bersyukur bisa kenal sama ahli gastronom kuliner China, master Ray, ahahaha.

Gaya Tunggal adalah nama tempat saya makan kwetiau goreng itu. Tempatnya sebenarnya suram sih, kaya bangunan jaman dulu kala yang udah usang banget. Estetika nggak selamanya menjadi pertimbangan penting. Makan langsung di tempat dengan interior seadanya itu rasanya lebih menyenangkan :D Well, saya nobatkan tempat makan itu sebagai stepping stone saya kalo lagi ke Bogor.


Kamis, 10 Maret 2016

21 tahun yang lalu

Adik saya belum ada kala itu, jadi saya sempat jadi anak bungsu. Katanya orang-orang wajah saya dan kakak-kakak saya mirip mama. Tapi sering juga dibilang saya mirip bapak. Yang di tengah adalah almarhum mbah kung, bapaknya bapak. Mbah kung rajin mengunjungi kami. Saya suka bingung kenapa mbah-mbah itu hobinya keliling-keliling: mengunjungi saya serta rumah om dan bulik saya. Mbah saya itu tergolong sehat; hobinya jalan kaki. Biasa naik angkot sendiri. Jangan bayangkan angkot Jakarta seperti sekarang ini, jaman dulu kala angkot relatif 'menyenangkan untuk ditumpangi' dan jalanan belum semacet sekarang ini. Hobi mbah saya: bawa tas, topi, dan payung.

Kami punya kulkas kecil dan terkadang saya suka ngumpet di dalam kulkas. Rak-rak di dalam dikeluarin dulu beserta isi-isinya, dan ketika orang rumah mereka kaget melihat saya masuk di dalam. Menurut saya dulu kulkas adalah benda hebat. Seperti robot pendingin. Saya suka tidur di depan kulkas yang pintunya terbuka. Meskipun lantai rumah kami adalah lantai jaman dulu kala yang lumayan adem dan cuaca juga masih jelas, saya sering buka pintu kulkas. Seru aja rasanya.

Sekalinya punya mainan gembot (game watch maksudnya), kami bertiga rebutan main, jadi digilir gitu, hehe. Sebenernya saya sih yang paling punya banyak mainan dibanding kakak-kakak saya. Ada kereta-keretaan, pesawat, rumah indian dan pasukannya, helikopter, mobil-mobilan, roller coaster, lego, balok-balok kayu, dll. Tiap saya main saya selalu menumpahkan isi dua kardus mainan saya di ruang TV. Kemudian saya tinggal gitu aja ketika teman-teman saya datang mengajak bermain. Tau-tau pulang ke rumah udah beres aja.



Saya dan kakak-kakak saya pernah sesekali main di Kali Cipinang. Dan jangan bayangkan kondisi Kali Cipinang seperti sekarang ini: Kali Cipinang jaman saya kecil masih bersih. Saya ingat saya nyemplung dan mencari ikan-ikan kecil di tepian sungai. Alirannya tak begitu deras dan masih ada batu kali yang penampakannya seperti di perdesaan :D Di tepi kali ada banyak tanaman jali-jali: sebangsa tanaman mirip padi yang ada biji di ujungnya dan bisa diambil. Kakak-kakak saya dan teman perempuannya biasa membuat mainan kalung. Saya ikutan bantu mengambil jali-jali. Sekitar rumah kami banyak sekali jali-jali. Kata orang tua dulu, rumah kami itu dulunya areal persawahan yang kemudian berubah fungsi jadi permukiman. Jali-jali ternyata juga kerabat padi-padian, jadi tak heran masih ada sisa-sisa tanamannya.

Masih ada tanah lapang untuk kami bermain. Belajar sepeda, kejar-kejaran, lomba 17 agustusan, main layangan, main bola, sampai nonton layar tancap :D Jakarta 21 tahun yang lalu sungguh amat menyenangkan.



Selasa, 01 Maret 2016

Taman Heulang, Bogor

Satu lagi tempat rekreasi asik di Kota Bogor. Taman Heulang namanya. Heulang, artinya elang dalam bahasa Sunda. Nama-nama jalan yang ada di lokasi kebetulan banyak nama-nama burung. Taman Heulang ini lokasinya ada di Tanah Sareal, dekat dengan Warung Jambu Plaza dan GOR Padjadjaran.

 





Tamannya masih lumayan gress, jadi pepohonan juga kecil-kecil. Sabar menanti aja,hehe. Luas taman ini menurut pekerja yang saya jumpai di lokasi adalah sekitar 2 hektar dan tanahnya flat alias datar. Katanya sih dulu ini tanah lapang biasa untuk orang-orang belajar stir mobil. Areal sekitar taman ini ada SMK, dan perumahan dengan halamannya yang masih asrii banget. Ibarat kata mungkin kawasan ini adalah "Kebayoran Baru"-nya Kota Bogor,hehe. Jangan khawatir haus atau kelaperan, tetep ada spot kuliner di sekitar taman












Yang saya suka di taman ini adalah keberadaan panggung yang selain bisa dimanfaatkan untuk berteduh, bisa untuk pentas kecil-kecilan gitu. Ada juga lampu tenaga surya tapi modelnya ajaib, hahaha. Buat yang doyan jogging, lari-larian, mau males-malesan, baca buku, piknik, ngobrol sama temen dll, tempat ini cocok banget buat menghabiskan waktu :D Bosen gak sih ngegaul ke mall mulu? Kan Kota Bogor kota sejuta taman, jadi ayo kita ke taman menikmati alam, hehe.

Babon dan Ikan

Teman baru saya nama aslinya Julianti. Dia adalah temannya Ray sejak masa sekolah dulu. Nggak akan pernah tau nama aslinya sampai dikasih tau soalnya panggilan sehari-hari dia Babon. Lupa sejarahnya bagaimana dia bisa dipanggil seperti itu. Pernah ketika saya ada suatu hal dimana saya minta email dia, alamat emailnya adalah cacagirl apaa gitu -_- ngoaahahahha.

Babon berkenalan dengan kami ketika saya dan Refi main ke tempat Ray di Kota Kendari. Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara itu menjadi tujuan terakhir kami dari serangkaian jalan-jalan saya, Refi, dan Ray dalam Tour de Southeast Sulawesi :D Oya, di perjalanan laut kami dari Baubau menuju Kendari yang hampir selama 5 jam itu (kedengarannya lama, tapi pas kau naik kapal itu rasanya kaya dininabobokan gitu, semilir banget anginnya) saya sempat nyicipin nasi kuning ala kapal. Karena saya tipe orang-harus-sarapan sementara Refi dan Ray tidak biasa sarapan, akhirnya saya beli sarapan sendiri dari ibu-ibu penjual nasi dan saya menikmati makan dengan sensasi kapal berlayar (lebay sih, kapalnya juga goyangnya biasa aja :P) dan hmmmmmm enaaaaak! Ikan cakalang, mie, telur, nasi, tempe orek, krupuk, hanya dengan 10 ribu rupiah. Bayangkan, ikan cakalaaaang. Kalo di Jawa harganya muahaaall,,di Sulawesi murah. Maknyus banget dah :D


Tiba di Kendari kami bertemu dengan Babon. Sebelumnya saya pernah kenalan dengan Babon pada Desember 2014 silam saat kami main bareng Mariski dan Ray ke Botani: makan makanan Korea di Muji*gae, ahahaha. Senang bisa ketemu Babon lagi di pulau yang berbeda, Pulau Sulawesi. Babon jadi tour guide kami selama di Kendari.



Nah lanjut. Babon sekarang sekolah pascasarjana di Jakarta. Kami bertiga sempat main (main apa nggak ya sebenernya) di seputaran UI Salemba. Menikmati suasana malam ala-ala orang kota. Babon sempet kerja di klinik, jadi perawat, dan sekarang kuliah lagi dengan jurusan yang berbau kesehatan juga. Dia pengen ajak kami main lagi. Langsung saja saya tawarkan "main ke taman yuk". Babon agak kaget, main ke taman ngapain coba, ahahahah. Saya bilang aja kita belajar tanaman, liat bunga, pohon. Babon kayaknya ngerasa takjub. Ya bolehlah, katanya, wkwkkw.
Makasih Baboon :D
Suatu hari di awal Januari, Babon kirim pesan yang intinya mengajak kami pergi main sambil makan ikan dari kampung halamannya di Buton, Sulawesi Tenggara sana. Entah karena sibuk sama berbagai hal saya dan Ray lupaa dan jreng-jreng,, Februari dah mau berakhir. Babon bilang dengan baiknya bahwa ikan gelombang pertama sudah habis, masih ada ikan gelombang berikutnya yang akan tiba. OMG, jahatnya saya sampe lupa :D Maap boon... Ray cuma bilang kalo saya harus makan ikan itu (ternyata ikan teri sulawesi gitu). Itu ikan, lanjut Ray, udah menempuh perjalanan jauh. Lewat laut naik kapal, naik pesawat terbang (transit di Makassar), tiba di Jakarta naik Damri, trus menuju Bogor naek Commuter Line. Wheww.. Ikan itu pasti jadi makin gurih: keringat mereka banyak karena perjalanan jauh hihihi..
Ternyata uweenaaakk.. saya langsung foto dan kirim ke Babon sambil mengucapkan terima kasih. "Waah senangnya, ayo langsung dimakan sama Ray" kata Babon. Sedaaapppp..