expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label Depok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Depok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

Jalan Margonda, Kondisimu Saat Ini..

Apa cuma saya yang merasa bahwa kota belimbing ini lanskap jalannya nggak keliatan apik ya??

Mungkin itulah gunanya studi banding. Berkesempatan melihat-lihat kota lain di bumi ini sedikit demi sedikit mempengaruhi persepsi saya mengenai standar lanskap jalan suatu kota. Salahkan jurusan saya, arsitektur lanskap, yang hobinya ngebawelin segala rupa (wkwkw...). Sejak saya SD, saya sudah sering main ke kawasan jantung Kota Depok ini. Kalo kata si Ray, kawasan jantung kota ini sudah 'ditusuk-tusuk' dengan segala macam bentuk rupa bangunan dan embel-embelnya.. Wajarlah kalau kota ini kehilangan banyak darah.. *lebhayy..

Kota ini diapit oleh Jakarta dan Bogor serta dilalui jalur transportasi KRL Bogor-Jakarta sehingga tak heran kota ini semakin dinamis. Dulu, ada banyak pohon angsana besar-besar di kiri-kanan Jalan Margonda.  Jalanan belum selebar sekarang. Pertokoan juga. Mal juga baru ada satu. Sekarang? Wuih, silahkan datang sendiri ke sana :D Tampaknya pemkot kebingungan menyiasati cara untuk menata lanskap Jalan Margonda: bangunan keburu sudah berdiri, dan volume kendaraan meningkat dan membutuhkan tambahan lahan.

Berikut beberapa poin penting yang saya temui di Jalan Margonda.


1. Trembesi di tengah median jalan Margonda



Niat mulia untuk menghijaukan kota tetapi tidak mengetahui penataan tanaman yang tepat. Begitulah kira-kira yang saya pikirkan. Median jalan yang membatasi jalur dari dan menuju Jakarta ini ditanami trembesi (Samanea saman). Suatu jenis pohon peneduh yang populer (udah lama populernya). Contoh yang bagus bisa pembaca lihat saat berkunjung ke kawasan Kota Wisata Cibubur. Jejeran trembesi ditanam dengan menyediakan space yang cukup untuk kebutuhan perkembangan akar pohon. Bandingkan dengan kondisi trembesi di tengah Margonda raya ini. Sedih melihatnya. Sudah terjepit beton jalanan, kanstin, nggak kebayang perkembangan akar trembesi ini.. :( Menurut saya, pemkot bisa menanam tanaman tipe penutup tanah atau semak rendah saja yang tidak terlalu membutuhkan ruang banyak untuk perkembangan akar. Bisa pakai soka, oleander, bugenvil, teh-tehan, dsb.

Mau nanam di kiri-kanan jalan juga nggak bisa. Udah keburu penuh dengan bangunan.

2. Mulai banyak bangunan tinggi-tinggi


Di jalur utama Kota Depok ini mulai banyak bermunculan bangunan-bangunan tinggi. Mal, hotel, apartemen, menjamur di kiri-kanan jalan. Entah perencanaan kotanya atau apa, menurut saya kurang tersegmentasi dengan jelas. Zonasi, belum terbaca. Sepanjang jalan full dengan bangunan. Mata saya agak lelah dengan pemandangan di sepanjang Jalan Margonda ini. Kebanyakan iklan, baliho, poster, dll. Terlalu banyak tulisan, mengacaukan konsentrasi. Padahal, jika pembaca berkunjung dari arah Jakarta menuju Jalan Margonda, akan tampak pemandangan Gunung Salak nun jauh di Bogor sana (*syarat dan kondisi berlaku, hehe). 

Ngomong-ngomong Depok ini mana ya taman kota-nya? (Itu..Kampus UI)... *lempar pot kembang*

3. Jarang ada jembatan penyeberangan orang (JPO)


Saya memfoto JPO ini di salah satu segmen di Jalan Margonda. Kenapa harus muter-muter begitu ya? Trus itu pijakannya gede-gede banget. Kalau ada orang yang berkebutuhan khusus, misalkan penyandang cacat/pengguna kursi roda mau menyeberang jalan, bagaimana?Itu licin nggak kalo hujan? Kemiringannya udah nyaman belum? (*ngomel teroooss...*).

Demi alasan keselamatan sebagai alasan utama (abaikan desain kenyamanan dll), saya akan pakai jembatan ini untuk menyeberang jalan. Asli, Jalan Margonda ini super ramai. Berbahaya untuk menyeberang! Bukan hal yang aneh kalau kondisi lalu lintas di kota-kota besar di Indonesia ini sangat kacau: ngebut sepuasnya, pepet-pepetan, main klakson, hrrrrrr.. Perlu ada banyak JPO di sepanjang jalan ini. Bahkan jalanan yang tersedia zebra cross dan ada rambu "utamakan penyeberang jalan", dikasih lampu lalu lintas, dikasih undukan di sepanjang jalan agar kendaraan melambat, kayaknya nggak signifikan nyata berpengaruh dah... Bersyukurlah masih nemu JPO di beberapa titik di jalan ini, meskipun kurang nyaman dan aman.. FYI banyak juga penyeberang jalan nekat nyeberang Jalan Margonda ini lalu nunduk-nunduk nyelip masuk pagar median jalan. Waduh..

4. Jangan harap bisa berjalan dengan nyaman di pedestrian




Jalur pedestrian di kiri-kanan jalan ini mungkin sebenarnya udah ada, udah dibikin, tapiiii...well.. lihatlah pada foto di atas. Lupakan hak pejalan kaki. Lupakan kenyamanan, apalagi masalah desain. Prinsipnya adalah berjalanlah paling pinggir agar tidak disenggol kendaraan yang lalu lalang. Apalagi saat ini kendaraan sepenuhnya parkir di bahu jalan. Suka kepikiran, jadi gunanya ngelebarin jalan cuma buat jadi  lahan parkiran?

Banyak banget plang yang penempatannya nggak tepat. Rambu-rambu larangan banyak banget juga kayaknya nggak ngefek. Sorry to say, seperti nggak berdampak. Belom lagi para pedagang yang masuk ke wilayah pejalan kaki. Bener-bener pusing pala berbi. Ada benernya kata temen saya, orang Indonesia rata-rata malas jalan kaki. Dikit-dikit mobil, dikit-dikit motor. Ya jangan nyap-nyap kalo jalanan macet. Sedihnya, yang niat pengen jalan kaki malah nggak difasilitasi. Yang difasilitasi hanya yang punya kendaraan. Karena taraf kesuksesan dan kemakmuran diukur dari kepemilikan kendaraan,, ya beginilah jadinya. Nggak adil. Hanya menyediakan ruang untuk pejalan kaki susahnyaaaaa minta ampun.

Sebenarnya ilmunya sudah ada, konsepnya juga udah. Tinggal bagaimana keseriusan menerapkan di lapangan. Jalan raya sejatinya merupakan ruang publik dan masyarakat pengguna jalan berhak mendapatkan rasa nyaman dan aman. Selain desainnya perlu dibenahi, perilaku masyarakat juga harus di-upgrade gitu..

Perilaku..waduh.. gimana dah tuh ribet nyeritainnya :D

Mau jalan nyaman di Jalan Margonda, hm,,kapan yaa.






Sabtu, 28 Januari 2012

Nyap-nyapin Jl Margonda Depok


Kota di selatan Jakarta ini umurnya memang seumur jagung. Baru 12 tahun. Tapi, perkembangannya sangat pesat, terutama di bagian tengah yang meliputi wilayah Margonda Raya dan sekitarnya. Perkembangan disini menurutku masih sebatas perkembangan fisik bangunan: mal, ruko, tempat makan, pelebaran jalan. Sedih sih, bukan Depok yang dulu aku kenal. Yah, efek perkembangan zaman. Penduduk tambah banyak. Mereka butuh perumahan, fasilitas pemenuh kebutuhan, transportasi,, maka lingkungan lalu 'dikorbankan'. Depok jadi Jakarta. Depok yang di-Jakarta-kan.

Masih ingat aku akan keberadaan pohon angsana besar dekat Gang Sawo tempat biasa anak-anak UI maupun masyarakat yang mau naik KRL di Stasiun UI. Pohon itu menjadi penandaku setiap aku hendak pulang ke Bogor via Stasiun UI. Atau jejeran angsana dekat Toko Buku Gramedia yang kokoh, yang menjadi aling-aling peneduh kala siang.

Semuanya lenyap. Sejak Pemerintah Kota Depok melakukan proyek pelebaran Jalan Margonda Raya kurang lebih dua tahun terakhir. Puluhan pohon ditebang demi alasan pelebaran. Tidak ada perencanaan jalur RTH jalan. Tidak ada pedestrian yang nyaman. Tidak ada jembatan penyebrangan. Tidak ada median jalan untuk tegakan pohon. Lahan parkir terbatas. Pertokoan menjamur tiada batas. Angkot bertaburan berhenti seenaknya. Pengguna kendaraan pribadi menggila. Merasa berhak seenaknya serobot sana-sini. Pengguna jalan lantas berjalan tidak di pedestrian. Jalur jalan menjadi 4 lajur. 2 lajur paling kiri malah menjadi tempat parkir dan jalur pejalan kaki. Aneh bin Ajaib. Ruwet. Semrawut. Berjalan di tepian jalan terbesar di kota ini, menurutku pribadi, sungguh tidak nyaman. Hardscape terlalu mendominasi. Padahal sejak dulu kota ini masih dikenal dengan lingkungannya yang masih alami. Tapi tidak untuk jalan utama ini. Elemen identitas pun tak nampak. Heran benar-benar heran (ini saya mulai cerewet pemirsa, hehe). Hanya gerbang angkuh "selamat datang" dengan ornamen belimbing. Sudah. Tidak ada sesuatu yang menarik. Bosan. Toko-toko. Mal. Banner. Sama saja. 

Mana pohon belimbingnya? Katanya kota belimbing? *tepoknyamuk

Margonda ibarat beranda, halaman depan, welcome area, tapi entahlah tak ada hasrat pelaksana menyajikan elemen identitas. Elemen identitas yang nampak? Ruko. Mall. Gedung kotak-kotak dengan banner berwarna mencolok. Nama "Margonda" begitu menjual. Sangat bisnis. Lalu entah siapa memulai namanya menjadi dipenggal, "Margo". Ketika saya kuliah saya pun baru tahu bahwa Margonda adalah nama pahlawan. Adakah yang peduli? Sepanjang jalan ini, poros utara-selatan, sungguh,, benar-benar tak menarik dari sisi lanskap. Profit oriented, itu yang saya tangkap di sepanjang jalan ini.Agak memaksakan, pemkot menanam pohon trembesi di median jalan yang ukurannya sekitar 60 cm. Berharap itu pohon-pohon bakal tumbuh sempurna, jreng, ijo gitu? Bagaimana nantinya kalau trembesi itu tambah besar? Perakarannya? Itu median juga kansteen semua. Tanah seiprit. Kenapa ga dari awal disiapin lahan?

No softscape. Just hardscape.

Tengoklah ke Kampus UI. Sungguh berbeda nuansa di areal kampus. Masih ada yang bisa dibanggakan dari kota ini. Kehijauan kampus ini cukup mengobati pilu melihat kenyataan lanskap Jalan Margonda saat ini. Seharusnya berkacalah pada lanskap kampus UI. Tak ada ruginya memperbaiki lanskap jalan menjadi lebih baik, lebih manusiawi. Menjalankan peraturan yang telah dibuat seperti peraturan Damija (daerah milik jalan), GSJ (garis sempadan jalan) + bangunan, perizinan pembangunan, peruntukan jalur hijau jalan.
Kalo mau merubah memang perlu kesadaran semua pihak.

Makin cerewet saya ini :P Saya mengkritisi saja. Payah juga ya,haha..




Gerbang Masjid UI. Bagus ya.

Bloggers mungkin pernah mengunjungi Masjid UI dan disambut dengan gerbang ini. Yap, ini gerbang Masjid UI. Bagus. Seperti gerbang di negara Tiongkok. Apa mungkin ada korelasinya ya, karena daerah ini secara administratif masuk Kelurahan Pondok Cina? Jadi sebagai pengingat bahwa "ini lho, masjid UI ada di Pondok Cina," hehe..ngasal. Emang ada yang mikir kaya aku ini? Mudah-mudahan ada. Apaseeh :P
Masjid ini nyaman banget buat beribadah (saking nyamannya habis shalat dulu saya biasa tidur ayam disini barang 5-10 menit,hehe ). Di tepi danau UI, masih banyak rindang pohon, hamparan rumput, desain masjid dan warna yang kalem,, Subhanallah,, baguus :) Begitu keluar dari lingkungan Kampus UI ke arah Jalan Margonda, jreeeeng,, suasana berubah drastis.. Yah sabar aja dah..

Udah ah kritisninya. Maap terlalu emosional. Ambil positifnya aja, okeh :) Sekian nyap-nyapnya. Nyaaaapp