expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 13 September 2014

From 3 to 6

Belakangan ini saya punya 'tempat nongkrong' baru. Bukan cafe, apalagi tempat diskotik,,haha.. tapi ini adalah ruangan dosen. Haha..yeah sungguh angker rasanya. Inipun atas desakan dosen saya. Menurut beliau, saya ini harus 'dipaksa' biar nulis tesis. Setelah berbulan-bulan tesis saya tinggalkan (berasa jadi bang Toyib). Tapi sungguh jujur saya lebih baik nulis blog daripada tesis, haha..becanda. Saya tetap harus tetap nulis serius alias nulis tesis.

Cuma yang agak nyebelinnya adalah saya harus naik-turun tangga dari level 3 ke level 6 :O. Ruangan dosen saya ini berada di level 6. FYI di kampus saya memang agak unik. Level tidak serta-merta diartikan sebagai 'lantai'. Justru level pertama di Gedung Fakultas Pertanian ini dimulai dari level 3. Level 1 berada nun jauh di gedung perpustakaan sana, dekat dengan Situ Leutik. Kampus ini memang berkontur sih, jadi ada sensasi tersendiri di sini. Sensasi jalan kaki yang berujung pada capek, hahaha. satu..dua..satu..dua..majuu..jalaan!

Kalo nggak cepet-cepet jalan nanti tangga-nya bakal bergerak *berasa di Kastil Hogwarts*
 Jadi mahasiswa nggak boleh malas. Adil sih sebenarnya: mau mahasiswa, staf, atau dosen, semuanya harus jalan. Naik turun-tangga. Kalau ada barang yang kelupaan, misalnya, ya harus berjalan. Seneng kalo turun tangga, lah pas naik tangga? Waduw pengen nangis rasanya. Tidak ada lift. Mungkin memang seharusnya ada lift karena gempor juga kalau sehari mesti naik turun tangga berkali-kali (*ngarep). Tapi kadang nggak adilnya adalah bagi mereka yang (maaf) difabel, atau memiliki kesulitan berjalan. Teman saya baru-baru ini sakit kakinya karena kecelakaan, tetapi dengan semangat juang 45 dia semangat menjemput saya di ruangan dosen yang kini saya bersemayam di dalamnya. Sempet kepikiran ngasih saran buat bikinin tiang kaya di mess nya pemadam kebakaran. Jadi dari level 6 ke level 3 langsung merosot gitu, sroooot.. Atau nggak sekalian ada flying fox biar tambah seru ini kampus, bhahaha..

Saya hitung-hitung tiap lantai ada 60 anak tangga (tadinya nggak mau ngitung, saking bete-nya lihat anak tangga jadi kepikiran buat ngitung mereka). Berarti dari level 3 ke level 6 perlu 180 anak tangga sekali naik. Wow banget kan! Hahaha..sebenernya ini adalah musibah membawa nikmat. Saya jadi agak langsingan meski mungkin cuma beberapa gram saja. Naik-turun mengurusi ini itu, lumayan bikin badan jadi bergerak dan gesit. Tapi memang dampaknya adalah saya jadi sering minum karena kehausan. Walhasil galon minum di ruang dosen jadi bocor gara-gara saya minumin.

Gak cuma galon sih, kue-kue kering juga saya makanin.

Dosen saya yang baik hatinya menawarkan kue buat cemilan :9

Entah kenapa setiap saya 'ngantor' di ruangan dosen ini, teman-teman saya pas sering-seringnya ada acara/keperluan di level bawah. Hedeuh.. jadilah saya turun-naik-turun. Tapi nggak apa-apalah, saya juga jadi sehat disini.

Intinya adalah nggak ada alasan buat olah raga, meski mungkin hanya bisa jalan. Bersyukurlah masih bisa jalan-jalan, masih bisa berkeringat, masih sehat. Seharian yang capek pasti boboknya nikmat, :D








Senin, 01 September 2014

Tegur sapa

Menyapa adalah pekerjaan remeh. Sekedar menyapa 'Hai apa kabar? Assalamualaikum?' dll adalah aktivitas basa-basi. Tapi bagi saya, menyapa dan disapa ibarat dua sisi uang logam: ada gambar bunga melati dan gambar garuda (fyi ini uang 500-an jaman dulu kala :D). Maksudnya, saya selalu mengalami ritme disapa dan menyapa.

Suatu ketika saya tengah mengalami suasana yang tidak nyaman dengan teman. Percaya sih kalau kita selamanya tidak akan akur dengan teman karena adanya konflik itu ujian dari pertemanan. Dan begitulah, saya jadi malas bertemu dengan teman saya itu, menghindari tempat-tempat yang berpotensi untuk bertemu dengannya, dan jreeng,, Saya bertemu teman saya itu di suatu tempat di dekat kampus. 

Dia menyapa saya.

"Hei Pram, apa kabar, lama nggak ketemu."

Nyesss.. Seketika itu juga rasa tidak nyaman luntur. Entah mengapa saya mendadak lupa dengan kekesalan saya dengannya. Simpel banget

Jaman sekarang mungkin lebih maju dengan munculnya berbagai media sosial yang lebih canggih. Tetapi memang yang lebih nyata pengaruhnya menurut saya adalah bertegur sapa. Yap benar. Say hello. Menanyakan kabar via sms/whatsApp memang tiada salah, saya maklum saja dengan kondisi yang menuntut serba praktis dan cepat. Membantu sih. Saya sering berkomunikasi via whatsApp ataupun sms dengan kawan lama.

Menyapa 'hai apa kabar' memang ramah, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Mana  tahu bisa merekatkan silaturahim meski tak sempat bertemu. Mana tahu jadi mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi. Barangkali malah berpeluang semakin eratnya hubungan persaudaraan.

Pada dasarnya orang-orang senang diperhatikan bukan? :D

Selasa, 26 Agustus 2014

Asyiknya Student Place di Kampus UI

Artwork di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Konsepnya sederhana: hamparan rumput yang luas (lawn) menjadikan karya seni tersebut menjadi tampak monumental. 

Universitas Indonesia (UI) adalah 'kakak' saya, hehe.. IPB dahulunya merupakan bagian dari Kampus UI sebelum berpisah pada 1 September 1963. Menurut saya, IPB sebagai adik harus banyak belajar pada UI yang tidak bisa disangkal adalah kakaknya (hehehehe...). Beberapa hari lalu saya dan Ray mengunjungi kampus ini. Kami mengunjungi Gedung Arsitektur. Wuihh.. kereeen.. Banyak banget spot untuk duduk-duduk. Oya, asyiknya di UI, ada tempat buat nongkrong ataupun belajar outdoor yang nyaman. Lokasinya di Perpustakaan. Lupa nama resminya apa, yang pasti gedung perpustakaannya bagus, seperti rumah teletubbies. Pengen guling-guling rasanya,hahaha. Tetapi saat saya ke sana mahasiswa hampir semua duduk di dalam lounge perpustakaan yang ber-AC. Ademm.. Negara kami memang negara tropis yang cenderung panas (saya sendiri tak tahan panas,, tapi tak tahan AC juga,, *lha ndeso..). Makanya tak heran jika banyak juga orang Indonesia menyukai beraktivitas di dalam ruangan. Orang-orang pekerja kantor? Dosen? Mahasiswa? Dokter? Arsitek? Buruh pabrik? Pejabat-mentri-dkk? Mungkin lebih senang di dalam ruangan ya.. Tak apalah. Manusiawi sih. Yang penting jangan lupa bahwa kita juga punya lanskap yang indah di luar sana (lebaay)

IPB mungkin harus belajar dari kampus UI. Saya masih merasakan bahwa kampus saya masih kurang dalam hal penyediaan ruang bagi mahasiswa untuk berkumpul. Kata Ray, itu namanya Student Place (dulu Bu Is bilang, tapi saya lupa. Hehehe..). Konsep student Place adalah bagaimana menyediakan ruang belajar bagi mahasiswa yang aman dan nyaman. Di IPB tempat yang bisa menjadi student place ada koridor-koridor di tiap fakultas, ada Perpustakaan LSI, di depan LSI, di kantin-kantin, serta selasar-selasar yang banyak banget di tiap wing, hehe.

Sebenarnya, IPB bisa mengoptimalkan segitiga-segitiga taman yang ada di tiap fakultas. Dulu kelas saya juga pernah mendapat tugas untuk menyiasati mahasiswa untuk mau datang ke taman. Colokan kabel menurut saya itu sangat penting karena mahasiswa jaman sekarang tidak bisa tidak bawa charger, hehe,, entah charger HP, laptop, dll. Lalu berikutnya wi-fi. Hei, kita sudah ada di era gombalisasi,,eh globalisasi,, Wi-fi seharusya tersedia dengan kecepatan yang mumpuni. Perlu diatur penggunaannya ya agar yang tidak berkepentingan tidak bisa akses karena sejatinya mahasiswa sih yang membutuhkan. Selain fasilitas itu, perlu juga desain student place yang ekologis: memanfaatkan softscape sebagai elemen. Misalkan, ada rumputnya, ada kolam, ada danau, ada tanaman, ada angin. IPB potensial sebenarnya untuk mengembangkan student place. Tapi mungkin benar kata teman saya, cuaca Bogor yang tiba-tiba panas-ujan mungkin membuat mahasiswa lebih senang di dalam ruangan: di koridor, dan di selasar..

Student place-nya perlu ada payung kaya di Masjidil Nabawi mungkin ya? Hehe..

PR nih: bagaimana mengembangkan student place di kampus sendiri :D



Ikutan ah foto sepatu kaya di instagram orang-orang,, ahahaha. 

Hardscape di luar Perpustakaan. Orientasi ke Danau UI. Elemen air sebagai penyejuk juga mampu 'menghadirkan' elemen angin. Bangku taman dibuat geometrik, harmoni dengan hamparan rumput. Aaargh.. saya sangat suka duduk-duduk di sini! Sambil baca buku ataupun ngeteh, hehehe.

Betapa nikmatnya bersantai di sini. Hmm..

Orang-orang di dalam gedung masih dapat menikmati indahnya danau di luar. Penggunaan kaca menjadi cara untuk mendekatkan mereka dengan ruang luar. Cerdas banget konsepnya.. Meskipun mungkin ada yang berpendapat bahwa penggunaan kaca yang cukup banyak tidak ramah lingkungan bagi bangunan,, tetapi dalam kasus ini saya rasa tidak mengapa. Hehehe..

Halal Bi Halal ARL Pasca 2012

Ini adalah kali ketiga kami berkumpul setelah sebelumnya mengadakan acara makan bareng pra-Ramadan (cucurak), buka puasa bareng, dan sekarang halal bi halal. Tadinya mau menyambut Potter, berhubung yang disambut lagi keluar negeri (haha..) yasudah kami kumpul-kumpul saja: ngobrol macam-macam yang tentunya topiknya terkait dengan tesis :D


Apple Pie oleh Ray. Saya lupa beli apel, jadinya beli apel seadanya. Tapi #inienak banget!
Sebenarnya ada HBH juga dengan teman-teman tengtongfamily,, tapi berhubung waktunya malam dan itu di Jakarta, jadi saya nggak sanggup buat kesana. Capek. Haha.. Cukup happy liat wa mereka saja.

Manisan tomat oleh Sapu.. Tebak asalnya dari mana? Dari Cirebon *eh.

Alhamdulilah bisa makan-makanan enak dan kumpul dengan teman-teman. Kata Ray, ini adalah pesta ala Manado, jadi tamu yang berkunjung membawa berbagai jenis makanan untuk dinikmati bersama. Eco banget ya, membantu meringankan beban tuan rumah (ahahaha). Saya justru tidak modal apa-apa, cuma jadi seksi informasi sama transportasi. Membantu mengantar-jemput teman-teman yang belum tau jalan menuju tuan rumah, hehe. Bersyukur juga jadi nemu bapak-bapak penjual pisang kepok. Gede lagi. Lumayan buat oleh-oleh mama di rumah :3 Oleh-oleh dari Bogor menurut saya ya harusnya memang tidak jauh-jauh dari berbau pertanian dan olahannya: pisang, tales, pepaya, bolu talas, asinan, *kenyaaang..

"Mbak Wita, ini masakan Mbak? Enak deh.." ujar saya. "Ahahaha ini bukan gw yang masak Pram... " Ahahaha..

Eclair oleh Mbak Raissa Pasca 2012 #inienak banget, malah lebih enak ini daripada beli di mall karena tahu teman kita sendiri yang buat, ahahaha... Percaya!

Ini sate sosis-kentang. Dimasak keroyokan oleh tim ibu-ibu. Enak lho. Sate-nya keren lho, biasanya kan sate penampakannya coklat gitu kan berlumuran sambel kacang, ahahaha..

Kamis, 21 Agustus 2014

Bermula dari suvenir


Nemu foto ini di pojokan brankas foto saya di laptop. Ahahaha..ini adalah harapan tahun lalu, saat teman-teman pelestarian saya berkunjung ke negeri singa. Saya dihadiahi suvenir untuk hiasan meja (Aaa..terima kasih banyaaak :D ). Saya juga nggak nyangka dikasi suvenir. Simpel sih, jadi saya pajang aja di meja belajar, sambil ngayal kapan ya bisa ngeluyur ke sana. Dan kemudian meja belajar saya re-design alias dipermak: pot dari botol bekas ditambah sirih belanda (penyejuk mata dan penyerap polutan), lilin (persiapan saat mati lampu), dan jam meja belajar suvenir dari bank (buat ngingetin kapan harus makan,ahahaha). Ditambah dengan hiasan singapur itu. Jadi deh, pojokan meja belajar yang ekologis estetis.

Pengen banget ke Singapura karena teman saya yang sudah lebih dulu ke sana bilang lanskap Singapura sebenarnya tidak beda jauh sama Indonesia. Pengelolaan sih yang amat berbeda. Kata teman saya, disana pengelolaannya benar-benar bagus. Setiap sudut itu tertata. Kota taman. The Garden City. Ibarat orang yang rajin dirawat dilulur dsb jadinya cantik, hehehe. Kata dosen saya, mahasiswa arsitektur lanskap setidaknya pernah ke sana,, Singapura adalah contoh kota taman yang baik.

Lucunya saat saya pasca ini ada teman saya yang tiba-tiba ngajak ke sana. Ahahaha senangnya. Modal nekat dan dana yang cekak. Tapi namanya pengalaman dan rasa ingin tahu,, bener penasaran sih. Mungkin liat foto bisa, tapi mengalami secara langsung tentunya amat berbeda. Kalo nggal diniatin emang nggak bakal jadi. Yasudah bismillah diniatin aja.


Jumat, 15 Agustus 2014

Bersyukurlah, masih ada Petani :')


Kata-kata bijak yang ada di dalam gambar saya di atas berasal dari Polandia, nun jauh negeri di Eropa sana, namun sesuai dengan kondisi realita di kampung halaman saya tercinta, Indonesia. "If the farmer poor, then so is the whole country". Yah di negeri ini, sebagian besar kondisi petani tidak ada di dalam posisi yang menggembirakan. Bermula ketika saya kemarin berbincang dengan sahabat saya mengenai pertanian Indonesia (Terima kasih ya, saya jadi teringat profesi kakek-nenek saya) saya jadi ingin menulis catatan kecil ini.

Mungkin entah kapan pemerintah memihak sepenuhnya dan total dalam melindungi para petani. Di saat kita mungkin geram akan harga cabai naik, harga beras naik, apa kita mengetahui bagaimana perasaan para petani? Apa ada yang mencoba mencari tahu mengenai harga pupuk, alat dan mesin pertanian, kondisi alam yang semakin susah ditebak sehingga ancaman gagal panen mengintai, atau permainan para tengkulak?

Petani sungguh berada di posisi yang sulit.

Mungkin di luar pengetahuan saya yang sempit ini, ada banyak sekali contoh petani yang sukses: berhasil dengan gemilang dan makmur - jauh dari kata sengsara. Tetapi sepengetahuan saya pula, dari berita-berita yang menghiasi layar gadget, koran, televisi, masih banyak lagi cerita-cerita haru tentang petani.

Petani sama seperti kita: sama-sama hamba Tuhan yang berupaya melanjutkan hidup dengan bekerja: kita mungkin bekerja dengan kondisi yang relatif lebih baik, sementara mereka bekerja di dalam berbagai tekanan: ketidakberpihakan pemerintah, serangan hama dan iklim global yang berubah, permainan tengkulak, sistem jual-beli yang tak beres, harga yang tak tentu.

Ada banyak ahli perencanaan, ahli pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan di kepemerintahan Indonesia ini. Saya yakin mereka semua orang berpendidikan dan berhati baik. Semoga Allah senantiasa membimbing mereka agar dapat membawa pertanian Indonesia lebih baik. Semoga kebijakan mereka berpihak kepada petani.

Berterima kasihlah kepada mereka yang bersusah payah menanam: mereka, petani, berharap selalu agar apa yang mereka tanam bisa tumbuh dan berkembang memberikan hasil yang terbaik. Di setiap nasi yang kau makan, di setiap sayur kau nikmati, ikan-ayam-daging yang selalu kau dambakan, buah-buahan yang rasakan, dan seterusnya, nikmati dan bersyukurlah pada Allah, Tuhan Semesta Alam yang menghadirkan profesi mulia bernama "petani".

Bersyukurlah, masih ada petani.

Rabu, 13 Agustus 2014

We Had Season In The Sun

Ceritanya kami kumpul-kumpul masih dalam momen Lebaran. Kami karaoke bareng. Konyolnya adalah semua lagu yang diputar adalah lagu lawas generasi 90-an sampai 2000-an awal. Lagian mau nyanyi lagu jaman sekarang kebanyakan rada nggak tau kecuali yang nge-hits aja *nge-hits. Entah kenapa kalau lagu tempo dulu lebih abadi. Dan baru keingetan lagi sama salah satu lagu favorit jaman SMP dulu: Season in the sun-nya Westlife. Ini lagu aslinya bukan mereka yang nyanyiin sih, tapi kenapa versi mereka lebih enak didenger. Jaman SMP dulu kalau mau tahu trend dan lirik lagu baru mesti baca/minjem majalah Fantasi, nonton MTV atau ngedengerin radio Mustang/Prambors. Hahaha.. jadul bener. Sekarang mah apa-apa tinggal donlod dari Mbah Gugel :P

                                                    Seasons In The Sun

[Kian:]
Goodbye to you my trusted friend 
We've known each other since we were nine or ten 
Together we've climbed hills and trees 
Learned of love and ABC's 
Skinned our hearts and skinned our knees 

[Bryan:]
Goodbye my friend it's hard to die 
When all the birds are singing in the sky 
Now that spring is in the air 
Pretty girls are everywhere 
Think of me and I'll be there 

[All:]
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the hills that we climbed were just seasons out of time 

[Shane:]
Goodbye Papa please pray for me 
I was the black sheep of the family 
You tried to teach me right from wrong 
Too much wine and too much song 
Wonder how I got along 

[Mark:]
Goodbye papa it's hard to die 
When all the birds are singing in the sky 
Now that the spring is in the air 
Little children everywhere 
When you see them I'll be there

[All:]
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the wine and the song like the seasons have all gone 
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the wine and the song like the seasons have all gone 

[Nicky:]
Goodbye Michelle my little one 
You gave me love and helped me find the sun 
And every time that I was down 
You would always come around 
And get my feet back on the ground 

[Shane:]
Goodbye Michelle it's hard to die 
When all the birds are singing in the sky 
Now that the spring is in the air
With the flowers everywhere 
I wish that we could both be there 

[All:]
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the hills that we climbed were just seasons out of time 
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the wine and the song like the seasons have all gone 
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the hills that we climbed were just seasons out of time 
We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the wine and the song like the seasons have all gone

(source: http://www.azlyrics.com/lyrics/westlife/seasonsinthesun.html)

Udah tau liriknya kayak gitu sepertinya menceritakan persahabatan *sotoy. Whatever-lah :)

Hello again my friends :) Long time no see you

Ada yang ikutan mejeng di belakang, bhahaha

Dulu SMP kelas 1 sempet jualan macem-macem, salah satunya lilin hias. Lilin warna-warni diparut trus dikasi cat timbul. Yang bikin kakakku, yang ngejualin aku. Terharunya adalah temenku masih nyimpen.. :O

Katanya kalo bersahabat lebih dari tujuh tahun itu akan berlangsung seterusnya ya, Aamiin.. Yah, beginilah hidup, deritanya tiada akhir, bhahaha.. Sayang dulu pas SMP nggak jaman foto-foto. Bah sekarang apa pun difoto.. Hayuk take a picture!! :D

Drakula Kentang Goreng

Suka makan kentang goreng? Ngaku doyan kentang goreng? Jangan ngaku sebelum berani berpose ala drakula kentang goreng kaya begini :D

Dua makhluk ini memang menyenangkan untuk dikerjain. Yang satu masih TK, satu lagi kelas 6 SD. Entah kenapa kepikiran nyuruh mereka pose kaya begini padahal lagi rame banyak orang, ahahaha..lucunya..


Sekarang, yang satu kelas 3 SMP, yang satu kuliah tingkat dua. Kelakuannya tetep aja sama: gampang disuruh gaya yang aneh-aneh, hahaha. Kok mau-mau aja sih :P

 #justforfun :)


Selasa, 05 Agustus 2014

Cerita Mudik 2014

Saya lahir dan besar di Jakarta. Orangtua berasal dari tanah Jawa. Bisa disebut numpang lahir di Jakarta. Sedihnya saya tidak jago berbahasa Jawa (terus kenapa... :P ) Dan kami harus mudik Lebaran 2014 ini. Jadilah ritual mudik dijalani dengan penuh kesabaran dan kegembiraan, hehe. Tidak ada waktu liburan yang panjang sepanjang libur lebaran. Lumayanlah, saya dan anggota keluarga membantu Jakarta mendapatkan hari yang bersih tanpa asap kendaraan bermotor serta mengurangi persaingan menghirup oksigen. Coba deh main ke Jakarta saat hari Lebaran: sepi, lancar, damai. Utopia kebanyakan masyarakat Jakarta.

Penduduk Jakarta ibarat komposisi gado-gado. Rame. Ada suku Betawi sebagai warga asli Jakarta, ada suku Jawa yang sepertinya lumayan banyak ngerubungin Jakarta, ada suku Sunda yang lumayan dekat dengan Jakarta, ada orang-orang dari pulau Sumatera yang hobinya nyeberang Selat Sunda atau naik pesawat, orang Kalimantan juga ada, Sulawesi, juga nun jauh wilayah Indonesia Timur sana. Banyaklah intinya. Makanya Jakarta itu ibarat ‘kampung besar’ yang isinya campur-aduk seperti gado-gado, atau cendol barangkali. Banyak gedung bertingkat menjulang mentereng, tetapi masih banyak ruang kota yang isinya kampung kumuh padat.

But we, citizen, are keep on smiling ;D

Saat mudik kemarin, ceritanya kami hendak menerjang jalur pantura, apapun kondisinya. Baru mau keluar Jakarta-Cikampek via gerbang tol Dawuan, kendaraan sama sekali tidak bergerak. Stuck. Nggak kebayang bagaimana nanti saat melalui jalur sutera-nya Indonesia itu... Walhasil banting setir menuju lintas selatan melalui Purbaleunyi. Lumayanlah perjalanan kami cukup lancar. Sahur di Garut, dan berbuka puasa di daerah Jatilawang, Banyumas. Selain jembatan Sungai Comal yang amblas, ada juga jembatan di daerah Cimahi yang juga amblas. Yep, seni dalam bermudik: macam-macam cobaan, halangan, dan rintangan, tetapi pada akhirnya akan berbuah pada manisnya kemenangan (*lebay,,ahahaha).
Mengapa orang mau repot-repot mudik? Mudik, kata dasarnya udik (bukan uduk please) yang artinya ‘kampung’. Dasar orang udik! Itu artinya dasar orang kampungan. Lha, emang kita semua berasal dari kampung kan? Apa lupa sama pelajaran sejarah bahwa kota muncul dari desa?

Merantau adalah salah satu jalan mencari rezeki. Yah, sama halnya masyarakat Jakarta: berbondong-bondong pulang ke kampung halaman setelah setahun mencari rezeki. Bertemu keluarga dan sanak saudara. Berbagi ‘angpau’ sebagai simbolisme berbagi kebahagiaan. Money can’t buy happiness itu bener. Tetapi money can buy smile and pray untuk menuju happiness itu saya percaya, hehehe. Lebaran usai, kembali ke kota. Kembali menjalani aktivitas mencari rezeki seperti biasa. Mengakrabkan diri lagi pada kekejaman ibukota.

Kampung halaman nenek saya selalu menyajikan lanskap perdesaan yang hampir stagnan. Hampir-hampir tidak ada bedanya sejak saya masih kecil dulu. Selalu ada sawah, hutan kecil, pematang, pekarangan, sungai, kerbau-kerbau yang berkubang, mesin traktor tua, nenek-nenek bersepeda, pemandangan indah Gunung Merapi dan Merbabu serta pegunungan kapur di selatan sana. Saya masih bisa memasak memakai tungu, menimba air di sumur, melihat keluwing merayap di halaman, atau menatap luas kebun yang diisi pohon mangga dan pisang. Yah, mungkin hanya berubah pada jalan desa yang relatif lebih mulus beraspal. Orang-orang yang berusia produktif keluar dari desa: mereka ke kota. Mereka mencari uang. Tak heran kebanyakan kakek-nenek (dan mungkin cucunya) yang ada di desa..

Saya suka suasana desa (meski kadang berpikir jika saya di desa saya akan bekerja jadi apa.. :D ). Saya berpikir mungkin saya bisa bekerja di kota terdekat, mengendari sepeda motor, punya halaman yang rimbun, yang ada ayam bebeknya, yang bisa mendengar jangkrik kala malam, atau melihat kawanan bebek, kambing, dan kerbau beriringin ke sawah. Saya berpikir amat senang bisa lepas dari kemacetan jalanan kota, dering klakson mobil-mobil mewah atau motor-motor tak tahu diri yang kebut-kebutan di jalan.

Lalu, saya merasa haus. Dan saya lantas menggerutu tidak menemukan al*amart.

Yah, dasar orang kota.