expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Selamat Ulang Tahun!

Usia 27 tahun setara dengan 9.500 hari.

Jujur saya awalnya bukan orang yang berharap pada ucapan ulang tahun. Dulu saya adalah orang yang sangat mengharapkan hal itu. Sampai saya menginjak bangku SMA kelas 3, saya selalu mendapat ucapan selamat. Menginjak masa bangku kuliah saya sudah hilang rasa akan hal itu. Entah kenapa. Tidak ada yang istimewa setiap saya ada di dalam tanggal saat saya dilahirkan. Sebatas ucapan dari Mama dan Bapak, saudara-saudara saya, dan beberapa teman dan sahabat. Sudah.

Ulang tahun sebenarnya adalah momen introspeksi diri. Saya makin tua. Yah, saya merasa memang kadang masih kekanakan. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan - kata orang-orang. Bukan kewajiban merayakan ulang tahun. Hanya momentum kita bertambah usia secara angka.

Apa mungkin hidup mulai terasa begitu menyeramkan? Semakin berkurang usia. Semakin menua. Beberapa literatur menyebutkan bahwa usia-usia saya ini adalah usia optimal. Usia dewasa yang sedang matang-matangnya secara fisik. Mungkin, dalam kapasitas psikologi belum. Usia yang disaat teman dan sahabat saya sudah punya keluarga atau bahkan memiliki (banyak) anak. Usia dimana banyak orang bertanya kapan menikah kapan berkeluarga dan kapan-kapan lainnya.

Dan saya mulai malas menanggapi ucapan orang-orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Mungkin saya sedang ada dalam momen malas menanggapi kala itu.

Hingga pada tahun-tahun belakangan saya mulai sadar, orang-orang di sekitar saya sejatinya hanyalah tulus mengucapkan ulang tahun sebagai suatu bentuk pengakuan akan eksistensi saya di dunia ini. Tiada maksud mencoba menghibur, atau maksud basa-basi. Seharusnya memang saya-lah yang harus mengerti mengapa mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada diri saya ini. Adalah kerangka berpikir yang harus diubah. Mereka... mungkin mencoba mendoakan saya. Tidak selalu materiil yang membahagiakan seseorang bukan? Ucapan langsung, kiriman pesan, dan entah apapun wujudnya, adalah cara seseorang memberikan perhatian mereka kepada yang berulang tahun. Dan saya sekarang merasa berbahagia dan bersyukur bisa mengenal mereka, bahkan mengingat detail diri saya.

Konyol rasanya, pada hari ke-9.500 saya ada di dunia, teman-teman kampus saya datang ke kosan saya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan cara mereka. Mereka mencoba membuat momen bahagia untuk saya. Saya sangat senang. Tidak akan setiap hari saya mengalami hal-hal konyol, pikir saya.


Ada banyak cara untuk berbahagia. Menerima dengan senang hati ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai cara adalah salah satunya.  Selamat ulang tahun!

Selasa, 03 Maret 2015

Too much sharing

Nowadays people are having several social media. It is an unavoidable. I, personally, prefer to share via instagram, twitter, and blog. Forget about the facebook. First, sorry to say, but many alay person posting their feelings there. As if all of the people have to know. Second, people like to repost on facebook. Re-post anything than makes me irritated. But I will keep my facebook because it is still useful for me. So I move to instagram. A media that I can share and see pictures. I also have twitter. Twitter is irreplaceable. I got many news. Path, ahaha. Just like instagram, but more private (even you can stalk there).

I love to take a picture. I love to take selfie, duofie, threefie, groufie, anything. I love to capture the pictures: food, people, nature, etc. I put some hash tags, writing jokes. Sharing my own pictures (take by myself) is just for fun.  I tagged my friends, hoping they’ll happy or smile. It does not mean to offend anybody. I have some friends that act just like me. They take photos and upload it. Sharing delicious brunch, beautiful places, jokes, etc. Pictures can speak more than words.

But now, somehow, since I got talked to my friends, I try to rethink. That too much sharing (or posting) could make me addict. Every time they see their timeline, I ‘m there. Fulfill theirs. (What is the point of having social media? Is it an open media that you can post anything you want? – imho). 
Then, yeah, my friends asking me why are I addicting on taking pictures. Why I like selfie.  At first I just think that I do not care what they say. I just think that I do not want to miss the moments. I am not kind of super popular artist, or, public figure. Just for fun. Just for remember. But, now I think I must selectively share my pictures to social media. I am so sorry if i am bothering. 

Kamis, 22 Januari 2015

Bikin Meme

Meme. Awalnya saya juga nggak tahu apa artinya meme, haha. Ternyata bikin meme itu seru dan konyol. Selama saya kuliah saya udah bikin banyak banget meme. Tujuannya cuma buat menghibur dan membuli. Di instagram, di facebook, namanya meme udah banyak banget. Yang garing, yang lucu juga banyak. Mungkin manusia makin lama makin stres, jadi butuh hiburan konyol semacam meme,, wkwk. Gara-gara stalking blog tetangga yang uplod foto-foto om-oom, saya jadi pengen mosting meme deh,

Memories in Bali. Tapi tokoh ceweknya udah hijrah pake jilbab :D

Very first groufie in my class :D



Galau dengan yang namanya tesis, ahahaha

Ni bocah tiga entah kenapa nongol dengan kostum seperti ini ke kampus.. Jadilah saya abadikan, ahahaha..


Botak Bro


Potong rambut merupakan ritual wajib para pria. Nggak butuh salon mahal, cukup ke abang-abang cukur hasilnya langsung tampak. Jadi inget dagelan di instagram: kalau perempuan potong rambut udah mahal, hasilnya juga gak jauh beda wkwkkw. Saya dianugerahi rambut ikal cenderung keriting berombak. Untuk menyiasati penampilan saya rajin ke abang-abang cukur rambut agar rambut tampil pendek rapi. Giliran si rambut panjang dikit jadinya agak gimbal, haha. Jadilah saya Desember lalu saya gundulin demi aerasi kulit kepala. Awalnya mau potong cepak. Karena si abang cukurnya keasyikan dan salah setel ukuran, jadilah habis rambut saya, ahahaha. Dan kemudian mendadak saya ingat style dosen saya, bhahaha. Mau lurus keriting ikal, kalau punya rambut ya harus dirawat guys biar ga lepek dan kusam.

Selasa, 30 Desember 2014

Berita Bahagia

Berita bahagia datang dari sahabat asrama dan kostan saya dulu. Sebut saja namanya Anto. Akhir bulan ini dia akan menikah dengan gadis asal Bandung. Anto, Lelaki Kebumen yang berkuliah dan bekerja di kota hujan ini. Dia orang yang baik dan easy-going. Kebetulan dia anak jurusan pangan jadi secara tidak langsung saya dulu sering bahagia karena dapat berbagai kudapan gratis dari praktikum dia di kampus, haha. Dia lumayan jago masak. Di antara kami berempat di kostan dulu, yang bisa masak paling Anto. Saya dan dua teman saya yang lain hanya bisa makan. Meski kostan kami punya dapur, nggak ada yang pernah telaten masak. Paling, masak air sama mi instan. Standar banget huft.

Anto usianya paling tua diantara kami dan paling dewasa. Chandra, teman saya, gadget-mania dan doyan tidur di depan laptopnya. Radit, hobi nyanti, nge-MC, dan rajin belajar. Saya sendiri apalah, doyan tidur, hehehe. Kami doyan ngobrol sampai larut malam. Biasalah, pasti menjurus ke arah topik ‘betapa enaknya kalo udah nikah’, bhahaha. Pikiran simpel lelaki yah memang beginilah. Mau enaknya aja, bhahaha. Semakin bertambah usia (makin tua gampangnya) kami pun semakin dewasa. Sudah pada tahu, menikah bukan main-main. Saat kami berkesempatan untuk bertemu, tetep aja saling ‘buru sono nikah buruu..’ :D

Menikah memang bukan sekedar menikah dengan pasangan kita, tapi ‘menikah’ pula dengan keluarga besar pasangan kita. ‘Menikah’ dengan tanggung jawab dan misi mulia yang akan diemban. Jadi, untuk hal yang serius, memang harus dilakukan dengan serius.

Yuk nikah yuk *lho


Everybody's Changing

Setiap orang bisa berubah: fisik dan pikiran. Seseorang yang sangat kau kenal, bisa saja berubah menjadi seseorang yang lain. Seseorang yang berbeda, seperti tiba-tiba tidak dikenal.
Itulah hal yang sebenarnya kadang mengkhawatirkan bagi saya: perubahan ke arah yang tidak baik. Seperti halnya ketika menyudahi hubungan dengan seseorang yang semula sangat saya suka. Kemudian, hilang begitu saja. Semula teman, tetapi kini jauh berbeda. Semula dekat, lantas terasa biasa saja.

Manusia memang makhluk yang unik yang tidak bisa dipastikan. Maka ketika kita menghadapi seseorang yang mungkin tiba-tiba berubah sifat, itulah manusia. Kita hanya bisa mampu untuk menjalankan peran ‘manusia’ sebaik mungkin di dalam kehidupan ini. Bersikeras agar segala sesuatu ideal sesuai keinginan kita, rasanya teramat sulit. Manakala sahabat saya yang saya kenal suka bercerita dan ceria lantas tiba-tiba pemurung, saya kini tahu alasannya mengapa dia berubah. Ada juga teman saya yang mendadak dekat dengan saya (padahal sebelumnya tidak sama sekali), saya juga tahu apa alasannya.

Apa yang selanjutnya dilakukan setelah tahu alasannya? Kita jadi tahu tindakan terbaik apa yang dilakukan. Menikmati proses dan tak perlu berlebihan menanggapi perubahan. Tiap orang mungkin akan berubah, akan mencapai masa saat dia akan mengubah sikap dan perilakunya, yang mungkin akan memengaruhi pergaulan dengan orang di sekitarnya. Ada yang berubah drastis. Ada yang lambat. Saya yang sekarang ini mungkin berbeda dengan saya saat dulu awal kuliah, atau saya saat bersekolah. Teman-teman terdekat saya mungkin juga telah berubah, dan banyak hal yang sepele maupun tidak turut mengubah perilaku saya. Bertemu orang-orang baru, pengalaman baru, segalanya, berperan dalam mengubah saya. Perubahan itu memang keniscayaan. Jika kau tidak suka dengan perubahan seseorang, sampaikan saja. Tanyakan. Orang juga perlu ditanya, karena hanya orang-orang yang sehari-hari dekat dengannya yang mengetahui perubahan dirinya. Tetapi ingat, bahwa kau hanya bisa menegur atau menanyakan secara lisan. Selanjutnya, pasrahkan saja. Percayalah setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.


Sabtu, 15 November 2014

Mabok jurnal

Sebagai insan dunia, apa yang bakal lo alami saat memasuki dunia kampus? Menulis! Yeah, menulis! Gak peduli lo ganteng atau cantik, lo tenar atau nggak,, nggak perlu. Tugas mahasiswa sebenarnya cuma baca-tulis. Lebih-lebih yang udah masuk taraf pasca: mesti publikasi. Bahkan saat lo nggak mau menulis, kau dipaksa harus menulis. Menulis bagaikan koin uang logam. Di satu sisi ada yang namanya membaca. Baca diktat kuliah, baca soal-soal, baca tanda-tanda (eaaa). Jadi, siap-siap ke laut aja kalo ogah membaca dan nulis.

Sebagai anak lenskep kutu loncat, menjajal berbagai topik dari dunia tanaman-desain-lalu budaya (mabok), gw rasa momen menulis jurnal adalah momen paling klimaks sebagai anak mahasiswa. What you write is what you got. Kuncinya memang banyak baca, banyak nanya sama yang lebih paham, dan banyak berdoa biar kuat. Kenyataannya, rata-rata mahasiswa memang malas baca. Baca kalau terpaksa mau ujian semester, haha. Gw bersyukur alhamdulilah punya teman yang doyan ngejurnal. Gaya bahasa, selingkung, kata baku tidak baku, sistematika,, wuih..mantaap. Mimpi buruk akan jurnal emang bakal nggak kerasa kalo kita punya sobat yang expert ama dunia perjurnalan.

Pesan temen gw yang paling membekas adalah bahwa sebagai seorang lenskeper, gw harus banyak tahu banyak ilmu dan mencoba segala bidang dalam dunia perlenskepan :') Sambil nulis ini gw sambil mabok jurnal. Demi. Malam minggu pula (emang kenapa ama malam minggu, jomblo woy). Dan tema jurnal yg gw godok adalah tentang pusaka. Yep. Materi baru yang konon katanya dulu gw agak gak suka sama yang satu ini.

Nyatanya gw nulis-nulis juga tentang pusaka. ppfff...

Kalo untuk menulis seacar global, hm bagi gw sendiri paling doyan nulis blog. Malah kadang ngeduluin nulis blog dibanding nulis yg disuruh dosen, hahaha. Emang asik nulis blog: nggak kaya twitter yang cuma 140 karakter, facebook yang kalo kebanyakan nulis status trus dibilang curcol (cuma dikasih jempol), atau path yang dilop-lopin. Kalo instagram itu bukan nulis ya, tapi pamer aktivitas/barang. Kalo line = pamer stiker (KLING KLONG.. po*ko*pang). Blog emang jadul, tapi powerfull (powerfull buat misuh-misuh, hahaha). Bukannya jurnal itu = blog ya? Seandainya menulis jurnal dkk nya itu segampang menulis blog.. *dikejar dosbing*

Mari menulisss...jurnaalll..






Sabtu, 08 November 2014

Jujur

Mengungkapkan sesuatu secara langsung itu perlu adanya. Sampai kapanpun, lawan bicara kita bukan Tuhan yang tahu segalanya, begitu kata sahabat baik saya.  Mengalami kesulitan komunikasi memang pasti dialami oleh semua orang. Ada orang yang tipe kurang peka, ada yang terlalu peka. Ada yang blak-blakan bilang, ada yang tertutup. Tidak ada yang salah, namanya juga tipikal manusia yang sudah pasti tidak ada yang persis identik satu dengan yang lainnya.

Suatu ketika, saya merasakan jatuh cinta pada seseorang. Karena  non verbal saya tak cukup kuat membuktikan (dan bukan hal yang baik mengungkapkan rasa hanya dengan non verbal), akhirnya saya katakan saja. Pernah pula saya merasa kesal dengan tindakan rekanan saya, dan saya diam saja. Berharap rekan saya itu mengerti saya – dan ternyata saya salah besar. Saya beranikan diri saya untuk jujur berkata pada dirinya. Saya pernah merasa keberatan dengan permintaan atasan saya dulu untuk melakukan suatu hal yang di luar jangkauan saya. Langsung saya utarakan ketidaksetujuan saya.

Kejujuran adalah pil pahit yang harus diminum untuk mendapatkan kesembuhan dari suatu penyakit.

Tetapi, dalam pemikiran saya, tidak semua harus kau katakan. Jujurlah pada tempatnya. Lihatlah pada siapa hendak kau bercerita. Simpan rahasia terpentingmu dalam-dalam. Saya pribadi merasa saya ‘aman’ untuk mengungkapkan segala rahasia saya kepada sahabat. Tetapi, sahabat yang baik toh tidak akan memintamu mengungkapkan segalanya pada dia bukan? Bersikap wajar yang utama. Karena setiap orang, selamanya akan memiliki rahasia-rahasia yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.



Kondangers

Selamat yaa..

Semoga jadi keluarga Samara.. (sakinah mawaddah wa rahmah)

Doain gw nyusul ya..

Kapan nyusul?

Cepet nyusul yaa..



Usia saya sekarang ini adalah usianya orang-orang untuk menikah. Saya, laki-laki usia 26 tahun, jomblo, dan menerima undangan pernikahan hampir setiap minggunya. Pengirimnya tak lain tak bukan adalah kawan-kawan saya: kawan dari SMP, SMA, hingga kuliah. Bahkan saat ini tren mengirimkan undangan dengan cara yang lebih eco yaitu via whatsapp, message di facebook, atau BBM. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya memaklumi bahwa era saya hidup sekarang ini adalah era paperless. Konyolnya, saya suka lupa dengan tipe-tipe mengundang yang lewat message facebook.

Facebook saya sudah ada sarang laba-labanya.

Apakah saya iri dengan teman-teman yang sudah menikah duluan? Yeah tentu saja. Saya hanya manusia biasa, bukan alien dari planet antah-berantah. Fitrah setiap manusia memang ingin berpasang-pasangan: berkeluarga, memiliki keturunan, melebarkan kekerabatan.

Sebagai laki-laki berusia 26 tahun, dan jomblo, menghadiri resepsi pernikahan teman sendiri nyatanya bukan hal yang mudah pula. Yeah, saya termasuk aliran yang berpikir bahwa menghadiri resepsi pernikahan memang lebih enak berdua dengan yang resmi (ehem), ataupun, dengan teman-teman komplotan satu angkatan.

Menghadiri resepsi pernikahan seorang diri bagi saya pribadi agak ngemalesin.

Bahkan saya pernah mengajak adik saya. Lumayan, makan gratis. Hahaha.

Bertemu teman-teman yang sudah menikah, lalu ditanya-tanya kapan menyusul, bagi saya pribadi itu menjengkelkan (doakan saja ya, begitu selalu jawaban saya sambil nyengir kuda). Jadilah saya selalu datang di awal acara, salaman dengan mempelai, lalu makan sekedarnya, lalu bergegas pulang. Kadang saya salaman di akhir: celingak-celinguk mencari teman-teman yang mungkin saja saya kenal, ngobrol, makan, baru salaman, lalu pulang. Model resepsi ala standing party dengan durasi sekitar tiga jam memungkinkan saya melakukan hal tersebut.

Catatan : nggak ada ketentuan bahwa dalam menghadiri resepsi kita harus salaman dulu atau makan dulu. Kalau saya lapar berat, saya langsung makan. Kalau saya lagi pengen salaman dulu, makan belakangan. Woles aja.

Sebenarnya bertanya kapan menikah itu bentuk perhatian teman-teman. Mungkin semacam cambuk biar cepat juga. Berkali-kali ditanya seperti itu, sekarang saya jadi kebal. Saya jadi berpikir awas aja yang nanya-nanya begitu nanti nggak datang jika saya nanti mengadakan resepsi (*toyor). Dibawa asyik saja lah. Sabarlah, jalan manusia memang beda-beda. Terima kasih atas perhatian Anda semua. Hahaha.  


Kamis, 30 Oktober 2014

Kapalan Singapura, Badiap badiap. dan Harry Potter asalnya Singapura :D


Saking kebanyakan jalan di Singapura, saya dan Ray menderita penyakit kapalan. Yeah, kami berjalan jutaan kilometer. Menyusuri sudur layaknya traveller. Tapi kami bukan mau nge-sok traveller atau apa, kami hanyalah pemuda IPB yang penasaran dengan Singapura. Maka berjalan kaki menjadi kegiatan kami selama tiga hari. Sepatu saya alhamdulilah tergolong nyaman. Meski nyatanya nyamannya sepatu tidak menghalangi penyakit satu ini menghinggapi jari-jari kaki.

Hari pertama saya bangun di hostel, saya merasakan benjolan menyebalkan di jemari kaki saya yang memang jarang banget dipakai jalan berkilo-kilo meter jauhnya. Ray lebih parah. Dia masih membawa kapalan korea-nya, hahaha. Master pusaka itu minggu sebelumnya bertandang ke negeri ginseng dan beberapa hari kemudia ikut saya ngebolang ke Singapura. Jadilah dia dapat dua bintang: kapalan korea dan kapalan singapura, wkwk. Meski demikian kami nggak merasa pegel. Mungkin karena dibawa senang jadi lupa. Cuma haus yang selalu mengganggu saya. Yep, Singapura beriklim sama dengan Indonesia. Tropis. Saya jadi banyak minum selama ngebolang.

Ketika kami mengunjungi Orchard Road, ada lagu yang disetel saat kami keluar stasiun MRT. Entah itu siapa yang nyanyi, saya ingat nadanya enak. Saat saya menanyakan kembali ke Ray bahwa ada lagu enak yang saya dengar, Ray bertanya, kaya apa nadanya? Saya langsung nyanyi, "marry that girl,,badiap badiap.. marry that girl,,badiap badiap.." Ray langsung ngakak. Badiap badiap apa pula,,katanya. Saya merasa kaya si amburagul badeway badeway itu,..bhahahaha

Hal konyol terakhir yang diungkapkan oleh master pusaka adalah Harry Potter asalnya dari Singapura. Bermula ketika kami menyusuri Little India dan menemukan Jalan Norris. Norris adalah kucing betina milik Mr Filch di serial Harry Potter. Saya kira Ray tahu Harry Potter, jadilah saya nyeletuk "Eh Ray, itu ada jalan Norris. Norris kan kucingnya Filch ya," dan Ray hanya mengernyitkan dahi. " Saya nggak ngikutin Harry Potter,.." Kemudian saat di Changi, kami melihat ada toko kue dimana para pegawainya memakai topi penyihir. Tak saya sangka Ray pun nyeletuk "Hmm..berarti Harry Potter asalnya mungkin dari Singapura ya, tu mereka pakai topi penyihir, trus ada jalan Norris..hm,,dia emang aslinya dari sini." Bhwahahaha...

Penjaga Perpus

Perpustakaan baru setengah jam dibuka. Ibu-ibu petugas perpustakaan sedang mengepel lantai sehingga saya harus menunggu sejenak di bangku di area penerimaan perpus. Tak lama kemudian saya dipersilahkan untuk masuk. Sambil menyeruput minuman yang saya beli, tiba-tiba seorang mahasiswi menyeruak masuk sambil memandang ke arah saya.

“Mas, maaf saya mau urus bebas pustaka. Syarat-syaratnya apa aja ya mas?” celetuk si mahasiswi.
Hampir tersedak, saya meneguk minuman saya sambil tersenyum memandang mahasiswi itu. Dari potongannya dia anak S-1.

“Maaf mbak, saya bukan petugas perpustakaannya. Itu mas yang menjaga perpustakaan,” jelas saya sambil menunjuk mas-mas penjaga perpus yang ternyata ada di balik nakas. Mas-mas yang saya tunjuk hanya memandang bingung ke arah kami.

“Oh, Mas bukan penjaga perpus?”

Etdah, perlu diulang apa ya mbak. Tega amat dah wajah kaya gini wajah penjaga perpus..





Spontan si mahasiswi langsung meminta maaf kepada saya, menyangka saya petugas perpus. Dia mengaku memang tidak pernah ke perpustakaan fakultas ini (Oh my God). Hahaha, sudah nggak apa-apa kok mbak, kata saya.


Untuk mencairkan suasana, saya berbasa-basi dengan si mahasiswi itu. Dia empat tahun di bawah saya. Dia mengatakan bahwa penampilan saya yang rapi (atau kelewat rapi?) tampak sebagai petugas perpustakaan. Ahahah..yeah besok-besok saya pakai pakaian nyantai aja kali ya ke perpus. Beberapa menit kemudian, saat saya sedang di meja perpus sibuk mengetik, dia melambaikan tangan di meja petugas perpus. “Mas, saya duluan ya,” ujarnya. Dan langsung ngacir keluar. Ahaha..

Sepatu Murah Meriah

Sepatu cowok jujur saya akui rada mahal harganya dibanding sepatu cewek. Dan percuma saya ngeluh harga sepatu cowok yang relatif mahal karena buat saya rasa nyaman itu nomor satu. Sepatu cewek yang saya liat memang cenderung rame dengan warna-warni dan harga yang murah. Anehnya, mereka adalah makhluk yang fine-fine aja dengan berbagai model sepatu. Bahkan sepatu teman saya juga lumayan banyak. Banyak banget malah, haha. Saya sepatu ada tiga pasang: 1. Sepatu untuk ke kampus 2. Sepatu untuk kondangan, seminar, sidang 3. Sepatu lari.

Sepatu yang saya miliki rata-rata harganya diatas seratus ribuan. Terakhir punya sepatu harga lima puluh ribuan mungkin saat dulu S-1: sepatu converse bajakan beli di pasar kaget. Sekalinya saya beli sepatu murah meriah, saya langsung menyesal. Ada saja yang bisa disalahkan: sol sepatunya, jahitannya. Memang ono rego ono rupo – ada harga ada rupa, artinya bahwa harga menentukan kualitas barang. Bukan berarti kita harus membeli sepatu yang mahal, tetapi pilih yang relatif nyaman dengan kualitas standar. Siap-siap aja lah sama tumit lecet atau kaki yang berasa nggak nyaman buat melangkah kalo salah milih sepatu, hehe.

Untung saya jarang lapar mata ngeliat sepatu aneka model di dekat kampus. Secara model dan warna memang memikat, plus harganya yang kelewat anjlok kaya rel kereta. Sering-sering mengingat bahwa sepatu itu bakal bikin kaki saya lecet, lumayan ampuh bagi saya untuk kuat iman nggak beli sepatu murah meriah, hahaha. Teman kosan saya juga ‘berjasa’ memberi pelajaran kepada saya. Jadi dia beli sepatu untuk olahraga. Dipakai sekali langsung berubah (berubaaah..jreeng jreng..). Mendadak penyok dan lepas jaitan di bagian dalam. Prinsip ono rego ono rupo memang berlaku adanya.


Hm..mau beli sepatu baru..nabung dulu dah.

Cerita Idul Adha 1435 Hijriyah

Meski di tempat saya ada dua kubu: lebaran tanggal 4 dan tanggal 5, kami sepakat untuk menyembelih hewan kurban pada Minggu, 5 Oktober 2014 demi alasan kerukunan. Berhubung saya tidak bisa memotong, menyembelih ataupun memegang daging (saya ga kuat sama bau-nya), jadi saya hanya bisa menonton. Penyembelihan dilakukan di halaman samping mesjid. Saat tim penyembelih beraksi, tiba-tiba dari dalam masjid terdengar krasak-krusuk mikrofon khas suara menjelang azan. Kami tidak curiga karena sebelumnya takbir Idul Adha memang biasa dilantunkan. Saat tiba pada bagian “asyhadu alaa..ilaahailallah..” kami celingukan. Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul 11 kurang sepuluh menit. Kami melongo, langsung kasak-kusuk. “Udah zuhur ya? Perasaan belom dah” ujar salah seorang tetangga saya. Tak lama azan berhenti. Katon, anak SMP dekat rumah saya mengambil alih mikrofon. “Mohon maaf ada kesalahan teknis. Belum waktunya azan zuhur. Terima kasih”. Kemudian Katon melanjutkan takbir Idul Adha seperti biasa. Sontak kami yang diluar mesjid tertawa. Mungkin kakek muazin yang biasa azan itu keasyikan takbir jadi keterusan azan :v Duh maaf ya kek kami tertawa ngakak.

Senin, 22 September 2014

Batal ke Korea

Korea saat musim gugur (Sumber: autumnlightspicture.blogspot.com)
Akhirnya saya memutuskan tidak jadi berangkat ke Korea karena alasan finansial. Well, buat bahan pelajaran bagi saya dan kelompok saya, harus prepare lebih matang dan bisa masukin proposal ke instansi yang terkait. Tapi kabar gembiranya adalah tetap ada perwakilan teman-teman saya yang berangkat ke Korea, salah satunya adalah guru memasak saya, haha.. Semoga sukses, bro!

Ketika harus bertengkar dengan teman

Bertengkar merupakan situasi yang sebetulnya paling saya hindari. Bagi saya yang cinta damai, lebih baik menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dan hati yang dingin ketimbang menyelesaikan dengan kepala dan hati yang panas. Tetapi memang benar adanya dalam suatu hubungan entah dalam keluarga, teman, pekerjaan, ataupun komunitas ada masa-masa dimana kita 'harus bertengkar.' Mungkin ini juga jadi bahan renungan juga bahwa ada sisi positif dari pertengkaran.

Saya terlibat dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan beberapa orang. Kebetulan kami, satu tim, adalah teman satu kampus. Saat pembagian fee pekerjaan, muncul beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya lontarkan kepada teman saya sebagai project leader. Entah saya yang terkesan mencela atau ada kata-kata yang menyinggung, saya merasakan ada kesan yang tidak baik yang saya tangkap dari teman saya tersebut. Melalui surat elektronik, saya memahami bahwa saya digambarkan sebagai orang yang tidak terima dengan pembagian fee. Benar. Saya tidak terima. Dalam item pekerjaan terdapat kejanggalan pembiayaan dan saya mencoba menanyakan kepada teman saya tersebut.

Sayangnya, saya tidak menemukan solusi dari percakapan kami. Kami bertengkar: melalui surat elektronik. Tak ada telepon maupun kabar darinya. Walhasil keegoisan kami - sepertinya -  menyebabkan kami bertengkar via surat elektronik. Sudahlah, saya pun malas meneruskan masalah. Ujung-ujungnya adalah saya meminta maaf pada teman saya tersebut atas sikap saya yang kurang berkenan.

Dalam pekerjaan, entah itu melibatkan teman ataupun sekedar teman kerja biasa, memang harus ada aturan main yang jelas. Saya juga salah karena tidak menanyakan/negosiasi pada tahap awal sehingga menimbulkan permasalahan di akhir. Yang mengagetkan mungkin dari perubahan sikap saya yang ditangkap oleh teman saya tersebut. "Kamu berubah ya Pram? Kamu sekarang kok lebih blak-blakan.."

Saya langsung berpikir seperti apakah saya yang dipersepsikan oleh teman saya tersebut.

Apakah saya dikenal sebagai pribadi yang baik? Yang tenang dan tidak blak-blakan?

Perilaku seseorang mungkin bisa berubah. Saya merasa sih, dulu saya memang pasif. Cenderung diam. Diam yang parah.Tetapi saya sekarang merasa harus berubah. Setidaknya sedikit-sedikit memperbaiki diri. Jreeeng..berubaaah :D Memang dalam pertemanan selama hidup saya selalu mengalami fase pertengkaran, bahkan dengan teman karib sekalipun. Tetapi, saat bisa menyadari posisi dan mengerti kondisi teman, setidaknya dapat dipahami mengapa dia/mereka bertindak seperti itu. Saya mencoba memikirkan seperti itu kepada teman saya, meski rasanya susah karena terlanjur kesal. Tetapi yah, sudahlah. Saya selalu ingin mengakhiri masalah dengan penyelesaian yang indah. Itu saja. Dan akhirnya memang saya dan teman saya pun kembali tenang seperti biasa.

Secara tidak langsung, saya bersyukur saya pernah bertengkar dengannya.




Minggu, 14 September 2014

Korea!

Entah sejak kapan saya 'kecemplung' budaya. Di kelas saya, ada trio pelestarian. Mereka adalah Refi, Aini, dan Ray. Refi, membawa kebudayaan Kerinci-nya. Ray, membawa kebudayaan Buton-nya, dan Aini membawa kebudayaan Sungai Sambas-nya.. Sementara saya sebenarnya biasa aja dengan yg namanya budaya,,tapi karena gaul dengan mereka-mereka itulah sedikit demi sedikit saya jadi agak senang dengan aroma budaya, hahaha..
Tim saya, tim keroyokan, mengerjakan abstrak dalam semalam. Bhahaha..
Beberapa waktu lalu Refi memberitahukan bahwa akan digelar seminar tentang kebudayaan (budaya*) bertopik waterfront di Seoul, Korea. Berhubung waktunya sudah amat mepet, jadilah saya dan rekan saya, Dwica dan Joe, menulis abstrak tentang pasar terapung di Banjarmasin. Kebetulan kami bertiga mengunjungi lokasi tersebut dalam rangka praktikum kuliah beberapa tahun lalu. Dan, jreeeng,, jadi deh. Kirim dan ternyata kami bertiga berhasil masuk,, :D

Koreaa...! (www.korea.net)
Bisa masuk daftar presentator rasanya udah senang banget sih, hahaha.. Ray dan Refi juga berhasil masuk. Aneh aja sih saya ikutan masuk juga. Kebetulan? Enggak ada yang namanya kebetulan sih. Yasudahlah, sekarang berusaha aja mikirin kedepannya bagaimana ini. Hehe..

Sabtu, 13 September 2014

From 3 to 6

Belakangan ini saya punya 'tempat nongkrong' baru. Bukan cafe, apalagi tempat diskotik,,haha.. tapi ini adalah ruangan dosen. Haha..yeah sungguh angker rasanya. Inipun atas desakan dosen saya. Menurut beliau, saya ini harus 'dipaksa' biar nulis tesis. Setelah berbulan-bulan tesis saya tinggalkan (berasa jadi bang Toyib). Tapi sungguh jujur saya lebih baik nulis blog daripada tesis, haha..becanda. Saya tetap harus tetap nulis serius alias nulis tesis.

Cuma yang agak nyebelinnya adalah saya harus naik-turun tangga dari level 3 ke level 6 :O. Ruangan dosen saya ini berada di level 6. FYI di kampus saya memang agak unik. Level tidak serta-merta diartikan sebagai 'lantai'. Justru level pertama di Gedung Fakultas Pertanian ini dimulai dari level 3. Level 1 berada nun jauh di gedung perpustakaan sana, dekat dengan Situ Leutik. Kampus ini memang berkontur sih, jadi ada sensasi tersendiri di sini. Sensasi jalan kaki yang berujung pada capek, hahaha. satu..dua..satu..dua..majuu..jalaan!

Kalo nggak cepet-cepet jalan nanti tangga-nya bakal bergerak *berasa di Kastil Hogwarts*
 Jadi mahasiswa nggak boleh malas. Adil sih sebenarnya: mau mahasiswa, staf, atau dosen, semuanya harus jalan. Naik turun-tangga. Kalau ada barang yang kelupaan, misalnya, ya harus berjalan. Seneng kalo turun tangga, lah pas naik tangga? Waduw pengen nangis rasanya. Tidak ada lift. Mungkin memang seharusnya ada lift karena gempor juga kalau sehari mesti naik turun tangga berkali-kali (*ngarep). Tapi kadang nggak adilnya adalah bagi mereka yang (maaf) difabel, atau memiliki kesulitan berjalan. Teman saya baru-baru ini sakit kakinya karena kecelakaan, tetapi dengan semangat juang 45 dia semangat menjemput saya di ruangan dosen yang kini saya bersemayam di dalamnya. Sempet kepikiran ngasih saran buat bikinin tiang kaya di mess nya pemadam kebakaran. Jadi dari level 6 ke level 3 langsung merosot gitu, sroooot.. Atau nggak sekalian ada flying fox biar tambah seru ini kampus, bhahaha..

Saya hitung-hitung tiap lantai ada 60 anak tangga (tadinya nggak mau ngitung, saking bete-nya lihat anak tangga jadi kepikiran buat ngitung mereka). Berarti dari level 3 ke level 6 perlu 180 anak tangga sekali naik. Wow banget kan! Hahaha..sebenernya ini adalah musibah membawa nikmat. Saya jadi agak langsingan meski mungkin cuma beberapa gram saja. Naik-turun mengurusi ini itu, lumayan bikin badan jadi bergerak dan gesit. Tapi memang dampaknya adalah saya jadi sering minum karena kehausan. Walhasil galon minum di ruang dosen jadi bocor gara-gara saya minumin.

Gak cuma galon sih, kue-kue kering juga saya makanin.

Dosen saya yang baik hatinya menawarkan kue buat cemilan :9

Entah kenapa setiap saya 'ngantor' di ruangan dosen ini, teman-teman saya pas sering-seringnya ada acara/keperluan di level bawah. Hedeuh.. jadilah saya turun-naik-turun. Tapi nggak apa-apalah, saya juga jadi sehat disini.

Intinya adalah nggak ada alasan buat olah raga, meski mungkin hanya bisa jalan. Bersyukurlah masih bisa jalan-jalan, masih bisa berkeringat, masih sehat. Seharian yang capek pasti boboknya nikmat, :D








Senin, 01 September 2014

Tegur sapa

Menyapa adalah pekerjaan remeh. Sekedar menyapa 'Hai apa kabar? Assalamualaikum?' dll adalah aktivitas basa-basi. Tapi bagi saya, menyapa dan disapa ibarat dua sisi uang logam: ada gambar bunga melati dan gambar garuda (fyi ini uang 500-an jaman dulu kala :D). Maksudnya, saya selalu mengalami ritme disapa dan menyapa.

Suatu ketika saya tengah mengalami suasana yang tidak nyaman dengan teman. Percaya sih kalau kita selamanya tidak akan akur dengan teman karena adanya konflik itu ujian dari pertemanan. Dan begitulah, saya jadi malas bertemu dengan teman saya itu, menghindari tempat-tempat yang berpotensi untuk bertemu dengannya, dan jreeng,, Saya bertemu teman saya itu di suatu tempat di dekat kampus. 

Dia menyapa saya.

"Hei Pram, apa kabar, lama nggak ketemu."

Nyesss.. Seketika itu juga rasa tidak nyaman luntur. Entah mengapa saya mendadak lupa dengan kekesalan saya dengannya. Simpel banget

Jaman sekarang mungkin lebih maju dengan munculnya berbagai media sosial yang lebih canggih. Tetapi memang yang lebih nyata pengaruhnya menurut saya adalah bertegur sapa. Yap benar. Say hello. Menanyakan kabar via sms/whatsApp memang tiada salah, saya maklum saja dengan kondisi yang menuntut serba praktis dan cepat. Membantu sih. Saya sering berkomunikasi via whatsApp ataupun sms dengan kawan lama.

Menyapa 'hai apa kabar' memang ramah, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Mana  tahu bisa merekatkan silaturahim meski tak sempat bertemu. Mana tahu jadi mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi. Barangkali malah berpeluang semakin eratnya hubungan persaudaraan.

Pada dasarnya orang-orang senang diperhatikan bukan? :D

Selasa, 22 April 2014

Bipolar feeling

Untunglah ada temen ngasisten yang juga suka doyan makan dan ngemil (terus kenapa..hhaha). Perhatian ke dosen hanya sekelebat mata saja. Kebanyakan curi-curi waktu buat ngobrol. Praktikum kali ini belajar kata bipolar. Yeah, dua kata sifat  yang merupakan lawan kata. Kata bipolar digunakan dalam metode semantic differential untuk melakukan penilaian keindahan. Konyolnya, praktikan di kelas ada bikin kata-kata bipolar yang nggak umum seperti suci - ternoda, indah - seronok.. hrrrr.. Yeah, praktikan saya ini adalah angkatan di bawah saya yang beda banget sama angkatan saya. Mereka sangat rajin dan rajin bertanya. *geleng-geleng kepala *tobat *ada apa dengan mereka ya.

Okey, saya udah dapet materi bipolar ini tahun lalu, pada jam dan tempat yang sama. Kata bipolar..hmm..yeah bipolar feeling yang kurasakan saat ini mungkin:

lapar - kenyang
bosan - seru
sepi - ramai
kampus - kosan
kota - desa
jalan-jalan - nggak jalan-jalan
nulis - nggak nulis
statistik - nggak statistik
ngeblog - nggak ngeblog
ngemil - ngemil
ngemil - ngemil
ngemil-ngemil

Huff..tiga kata terakhir adalah kata yang nggak ada bipolarnya buat saya. Bodo ah, ngemil banyak yang penting besok pagi lari. Seenggaknya perut nggak buncit-buncit amat. 





Kamis, 16 Januari 2014

Let us run!

Lari adalah olahraga paling sederhana. Hanya butuh modal sepatu, dan kemauan saja. Kebetulan beberapa bulan belakangan saya lagi senang dengan olahraga satu ini. Main bola nggak bisa, main kasti nggak punya tongkat, main badminton nggak ada raket, berenang belum mahir, kayang belum lincah, hahaha...(banyak alasan ya untuk malas, hahaha). Saya memang nggak jago olahraga. Tidur sih jago. Yaudah deh pilih lari saja untuk aktivitas fisik.

Ada teman saya yang 'menasehati' dan menyadarkan saya untuk olahraga. Alasannya sederhana aja, karena perut saya yang kian membuncit akibat aktivitas olahraga 'mulut' (baca: ngemil :D). Lagipula sehari-hari saya kerjaannya kebanyakan duduk, ngetik. Sebenarnya sih sejak tingkat satu saya rajin lari, tapi angin-anginan. Kalau lagi mood bagus, lari. Kalau lagi nggak, ya nggak lari. Sekarang juga masih sih, hehe. Semakin bertambah usia (tua), kepikiran ingin menekuni olahraga sederhana ini lagi.

Dari beberapa sumber yang saya baca, lari memang memiliki manfaat. Selain menyehatkan karena badan kita bergerak semua, lari bisa membantu tubuh rileks dan tidur dengan lelap. Kalau yang ini sih tanpa lari saya juga bisa. Dua-tiga detik kepala di bantal langsung zzz. Lari juga bisa mengurangi tekanan darah, mengurangi stres (hahaha.. stress..), dan bikin ceria (menurut saya,,bhehehe).

Selalu dikuntit sama gukguk kampus yang suka keliaran

Beruntungnya memiliki kampus yang masih banyak ruang terbuka hijaunya. Mata masih bisa dimanjakan melihat pemandangan yang luas tak terhalang. Pagi di kampus memang bagus untuk lari, terutama pukul lima pagi bakda waktu subuh: udara masih bersih dan suasana sepi. Saya memang tipe yang ogah lari saat matahari kelihatan, soalnya banyak orang dan biasanya udara mulai panas.
Buat yang mata minus sesekali bisa juga dicopot kacamatanya. Sambil lari lihat-lihat hijau pepohonan, kicau burung,, huiih,,, asikk.. Memang untuk awal-awal melakukan olahraga sederhana ini, kaki terasa pegel. Tetapi beberapa kali dilakukan juga akan terbiasa kok (terbiasa pegel..bhehe). Intinya niat aja sih kalau lari. Niatnya: ingin sehat, bugar, semangat, senang. Saya sendiri suka merasa capek banget setelah lari, tetapi capeknya senang. Percayalah, lari itu menyehatkan :D

Harapan saya semoga saya konsisten bisa lari pagi, meski nggak setiap hari.