expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 07 Januari 2017

Di ARL ISTN


November 2016 lalu, Program Studi Arsitektur Lanskap ISTN mendapat akreditasi B. Semoga kedepannya semakin baik dan bertambah baik lagi, Aamiin 

Lepas dari IPB, saya dan dua rekan saya bekerja di kampus ISTN di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Lucunya, saya dan dua rekan saya: Ray dan Refi, kumpul lagi. Kami yang masih awam ini, mengalami banyak hal baru di sini. Menjadi dosen mungkin bukan menjadi cita-cita saya. Dosen, terminologi yang sebenarnya bermakna berat. Seseorang yang sepertinya sudah mencapai level sangat dewa :D. Saya malah dulunya ingin menjadi komikus. Tapi cita-cita itu sudah terkubur sejak saya SMA. Ketika lulus SMA, saya ingin jadi arsitek bangunan. Sampai akhirnya saya ingin menjadi arsitek lanskap, dan...saat ini saya nyemplung ke dunia pendidikan arsitektur lanskap.

Salah satu point + + + jadi anak lenskep: jalan-jalan!

Rekan-rekan sekelas kami kami yang lain kini mengajar di Kampus Unitri Malang. Kami semua memulai di waktu yang hampir bersamaan, kecuali Mas Rizki dan Ray yang sudah lebih dulu mengajar. Belajar bersama, konyol bersama, main bersama, (lulusnya sih nggak sama-sama,haha) dan kini kami sama-sama menjadi pengajar.

Tetep aja praktikum tanamannya ke IPB lagi :D

Dunia saya saat ini jauh berbeda ketika di kampus lama saya. Saya kini berada di dunia yang nyata. Yang dihadapi setiap hari: mahasiswa-mahasiswi, rekan kerja, sistem, lingkungan, semuanya berbeda. Menyiapkan materi, mengajar, membuat soal, mengoreksi jawaban ujian. Menjadi pengajar yang bisa membahasakan materi ajar ke dalam bahasa yang lebih sederhana, itulah yang utama. Yeah..menjadi pengajar harus tetap terus belajar kan?

 Welcome to the real world!

Saat ini, jalan yang ada di hadapan saya adalah jalan di jalur pendidikan. Senang rasanya bisa berbagi ilmu dan pengetahuan. Mas Rizki pernah berkata bahwa pintar bukan tujuan kita mengajar peserta didik. Tujuan kita adalah pendidik. Mendidik seseorang, agar punya proses, berubah ke arah yang lebih baik. Mendidik, agar paham bahwa segalanya perlu melewati serangkaian proses.

Ciaat..semangaat!!

(H-2 UAS Semester Ganjil 2016/2017)

Kamis, 10 November 2016

Berapa?

Berapa sih gaji kamu? Memang kamu bisa hidup dengan gaji segitu? Teman-temanmu itu kerja apa? Gaji mereka cukup sepertimu?

Salah seorang yang pernah saya hormati eksistensinya saat studi magister saya bertanya seperti itu, di suatu forum ilmiah internasional yang dihadiri oleh kalangan akademisi. Sejenak saya merasa terhenyak. Pertama, pertanyaan tersebut tidak etis. Kedua, orang itu memiliki latar belakang akademik tinggi. Ketiga, ada nada meremehkan saat menanyakan kepada saya. Keempat, apakah orang tersebut berpikir sebelum bertanya seperti itu?

Bukan kali pertama saya mendapatkan pernyataan seperti itu yang - menurut saya - tidak sopan. Bukan kali pertama juga saya diremehkan orang itu. Saya selalu berusaha membangun pikiran positif saya terhadapnya. Namun, pikiran saya kini kian bulat: saya tak perlu berurusan lagi dengannya di kemudian hari.

Beberapa orang memiliki persepsi yang sempit mengenai taraf kemakmuran seseorang hanya dilihat dari aspek pendapatan. Lebih sayang lagi, yang berpikir seperti itu bukanlah orang yang berpendidikan biasa-biasa saja, tetapi telah mengenyam pendidikan bertahun-tahun dengan gelar yang panjang. Jikalau hal tersebut ditanyakan orang seseorang awam, mungkin masih dapat dipahami. Tetapi apa yang bisa dijadikan pembenaran bagi seseorang yang tidak awam, yang sudah berpendidikan, untuk bertanya seperti itu? Apa yang bisa dijadikan landasan berpikir, seseorang yang sudah 'di atas' untuk bertanya dengan nada yang sama sekali tidak menyenangkan?

Ada hal-hal yang tidak perlu saya utarakan ke semua orang. Ada hal-hal yang tak perlu orang ketahui. Ada hal-hal yang tak patut untuk ditanyakan. Ada pembatas di antara sesama kita bukan?

Katakanlah saya sudah ada di titik akumulasi kekecewaan, dan saya tak menemukan titik cerah saat saya kontak dengan orang itu. Saya rasa tak ada yang perlu saya komunikasi lagi dengannya, karena menutup pintu komunikasi lebih baik ketimbang mempertahankan komunikasi yang berujung pada hal-hal yang menyakitkan.

Minggu, 23 Oktober 2016

Satu Dasawarsa


Suasana Arboretum Lanskap IPB Dramaga, sekitar 2008-2009. Ini ketauan banget pake gaya segala wkwkwk.. Entah siapa yang moto dan ini lagi ngapain (*lupa)

Beberapa bulan lalu, teman saya - Titou - mengabarkan bahwa dia tengah ada di Jakarta. Dia mengabarkan lokasi dia dan mengajak kumpul bareng di Jakarta. Di saat itu juga saya sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. "Yah..sorry bos, gw otw ke Surabaya nih.." Sebulan kemudian, Titou mengabarkan bahwa dia sedang di Bogor, namun saat saya tengah sibuk dengan kerjaan kampus. Jika dibandingkan dengan gagal bertemu, tetap lebih banyak ketemuannya kok :D

Saya dan Titou kini memasuki masa kepala tiga puluh. Selang hampir satu dasawarsa kami berteman sejak S1 dulu, banyak hal yang berubah -yang tidak berubah juga banyak. Semakin ke sini, semakin banyak cerita yang bisa kami tukar. Kami sama-sama memasuki dunia orang dewasa yang mulai mencicipi asam garam kehidupan. Kami punya lapak kehidupan masing-masing yang berbeda. Titou yang berekspresi di lapak seninya yang dinamis dan saya yang berekspresi di lapak pendidikan yang dramatis, haha.. Setiap orang pada akhirnya memang mencari lapak kehidupan yang mereka anggap nyaman toh?

Titou adalah salah seorang yang berpengaruh dalam hidup saya: saya belajar banyak tentang budaya, desain, perilaku, buku, tanaman, film, dll. Selalu ada pesan dan energi positif yang saya bisa dapat. Terkadang kami juga suka diskusi. Meski niatnya diskusi ringan entah kenapa jatuhnya pasti ke ilmiah terus jadi diskusi kehidupan. Dari dulu yang tidak berubah saat kami ketemu adalah kami saling ejek,nyindir, dan bercanda. Tak lupa sederet pertanyaan yang saling kami lempar. Mulai dari kapan kawinnya, kapan sekolah S3-nya, kapan kurusnya, kapan main ke Sabangnya, kapan main ke Solonya, kapan bikin bukunya, nya..nya.. dll.

Semakin sulit bertemu, tentunya tidak berarti kami putus kontak. Saya sering ngintip akun facebook saya yang udah berdebu-dan-ada-laba-labanya lalu melihat-lihat bagian beranda (facebook saya pakai Bahasa Indonesia :D). Titou aktif memposting beberapa kegiatannya di bidang kesenian yang menurut saya sungguh mengasyikkan. Kalau saya sih posting paling foto yang wow aja, hanya sekedar menunjukkan "ini lho akun facebook saya masih hidup" hihi.

Teman memang datang silih berganti. Salah satu hikmah dalam kehidupan saya yang singkat ini adalah saya memiliki teman-teman yang baik.


Kamis, 15 September 2016

di 2.329 m dpl

Anak-anak kekinian sangat suka posting foto aktivitas liburan mereka yang seru. Saya mungkin salah satu dari bagian anak-anak kekinian itu lah ya, he..he. Pengalaman naik gunung palingan naik Gunung Gede-Pangrango tapi cuma sampai pos pertama yang ada curug-nya..(itupun rasanya sikil mau lepas). Pernah juga saya ke kaki Gunung Merapi tapi cuma sampai goa jepang.. Gunung Slamet pernah ke kakinya, dulu jaman tahun 2009 saat KKP ke Tegal, dan itu kepleset hampir masuk sungai berbatu.. Meskipun demikian, di benak saya adalah naik gunung ya harus bergaya ala anak gunung: bawa carrier, pakai sepatu gunung, sendal gunung, gitu-gitu dah. Belum lagi bawa tulisan romantis "kapan kita ke sini bareng" atau "untuk X cemangadh ea.." wkwkwk.

Bulan lalu saya bersyukur bisa main ke salah satu gunung yang terkenal di dunia kepariwisataan Indonesia bareng teman-teman arl pasca 2012 saya: yeah..Gunung Bromo namanya. Lokasinya di Provinsi Jawa Timur, dan berada di perbatasan wilayah Kabupaten Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo. Saya masuk lewat Pasuruan, tapi track nya luar bisa dag-dig-dug-dhuer..


Sesaat sebelum tiba di lautan pasir. Jalanan menurun dan menukik, jadi harus berhati-hati sekali.


Apa yang bisa dilakukan di Bromo? Melihat sunrise dari Penanjakan (sayang saya nggak dapat sunrise *dapetnya sunlight ;v), melihat Pura tempat ibadahnya orang Tengger, melihat lautan pasir dan kawasan Pasir Berbisik-nya yang menjadi judul filmnya Dian Sastro, dan tentunya adalah menaiki ratusan anak tangga menuju kawah Bromo untuk melihat kawah blup..blup..blup..

Gunung Batok

Tangga menuju kawah Bromo
 Di lautan pasir, saya melihat banyak rombongan jeep seperti rombongan kami yang datang. Kuda beserta guide lokal juga siap sedia mengantar wisatawan untuk naik melihat kawah Bromo. Kami tiba sekitar pukul 9. Matahari sudah terik, tetapi udara terasa sejuk. Jangan lupa pakai masker bagi yang tidak tahan debu karena semakin siang debu semakin intens berhembus menerbangkan pasir. Tiba-tiba saya kebayang tanah suci: gurun pasir gitu cuma ini di atas bekas kawasan Gunung Bromo purba, hehe (padahal saya belom pernah ke tanah suci, wkwk). Saya, Ray, Mas Rizki, dan Tish menaiki tangga. Tangganya banyak banget! :D Jangan dihitung, nanti mumet, hahaha. Di beberapa titik ada sesajen orang Tengger karena Bromo bagi mereka adalah suci dan memiliki makna.

Pura Hindu, tempat ibadah Orang Tengger
Singkat cerita, saya tiba di atas Bromo: melihat kawah bersama puluhan orang lain dan berfoto. Lantas saya duduk, menghadap ke arah Pura lalu memotret sepatu safety kesayangan saya, hehe. Saat itu sebenarnya saya agak pusing-ngeri-fobia sama ketinggian. Mau fobia apa nggak tetep aja nekat "pokoknya harus naek" hehe.. Nggak nyangka bisa naek gunung ala-ala seperti ini. Bromo pula :D Beberapa saat kami di atas dan menikmati lanskap Bromo yang kelabu oleh pasir..

Oh..gini ya rasanya berada di ketinggian.. pikir saya.

Saya melihat orang-orang di bawah saya keciil sekali. Kebanyakan orang yang ada di ketinggian, yang tidak berhati-hati, yang terlena akan posisi, ketika jatuh pasti sakitnya luar biasa. Yah, sama seperti hidup. Saat di puncak kesuksesan, kita seringkali lupa posisi bahwa suatu saat kita bisa saja jatuh tanpa diduga. Berhati-hati adalah suatu keharusan.


Pada akhirnya saya hanya bisa berkata "Hmm..subhanallah pemandangannya baguuus" :D Seenggaknya sekali dalam hidup saya, saya sudah mengunjungi ikon terkenal pariwisata Jawa Timur ini. Sangat menyenangkan bisa berwisata ke Gunung Bromo. Kapan-kapan main lagi ya..


Dari bibir kawah Bromo..



Sabtu, 27 Agustus 2016

Wisuda yang ke-2

Alhamdulilah, Rabu 27 Juli 2016 kemarin menjadi hari yang membahagiakan bagi saya. Yeay...wis sudah! :D Wisuda yang ke-2, tak jauh beda dengan yang pertama dulu secara esensi. Intinya adalah selebrasi mindahin tali toga dari-kiri-ke-kanan, nyanyi-nyanyi, dan nonton pemandangan 800 orang diwisuda sama Pak Rektor, hehe. Wisuda kali ini nggak kepengen foto-foto ala-ala wisuda jaman sarjana dulu. Mahal cuy. Dipikir-pikir uang fotonya bisa buat biaya nikah *lho. Kebetulan di jurusan sudah tidak ada acara makan-foto bersama dosen-dll. Lumayan, bisa cepet pulang ngehindar dari macet Dramaga yang luar biasa.



Setelah diungkep bagai tempe bacem di dalam GWW, saya ngeluyur ke node ARL, Tradisi wisudawan di kampus saya adalah pasti dikasih bunga :D Semacam tanda selamat yang menurut saya sangat menyenangkan. Jarang-jarang saya dapat bunga semeriah ketika wisuda, hehe. Dan yang mengharukan adalah ketika teman-teman sengaja menyempatkan hadir sekadar mengucapkan selamat :D

Akhirnya saya bisa juga foto bersama #omomipb (asli, saya pengen foto ama #omomipb he.he..), meskipun kurang sama Glory yang nun jauh di Malang sana. I am the last, but not least. Menjadi samurai terkahir yang berjuang di jurusan lanskap, menjadi orang yang pernah bermasalah sama urusan tesis-menesis, menjadi orang yang jadi trending topic diobrolin dosen-dosen (halah), drama king! 


Terima kasih kepada Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya, buat Bapak Mama dan keluarga saya, personil #omomipb yang sudah membantu saya keluar dari IPB ini hehe, buat teman-teman pasca semua, yang sering menanyakan saya kapan lulus, akhirnya saya lulus juga. Menurut saya menyelesaikan tugas akhir itu memang butuh strategi, dan setiap orang berbeda kondisinya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain dukungan, bantuan, dan tentunya doa dari orang-orang terdekat.



Terima kasih ya Allah, terima kasih semuanya :D

Minggu, 24 Juli 2016

My 2016 Mudik Story

Jakarta is predominantly consisted of Javanese people. Every year, the Javanese people of Jakarta going back to their hometown at Lebaran holiday (mostly Central Java, Yogyakarta, and East Java Province). People who migrated are expected to went back home at Lebaran, commonly called as mudik.

In Indonesia, especially for Muslim people, Lebaran is a big day to celebrate the Eid Al Fitr. Many people push their selves harder just to got home. For some people that told me, “that was an art of mudik”. Some of my friends told me why keep trying to mudik? Why not take another day? But, that is mudik. Mostly out relatives are living in our hometown, not in Jakarta. A special day just like Lebaran is a precious occasion to meet and greet our relatives.

This Eid Al Fitr, I almost spent three days riding own car from Jakarta to Surakarta. We went out from our home at Saturday night then arrived at Pejagan Exit Toll Road on Sunday morning. I received an sms from the Regional Police Headquarter of Central Java Province to avoid Tegal City because of the traffic jam. So we decided to take a route to Bumiayu. Unluckily, the volume of the vehicleas are really big. The road isn’t adequate enough so we had a very long traffic. Cars, motorbikes, buses, are fulfilled the road from Pejagan until Bumiayu. We spent our Sunday just for about 10 km!
I wondering why the travelers who are using motorbikes are getting higher.. They were even brought their children. It was really unsafe ways to do mudik..

Motorbike travelers, near Ketanggungan, Brebes

There was such a horror condition. Rubbish are everywhere. People are easily threw their rubbish on the road, around the river, as much as they can threw it. We were looked for rest room anywhere we could find it (there are so many incidental rest room built by the local, and the incidental food store also). There was no police staff that helped us (where are they?). Gas station are over capacity because of the high demand of gas and rest room. The fuel truck must be trapped in the traffic too. I texted to some of my friends about my condition, then they were surprised. Spent many hours at the traffic was so tragic. I was wondering that I could get any air plane to reach Surakarta!

People are welfare, have their own car, well-educated, but they were easily threw their rubbish and make the road dirt :(

On Monday, we had reached Klonengan, the southern part of Tegal District. Our fuel almost empty and we were looking for the gas station around us while the road are definitely stuck with traffic. In our way to Guci, Tegal, we bought some fuels from the local people who sold it for Rp 15.000 per liter. Fuel becoming rare and expensive. After fulfilled our tank, we went through Guci, then Moga, to reach Purbalingga. That was a hilly road track and not so many people through it. We avoided Bumiayu because we thought that we would not succeed if we through that way.



We arrived at Purbalingga at night. After fulfilled our tank and our stomach at Purbalingga, then we drove smoothly until Temanggung without any traffic. There were no more traffic. We enjoyed the scenery, many mountains and trees. We also saw paddy fields and salak seller in Sleman, Yogyakarta. Finally we arrived Surakarta at Tuesday. That was a terrible traffic I ever had in my life. But in other hand, I love mudik with my whole family :)

Jumat, 13 Mei 2016

Previously on my blog header


Foto ini diambil di signage Baubau, sehari setelah kami sampai menggunakan tongsis yang dibeli di grawida. Matahari bersinar terik di langit Buton. Borrowing landscape berupa selat yang memisahkan Pulau Buton dengan Pulau Muna serta Pulau Makasar.

My Photoshoot

Dua wardrobe artist untuk photoshoot saya: Sapu sama Ray :v
Lupa mau posting ini, hahaha., sebulan lalu saya photoshoot buat foto wisuda. Setelah sidang yang berproses secara berbelit dan proses setelahnya yang juga lebih membelit, akhirnya saya ada momen lucu ketika photoshoot untuk ijazah. Awalnya saya ngajak Ray buat ngedandanin saya agar cakepan dikit. Nyiapin dasi, kemeja, dan kacamata. Ternyata ada Sapu juga yang kebetulan ke kampus dan langsung ikut turun tangan. Jadilah saya didandanin sama mereka. Ada kali sekitar 10 menit. Kebetulan ada beberapa orang juga yang sedang antre mau foto. Saya dilihatin karena saya digarap sama dua orang wardrobe artist, hahahaha.. Udah gitu si bapak tukang motonya dateng dan CEKREKK.. udah, sekali cekrek, dan beres.

Seenggaknya setelah kebelitan yang menimpa ada juga momen untuk lucu-lucuan, hehe. Tengs guys :D



Uda, Padang, Rendang

Saya punya langganan tempat potong rambut. Yang punya tempat sebut saja namanya Uda yang asli Padang. Adik saya sih yang berjasa yang memberi tahu tentang tempat rambut Uda yang hasilnya bagus dan sesuai dengan permintaan pelanggan. Walhasil, sejak saya dikasi tahu adik saya, saya jadi senang pangkas rambut saya ke tempat Uda. Sesekali saya minta potongan rapi, sesekali saya minta hanya dipangkas sedikit. Uda ini kebetulan orangnya cerdas dan cekatan sih. Istrinya orang Betawi asli, dan anak pertamanya sudah belajar berdagang. Wuihh..mantapp.

"Bang, tahu nggak apa arti Padang?" tanya si Uda sambil merapikan rambut saya.
"Apaan bang?"
"Padang, pandai berdagang.. Batak, Banyak Taktik.. Jawa, jaga wibawa,.. Betawi, betah di wilayah,.. Sunda, suka dandan.." ujarnya sambil tertawa.

Percakapan ringan di tempat-tempat cukur memang menyenangkan (meskipun tidak selalu). Saya menghindari topik politik meskipun ujung-ujungnya ngobrolin politik. Buat pemecah kebosanan lah ya selama proses potong rambut. Kaku juga disuruh duduk diam lumayan lama. Syukurlah jadi cowok: potong rambut ringkas dan cepat. Kalo salon cewek kayaknya lebih lama ritualnya lah, potong ini, cuci ini, udah gitu bayarnya pasti mahal, hahahaha..

Suatu saat si Uda menanyakan saya kuliah dimana dst. Hingga akhirnya saya menceritakan teman saya Refi yang orang Kerinci itu. "Oo..Kerinci itu juga Minang itu..Hanya saja sekarang dia ikut Provinsi Jambi," ujar si Uda. Entah mengapa lama-lama jadinya tiap saya potong rambut, saya keingetan si Refi: gaya bicaranya persis sama :D Kemudian setiap saya potong rambut di tempat Uda saya jadi kebayang-bayang rendang. Asli, saya pengen banget makan rendang di tempat aslinya sana. Bahkan ditulis kisahnya segala sama si refi di sini. Bener sih kata Ray, seru kali ya bisa makan makanan daerah asli di tempat asalnya. Saya penasaran sama cerita di koleksi buku saya yang menceritakan kuliner dari Sumatera Barat. Tiap saya buka buku kisah kuliner itu, selera tergugah terus dah.

Salah satu koleksi buku saya yang isinya membahas macam-macam masakan Padang :D 
Padang itu menurut saya identik sama makanan sih memang. Restoran Padang terhampar di seluruh Indonesia. Penyelamat perut dan menu masakannya juga enak-enak. Rendang, lele, telor dadar, ikan. Saya anggap masakan Padang itu spesial karena saya nggak tiap hari makan masakan Padang, hehe. Buat selingan aja. Di kampus saya waktu itu baru nyicip soto padang (dan yang jual asalnya pun sama kaya si Refi,hahaha). Sotonya pakai rempah Padang banget, enaak.. Baru pertama kali nyoba: daging ayam suwirnya banyak dan pake perkedel sama daun bawang. Syedaapp.

Apalagi kalo makan di tempat asalnyaa.... 


Soto Padang Jalan Bateng
Pertama kali ke tanah Sumatera tahun 2011 silam ketika beres wisuda, pergi ke Palembang. Lumayan banyak juga temen-temen dari Sumatera: ada yang dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Bengkulu, Lampung (lho ada semua ya :v). Semoga suatu saat kesampean lah ya ke Kota Padang, sama ke tempat si Refi juga, Aamiin..