expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 30 September 2014

Idul Adha 1435 Hijriyah


Idul Adha sebentar lagi menjelang. Idul Adha, atau Lebaran Haji, merupakan hari raya umat Islam yang dirayakan setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah, serta dilanjutkan pada Hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Seluruh umat Islam sedunia menyembelih hewan qurban, sementara yang beribadah haji melaksanakan ibadah melempar jumrah. Berqurban itu esensinya bukan bakar-bakar sate ya, hehe. Berqurban adalah wujud iman, taqwa, dan kesabaran kita kepada Allah Swt. Melalui hewan qurban, kita mewujudkan syukur atas rizki yang senantiasa Allah Swt limpahkan. Berqurban berarti kita berbagi kebahagiaan pada mereka yang berkekurangan. Menikmati sekerat daging mungkin biasa bagi kita yang mampu, tapi mereka? Belum tentu setiap hari bisa menikmatinya.

Semoga kita diberikan kelapangan rizki untuk berqurban dan beribadah ke Tanah Suci. Aamiin. Saya juga belom ke Tanah Suci nih, hehe. Ayok semangat :D





Senin, 22 September 2014

Batal ke Korea

Korea saat musim gugur (Sumber: autumnlightspicture.blogspot.com)
Akhirnya saya memutuskan tidak jadi berangkat ke Korea karena alasan finansial. Well, buat bahan pelajaran bagi saya dan kelompok saya, harus prepare lebih matang dan bisa masukin proposal ke instansi yang terkait. Tapi kabar gembiranya adalah tetap ada perwakilan teman-teman saya yang berangkat ke Korea, salah satunya adalah guru memasak saya, haha.. Semoga sukses, bro!

Jadi asisten memasak

Sup Bakso Abrakadabra. Dimasak saat kepepet. Yang masak kakak saya, yang ngasistenin saya. 

Kata teman saya, Ray, saya berbakat jadi asisten (me)masak. Entah darimana dia bisa menilai. Apa karena saya beberapa kali membantu masak di dapur kosan sehingga saya dapat gelar seperti itu, hahaha. Saya memang nggak bisa masak, lebih bisa makan :D Ternyata memasak itu asik juga, memerlukan ilmu dan seni. Mungkin senada dengan jiwa arsitektur lanskap ya *nyengir. Intinya memasak yang dikerjakan dengan senang hati berpeluang menghasilkan citarasa yang lezat,, hmmm..

Kelas kami beberapa kali mengadakan perhelatan (lebay) masak: mulai dari perayaan cucurak alias makan bareng sebelum Ramadan, buka bersama di rumah teman kami, bahkan halal bi halal. Seru semua, tetapi yang paling seru adalah saat cucurak dimana saya pertama kali menjajal masak. Saya jadi belajar bikin crepes, haha..Selama ini saya cuma tau crepes dan pancake sama aja, ternyata beda! (Mau tau bedanya apa? Klik aja disini). Teman saya penggila pusaka itu emang sabar ngajarin sih, berbakat jadi guru masak. Senangnya punya temen suka masak adalah bagian icip-icip makanan, haha..dan bisa juga nyobain gimana cara bikin crepes.

Asik banget bikin beginian, bro! :D

Memasak tak dapat dipungkiri adalah aktivitas untuk bertahan hidup. Memasak untuk menghasilkan makanan. Melalui memasak juga kita bisa meng-erat-kan tali silaturahim atau kekerabatan, seperti saat saya dan teman-teman mengadakan acara buka puasa bersama di rumah Cete , hehe. Memasak juga bukti rasa cinta lho. Ibu yang memasak untuk keluarganya di rumah sejatinya adalah bukti cinta beliau :D. Memasak juga bisa menghasilkan keuntungan. Selama masih ada manusia, bisnis memasak/katering akan tetap sustain, hehe.

Suasana dapur. Foto diperankan oleh model serta kucing penunggu kosan.
Jadi ngelantur gini ceritanya. Saya kan mau cerita tentang asisten masak, haha. Asisten memasak sebenarnya memegang peran pembantu di dalam kegiatan memasak. Contoh: mengambilkan bumbu di luar jangkauan juru masak utama, menyiapkan peralatan dan mencuci peralatan memasak, pokoknya sesuai instruksi juru masak utama. Harus punya kesigapan juga sih karena asisten memasak ada untuk membantu juru masak utama.

Tapi saya akui, memasak memang merepotkan. Saya bahkan sampai menyalakan dua kompor serta dua tangan bermain: yang satu menumis satu mendadar telur. Ray si juru masak utama sedang sibuk. Walhasil tumisan saya sukses gosong, sementara telur yang harusnya saya dadar menjadi ceplok. Bikin crepes juga lumayan susahnya, dituang adonan,,trus dibalik dengan cara dilempar,, hap hap.. brukk.. jatuh ke tepian kompor. Hahaha.. Beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga ngebalik adonan. Meski akhirnya gosong juga.

Jika berkesempatan ditugaskan menjadi asisten masak (khususnya bagi yang awam memasak seperti saya ini), saran saya adalah:
1. percayalah bahwa kamu sudah memiliki niat yang baik untuk membantu memasak; ingat, kamu adalah asisten - tugas utamanya membantu ya bukan jadi bos-nya hehe;
2. pede aja, tidak semua orang bisa memasak, tetapi semua orang pasti bisa makan (?);
3. pintar-pintar membaca situasi saat juru masak utama sedang sibuk, bantulah; jika juru masak utama sedang mencicipi masakan, jangan lupa dibantu icip-icip juga, hehe.
4. mencuci peralatan yang kotor sesegera mungkin;
5. sebaiknya bisa membedakan ketumbar dengan lada, haha (pengalaman)
6. sigap, cekatan, tangguh;
7. jangan kebanyakan nyicip masakan nanti kekenyangan.

Jangan cuma bisa makan aja, sesekali cobalah ikutan masak hehe (*tepok jidat).



Ketika harus bertengkar dengan teman

Bertengkar merupakan situasi yang sebetulnya paling saya hindari. Bagi saya yang cinta damai, lebih baik menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dan hati yang dingin ketimbang menyelesaikan dengan kepala dan hati yang panas. Tetapi memang benar adanya dalam suatu hubungan entah dalam keluarga, teman, pekerjaan, ataupun komunitas ada masa-masa dimana kita 'harus bertengkar.' Mungkin ini juga jadi bahan renungan juga bahwa ada sisi positif dari pertengkaran.

Saya terlibat dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan beberapa orang. Kebetulan kami, satu tim, adalah teman satu kampus. Saat pembagian fee pekerjaan, muncul beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya lontarkan kepada teman saya sebagai project leader. Entah saya yang terkesan mencela atau ada kata-kata yang menyinggung, saya merasakan ada kesan yang tidak baik yang saya tangkap dari teman saya tersebut. Melalui surat elektronik, saya memahami bahwa saya digambarkan sebagai orang yang tidak terima dengan pembagian fee. Benar. Saya tidak terima. Dalam item pekerjaan terdapat kejanggalan pembiayaan dan saya mencoba menanyakan kepada teman saya tersebut.

Sayangnya, saya tidak menemukan solusi dari percakapan kami. Kami bertengkar: melalui surat elektronik. Tak ada telepon maupun kabar darinya. Walhasil keegoisan kami - sepertinya -  menyebabkan kami bertengkar via surat elektronik. Sudahlah, saya pun malas meneruskan masalah. Ujung-ujungnya adalah saya meminta maaf pada teman saya tersebut atas sikap saya yang kurang berkenan.

Dalam pekerjaan, entah itu melibatkan teman ataupun sekedar teman kerja biasa, memang harus ada aturan main yang jelas. Saya juga salah karena tidak menanyakan/negosiasi pada tahap awal sehingga menimbulkan permasalahan di akhir. Yang mengagetkan mungkin dari perubahan sikap saya yang ditangkap oleh teman saya tersebut. "Kamu berubah ya Pram? Kamu sekarang kok lebih blak-blakan.."

Saya langsung berpikir seperti apakah saya yang dipersepsikan oleh teman saya tersebut.

Apakah saya dikenal sebagai pribadi yang baik? Yang tenang dan tidak blak-blakan?

Perilaku seseorang mungkin bisa berubah. Saya merasa sih, dulu saya memang pasif. Cenderung diam. Diam yang parah.Tetapi saya sekarang merasa harus berubah. Setidaknya sedikit-sedikit memperbaiki diri. Jreeeng..berubaaah :D Memang dalam pertemanan selama hidup saya selalu mengalami fase pertengkaran, bahkan dengan teman karib sekalipun. Tetapi, saat bisa menyadari posisi dan mengerti kondisi teman, setidaknya dapat dipahami mengapa dia/mereka bertindak seperti itu. Saya mencoba memikirkan seperti itu kepada teman saya, meski rasanya susah karena terlanjur kesal. Tetapi yah, sudahlah. Saya selalu ingin mengakhiri masalah dengan penyelesaian yang indah. Itu saja. Dan akhirnya memang saya dan teman saya pun kembali tenang seperti biasa.

Secara tidak langsung, saya bersyukur saya pernah bertengkar dengannya.




Minggu, 14 September 2014

Main Landscape Game

Waktu itu, kebetulan saya iseng membuka laci meja dosen. Ternyata saya menemukan sebuah kotak yang isinya semacam permainan monopoli. Kata dua orang teman saya ini jangan-jangan itu semacam Jumanji, hahaha. Ternyata, yang saya temukan judulnya 'Landscape Game' waah..landscape banget ini mah. 

Begitu kotak dibuka, jeng jeng....ternyata memang sebangsa monopoli, cuma ini versi landscape-nya gitu,hehe. Saat saya membaca peraturan permainannya, saya lumayan bingung. Ribet sih awalnya, haha. Untunglah kami nggak menyerah dan langsung main sambil baca buku petunjuk yang isinya memang njelimet. Mungkin intisari berbagai macam diktat kuliah dibikin jadi game ini, hahaha.

Refi dan Ray, pengusaha ecotourism. Saya: rakyat jelata, haaha

Icon yang serba landscape, seru lho

Sepintas mirip monopoli. Kamu bisa kredit atau nego ke pemain lain. Tapi saya nggak jago, haha,, saya ditipu Refi yang jadi pengusaha ecotourism :D

Ecosettlement banget ini. Kota Pusaka juga bisa ya? Haha

Rumah Larik, hahaha.

Sungai Sambas-nya Aini

Hutan Kota Malang, hahaha

Ini Titis banget. 

Ini bukang elang sih. Tapi anggaplah ini elang-nya si Ami.

Ini klimatologi-nya si Sapu.hahaha

Berhubung mau masuk fesbuk, foto dulu lah kita :D Terima kasih kepada Bang Ariev yang telah memfoto kami bertiga, hehehe.
Permainan berkakhir dengan kemenangan Refi yang berhasil mengumpulkan kekayaan paling tinggi, disusul Ray yang nggak beda jauh, lalu saya - rakyat jelata. Hahahaha..

Korea!

Entah sejak kapan saya 'kecemplung' budaya. Di kelas saya, ada trio pelestarian. Mereka adalah Refi, Aini, dan Ray. Refi, membawa kebudayaan Kerinci-nya. Ray, membawa kebudayaan Buton-nya, dan Aini membawa kebudayaan Sungai Sambas-nya.. Sementara saya sebenarnya biasa aja dengan yg namanya budaya,,tapi karena gaul dengan mereka-mereka itulah sedikit demi sedikit saya jadi agak senang dengan aroma budaya, hahaha..
Tim saya, tim keroyokan, mengerjakan abstrak dalam semalam. Bhahaha..
Beberapa waktu lalu Refi memberitahukan bahwa akan digelar seminar tentang kebudayaan (budaya*) bertopik waterfront di Seoul, Korea. Berhubung waktunya sudah amat mepet, jadilah saya dan rekan saya, Dwica dan Joe, menulis abstrak tentang pasar terapung di Banjarmasin. Kebetulan kami bertiga mengunjungi lokasi tersebut dalam rangka praktikum kuliah beberapa tahun lalu. Dan, jreeeng,, jadi deh. Kirim dan ternyata kami bertiga berhasil masuk,, :D

Koreaa...! (www.korea.net)
Bisa masuk daftar presentator rasanya udah senang banget sih, hahaha.. Ray dan Refi juga berhasil masuk. Aneh aja sih saya ikutan masuk juga. Kebetulan? Enggak ada yang namanya kebetulan sih. Yasudahlah, sekarang berusaha aja mikirin kedepannya bagaimana ini. Hehe..

Little China Suryakencana, Bogor

Bertahun-tahun di Bogor, saya belum pernah 'serius' menikmati lanskap Kota Hujan ini. Bogor, salah satu kota pusaka di Indonesia (ehm,,pusaka, jadi inget blog tetangga saya hehe) menyimpang banyak warisan budaya yang kental. Salah satunya adalah kawasan pecinan di Jalan Suryakencana, Bogor.

Sobat saya ini ekspresinya menjiwai sekali.. :D
Vihara Dhanagun yang persis berada di seberang Gerbang Utama Kebun Raya Bogor ini menjadi landmark kawasan Suryakencana. Saya sendiri sudah dua kali berkesempatan melihat acara Pesta Rakyat Bogor 2013 dan 2014, bertepatan dengan acara Cap Go Meh. Ada banyak barongsai dan iringan kirab pusaka (*pusaka) sepanjang jalur ini. Penontonnya ruamee banget. Tetangga blogger saya, Ray, kali ini berbaik hati menemani saya menyusuri kawasan Suryakencana, Bogor. Kebetulan dia juga paham sejarah kawasan ini, Asyik sih, sambil nyetir ada yang memberi narasi sejarah kawasan Suryakencana ini, hehe..


Saya suka warna serba merah vihara ini. Kebetulan matching sama kaos saya, hehe.


Mie ayam yang racikan sendiri. Enak! Bakso ikan-nya juga sedap :)
 Banyak kuliner seru di sepanjang jalan ini. Saya belum menyusuri semuanya lho. Yang paling enak menurut saya adalah combro. Combro disini rasanya gurih sedap. Gerobaknya mangkal dekat perempatan apa gitu namanya *lupa. Dulu saya sering dengar cerita ada mi ijo. Mi yang dibuat dari sayuran. Tapi katanya udah ga ada lagi. Yaah..

Mau kue-kue khas pecinan? Ada. Saya nyobain kue bulan. Rasanya enak. Sebangsa bakpia-nya Jogja. Hanya saja ukurannya besar. Yang pasti sedap dan bisa buat oleh-oleh. Ray membeli mochi. Lapar mata sih disini, haha.



Sebenernya lebih ngiler sama menu punya dia sih, hahaha. Gede banget! 
Atas rekomendasi Ray, kami nyobain makan di Resto Kencana. Saya nyobain mie ayam dan ray nyobain lou mie (kalo nggak salah namanya itu).

Jalan Suryakencana, Bogor. Ada banyak jajanan pasar di sepanjang jalan ini.
Mau jalan kaki sebenernya asik di sini. Pecinan banget rasanya. Sayang, jalur pejalan kaki alias pedestrian di sini kurang nyaman. Menurut guide saya, kawasan ini sebenarnya sama dengan yang dimiliki oleh Singapura. Hanya saja lanskap di sini kurang tertata apik .Kurang nuansa chinese-town mungkin. Banyak fasad atau tampilan muka bangunan yang berubah. Ada beberapa diantara bangunan yang ada adalah situs bersejarah. Oya, bagi yang bawa kendaraan roda empat atau lebih (truk?) harus pinter-pinter milih tempat parkir dan bersabar ya,, di sini adalah kawasan pasar, jadi lumayan padat.

Ternyata kue bulan ini rasanya enak banget :9
 Yep demikianlah laporan jalan-jalan saya kali ini. Yang pasti jalan-jalan sambil belajar itu asyik sih, perut kenyang, hati senang, pikiran jadi lapang (ngasal) :D

Sabtu, 13 September 2014

From 3 to 6

Belakangan ini saya punya 'tempat nongkrong' baru. Bukan cafe, apalagi tempat diskotik,,haha.. tapi ini adalah ruangan dosen. Haha..yeah sungguh angker rasanya. Inipun atas desakan dosen saya. Menurut beliau, saya ini harus 'dipaksa' biar nulis tesis. Setelah berbulan-bulan tesis saya tinggalkan (berasa jadi bang Toyib). Tapi sungguh jujur saya lebih baik nulis blog daripada tesis, haha..becanda. Saya tetap harus tetap nulis serius alias nulis tesis.

Cuma yang agak nyebelinnya adalah saya harus naik-turun tangga dari level 3 ke level 6 :O. Ruangan dosen saya ini berada di level 6. FYI di kampus saya memang agak unik. Level tidak serta-merta diartikan sebagai 'lantai'. Justru level pertama di Gedung Fakultas Pertanian ini dimulai dari level 3. Level 1 berada nun jauh di gedung perpustakaan sana, dekat dengan Situ Leutik. Kampus ini memang berkontur sih, jadi ada sensasi tersendiri di sini. Sensasi jalan kaki yang berujung pada capek, hahaha. satu..dua..satu..dua..majuu..jalaan!

Kalo nggak cepet-cepet jalan nanti tangga-nya bakal bergerak *berasa di Kastil Hogwarts*
 Jadi mahasiswa nggak boleh malas. Adil sih sebenarnya: mau mahasiswa, staf, atau dosen, semuanya harus jalan. Naik turun-tangga. Kalau ada barang yang kelupaan, misalnya, ya harus berjalan. Seneng kalo turun tangga, lah pas naik tangga? Waduw pengen nangis rasanya. Tidak ada lift. Mungkin memang seharusnya ada lift karena gempor juga kalau sehari mesti naik turun tangga berkali-kali (*ngarep). Tapi kadang nggak adilnya adalah bagi mereka yang (maaf) difabel, atau memiliki kesulitan berjalan. Teman saya baru-baru ini sakit kakinya karena kecelakaan, tetapi dengan semangat juang 45 dia semangat menjemput saya di ruangan dosen yang kini saya bersemayam di dalamnya. Sempet kepikiran ngasih saran buat bikinin tiang kaya di mess nya pemadam kebakaran. Jadi dari level 6 ke level 3 langsung merosot gitu, sroooot.. Atau nggak sekalian ada flying fox biar tambah seru ini kampus, bhahaha..

Saya hitung-hitung tiap lantai ada 60 anak tangga (tadinya nggak mau ngitung, saking bete-nya lihat anak tangga jadi kepikiran buat ngitung mereka). Berarti dari level 3 ke level 6 perlu 180 anak tangga sekali naik. Wow banget kan! Hahaha..sebenernya ini adalah musibah membawa nikmat. Saya jadi agak langsingan meski mungkin cuma beberapa gram saja. Naik-turun mengurusi ini itu, lumayan bikin badan jadi bergerak dan gesit. Tapi memang dampaknya adalah saya jadi sering minum karena kehausan. Walhasil galon minum di ruang dosen jadi bocor gara-gara saya minumin.

Gak cuma galon sih, kue-kue kering juga saya makanin.

Dosen saya yang baik hatinya menawarkan kue buat cemilan :9

Entah kenapa setiap saya 'ngantor' di ruangan dosen ini, teman-teman saya pas sering-seringnya ada acara/keperluan di level bawah. Hedeuh.. jadilah saya turun-naik-turun. Tapi nggak apa-apalah, saya juga jadi sehat disini.

Intinya adalah nggak ada alasan buat olah raga, meski mungkin hanya bisa jalan. Bersyukurlah masih bisa jalan-jalan, masih bisa berkeringat, masih sehat. Seharian yang capek pasti boboknya nikmat, :D








Senin, 01 September 2014

Tegur sapa

Menyapa adalah pekerjaan remeh. Sekedar menyapa 'Hai apa kabar? Assalamualaikum?' dll adalah aktivitas basa-basi. Tapi bagi saya, menyapa dan disapa ibarat dua sisi uang logam: ada gambar bunga melati dan gambar garuda (fyi ini uang 500-an jaman dulu kala :D). Maksudnya, saya selalu mengalami ritme disapa dan menyapa.

Suatu ketika saya tengah mengalami suasana yang tidak nyaman dengan teman. Percaya sih kalau kita selamanya tidak akan akur dengan teman karena adanya konflik itu ujian dari pertemanan. Dan begitulah, saya jadi malas bertemu dengan teman saya itu, menghindari tempat-tempat yang berpotensi untuk bertemu dengannya, dan jreeng,, Saya bertemu teman saya itu di suatu tempat di dekat kampus. 

Dia menyapa saya.

"Hei Pram, apa kabar, lama nggak ketemu."

Nyesss.. Seketika itu juga rasa tidak nyaman luntur. Entah mengapa saya mendadak lupa dengan kekesalan saya dengannya. Simpel banget

Jaman sekarang mungkin lebih maju dengan munculnya berbagai media sosial yang lebih canggih. Tetapi memang yang lebih nyata pengaruhnya menurut saya adalah bertegur sapa. Yap benar. Say hello. Menanyakan kabar via sms/whatsApp memang tiada salah, saya maklum saja dengan kondisi yang menuntut serba praktis dan cepat. Membantu sih. Saya sering berkomunikasi via whatsApp ataupun sms dengan kawan lama.

Menyapa 'hai apa kabar' memang ramah, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Mana  tahu bisa merekatkan silaturahim meski tak sempat bertemu. Mana tahu jadi mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi. Barangkali malah berpeluang semakin eratnya hubungan persaudaraan.

Pada dasarnya orang-orang senang diperhatikan bukan? :D