Semoga kita diberikan kelapangan rizki untuk berqurban dan beribadah ke Tanah Suci. Aamiin. Saya juga belom ke Tanah Suci nih, hehe. Ayok semangat :D
#omomipb goes to Malang
Malang, 30 November 2013
Selasa, 30 September 2014
Idul Adha 1435 Hijriyah
Semoga kita diberikan kelapangan rizki untuk berqurban dan beribadah ke Tanah Suci. Aamiin. Saya juga belom ke Tanah Suci nih, hehe. Ayok semangat :D
Senin, 22 September 2014
Batal ke Korea
![]() |
| Korea saat musim gugur (Sumber: autumnlightspicture.blogspot.com) |
Jadi asisten memasak
![]() |
| Sup Bakso Abrakadabra. Dimasak saat kepepet. Yang masak kakak saya, yang ngasistenin saya. |
Kelas kami beberapa kali mengadakan perhelatan (lebay) masak: mulai dari perayaan cucurak alias makan bareng sebelum Ramadan, buka bersama di rumah teman kami, bahkan halal bi halal. Seru semua, tetapi yang paling seru adalah saat cucurak dimana saya pertama kali menjajal masak. Saya jadi belajar bikin crepes, haha..Selama ini saya cuma tau crepes dan pancake sama aja, ternyata beda! (Mau tau bedanya apa? Klik aja disini). Teman saya penggila pusaka itu emang sabar ngajarin sih, berbakat jadi guru masak. Senangnya punya temen suka masak adalah bagian icip-icip makanan, haha..dan bisa juga nyobain gimana cara bikin crepes.
![]() |
| Asik banget bikin beginian, bro! :D |
Memasak tak dapat dipungkiri adalah aktivitas untuk bertahan hidup. Memasak untuk menghasilkan makanan. Melalui memasak juga kita bisa meng-erat-kan tali silaturahim atau kekerabatan, seperti saat saya dan teman-teman mengadakan acara buka puasa bersama di rumah Cete , hehe. Memasak juga bukti rasa cinta lho. Ibu yang memasak untuk keluarganya di rumah sejatinya adalah bukti cinta beliau :D. Memasak juga bisa menghasilkan keuntungan. Selama masih ada manusia, bisnis memasak/katering akan tetap sustain, hehe.
![]() |
| Suasana dapur. Foto diperankan oleh model serta kucing penunggu kosan. |
Tapi saya akui, memasak memang merepotkan. Saya bahkan sampai menyalakan dua kompor serta dua tangan bermain: yang satu menumis satu mendadar telur. Ray si juru masak utama sedang sibuk. Walhasil tumisan saya sukses gosong, sementara telur yang harusnya saya dadar menjadi ceplok. Bikin crepes juga lumayan susahnya, dituang adonan,,trus dibalik dengan cara dilempar,, hap hap.. brukk.. jatuh ke tepian kompor. Hahaha.. Beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga ngebalik adonan. Meski akhirnya gosong juga.
Jika berkesempatan ditugaskan menjadi asisten masak (khususnya bagi yang awam memasak seperti saya ini), saran saya adalah:
1. percayalah bahwa kamu sudah memiliki niat yang baik untuk membantu memasak; ingat, kamu adalah asisten - tugas utamanya membantu ya bukan jadi bos-nya hehe;
2. pede aja, tidak semua orang bisa memasak, tetapi semua orang pasti bisa makan (?);
3. pintar-pintar membaca situasi saat juru masak utama sedang sibuk, bantulah; jika juru masak utama sedang mencicipi masakan, jangan lupa dibantu icip-icip juga, hehe.
4. mencuci peralatan yang kotor sesegera mungkin;
5. sebaiknya bisa membedakan ketumbar dengan lada, haha (pengalaman)
6. sigap, cekatan, tangguh;
7. jangan kebanyakan nyicip masakan nanti kekenyangan.
Jangan cuma bisa makan aja, sesekali cobalah ikutan masak hehe (*tepok jidat).
Ketika harus bertengkar dengan teman
Bertengkar merupakan situasi yang sebetulnya paling saya hindari. Bagi saya yang cinta damai, lebih baik menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dan hati yang dingin ketimbang menyelesaikan dengan kepala dan hati yang panas. Tetapi memang benar adanya dalam suatu hubungan entah dalam keluarga, teman, pekerjaan, ataupun komunitas ada masa-masa dimana kita 'harus bertengkar.' Mungkin ini juga jadi bahan renungan juga bahwa ada sisi positif dari pertengkaran.
Saya terlibat dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan beberapa orang. Kebetulan kami, satu tim, adalah teman satu kampus. Saat pembagian fee pekerjaan, muncul beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya lontarkan kepada teman saya sebagai project leader. Entah saya yang terkesan mencela atau ada kata-kata yang menyinggung, saya merasakan ada kesan yang tidak baik yang saya tangkap dari teman saya tersebut. Melalui surat elektronik, saya memahami bahwa saya digambarkan sebagai orang yang tidak terima dengan pembagian fee. Benar. Saya tidak terima. Dalam item pekerjaan terdapat kejanggalan pembiayaan dan saya mencoba menanyakan kepada teman saya tersebut.
Sayangnya, saya tidak menemukan solusi dari percakapan kami. Kami bertengkar: melalui surat elektronik. Tak ada telepon maupun kabar darinya. Walhasil keegoisan kami - sepertinya - menyebabkan kami bertengkar via surat elektronik. Sudahlah, saya pun malas meneruskan masalah. Ujung-ujungnya adalah saya meminta maaf pada teman saya tersebut atas sikap saya yang kurang berkenan.
Dalam pekerjaan, entah itu melibatkan teman ataupun sekedar teman kerja biasa, memang harus ada aturan main yang jelas. Saya juga salah karena tidak menanyakan/negosiasi pada tahap awal sehingga menimbulkan permasalahan di akhir. Yang mengagetkan mungkin dari perubahan sikap saya yang ditangkap oleh teman saya tersebut. "Kamu berubah ya Pram? Kamu sekarang kok lebih blak-blakan.."
Saya langsung berpikir seperti apakah saya yang dipersepsikan oleh teman saya tersebut.
Apakah saya dikenal sebagai pribadi yang baik? Yang tenang dan tidak blak-blakan?
Perilaku seseorang mungkin bisa berubah. Saya merasa sih, dulu saya memang pasif. Cenderung diam. Diam yang parah.Tetapi saya sekarang merasa harus berubah. Setidaknya sedikit-sedikit memperbaiki diri. Jreeeng..berubaaah :D Memang dalam pertemanan selama hidup saya selalu mengalami fase pertengkaran, bahkan dengan teman karib sekalipun. Tetapi, saat bisa menyadari posisi dan mengerti kondisi teman, setidaknya dapat dipahami mengapa dia/mereka bertindak seperti itu. Saya mencoba memikirkan seperti itu kepada teman saya, meski rasanya susah karena terlanjur kesal. Tetapi yah, sudahlah. Saya selalu ingin mengakhiri masalah dengan penyelesaian yang indah. Itu saja. Dan akhirnya memang saya dan teman saya pun kembali tenang seperti biasa.
Secara tidak langsung, saya bersyukur saya pernah bertengkar dengannya.
Saya terlibat dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan beberapa orang. Kebetulan kami, satu tim, adalah teman satu kampus. Saat pembagian fee pekerjaan, muncul beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya lontarkan kepada teman saya sebagai project leader. Entah saya yang terkesan mencela atau ada kata-kata yang menyinggung, saya merasakan ada kesan yang tidak baik yang saya tangkap dari teman saya tersebut. Melalui surat elektronik, saya memahami bahwa saya digambarkan sebagai orang yang tidak terima dengan pembagian fee. Benar. Saya tidak terima. Dalam item pekerjaan terdapat kejanggalan pembiayaan dan saya mencoba menanyakan kepada teman saya tersebut.
Sayangnya, saya tidak menemukan solusi dari percakapan kami. Kami bertengkar: melalui surat elektronik. Tak ada telepon maupun kabar darinya. Walhasil keegoisan kami - sepertinya - menyebabkan kami bertengkar via surat elektronik. Sudahlah, saya pun malas meneruskan masalah. Ujung-ujungnya adalah saya meminta maaf pada teman saya tersebut atas sikap saya yang kurang berkenan.
Dalam pekerjaan, entah itu melibatkan teman ataupun sekedar teman kerja biasa, memang harus ada aturan main yang jelas. Saya juga salah karena tidak menanyakan/negosiasi pada tahap awal sehingga menimbulkan permasalahan di akhir. Yang mengagetkan mungkin dari perubahan sikap saya yang ditangkap oleh teman saya tersebut. "Kamu berubah ya Pram? Kamu sekarang kok lebih blak-blakan.."
Saya langsung berpikir seperti apakah saya yang dipersepsikan oleh teman saya tersebut.
Apakah saya dikenal sebagai pribadi yang baik? Yang tenang dan tidak blak-blakan?
Perilaku seseorang mungkin bisa berubah. Saya merasa sih, dulu saya memang pasif. Cenderung diam. Diam yang parah.Tetapi saya sekarang merasa harus berubah. Setidaknya sedikit-sedikit memperbaiki diri. Jreeeng..berubaaah :D Memang dalam pertemanan selama hidup saya selalu mengalami fase pertengkaran, bahkan dengan teman karib sekalipun. Tetapi, saat bisa menyadari posisi dan mengerti kondisi teman, setidaknya dapat dipahami mengapa dia/mereka bertindak seperti itu. Saya mencoba memikirkan seperti itu kepada teman saya, meski rasanya susah karena terlanjur kesal. Tetapi yah, sudahlah. Saya selalu ingin mengakhiri masalah dengan penyelesaian yang indah. Itu saja. Dan akhirnya memang saya dan teman saya pun kembali tenang seperti biasa.
Secara tidak langsung, saya bersyukur saya pernah bertengkar dengannya.
Minggu, 14 September 2014
Main Landscape Game
Waktu itu, kebetulan saya iseng membuka laci meja dosen. Ternyata saya menemukan sebuah kotak yang isinya semacam permainan monopoli. Kata dua orang teman saya ini jangan-jangan itu semacam Jumanji, hahaha. Ternyata, yang saya temukan judulnya 'Landscape Game' waah..landscape banget ini mah.
Begitu kotak dibuka, jeng jeng....ternyata memang sebangsa monopoli, cuma ini versi landscape-nya gitu,hehe. Saat saya membaca peraturan permainannya, saya lumayan bingung. Ribet sih awalnya, haha. Untunglah kami nggak menyerah dan langsung main sambil baca buku petunjuk yang isinya memang njelimet. Mungkin intisari berbagai macam diktat kuliah dibikin jadi game ini, hahaha.
![]() |
| Refi dan Ray, pengusaha ecotourism. Saya: rakyat jelata, haaha |
![]() |
| Icon yang serba landscape, seru lho |
![]() |
| Sepintas mirip monopoli. Kamu bisa kredit atau nego ke pemain lain. Tapi saya nggak jago, haha,, saya ditipu Refi yang jadi pengusaha ecotourism :D |
![]() |
| Ecosettlement banget ini. Kota Pusaka juga bisa ya? Haha |
![]() |
| Rumah Larik, hahaha. |
![]() |
| Sungai Sambas-nya Aini |
![]() |
| Hutan Kota Malang, hahaha |
![]() |
| Ini Titis banget. |
![]() |
| Ini bukang elang sih. Tapi anggaplah ini elang-nya si Ami. |
![]() |
| Ini klimatologi-nya si Sapu.hahaha |
![]() |
| Berhubung mau masuk fesbuk, foto dulu lah kita :D Terima kasih kepada Bang Ariev yang telah memfoto kami bertiga, hehehe. |
Label:
arl pasca 2012
,
landscape
,
lanskap
Korea!
Entah sejak kapan saya 'kecemplung' budaya. Di kelas saya, ada trio pelestarian. Mereka adalah Refi, Aini, dan Ray. Refi, membawa kebudayaan Kerinci-nya. Ray, membawa kebudayaan Buton-nya, dan Aini membawa kebudayaan Sungai Sambas-nya.. Sementara saya sebenarnya biasa aja dengan yg namanya budaya,,tapi karena gaul dengan mereka-mereka itulah sedikit demi sedikit saya jadi agak senang dengan aroma budaya, hahaha..
Beberapa waktu lalu Refi memberitahukan bahwa akan digelar seminar tentang kebudayaan (budaya*) bertopik waterfront di Seoul, Korea. Berhubung waktunya sudah amat mepet, jadilah saya dan rekan saya, Dwica dan Joe, menulis abstrak tentang pasar terapung di Banjarmasin. Kebetulan kami bertiga mengunjungi lokasi tersebut dalam rangka praktikum kuliah beberapa tahun lalu. Dan, jreeeng,, jadi deh. Kirim dan ternyata kami bertiga berhasil masuk,, :D
Bisa masuk daftar presentator rasanya udah senang banget sih, hahaha.. Ray dan Refi juga berhasil masuk. Aneh aja sih saya ikutan masuk juga. Kebetulan? Enggak ada yang namanya kebetulan sih. Yasudahlah, sekarang berusaha aja mikirin kedepannya bagaimana ini. Hehe..
![]() |
| Tim saya, tim keroyokan, mengerjakan abstrak dalam semalam. Bhahaha.. |
![]() |
| Koreaa...! (www.korea.net) |
Little China Suryakencana, Bogor
Bertahun-tahun di Bogor, saya belum pernah 'serius' menikmati lanskap Kota Hujan ini. Bogor, salah satu kota pusaka di Indonesia (ehm,,pusaka, jadi inget blog tetangga saya hehe) menyimpang banyak warisan budaya yang kental. Salah satunya adalah kawasan pecinan di Jalan Suryakencana, Bogor.
![]() |
| Sobat saya ini ekspresinya menjiwai sekali.. :D |
![]() |
| Saya suka warna serba merah vihara ini. Kebetulan matching sama kaos saya, hehe. |
![]() |
| Mie ayam yang racikan sendiri. Enak! Bakso ikan-nya juga sedap :) |
Mau kue-kue khas pecinan? Ada. Saya nyobain kue bulan. Rasanya enak. Sebangsa bakpia-nya Jogja. Hanya saja ukurannya besar. Yang pasti sedap dan bisa buat oleh-oleh. Ray membeli mochi. Lapar mata sih disini, haha.
![]() |
| Sebenernya lebih ngiler sama menu punya dia sih, hahaha. Gede banget! |
![]() |
| Jalan Suryakencana, Bogor. Ada banyak jajanan pasar di sepanjang jalan ini. |
![]() |
| Ternyata kue bulan ini rasanya enak banget :9 |
Label:
bogor
,
jalan-jalan
,
kuliner
Sabtu, 13 September 2014
From 3 to 6
Belakangan ini saya punya 'tempat nongkrong' baru. Bukan cafe, apalagi tempat diskotik,,haha.. tapi ini adalah ruangan dosen. Haha..yeah sungguh angker rasanya. Inipun atas desakan dosen saya. Menurut beliau, saya ini harus 'dipaksa' biar nulis tesis. Setelah berbulan-bulan tesis saya tinggalkan (berasa jadi bang Toyib). Tapi sungguh jujur saya lebih baik nulis blog daripada tesis, haha..becanda. Saya tetap harus tetap nulis serius alias nulis tesis.
Cuma yang agak nyebelinnya adalah saya harus naik-turun tangga dari level 3 ke level 6 :O. Ruangan dosen saya ini berada di level 6. FYI di kampus saya memang agak unik. Level tidak serta-merta diartikan sebagai 'lantai'. Justru level pertama di Gedung Fakultas Pertanian ini dimulai dari level 3. Level 1 berada nun jauh di gedung perpustakaan sana, dekat dengan Situ Leutik. Kampus ini memang berkontur sih, jadi ada sensasi tersendiri di sini. Sensasi jalan kaki yang berujung pada capek, hahaha. satu..dua..satu..dua..majuu..jalaan!
Jadi mahasiswa nggak boleh malas. Adil sih sebenarnya: mau mahasiswa, staf, atau dosen, semuanya harus jalan. Naik turun-tangga. Kalau ada barang yang kelupaan, misalnya, ya harus berjalan. Seneng kalo turun tangga, lah pas naik tangga? Waduw pengen nangis rasanya. Tidak ada lift. Mungkin memang seharusnya ada lift karena gempor juga kalau sehari mesti naik turun tangga berkali-kali (*ngarep). Tapi kadang nggak adilnya adalah bagi mereka yang (maaf) difabel, atau memiliki kesulitan berjalan. Teman saya baru-baru ini sakit kakinya karena kecelakaan, tetapi dengan semangat juang 45 dia semangat menjemput saya di ruangan dosen yang kini saya bersemayam di dalamnya. Sempet kepikiran ngasih saran buat bikinin tiang kaya di mess nya pemadam kebakaran. Jadi dari level 6 ke level 3 langsung merosot gitu, sroooot.. Atau nggak sekalian ada flying fox biar tambah seru ini kampus, bhahaha..
Saya hitung-hitung tiap lantai ada 60 anak tangga (tadinya nggak mau ngitung, saking bete-nya lihat anak tangga jadi kepikiran buat ngitung mereka). Berarti dari level 3 ke level 6 perlu 180 anak tangga sekali naik. Wow banget kan! Hahaha..sebenernya ini adalah musibah membawa nikmat. Saya jadi agak langsingan meski mungkin cuma beberapa gram saja. Naik-turun mengurusi ini itu, lumayan bikin badan jadi bergerak dan gesit. Tapi memang dampaknya adalah saya jadi sering minum karena kehausan. Walhasil galon minum di ruang dosen jadi bocor gara-gara saya minumin.
Gak cuma galon sih, kue-kue kering juga saya makanin.
Entah kenapa setiap saya 'ngantor' di ruangan dosen ini, teman-teman saya pas sering-seringnya ada acara/keperluan di level bawah. Hedeuh.. jadilah saya turun-naik-turun. Tapi nggak apa-apalah, saya juga jadi sehat disini.
Intinya adalah nggak ada alasan buat olah raga, meski mungkin hanya bisa jalan. Bersyukurlah masih bisa jalan-jalan, masih bisa berkeringat, masih sehat. Seharian yang capek pasti boboknya nikmat, :D
Cuma yang agak nyebelinnya adalah saya harus naik-turun tangga dari level 3 ke level 6 :O. Ruangan dosen saya ini berada di level 6. FYI di kampus saya memang agak unik. Level tidak serta-merta diartikan sebagai 'lantai'. Justru level pertama di Gedung Fakultas Pertanian ini dimulai dari level 3. Level 1 berada nun jauh di gedung perpustakaan sana, dekat dengan Situ Leutik. Kampus ini memang berkontur sih, jadi ada sensasi tersendiri di sini. Sensasi jalan kaki yang berujung pada capek, hahaha. satu..dua..satu..dua..majuu..jalaan!
![]() |
| Kalo nggak cepet-cepet jalan nanti tangga-nya bakal bergerak *berasa di Kastil Hogwarts* |
Saya hitung-hitung tiap lantai ada 60 anak tangga (tadinya nggak mau ngitung, saking bete-nya lihat anak tangga jadi kepikiran buat ngitung mereka). Berarti dari level 3 ke level 6 perlu 180 anak tangga sekali naik. Wow banget kan! Hahaha..sebenernya ini adalah musibah membawa nikmat. Saya jadi agak langsingan meski mungkin cuma beberapa gram saja. Naik-turun mengurusi ini itu, lumayan bikin badan jadi bergerak dan gesit. Tapi memang dampaknya adalah saya jadi sering minum karena kehausan. Walhasil galon minum di ruang dosen jadi bocor gara-gara saya minumin.
Gak cuma galon sih, kue-kue kering juga saya makanin.
![]() |
| Dosen saya yang baik hatinya menawarkan kue buat cemilan :9 |
Entah kenapa setiap saya 'ngantor' di ruangan dosen ini, teman-teman saya pas sering-seringnya ada acara/keperluan di level bawah. Hedeuh.. jadilah saya turun-naik-turun. Tapi nggak apa-apalah, saya juga jadi sehat disini.
Intinya adalah nggak ada alasan buat olah raga, meski mungkin hanya bisa jalan. Bersyukurlah masih bisa jalan-jalan, masih bisa berkeringat, masih sehat. Seharian yang capek pasti boboknya nikmat, :D
Label:
arl pasca 2012
,
curhat
Senin, 01 September 2014
Tegur sapa
Menyapa adalah pekerjaan remeh. Sekedar menyapa 'Hai apa kabar? Assalamualaikum?' dll adalah aktivitas basa-basi. Tapi bagi saya, menyapa dan disapa ibarat dua sisi uang logam: ada gambar bunga melati dan gambar garuda (fyi ini uang 500-an jaman dulu kala :D). Maksudnya, saya selalu mengalami ritme disapa dan menyapa.
Suatu ketika saya tengah mengalami suasana yang tidak nyaman dengan teman. Percaya sih kalau kita selamanya tidak akan akur dengan teman karena adanya konflik itu ujian dari pertemanan. Dan begitulah, saya jadi malas bertemu dengan teman saya itu, menghindari tempat-tempat yang berpotensi untuk bertemu dengannya, dan jreeng,, Saya bertemu teman saya itu di suatu tempat di dekat kampus.
Dia menyapa saya.
"Hei Pram, apa kabar, lama nggak ketemu."
Nyesss.. Seketika itu juga rasa tidak nyaman luntur. Entah mengapa saya mendadak lupa dengan kekesalan saya dengannya. Simpel banget
Jaman sekarang mungkin lebih maju dengan munculnya berbagai media sosial yang lebih canggih. Tetapi memang yang lebih nyata pengaruhnya menurut saya adalah bertegur sapa. Yap benar. Say hello. Menanyakan kabar via sms/whatsApp memang tiada salah, saya maklum saja dengan kondisi yang menuntut serba praktis dan cepat. Membantu sih. Saya sering berkomunikasi via whatsApp ataupun sms dengan kawan lama.
Menyapa 'hai apa kabar' memang ramah, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Mana tahu bisa merekatkan silaturahim meski tak sempat bertemu. Mana tahu jadi mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi. Barangkali malah berpeluang semakin eratnya hubungan persaudaraan.
Pada dasarnya orang-orang senang diperhatikan bukan? :D
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

























