expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 13 Oktober 2015

Rabu, 23 September 2015

Jalan Margonda, Kondisimu Saat Ini..

Apa cuma saya yang merasa bahwa kota belimbing ini lanskap jalannya nggak keliatan apik ya??

Mungkin itulah gunanya studi banding. Berkesempatan melihat-lihat kota lain di bumi ini sedikit demi sedikit mempengaruhi persepsi saya mengenai standar lanskap jalan suatu kota. Salahkan jurusan saya, arsitektur lanskap, yang hobinya ngebawelin segala rupa (wkwkw...). Sejak saya SD, saya sudah sering main ke kawasan jantung Kota Depok ini. Kalo kata si Ray, kawasan jantung kota ini sudah 'ditusuk-tusuk' dengan segala macam bentuk rupa bangunan dan embel-embelnya.. Wajarlah kalau kota ini kehilangan banyak darah.. *lebhayy..

Kota ini diapit oleh Jakarta dan Bogor serta dilalui jalur transportasi KRL Bogor-Jakarta sehingga tak heran kota ini semakin dinamis. Dulu, ada banyak pohon angsana besar-besar di kiri-kanan Jalan Margonda.  Jalanan belum selebar sekarang. Pertokoan juga. Mal juga baru ada satu. Sekarang? Wuih, silahkan datang sendiri ke sana :D Tampaknya pemkot kebingungan menyiasati cara untuk menata lanskap Jalan Margonda: bangunan keburu sudah berdiri, dan volume kendaraan meningkat dan membutuhkan tambahan lahan.

Berikut beberapa poin penting yang saya temui di Jalan Margonda.


1. Trembesi di tengah median jalan Margonda



Niat mulia untuk menghijaukan kota tetapi tidak mengetahui penataan tanaman yang tepat. Begitulah kira-kira yang saya pikirkan. Median jalan yang membatasi jalur dari dan menuju Jakarta ini ditanami trembesi (Samanea saman). Suatu jenis pohon peneduh yang populer (udah lama populernya). Contoh yang bagus bisa pembaca lihat saat berkunjung ke kawasan Kota Wisata Cibubur. Jejeran trembesi ditanam dengan menyediakan space yang cukup untuk kebutuhan perkembangan akar pohon. Bandingkan dengan kondisi trembesi di tengah Margonda raya ini. Sedih melihatnya. Sudah terjepit beton jalanan, kanstin, nggak kebayang perkembangan akar trembesi ini.. :( Menurut saya, pemkot bisa menanam tanaman tipe penutup tanah atau semak rendah saja yang tidak terlalu membutuhkan ruang banyak untuk perkembangan akar. Bisa pakai soka, oleander, bugenvil, teh-tehan, dsb.

Mau nanam di kiri-kanan jalan juga nggak bisa. Udah keburu penuh dengan bangunan.

2. Mulai banyak bangunan tinggi-tinggi


Di jalur utama Kota Depok ini mulai banyak bermunculan bangunan-bangunan tinggi. Mal, hotel, apartemen, menjamur di kiri-kanan jalan. Entah perencanaan kotanya atau apa, menurut saya kurang tersegmentasi dengan jelas. Zonasi, belum terbaca. Sepanjang jalan full dengan bangunan. Mata saya agak lelah dengan pemandangan di sepanjang Jalan Margonda ini. Kebanyakan iklan, baliho, poster, dll. Terlalu banyak tulisan, mengacaukan konsentrasi. Padahal, jika pembaca berkunjung dari arah Jakarta menuju Jalan Margonda, akan tampak pemandangan Gunung Salak nun jauh di Bogor sana (*syarat dan kondisi berlaku, hehe). 

Ngomong-ngomong Depok ini mana ya taman kota-nya? (Itu..Kampus UI)... *lempar pot kembang*

3. Jarang ada jembatan penyeberangan orang (JPO)


Saya memfoto JPO ini di salah satu segmen di Jalan Margonda. Kenapa harus muter-muter begitu ya? Trus itu pijakannya gede-gede banget. Kalau ada orang yang berkebutuhan khusus, misalkan penyandang cacat/pengguna kursi roda mau menyeberang jalan, bagaimana?Itu licin nggak kalo hujan? Kemiringannya udah nyaman belum? (*ngomel teroooss...*).

Demi alasan keselamatan sebagai alasan utama (abaikan desain kenyamanan dll), saya akan pakai jembatan ini untuk menyeberang jalan. Asli, Jalan Margonda ini super ramai. Berbahaya untuk menyeberang! Bukan hal yang aneh kalau kondisi lalu lintas di kota-kota besar di Indonesia ini sangat kacau: ngebut sepuasnya, pepet-pepetan, main klakson, hrrrrrr.. Perlu ada banyak JPO di sepanjang jalan ini. Bahkan jalanan yang tersedia zebra cross dan ada rambu "utamakan penyeberang jalan", dikasih lampu lalu lintas, dikasih undukan di sepanjang jalan agar kendaraan melambat, kayaknya nggak signifikan nyata berpengaruh dah... Bersyukurlah masih nemu JPO di beberapa titik di jalan ini, meskipun kurang nyaman dan aman.. FYI banyak juga penyeberang jalan nekat nyeberang Jalan Margonda ini lalu nunduk-nunduk nyelip masuk pagar median jalan. Waduh..

4. Jangan harap bisa berjalan dengan nyaman di pedestrian




Jalur pedestrian di kiri-kanan jalan ini mungkin sebenarnya udah ada, udah dibikin, tapiiii...well.. lihatlah pada foto di atas. Lupakan hak pejalan kaki. Lupakan kenyamanan, apalagi masalah desain. Prinsipnya adalah berjalanlah paling pinggir agar tidak disenggol kendaraan yang lalu lalang. Apalagi saat ini kendaraan sepenuhnya parkir di bahu jalan. Suka kepikiran, jadi gunanya ngelebarin jalan cuma buat jadi  lahan parkiran?

Banyak banget plang yang penempatannya nggak tepat. Rambu-rambu larangan banyak banget juga kayaknya nggak ngefek. Sorry to say, seperti nggak berdampak. Belom lagi para pedagang yang masuk ke wilayah pejalan kaki. Bener-bener pusing pala berbi. Ada benernya kata temen saya, orang Indonesia rata-rata malas jalan kaki. Dikit-dikit mobil, dikit-dikit motor. Ya jangan nyap-nyap kalo jalanan macet. Sedihnya, yang niat pengen jalan kaki malah nggak difasilitasi. Yang difasilitasi hanya yang punya kendaraan. Karena taraf kesuksesan dan kemakmuran diukur dari kepemilikan kendaraan,, ya beginilah jadinya. Nggak adil. Hanya menyediakan ruang untuk pejalan kaki susahnyaaaaa minta ampun.

Sebenarnya ilmunya sudah ada, konsepnya juga udah. Tinggal bagaimana keseriusan menerapkan di lapangan. Jalan raya sejatinya merupakan ruang publik dan masyarakat pengguna jalan berhak mendapatkan rasa nyaman dan aman. Selain desainnya perlu dibenahi, perilaku masyarakat juga harus di-upgrade gitu..

Perilaku..waduh.. gimana dah tuh ribet nyeritainnya :D

Mau jalan nyaman di Jalan Margonda, hm,,kapan yaa.






Rabu, 16 September 2015

Kuliner Bogor Murah Meriah

Mencari makanan enak di Kota Bogor memang agak dilematis buat saya yang kantongnya ngepas,. Maklum masih mahasiswa, hahaha. Kota Bogor memang dikenal sebagai destinasi kuliner. Di kota hujan ini, menurut pengalaman pribadi saya, untuk mendapatkan sajian khas berselera kita mesti merogoh kocek agak dalam lho. Biasanya tempat-tempat makan terkenal dan enak sudah bisa dipastikan harganya muahalll... *kemudian pingsan*. Ono rego ono rupo alias ada harga ada rupa memang berlaku di sini.. Nah, berikut beberapa contoh jajanan murah meriah yang bisa kamu cicip di Bogor. Kali ini saya membahas kuliner yang ada di dekat Stasiun Bogor. Tiba di stasiun Bogor, kamu cukup jalan kaki untuk menemukan kuliner berikut:

1. Mie Ayam Ijo Jalan Polisi 1


Lupa nama lengkap mie ayam ini. Teman kelas saya yang menyarankan untuk nyobain menu ini. Yang pasti ini dibuat pake sayur-sayuran agar penampilannya berwarna ijo. Mie go-green yang sesuai dengan isu lingkungan bumi kita saat ini *halah. Keluar dari Stasiun Bogor berjalanlah ke arah Matahari lalu masuk ke Jalan Polisi 1 arah ke tempat bimbel BP. Di sepanjang Jalan Polisi 1 ini segala macam gerobak makanan berjejer hingga malam selepas isya. Mie ayam ijo ini hanya buka sampai sore. Kata abangnya sih biasanya ludes dibeli sama anak sekolah.

Untuk rasa mie ayam ijo ini menurut saya masih terlalu plain, hambar. Saran saya sih perlu introduksi rempah atau apalah itu biar rasanya menjadi kaya :D Mungkin ini karena saya suka makanan spicy yak, haha.. Tapi buat kamu yang suka rasa-rasa original, mie ini cocok. Selera orang beda-beda, nggak ada salahnya dicoba nih mie.. hehe. Harga Rp 8.000,- Nggak disediakan minum kalo makan di tempat. Tenang, ada abang penjual minum di sebelahnya kok.


 2. Bubur Ayam depan BP, Jalan Polisi 1


Masih di Jalan Polisi dan lokasinya dekat dengan Mie Ijo. Baru pertama nyoba dan langsung suka. Porsinya lumayan ngenyang untuk skala sarapan. Saya pesan bubur ayam yang tanpa tambahan printilan sate, harganya Rp 7.000,- hehe (*biar irit). Penampilannya sama seperti bubur ayam yang lain, rasanya lumayan enak dan daun bawangnya juga banyak. Tenang, minum teh tawar gratis, hahaha..

3. Mie Ayam Jalan Sekolah


Mie ayam ini lokasinya di Jalan Sekolah, belokan pertama di Jalan Polisi 1 ke arah rel kereta. Gerobak warna hijau yang ada terpalnya. Enak! Harganya Rp 10.000,- Mie nya sendiri aja udah enak rasanya. Kuah dan pangsit dipisah dalam mangkok kecil dan ditabur daun bawang. Kaldunya lumayan enak. Disediakan minum teh tawar. Kalo ogah teh tawar, di sebelahnya ada pedagang minuman, wkwk

4. Nasi Goreng Jalan Selot



Hanya buka saat sore hingga malam hari, nasi goreng ini lumayan buat ngganjel perut lapar. Seporsi Rp 12.000,- Lokasi jualannya di muara Jalan Selot persis di dekat SMP 1 Bogor. Bisa makan di tempat (dapet minum) atau di bungkus (kalo dibungkus nanti pake sterofom). Bisa pilih level nggak pedes-sedang-pedes banget.


Mungkin segini dulu liputan kuliner bogor murah meriah-nya. Menurut kalian murah meriah nggak tuh? Standar meriah kali ya lebih tepatnya, hahhaha.. Selamat makan! Jangan lupa baca doa.

September Ceria

September ceria akhirnya bener-bener ceria. Peristiwa-peristiwa bahagia terjadi di bulan September ini. Saya seminar, Ami seminar, dan Glory sidang. Semoga kedepannya lebih ceria lagi :D

Atas: kiriman foto dari Lombok. Bawah: foto di Bogor :)) Thanks guys!

Ami, si ahli ornitologi, burung elang jawa :D

Glory, ahli hutan kota :D 

Kamis, 10 September 2015

Congrats Potter!

Mungkin dia contoh anak lenskep yang banyak aktivitas dan manfaatnya sepanjang saya kuliah di IPB. Sebut saja namanya Annisa Hasanah (memang namanya, ahahaha). Dia adalah teman sekelas saya di kelas ARL Pasca 2012. Dan jreng,,jreng.. dia berhasil menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Student Traveler. Berawal dari hobi jalan-jalan dan tulisan di blognya (cek aja di di sini ), Potter merangkumnya dalam sebuah buku mengenai keseruan dia menjelajahi berbagai negara. Sepanjang kurun masa jalan-jalan, Potter, panggilan akrabnya, sudah mengarungi 21 negara dalam 5 tahun! Wuihh kereeen...Masih berstatus pelajar, dan jalan-jalan keluar negeri? Nothing is impossible - begitu kata Potter. Banyak informasi penting serta kisah-kisah menarik Potter di buku ini. Penasaran? Beli langsung bukunya ya :D


Ini dia penampakan buku-nya

Ssiik.. Buku saya ditandatanganin.. Kalo Potter udah terkenal, bakalan susah mintanya kan. hehehe..

Go Green Campus

Pemandangan areal parkir di IPB 
Bulan depan, Oktober 2015, kampus saya akan memberlakukan peraturan kendaraan bermotor dilarang beredar di dalam kampus. Nantinya, warga kampus diwajibkan memakai transportasi publik berupa bus, mobil golf, dan sepeda kampus.

Whew..kabar ini cukup mengagetkan buat saya sebagai pemotor. Wah, bakalan nggak bisa ngeluyur keliling kampus pake motor dah ini, hehe..  IPB memang tahun-tahun belakangan ini mulai banyak berubah yang ke arah lebih baik tentunya. Namanya juga kebijakan, pasti ada pro dan kontra. Kabarnya, abang-abang ojek akan dipekerjakan dan diseleksi, nanti ada tap cash untuk naik bus (jadi tetap berbayar), dst.

Di salah satu akun media sosial kampus, banyak mahasiswa yang protes, khususnya bagi mahasiswa fakultas di kawasan dalam kampus seperti Fakultas B, C, dan D. Tak ketinggalan mereka yang praktikum ke kebun percobaan di areal dalam kampus. Kedengaran memang bakal merepotkan sekali sih. IPB bukan tipikal kampus yang hanya datang-duduk-mendengarkan dosen mengajar lalu sudah. Mayoritas jurusan di IPB yang mata kuliahnya mengharuskan praktikum sehingga harus wara-wiri keluar-masuk kampus.

Saat saya awal masuk IPB pada tahun 2006, jumlah motor memang nggak sebanyak sekarang. Asrama putra dulu yang bawa motor juga nggak begitu banyak. Saya malah dulu belom lancar bawa motor. Diagon Alley alias Bara pun masih relatif lancar belum banyak parkir motor di sepanjang jalan. Bapak-bapak penarik becak banyak lho di IPB. Mungkin becak adalah kendaraan paling eco di IPB. Mobil, ngeluarin emisi. Motor juga. Dan dulu, Dramaga-Stasiun Bogor masih bisa ditempuh satu jam kurang by angkot. Hingga ledakan jumlah pengguna kendaraan bermotor pun bertambah, seiring jumlah penduduk naik dan taraf kesejahteraan orang-orangmeningkat. Wajar sih.

Saya sebagai mahasiswa yang udah cukup lama ngendon di kampus ini (waduh jadi malu -_-) merasa mungkin inilah titik awal perubahan budaya bertransportasi di masyarakat kita *tssahh. Dimulai dari lingkup kampus, tempat yang menjadi 'dapur' manusia-manusia yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang, menggantikan bapak-bapak kita sekarang ini. Kedengarannya memang normatif, klise, apalah itu. Tapi memang kadang mesti agak 'digalakin' dikit. Mau sampai kapan kampus ini dijejali oleh kendaraan bermotor yak..

Mungkin niat mulia IPB adalah agar sivitas akademik mulai membiasakan hidup sehat. Udah tahu kan kalau orang Indonesia kebanyakan males jalan kaki, hehe. Dikit-dikit motor, dikit-dikit mobil. Fasilitas bus kampus yang nyaman ber-AC, pedestrian yang nyaman dan aman, serta penyediaan sepeda kampus yang mumpuni, diharapkan menjadi 'budaya baru bertransportasi' kampus IPB. Emang banyak yang mesti dipersiapkan sih, jadi memang jangan langsung ujug-ujug berubah. Kalo bisa sih pemakaian bus kampus bisa gratis untuk mahasiswa dan untuk pengunjung berbayar. Pedestrian sepanjang kampus juga perlu dibenahi, belum semua nyaman untuk jadi tempat berjalan kaki. Yang nyaman itu contohnya ada di depan kawasan FEMA, lebar dan asri sama pepohonan. Yang nggak nyaman contohnya di depan Faperta, hahaha.. Kebanyakan rambu "Dilarang Parkir" sama "Dilarang Berhenti" (*tetep aja mobil-mobil pada parkir, hedeuh..). Yang berubah dan dibenahi memang bukan hanya fasilitas saja lho. Sivitas akademik juga harus ikut menyesuaikan perilaku. Bukan hanya mahasiswa, dosen dan staf juga. Yah,,maap-maap sih, memang kebanyakan pemakai mobil itu dosen kan? Yang pakai motor kebanyakan mahasiwa sama staf. Gitu deh pokoknya. Kalau mau berubah ya berubah sekalian. Mobil motor berkontribusi pada keruwetan jalan dan polusi lingkungan kan?

Kalo dari sudut pandang bikers kaya saya sih (*kemudian curcol) awalnya mungkin susah. Tapi ya namanya hidup mesti berubah ke arah lebih baik. Harus dibiasakan. Membiasakan yang baik dan benar. Mana tahu di kehidupan yang akan datang, di masa kita sudah tua atau bahkan sudah nggak ada, budaya bertransportasi Indonesia sudah jauh lebih baik dari sekarang. Sudah pada mau pakai transportasi umum. pedestriannya nyaman, banyak yang jalan kaki sekalian olahraga...

Busyet dah saya lagi kejedot apa nih tiba-tiba wise. Hahahah.. Pokoknya maju terus dan jayalah IPB kita :D

Senin, 17 Agustus 2015

Tamasya ke Sulawesi Tenggara: Baubau! (1)

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.” – Mark Twain



Di usia saya yang sudah seperempat abad lebih ini, saya belum pernah menjejakkan kaki di salah satu pulau besar Indonesia yang morfologinya sungguh unik itu. Sejak saya kecil, saya pernah membaca sebuah fabel yang dikisahkan bahwa di Sulawesi terdapat hewan anoa, babirusa, dan burung maleo. Saya yang jawa-sentris, tak ragu menolak ajakan Ray, teman kelas kami asal Sulawesi, untuk mengunjungi tanah kelahirannya, Sulawesi Tenggara. Asli, saya pengen banget bisa ke Sulawesi. Bersama bro Refi, jadilah kami bertiga ini, om-om IPB (huaahaha..), siap untuk jalan-jalaaan.. bismillaaah..

Sulawesi Tenggara? Dimanakah itu? 

Dari Dramaga, kami ngangkot dengan harapan bisa naik Damri jam 9 malam. Eng..ing..eng.. dan ternyata kami ketinggalan Damri. Whew...jadilah kami naek taksi dari Baranangsiang sampai Soekarno-Hatta. Kami bermalam di teras bandara sambil makan bekal martabak yang kami bawa dari Dramaga. Ketika kami hendak shalat Isya, ternyata mushala tutup. Kami bertiga duduk dan tidur-tidur ayam sambil menunggu waktu berlalu. Jam tiga pagi, kami diperbolehkan masuk. Setelah shalat Isya-istirahat bentar, kami bertiga masuk ke pesawat sekitar pukul empat pagi. Kami shalat subuh di dalam pesawat.

Suasana penerbangan di dalam pesawat Lion Air dari Soekarno-Hatta menuju Hasanuddin Makassar. Sebagai staf ahli dokumentasi, saya udah latih tangan saya untuk berswafoto alias selfi dengan berbagai gaya :v

Seumur-umur ini adalah penerbangan paling pagi yang pernah saya alami. Saat itu sedang hangat-hangatnya pemberitaan mengenai kecelakaan yang menimpa salah satu maskapai udara. Saya sempat khawatir, tetapi toh bagaimanapun maut di tangan Allah. Saya meyakinkan diri untuk terbang. Bismillah. Dan ternyata menurut Ray dan bro Ref (saya tertidur pulas pemirsa,, zzz) pesawat sungguh luar biasa terguncang. Cuaca memang sedang tidak bersahabat di wilayah Indonesia Barat. Saya sempat melek sebentar, memang kaya suasana di dalam angkot lagi gajluk-gajluk gitu sih. Terus, saya tidur lagi deh. Melek-melek pas udah mau tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk transit. Selama transit, Ray dan bro Ref bercerita bahwa sepanjang perjalanan berdoa karena khawatir dengan turbulensi pesawat yang lumayan. Saya justru bobo kebo,zz.

Setelah menunggu, pesawat kami berikutnya membawa kami ke Baubau.

Bandara Sultan Hasanuddin. Kayaknya emang di Indonesia itu banyak raja ya, kita ini dulunya negeri sultan-sultan gitu lho.. Ada Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh, Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Sultan Thaha Jambi, Sultan Mahmud Badaruddin II, whew...

Interior Bandara Sultan Hasanuddin. Makan dan jajan di sini hati-hati ya, hati-hati mahal :v Saran saya mending siap-siap bawa kue/roti yang cukup buat ngganjel perut. Lumayan mahal makanan sekelas bandara bro. Kalau terpaksa, nyeduh mie instan aja biar irit


Penerbangan kami menuju Baubau delay karena cuaca buruk. Di luar tengah hujan lebat. Kata Ray cuaca di seputaran Makassar memang labil, suka berubah-ubah. Hrrr..sesaat saya jadi jiper. Semakin delay semakin telat dah ini ke Baubau. Sejam kemudian kami berangkat. Btw ini kacanya bisa buat syuting AADC Cinta-Rangga tuh pas adegan ketemuan.. hahaha..
 “The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine. Subhanallaah..maaak.. ini bagus bangeeet.. saya berasa lagi naek wahana elang-elangan di Du*an tapi viewnya keren bingit kaya begini. Itu ada pulau lucuuu.. (Dok: Ray)
Ada banyak pulau karang alias atol yang terhampar cuantiiik... Kebayang dah snorkelingan atau mainan air di pantai... (Dok: Ray)

Liat baling-baling bambu di sisi kiri? Haha..yakali dari bambu. Itu baling-baling pesawat. Tuh, awan-awan berhamburan. Langit biruuuu... awan putiih.. terbentang indah lukisan yang kuasa -kata Sherina. Sepanjang perjalanan, Ray sebagai pemandu wisata kami, menjelaskan berbagai nama pulau yang terhampar. Perjalanan 45 menit jadi nggak kerasa deh. Seruu.. Eits, itu bukan daratan Sulawesi ya, itu adalah kepulauan yang ada di sekitar Baubau (Dok: Ray)

Naah..itu dia Kota Baubau! Kota Baubau merupakan kota terbesar dan utama di Pulau Buton. Mungkin anak Indonesia kebanyakan hanya tahu kalau Pulau Buton adalah pulau penghasil aspal..termasuk saya, hehe..

Semakin mendekat ke landasan pesawat...dan..


Tadaaa.. inilah Bandara Betoambari Baubau... 

Pas turun dari pesawat berkapasitas sekitar 70 orang ini, saya baru ngerasa ngeri. Kecil juga ya ini pesawat, batin saya. Jangan salah, yang lebih kecil dari ini ada lho - kata Ray. Hrrrrr... Yang lucu adalah penumpang yang beruntung bisa nunggu barang di ekor pesawat, wkwk

Foto keramat nih, foto pertama kami om-om IPB swafoto di Baubau, hahaha..
Kami bertiga tiba di Bandara Betoambari Baubau sekitar pukul dua belas siang. Kami dijemput omnya Ray lalu kami jalan-jalan ke kompleks perkantoran pemerintahan Baubau Palagimata. Oya, sebelum ke Palagimata, kami ke Labalawa dan Waborobo, kampung budaya yang bahasanya beda (padahal dua kampung itu tetanggaan cuma dibatasi pagar tapi bahasanya beda :v). Labalawa merupakan jejak Kerajaan Tobetobe sebelum ada Kerajaan Buton. Sebelum berbentuk kesultanan, Buton dahulunya merupakan kerajaan. Raja pertamanya adalah orang Cina yang lari dari peperangan Jawa-Cina. Menurut narasumber sejarah kami, Ray (*halo master sejarah..), si orang Cina itu nggak mau pulang ke Cina karena takut dipenggal Raja Cina karena kalah perang dengan Jawa. Orang Cina yang tiba di Pulau Buton itu akhirnya membuat Kerajaan Buton deh.

Lanjuut.. dari dua kampung budaya itu, perjalanan kami lanjutkan ke kompleks perkantoran Palagimata. Palagimata merupakan kawasan pemerintahan Baubau yang letaknya lumayan tinggi, ada di atas bukit. Strategis banget untuk melihat-lihat pemandangan. Disana kami melihat ekor naga. View Kota Baubau ke arah laut sungguh luar biasa luaaas sekali. Orang Baubau biasa berkumpul alias nongkrong menikmati suasana di Palagimata. Vitamin yang bagus untuk mata nih bro, sist, hehehe. Tampak pulau Muna di seberang Baubau beserta pulau-pulau kecil lain. Palagimata, yang merupakan bahasa setempat berarti sejauh mata memandang, serupa dengan definisi lanskap lho yang artinya sejauh mata memandang juga. Lebih lengkapnya, silakan buka Landscape Architecture karangan Om John Ormsbee Simonds dan Om Barry W Starke ya, hahahaha..

Wuih..kok bisa ada konektivitas ya?

Selepas dari Palagimata, kami tiba di suatu benteng asli buatan orang Baubau. Namanya Benteng Baadia. Ecodesign banget, materialnya diambil dari daerah setempat. Batu karang gitu. Tanah Pulau Buton menurut cerita Raya memang muncul dari dalam laut. Banyak batu di pulau ini. Oya FYI benteng di Pulau Buton ini ada banyak lho, dan semua asli buatan mereka tanpa campur tangan orang asing.

Ada ekor naga. Dimana ya kepalanya? Ahahaha..(Model oleh bro Ref)

"Fokus ke bentengnya, jangan ke orangnya" :v

Kejuu...!
Setelah puas muter-muter di Benteng Baadia, swafoto, serta bikin video (bhwehheeh), kami melanjutkan perjalanan ke Keraton Buton. Keraton? Yeay..keraton nggak cuma ada di Jawa bro! Di Baubau, ada juga namanya keraton. Keraton, secara asal kata adalah keratuan. Ratu artinya raja/penguasa. Jadi di keraton berlangsung kegiatan politik pemerintahan. Keraton Buton posisinya cukup tinggi. Kamu bisa menikmati lanskap Baubau dan pulau-pulau di sekitarnya. Ada banyak bangunan dan benda-benda bersejarah terkait Keraton Buton ini. Wuih. Seruuu.. Semakin cetar membahana terpampang nyata deh kalo negara kita ini memang sangat kaya akan sejarah budaya! Lebih lengkap tentang Keraton Buton, silakan cek blognya Ray ya bro, hehehe.

Kami lalu turun dari keraton untuk makan siang. Porsi makan orang Buton itu buanyaaak banget. Kami disuguhi ikan baronang bagian ekor dengan saus kacang (dan meski ekor itu ikan ukurannya gede banget) serta sop daging dengan porsi nasi yang bisa buat 2-3 orang. Alhamdulilah kuenyaang.. Kami lalu menuju penginapan. Saya dan bro Ref ke penginapan sedangkan Ray tinggal di rumahnya (sumpah rumahnya deket banget, tinggal jalan 5 menit. Haha..). Beberes dan istirahat sebentar, kami kemudian nongkrong di Pantai Kamali yang tak jauh dari penginapan kami. Makan gorengan dan pentol bakso. Sedaaapp.. Oya disini gorengan agak mahal, saran saya mending makan pentol bakso aja. Dibuat dari ikan dan asli enaak banget. Makanya di pinggir pantai gitu, ngeliat suasana malam Baubau. Hmm..angin laut memang segar..

Sejam berlalu, kami pulang untuk istirahat. Daah

Ada suatu batu yang menjadi landmark kawasan Keraton Buton. Namanya Batu Wolio atau Batu Yi Gandangi. Ini merupakan tempat untuk memandikan Sultan Buton saat pelantikan. Belum ke Baubau kalau belum menyentuh batu ini, begitu cerita Ray. Ada semacam ceruk kecil berisi air. Katanya, kita beruntung kalau kita datang terus ceruknya berisi air. Nah, pas kami datang, ceruknya tidak ada air. Langsung deh kami nyeletuk "Yah, nggak ada airnya." Lalu tak lama berselang, terdengar gemuruh datang dari arah laut..brsssss...hujan langsung turun mengguyur kami (Dok: bro Ref)

Masigi Ogena alias Masjid Keraton Buton, masjid pusaka ini broo.. Jangan lupa mampir tuk shalat di sini ya. Ini merupakan masjid pertama di Sulawesi Tenggara

Menikmati Pantai Kotamara di sore hari ( fokus ke pantainya jangan ke orangnya *huahaha). Pantai Kotamara ini tipikal waterfront city yang sebenarnya keren banget lho. Ada rumah susun di dekat pantai, aturan sempadan pantai juga diterapkan dengan baik. Masyarakat bisa menikmati view laut lepas (tentunya menikmati angin laut yang segar juga, hehehe). Saat kami datang, tampak belum dirapikan gitu...
Duduk-duduk di sini sambil merem melek..uuh..aseek

Best view - menurut saya. Tipikal waterfront city yang keren nih.. Ini Indonesia lho, ada juga kan tempat keren macam begini..

Repetisi pola perkerasan yang 'menarik mata'. Lihat itu perkerasannya: mau main skateboard, gerak jalan, paskibra (*lho), sepedaan, bisaaa.. Ada juga batu-batu alam yang disusun buat sekadar pijat refleksi.Lihat itu lautnya yang biru-biru menyegarkan. Meski agak kaget sama kehadiran si pohon tabebuia ini, setidaknya kawasan Pantai Kotamara ini cukup asik buat leyeh-leyeh di Baubau



Bakso pentol ala Baubau. Sumpah ini enak banget.. rasanya ikan sejati nggak pake bohong. Uenaaak T_T. Adanya di Pantai Kamali. Yang jual pasangan muda gitu. Mungkin karena dibuat dengan cinta jadi bakso pentolnya enak banget kali ya,.lebhaaayyy huahaha
Ini berhubung malam jadi nggak begitu jelas ya? Hehe..inilah kepala naga. Sementara itu ekornya ada di Palagimata, jauh di atas perbukitan sana. 


“Remember that happiness is a way of travel – not a destination.” – Roy M. Goodman

Dirgahayu Republik Indonesia #RI70

Dua tahun lalu, di hari kemerdekaan RI, saya tengah berada di belahan bumi yang lain. Ceritanya jadi bagian orang-orang Diaspora Indonesia gitu (bhweheheh..gayaa). Saat itu sedang welcome party untuk peserta PARE Summer school serta ECOSUS di salah satu gedung di Kampus Universitas Hokkaido, Sapporo. Oya, program PARE Summer school itu semacam program kunjungan singkat dua minggu ke Kampus Universitas Hokkaido. Dengan modal bikin paspor, visa, bahasa Inggris nekat, lalu test di hadapan para dosen, alhamdulilah saya bisa sejenak tamasya ke luar negeri, hehehe. Oke lanjut. Sesaat sebelum kami menikmati hidangan welcome party, Doddy, kakak kelas saya, meminta waktu sejenak bagi kami delegasi Indonesia untuk bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kami lalu bernyanyi bersama dengan semangat. Kami yang dari Indonesia ini heboh tepuk tangan sambil memegang bendera merah putih. Dresscode pun sengaja merah-putih. Berhubung pesertanya juga banyak dari negara lain, mereka tampak biasa saja menonton kami (mungkin mereka mikir juga sih, ini orang Indonesia ngapain sih, heheh)

Sapporo, 17 Agustus 2013

Memori tentang perayaan hari kemerdekaan bagi saya tidak terlalu istimewa. Ketika saya kecil, momen tujuh belasan selalu diisi dengan berbagai perlombaan: lomba makan kerupuk, lomba balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, dll. Yang saya tahu, tujuh belasan sama dengan makan-makan di malam hari lalu esoknya ikut lomba, hehe. Ketika saya SMP-SMA, momen tujuh belasan diisi dengan upacara pengibaran bendera di sekolah dan menikmati penampilan teman-teman paskibraka (prak..prok..prak.. *suara derap kaki).

Bagi saya, Indonesia adalah lebih dari sekadar momen perayaan hari kemerdekaan tujuh belas Agustus. Apakah Indonesia itu? (*tiba-tiba suara iklan di TV muncul *eh :v). Berada di suatu tanah yang bukan Indonesia meski hanya dua minggu, saya kangen dengan Indonesia. Kalo kata pepatah, rumput tetangga memang selalu tampak hijau daripada rumput kita sendiri. Makanya, gunakanlah pupuk dan rawatlah rumput kita agar juga hijau (*apasih). 

Saya kangen dengan suasana Jakarta meskipun macet-panas-debu. Saya kangen jajanan pinggir jalan (*lha). Saya kangen bumbu Indonesia (betapa tersiksanya saya hampir setiap hari makan ikan mentah T_T). Di saat yang bersamaan, saya juga sedih dengan Indonesia: Indonesia yang belum maju, yang belum tertib, yang belum bebas dari kejahatan korupsi, yang masih banyak anak yang belum menikmati  hak pendidikan, yang masih banyak pengangguran, yang masih hidup di bawah garis kemakmuran, yang masih sering konflik berbau SARA, dan seterusnya. Miris. Yah, negeri saya tercinta memang masih belum merdeka seutuhnya. 

Di negeri sakura, saya menyandang identitas 'saya orang Indonesia', meskipun kita tahu Indonesia itu tidak terdefinisikan. Kita bukan terdiri atas satu suku bangsa saja, bukan terdiri atas satu agama saja,  ataupun bukan terdiri dari satu kebudayaan saja. Indonesia memang terlalu 'kaya', ibarat raksasa, negeri kita masih terlelap. 

Kita memang secara luar memang sudah merdeka, dalam artian, kita sudah bebas dari jajahan bangsa asing. Namun, masih ada level-level merdeka berikutnya yang harus dicapai. Merdeka dari kebodohan, kemiskinan, intervensi asing, dll. Wuih,,berat banget ya bahasanya..Hehehe. Kita tidak mungkin mampu mengatasi semua itu sendiri. Memang harus bersama-sama membangun negeri kok. Jika kamu seorang pekerja, bekerjalah yang jujur. Jika kamu seorang mahasiswa, belajarlah dengan serius. Jika kamu seorang ayah/ibu/suami/istri/anak, bangunlah keluargamu sebaik mungkin. Kalau kata ibu-ibu PKK, keluarga adalah pondasi membangun negara. Jika kamu berkelana keluar negeri, kemanapun itu, jagalah nama bangsa, negara, dan agamamu. Setidaknya meskipun kamu tak bisa mengubah kondisi Indonesia saat ini, janganlah memperkeruh suasana. 

Sudah takdir saya menjadi seseorang yang berkebangsaan Indonesia. Masih boleh bagi saya menggantungkan cita dan harapan buat negeri ini. Mungkin generasi saya belum menikmati kemerdekaan seutuhnya. Tak apalah, Semoga generasi berikutnya bisa menikmati Indonesia yang lebih baik. Amiin.





Tamu dari Malaysia

Di bulan kemerdekaan ini, jurusan saya kembali kedatangan tamu dari negeri jiran Malaysia. Kali ini adalah rombongan dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang hendak workshop bersama IPB. Yang bikin tepok jidat adalah saya nggak niat jadi panitia di acara ini *ceritanya ngejar dosbing tapi nggak nemu (hrrrrr..Paak..kemana sih Paak) lalu ketemu dosen-dosen dimintain tolong bantuin T__T Tepok jidat kedua saya adalah saat tahu topik kegiatan workshop ini adalah kota pusaka. Heritage-heritage gitu... Hedeuh.. Walhasil jadilah saya 'belajar kembali' tentang kota pusaka. Jujur saya bukan penggemar lanskap sejarah budaya dulunya, tapi..karena over bergaul dengan teman-teman penikmat sejarah budaya, jadilah saya sedikit-sedikit mulai menikmati lanskap sejarah budaya. 

Kebetulan kampus sedang sibuk dengan masa perkenalan fakultas mahasiswa baru dan dalam suasana libur, jadinya suasana agak sepi. 


Kuliah umum tentang 'Kota Pusaka' oleh Ibu Nunung. Ada sekitar hampir empat puluh orang rekan-rekan dari UTM termasuk dua orang dosen. Sementara dosen saya menjelaskan tentang 'apa itu kota pusaka dst..' saya duduk dengerin sambil ngemil cireng berjamaah dipojokan :v *belom sarapan



Baru tahu kalau paspor Malaysia ada statement seperti itu. Wow, saya salut dengan pemerintah Malaysia.


  
Swafoto berjamaah di depan Kantor Balaikota Bogor
Mahasiswa dipecah menjadi beberapa kelompok dan terdiri dari mahasiswa UTM dengan mahasiswa IPB. Adapun kelompok tersebut adalah: kelompok Air Mancur-Jalan Jend. Sudirman, Taman Kencana, RRI Bogor, Jalan Ir H Djuanda, dan Jalan Suryakencana. Mereka diminta untuk membuat konsep perencanaan dan desain yang sesuai dengan tema untuk mewujudkan 'Bogor Heritage City'. Saya diminta menemani survey kelompok Jalan Ir H Djuanda. Whew...selepas zuhur, jalan kaki siang bolong. Hareudang pisan euy... Padahal udah jalan kaki di bawah pohon. Kami sempet mencicipi kue ape di dekat Pengadilan, numpang masuk Hotel Salak juga (numpang pipis dan ngadem), foto ala anak fahutan (disuruh bu Alin) sambil meluk pohon, pokoknya segalanya difoto, hahaha..


Adek-adek panitia dari ARL 48. Yeah, jadi ketularan muda bersama mereka.. huahaha

View halaman Istana Bogor dari depan Kantor Balaikota Bogor. Yang mobil meraah jangan sampe loloos..
Esoknya, hasil dari survey lapang langsung dikerjakan di Studio Desain. Para peserta merumuskan konsep yang sesuai dengan tema heritage. Siangnya, tiap kelompok mempresentasikan gagasan mereka ke tim dosen. 

Buat saya seru sih, jadi kaya ajang listening TOEFL ala-ala, ahahahhaa.. (udah abad 21, bisa bahasa Inggris itu mah kuduu....)

Suasana presentasi di Studio Desain. Tampak dosen saya, Pak Ian, dan dosen dari UTM, Pak Hisham, sedang menyimak penjelasan salah seorang mahasiswa dari UTM.
Teman-teman kelompok saya, dengan lokasi pengamatan Jalan Ir H. Djuanda segmen Sekolah Regina Pacis-sebelum gerbatama Kebun Raya Bogor

Acara workshop seperti ini memang bagus untuk bertukar pengalaman seputar dunia lanskap antara Indonesia-Malaysia. Selain itu, menurut saya pribadi juga jadi sarana belajar bahasa asing gratisan lho. Bagi kami, mahasiswa Indonesia, mungkin akan heran mendengar kosa kata pemadam (penghapus), pokok (pohon), lalu (lewat), gelak-gelak (tertawa), berbeza (berbeda), nak (mau), tengok (lihat), dll. Hehehe.. mungkin bagi mahasiswa Malaysia juga merasa aneh dengan kosa kata Bahasa Indonesia. Memang sama-sama rumpun Melayu, jadi wajar jika berkomunikasi dengan mereka tidak terlalu sulit kok.

Nah, gantian dong, mahasiswa IPB kunjungan ke UTM Malaysia..hehe..