expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 21 April 2012

Topik Perempuan, suatu sore

Saya dan rekan-rekan kerja pernah suatu kali duduk santai di sudut taman menikmati sore yang cerah. Pengunjung sedang tidak begitu banyak kala itu. Sudut taman tempat kami berada dekat dengan warung kopi. Saat itu, Jumat, hari yang membuat orang untuk segera absen dan pergi cepat-cepat. Kami memilih shelter yang ternaungi trembesi dan jeunjing tua yang diameternya cukup besar. Kisi matahari sore masih bisa menerobos, sesekali menyilaukan pula.

Pembicaraan kami sedang tidak tertuju pada pekerjaan. Kami berempat, mewakili empat usia lelaki yang berbeda: usia 54 thn, 43 thn, 38 thn, dan saya sendiri 23 thn. Saat pembicaraan tentang pekerjaan dirasa sudah cukup, maka biasanya arah pembicaraan akan bertemakan soal kehidupan. Khas pria dewasa: perempuan, karier, kesehatan, dan hobi. Selalu empat tema itu. Kebetulan sore itu kami membicarakan perempuan. Ditemani tiga gelas kopi dan segelas teh (yang teh itu punya saya), pembicaraan santai pun dimulai.

Sebagai yang termuda, kadangkala arah obrolan mengenai perempuan memang terlampau expert untuk seusia saya. Haha,,tetap saja saya mesti bergabung dengan forum obrolan karena tidak mungkin saya permisi pergi begitu saja. Tema tentang perempuan memang selalu seru untuk dibahas, meski bukan topik utama kami setiap mengobrol. Tema perempuan memang enaknya dibicarakan secara taksengaja (menurut saya lho). Berbagai pandangan, gambaran, opini, dilontarkan.Saya tidak begitu banyak menimpali dibandingkan ketiga rekan yang lain. Sesekali menganggukkan kepala, mengiyakan, bergumam, dan sejenisnya. Mereka kan lebih pengalaman, pikir saya. Orang muda selalu kalah dengan orang tua dalam hal pengalaman.

Bahwa perempuan cantik memang secara visual menjadi daya tarik pertama seorang lelaki untuk memperhatikannya, diamini oleh kami semua. Kodrat wanita bahwa 'harus' cantik adalah keharusan di mata para lelaki. Meski terdengar kejam dan menghina para perempuan yang secara fisik (maaf) tidak terlalu cantik, yang saya rasa memang begitu adanya. Saya pribadi, suka dengan perempuan cantik fisik.Just suka melihat. Suka, tidak sama dengan 'cinta'. Untuk hal satu ini perempuan terkadang salah tafsir bahwa lelaki gampang mencintai setiap perempuan. Oh salah itu, batin saya.

Tetapi bahwa kecantikan lahiriah bukanlah segalanya, kami semua setuju.


Tiga rekan kerja saya yang sudah 'berpengalaman' hidup bersama istri mereka mengulas dengan penuh semangat betapa cantiknya istri mereka ketika muda. Molek, sintal, cantik paras sungguh. Sekarang? Kecantikan fisik telah perlahan sirna seiring berjalannya waktu, terang mereka. Cantik dalam definisi para lelaki berumur itu lalu bergeser. Cinta adalah kesediaan untuk bertanggung jawab dan menafkahi kebutuhan keluarga. Saya perhatikan mereka sangat bangga dan bahagia merasakan asam garam kehidupan pernikahan dengan perempuannya masing-masing. Dan tentang anak-anak mereka, mereka bercerita senang-susah mengurus anak, sekolahnya juga. Menceritakan susahnya menjadi lelaki (suami) yang tetap tampak tegar di hadapan istri dan anak-anak meski kondisi ekonomi sedang sulit. Menceritakan istri mereka yang setia dan bekerja sama membangun keluarga.

Hm,,samasekali beda dengan konsep para lelaki muda pada umumnya: cuma sekedar cantik saja. Kalau cantik fisiknya sirna? Ya cari yang lebih muda, yang lebih cantik. Berarti saya tidak boleh jadi lelaki muda pada umumnya yang hanya suka pada perempuan sekedar cantik fisik. Cantik fisik akan pudar juga nantinya.

Setelah membahas tema perempuan cantik (fisik) yang melebar kemana-mana, hal penting yang saya dapat berikutnya adalah: laki-laki semakin cinta dengan istri yang patuh dan mampu melayani suaminya dengan baik, serta mengurusi keluargany dengan baik pula.

Definisi yang terdengar sangat laki-laki sentris sekali. Tetapi dari obrolan kami, itulah simpulan kedua yang dapat saya petik. Laki-laki senang dilayani oleh istri. Termasuk kebutuhan sehari-hari seperti pakaian dan makanan, ujar salah seorang rekan saya. Memang dasarnya lelaki bukan makhluk telaten bin rapi yang bisa mengerjakan semua kebutuhannya sendiri. Menurut pengakuan mereka bertiga, alangkah aneh jika perempuan (istri) mereka tidak mau mengerjakan itu semua. Laki-laki butuh perempuan. Perempuan butuh laki-laki. Suami istri. Melengkapi. Dan saya kembali mengangguk saja.

Topik yang menarik. Saking serunya kami lupa menyeruput habis minuman di gelas kami masing-masing.


Meski saya yang tampak pasif diantara obroloan mereka para lelaki yang lebih dewasa, saya rasa cukup banyak pengetahuan yang saya dapatkan dari pengalaman yang mereka ceritakan.