expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 27 Februari 2015

Selamat Jalan, Om

Saya biasa memanggilnya Om Anto.  Suami dari adik ibu saya ini orangnya luar biasa ramah dan piawai mereparasi speaker. Di rumahnya, om saya membuka jasa reparasi speaker bersama saudara-saudaranya. Perawakan om saya tinggi, dengan wajah nyaris seperti orang Tionghoa. Padahal, om saya itu orang Jawa tulen lho. Hahaha.. Oya, Om saya rajin fitnes sejak lama. Biasalah, namanya juga om-om, hehe. Badannya jadi bagus. Sekarang saya sendiri ini sudah masuk kategori om-om tapi badan saya belum bagus-bagus. Tapi entah kenapa saya malas ke gym. Cukuplah lari-lari sama angkat beban biar berbentuk.

Tiap saya pulang kampung entah karena mudik atau ada acara keluarga ke Solo bersama, om saya senantiasa ramah menawarkan untuk jalan-jalan. Om saya mungkin paham, orang Jakarta (halah) seperti saya ini haus akan nuansa yang berbeda dari biasa. Nuansa kota yang berbeda dari yang namanya Jakarta. Om dan adik ibu saya tinggal di kota, sementara rumah mbah ti saya di desa di Klaten. Jarak 15 km jadi tidak begitu terasa karena masih tergolong sepi, meskipun sekarang ini mulai ramai oleh kendaraan.

Saya dulu pernah diajak om saya keliling naik motor gede dan sempat mampir di sebuah warung pinggir jalan kecil di seputaran Sukoharjo. Saya kala itu masih di bangku SD, sekitar tahun 1997. Om saya baru setahun menikah dengan adik ibu saya. Om Anto menawarkan saya beberapa jajanan pasar di warung pinggir jalan itu. Yang saya ingat, ada kue nagasari, kue kesukaan saya. Ada juga jajanan pasar lainnya yang entah apa itu namanya. Saya masih ingat latar persawahan dan suasana jalan yang relatif sepi. Sebagai bocah SD yang suka makan, saya lahap saja. Om saya berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Jawa-nya yang khas. “Mas Pram mau kue yang mana lagi?”.

Beberapa kali om saya itu juga berkunjung ke Jakarta, ke rumah saya. Dan om saya selalu merasa pusing. Kata om saya, Jakarta terlalu macet, pusing, kemerungsung. Pernah saya ajak jalan-jalan ke Taman Mini, pulang-pulang om saya tidur. Pusing. Maklumlah, Solo dengan Jakarta berbeda drastis. Di Jakarta, orang terbiasa main kasar di jalan, memainkan klakson, menyalip sembarangan. Di Solo, relatif jarang dijumpai. Jadi, bukan hal aneh kalau om saya itu peka terhadap lingkungan Jakarta yang keras.

Tahun lalu saya pulang ke Solo naik pesawat bersama anak om saya yang paling besar. Om saya punya satu anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Alhamdulilah kami semua akrab meski terpaut usia dan jarak yang jauh. Saya baru berkesempatan mengajak sepupu saya itu, mungkin suatu saat saya akan mengajak yang lainnya jalan-jalan. Om Anto menjemput saya dan Ica ke Bandara Adi Sumarmo bersama kawannya. Saya boncengan dengan Om Anto (kami naik motor). Jarak bandara dengan Kota Solo yang sebenarnya lumayan jauh jadi tidak terasa karena lancar. Selama perjalanan Om Anto menjelaskan objek-objek wisata Solo, verboden, jalan satu arah, dll. Meski hampir tiap tahun ke Solo, saya belum begitu paham dengan kota budaya ini. Saya senang karena om saya ini menjelaskan detail kota kelahirannya itu.

Lebaran 2014 lalu kami keluarga besar, termasuk om saya, berkumpul di rumah mbah ti. Keluarga besar, dengan sekian orang, tentunya sulit berkumpul kecuali saat momen Lebaran tiba. Rumah mbah ti yang benar-benar terletak di desa, menjadi tempat favorit kami berkumpul. Mungkin hanya saat Lebaran tiba kami yang biasa sibuk dengan urusan masing-masing benar-benar berkumpul dan menanyakan kabar. 

Dan pada awal Januari 2015 kemarin, om Anto berpulang karena sakit. Begitu cepat. Kabar itu kami terima saat jelang subuh. Saya sempat bingung, seperti tidak mungkin rasanya hal itu terjadi. Om saya yang ramah itu tak akan pernah lagi menyambut kedatangan kami di Solo, tak akan lagi berkumpul kala Lebaran tiba. Saya sendiri saat itu tidak bisa ikut ke Solo untuk menghadiri pemakamannya karena satu dan lain hal. Tapi kala itu saya berniat bahwa saya segera akan ke Solo, sekedar mengunjungi pusaranya.

Kepergian om saya di awal tahun ini jujur sangat mengharubirukan kami. Pada akhirnya hanya doa yang bisa saya berikan untuknya. 

Selamat jalan, om Anto..



Rabu, 25 Februari 2015

Jalan-jalan mumpung masih muda

Hello again, blogger! Sudah lama banget nggak menulis di blog. Saya pernah baca kalau mau awet muda sebaiknya kita rajin baca dan tulis. (Entah kenapa nggak berlaku untuk menulis tesis, ahaha.. hoeekss.. *mabok). Namanya ngeblog, pasti ada masa pasang-surut. Nggak apa-apa sih, yang penting jangan sama sekali tidak menulis :D

Mungkin hampir semua orang setuju dengan pernyataan di atas. "Jalan-jalan mumpung masih muda". Pernyataan ini memang bener sih. Kapan lagi kau mau jalan-jalan kalo bukan pas masih muda? Bayangin kalo udah tua, renta,, akan susah banget untuk bergerak lincah hilir-mudik wara-wiri. Adik kelas saya pernah bilang, dunia ini ibarat buku. Di tiap lembarnya ada banyak bab berisikan cerita-cerita seru. Kalau kau hanya ada di lembar yang itu-itu saja, kau nggak akan tahu lembar-lembar yang lain.. (ini quotes ngomporin banget orang buat jalan-jalan..hahaha..). Pertanyaan yang muncul, batasan muda tu umur berapa? Ahaha.. nggak usah dipikirin. Kalau ada kemampuan dan kesempatan, let's go aja.


Jalan-jalan sama keluarga, sama teman, pasangan, atau sendiri? It is okay-okay aja.

Jalan-jalan bersama keluarga itu menurut saya penting lho. Sesekali, meski mungkin hanya saat libur panjang Idul Fitri, itu perlu. Nggak heran rombongan keluarga rela susah payah bermacet-macet ria tamasya ke Puncak.. umpel-umpelan di pantai pas libur nasional, atau rela mudik ke kampung halaman (itu hitungannya udah jalan-jalan menurutku). Bapak saya pernah nyewa bis kecil demi bisa mengajak keluarga besar kami ke Waduk Gajah Mungkur dan Candi Prambanan. Ada sekitar 25 orang yang ikut. Kami bawa tikar, bawa bekal, dan selama di jalan kami bercerita apa saja. Mahal? Bener banget. Mahal. Saya sendiri salut sama Bapak saya yang rela merogoh kocek untuk jalan-jalan. Namun itu semua nggak ada artinya jika dibandingkan silaturahim keluarga besar. Semua itu dilakukan semata-mata hanya untuk quality time bersama keluarga. Jadi, sebisa mungkin jangan lewatkan momen jalan-jalan dengan keluarga ya.

Jalan-jalan sama teman sekolah/kampus atau rekan kerja? Nah itu juga seru tuh. Bisa mendadak backpacker, nyobain kereta ekonomi, naik kapal, ngerasain mejeng di emperan, nyoba tempat-tempat unik, keluyuran sampe malam, dll. Tapi sih menurutku kalau sama teman jangan kebanyakan personel yah. Jatuhnya nanti kaya murid SD darmawisata, hahahaaha.. Bagusnya jalan-jalan sama teman itu kita bisa jadi ajang mengenal teman-teman kita lebih dekat. Pengalaman saya selama ini, namanya jalan-jalan bareng teman pasti selalu ada sesi curcol alias curhat colongan. Biasanya sih sesi curcol ini waktunya malam jelang tidur (*kemudian tidurnya jadi laruuuut malam). Apapun bisa dijadikan bahan curcol. Entah masalah kehidupan percintaan (halaah...), karier, pendidikan, hobi, dll. Jalan-jalan tipe ini perlu pengertian dan kesabaran juga lho, guys. Tak jarang kadang ada konflik sama teman sendiri. Misalkan: menentukan mau pergi kemana, mau makan apa, agenda jalan-jalan, dll. Harus saling mengerti dan memahami okeh. Sayang banget kalo jalan-jalan malah jadi bikin masalah. Hehehe.. 

Oya kalau jalan bareng teman jangan lupa bawa gadget yang mumpuni. Ponsel, kamera, terminal, rol kabel (ebuset), charger, tongsis, pelindung gadget, dll. Akan ada ratusan objek wisata yang harus dijepret dan ribuan selfie ataupun groufie yang harus diunggah ke media sosial. Kebayang konyolnya kan bikin teman-temanmu yang nggak ikut pada envy, aahahahaa...(*kemudian diblock, unfollow)

Jalan-jalan bareng temen enaknya bisa alay berjamaah gitu :V
Kau bisa nyicipin aneka kuliner setempat yang nggak ada di kota atau tempat kelahiranmu. Wah ini, saya paliiing suka. Makan! Ahahaha.. Kapan lagi kan bisa nyicip kuliner khas setempat. Buat kamu orang Indonesia, negara kita ini luas dan kaya akan budaya. Kau bisa merencanakan jalan-jalan ke tempat yang anti-mainstream buat dikunjungi. Dari Sumatera sampai Papua, semua tempat di Indonesia punya kuliner khas. Alhamdulilah saya dikaruniai lidah nusantara, jadi bisa nyicip segala tipe makanan, ahahaha. Saya jadi ingat saudara saya yang Jawa tulen yang nggak bisa makan cabe sama sekali. Ada untungnya juga jadi orang Jawa yang lidahnya toleran, wkwk. Saya udah nyicip pempek di tempat asalnya di Palembang sana. Rasanya maknyusss... lebih sedaaap! Sekarang saya ingin sekali makan nasi padang di Sumatera Barat sana! Ahaha..entah kenapa orang-orang selalu bilang lebih sedap nasi padang di tempat asalnya. Grrrrr. bikin saya ngiler. 

Warning: bagi yang punya penyakit-penyakit dalam serius sebaiknya jangan makan asal juga yaa.. :D

Laksa singapura. Saya baru tahu di Singapura ada laksa. Dulu saya tidak tahu apa-apa tentang Singapura, tetapi, setelah saya ke Singapura, saya jadi tahu ada juga ya laksa singapura. Ahahaha..

Kenapa kebudayaan Jawa sama Bali hampir mirip? Kenapa orang masakan Aceh kaya akan bumbu? Pulau Enggano itu dimana ya? Kenapa orang Tegal bahasanya agak berbeda dengan orang Jogja? Kenapa rumah orang Kalimantan terbuat dari kayu dan besar-besar? Kenapa Sulawesi bentuk pulaunya seperti huruf K? Apa ada gajah di Papua? Di mana sih Laut Aru itu?

Kalau kau banyak tidak tahunya, hehe, saatnya kau belajar lagi tentang Indonesia. Wkwk.. Banyak banget kan hal-hal unik dari Indonesia yang bisa kau telusuri lewat jalan-jalan. Makanya, mulailah menabung biar bisa keliling nusantara, wkwk. Saya sendiri belum keliling Indonesia seluruhnya. Mahal cuyyy.. ahahaha.. *berharap menang undian jalan-jalan gratis. 

Jalan-jalan ke luar negeri juga tidak ada salahnya lho. Senangnya, saya punya teman yang pernah (bahkan sering) ke luar negeri dan mereka bilang kalau saya setidaknya pernah ke luar negeri. Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi nantinya saya akan punya komparasi kebudayaan luar dengan Indonesia. Memang harapannya kalau kita udah pernah ngeluyur kemana-mana kita akan jadi orang yang bisa toleran dengan lingkungan (menurut saya). Terjun langsung ke lapang tentunya akan lebih terasa khasiatnya toh? :)


Sambil jalan-jalan, kau bisa coba belajar kebudayaan setempat juga.
Saya pribadi jujur nggak pernah merencanakan secara detail rencana jalan-jalan saya. Mungkin karena saya orang yang tak terorganisir (banget) sehingga cenderung sangat fleksibel. Acara jalan-jalan yang saya alami juga tidak melulu diniatkan buat pure jalan-jalan. Ada yang karena alasan pendidikan, studi lapang, membantu teman survey, diundang teman, diajak saudara,, banyak alasannya. Alhamdulilah bisa berkesempatan jalan-jalan :D

Pada akhirnya, kita semua termasuk saya sebagai manusia memang tidak boleh sombong berjalan di muka bumi ini. Mau itu jalan-jalan, bertempat tinggal, bekerja, dll, kita tidak boleh sombong. Niatkan aja kalau jalan-jalan akan bisa menambah keimanan dan rasa syukur terhadap Sang Pencipta Keindahan.. Nah, jangan lupa banyak-banyak bersyukur guys kalau kamu masih bisa diberi kesempatan melihat indahnya dunia, okeh.

Salam jalan-jalan :D