expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Minggu, 14 September 2014

Main Landscape Game

Waktu itu, kebetulan saya iseng membuka laci meja dosen. Ternyata saya menemukan sebuah kotak yang isinya semacam permainan monopoli. Kata dua orang teman saya ini jangan-jangan itu semacam Jumanji, hahaha. Ternyata, yang saya temukan judulnya 'Landscape Game' waah..landscape banget ini mah. 

Begitu kotak dibuka, jeng jeng....ternyata memang sebangsa monopoli, cuma ini versi landscape-nya gitu,hehe. Saat saya membaca peraturan permainannya, saya lumayan bingung. Ribet sih awalnya, haha. Untunglah kami nggak menyerah dan langsung main sambil baca buku petunjuk yang isinya memang njelimet. Mungkin intisari berbagai macam diktat kuliah dibikin jadi game ini, hahaha.

Refi dan Ray, pengusaha ecotourism. Saya: rakyat jelata, haaha

Icon yang serba landscape, seru lho

Sepintas mirip monopoli. Kamu bisa kredit atau nego ke pemain lain. Tapi saya nggak jago, haha,, saya ditipu Refi yang jadi pengusaha ecotourism :D

Ecosettlement banget ini. Kota Pusaka juga bisa ya? Haha

Rumah Larik, hahaha.

Sungai Sambas-nya Aini

Hutan Kota Malang, hahaha

Ini Titis banget. 

Ini bukang elang sih. Tapi anggaplah ini elang-nya si Ami.

Ini klimatologi-nya si Sapu.hahaha

Berhubung mau masuk fesbuk, foto dulu lah kita :D Terima kasih kepada Bang Ariev yang telah memfoto kami bertiga, hehehe.
Permainan berkakhir dengan kemenangan Refi yang berhasil mengumpulkan kekayaan paling tinggi, disusul Ray yang nggak beda jauh, lalu saya - rakyat jelata. Hahahaha..

Korea!

Entah sejak kapan saya 'kecemplung' budaya. Di kelas saya, ada trio pelestarian. Mereka adalah Refi, Aini, dan Ray. Refi, membawa kebudayaan Kerinci-nya. Ray, membawa kebudayaan Buton-nya, dan Aini membawa kebudayaan Sungai Sambas-nya.. Sementara saya sebenarnya biasa aja dengan yg namanya budaya,,tapi karena gaul dengan mereka-mereka itulah sedikit demi sedikit saya jadi agak senang dengan aroma budaya, hahaha..
Tim saya, tim keroyokan, mengerjakan abstrak dalam semalam. Bhahaha..
Beberapa waktu lalu Refi memberitahukan bahwa akan digelar seminar tentang kebudayaan (budaya*) bertopik waterfront di Seoul, Korea. Berhubung waktunya sudah amat mepet, jadilah saya dan rekan saya, Dwica dan Joe, menulis abstrak tentang pasar terapung di Banjarmasin. Kebetulan kami bertiga mengunjungi lokasi tersebut dalam rangka praktikum kuliah beberapa tahun lalu. Dan, jreeeng,, jadi deh. Kirim dan ternyata kami bertiga berhasil masuk,, :D

Koreaa...! (www.korea.net)
Bisa masuk daftar presentator rasanya udah senang banget sih, hahaha.. Ray dan Refi juga berhasil masuk. Aneh aja sih saya ikutan masuk juga. Kebetulan? Enggak ada yang namanya kebetulan sih. Yasudahlah, sekarang berusaha aja mikirin kedepannya bagaimana ini. Hehe..

Little China Suryakencana, Bogor

Bertahun-tahun di Bogor, saya belum pernah 'serius' menikmati lanskap Kota Hujan ini. Bogor, salah satu kota pusaka di Indonesia (ehm,,pusaka, jadi inget blog tetangga saya hehe) menyimpang banyak warisan budaya yang kental. Salah satunya adalah kawasan pecinan di Jalan Suryakencana, Bogor.

Sobat saya ini ekspresinya menjiwai sekali.. :D
Vihara Dhanagun yang persis berada di seberang Gerbang Utama Kebun Raya Bogor ini menjadi landmark kawasan Suryakencana. Saya sendiri sudah dua kali berkesempatan melihat acara Pesta Rakyat Bogor 2013 dan 2014, bertepatan dengan acara Cap Go Meh. Ada banyak barongsai dan iringan kirab pusaka (*pusaka) sepanjang jalur ini. Penontonnya ruamee banget. Tetangga blogger saya, Ray, kali ini berbaik hati menemani saya menyusuri kawasan Suryakencana, Bogor. Kebetulan dia juga paham sejarah kawasan ini, Asyik sih, sambil nyetir ada yang memberi narasi sejarah kawasan Suryakencana ini, hehe..


Saya suka warna serba merah vihara ini. Kebetulan matching sama kaos saya, hehe.


Mie ayam yang racikan sendiri. Enak! Bakso ikan-nya juga sedap :)
 Banyak kuliner seru di sepanjang jalan ini. Saya belum menyusuri semuanya lho. Yang paling enak menurut saya adalah combro. Combro disini rasanya gurih sedap. Gerobaknya mangkal dekat perempatan apa gitu namanya *lupa. Dulu saya sering dengar cerita ada mi ijo. Mi yang dibuat dari sayuran. Tapi katanya udah ga ada lagi. Yaah..

Mau kue-kue khas pecinan? Ada. Saya nyobain kue bulan. Rasanya enak. Sebangsa bakpia-nya Jogja. Hanya saja ukurannya besar. Yang pasti sedap dan bisa buat oleh-oleh. Ray membeli mochi. Lapar mata sih disini, haha.



Sebenernya lebih ngiler sama menu punya dia sih, hahaha. Gede banget! 
Atas rekomendasi Ray, kami nyobain makan di Resto Kencana. Saya nyobain mie ayam dan ray nyobain lou mie (kalo nggak salah namanya itu).

Jalan Suryakencana, Bogor. Ada banyak jajanan pasar di sepanjang jalan ini.
Mau jalan kaki sebenernya asik di sini. Pecinan banget rasanya. Sayang, jalur pejalan kaki alias pedestrian di sini kurang nyaman. Menurut guide saya, kawasan ini sebenarnya sama dengan yang dimiliki oleh Singapura. Hanya saja lanskap di sini kurang tertata apik .Kurang nuansa chinese-town mungkin. Banyak fasad atau tampilan muka bangunan yang berubah. Ada beberapa diantara bangunan yang ada adalah situs bersejarah. Oya, bagi yang bawa kendaraan roda empat atau lebih (truk?) harus pinter-pinter milih tempat parkir dan bersabar ya,, di sini adalah kawasan pasar, jadi lumayan padat.

Ternyata kue bulan ini rasanya enak banget :9
 Yep demikianlah laporan jalan-jalan saya kali ini. Yang pasti jalan-jalan sambil belajar itu asyik sih, perut kenyang, hati senang, pikiran jadi lapang (ngasal) :D