expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 31 Desember 2013

Kondangan Masa Kini

Juli 2010, kondangan kakak sepupu. Muka masih slim, bhahaha

Kondangan masa kini menurut saya ada satu hal menonjol yang sebenarnya nggak baik. Satu saja alasannya, karena tetamu tidak disediakan kursi untuk makan. Masih ingat ketika TK (buat yang nggak TK, maap ya, hahaha) guru-guru kita selalu mengingatkan untuk makan sambil duduk. Kalau makan tidak duduk itu seperti hewan. Nah lho... Gimana dong kalau datang ke pesta pernikahan teman atau kerabat tapi tidak disediakan kursi?

Yeah, terpaksa deh, makan sambil berdiri (apa ini yang disebut terpaksa yang menyenangkan?). Memang biasanya ketika kita datang ke pesta pernikahan (bahasa gaulnya: kondangan) tidak banyak bangku yang disediakan. Secara medis memang makan-minum sambil berdiri tidak baik. Lebih baik duduk, karena dengan duduk tubuh akan terasa rileks sehingga makanan tercerna dengan baik.

Mungkin itu alasan tiap saya kondangan ke tempat teman pulangnya terasa lapar. Kadang juga kalap, nyicipin makanan gubuk (somay, pempek, dkk). Hap, hap, hap.. -__-

Beberapa kali saya hadir kondangan ada juga kok yang masih berbaik hati untuk menyediakan kursi. Ketika kakak sepupu saya yang menikah di desa, kami disiapkan kursi-kursi untuk tamu. Dan makanan dibawakan oleh petugas upacara, eh, among tamu maksudnya. Padahal itu di desa lho, tapi lebih terasa nyaman karena tetamu bisa makan-minum dengan tenang di kursi. Dilayani pula. Hiburannya sih sederhana saja, tembang-tembang Jawa yang sudah pasti saya tidak tau liriknya hehe. Oya, porsi makanan yang disajikan juga sedikit tapi lezat (tapi buat saya kurang *dasar perut karet). Jadi ada semacam urutannya gitu, yaitu hidangan pembuka, main course, pencuci mulut. Seinget saya tiap sepuluh menit para among tamu datang untuk mengantar dan mengangkut piring-gelas kotor.

Saat kakak-kakak saya menikah dulu juga disediakan kursi. Tapi mungkin dasar pengunjungnya ya yang lapar mata kosong perut, semua stand makanan dikelilingin, hihihi. Mungkin memang pola perilaku masyarakat kota besar (tsssahh...) masa kini sudah bergeser seperti itu adanya. Alasan kepraktisan dan kecepatan membuat kondisi kondangan masa kini minim kursi dan tetamu dipersilahkan berdiri.

Sebenernya sih kalau mau agak repot dikit nyedian kursi, pengunjung bakal fine-fine aja kok. Mungkin kursinya yang kursi ala warteg ya: panjang-panjang gitu, haha.

Apa sebaiknya di dalam gedung disediakan tiker atau karpet untuk lesehan?Hahaha

Tutup 2013



Orang-orang pasti banyak yang membuat resolusi di setiap awal tahun. Resolusi? Itu loh, kalo kamu punya kamera pasti ada resolusinya, 5 megapiksel, 10 megapiksel,, wkwkwk. Resolusi itu adalah semacam target atau keluaran (output) yang ingin dicapai. Sama kaya bikin proposal, mau bikin apa sih dari proposal kegiatan yang kamu bikin? Sama kaya hidup. Kebanyakan patokan tahun digunakan untuk menjadi dasar pemenuhan suatu target. Misal, tahun depan mau lulus kuliah, tahun depannya lagi nikah, hehehe. 

Menurutku bukan tahun yang harusnya jadi patokan, tetapi hari. Siang dan malam. Cepat lho rasanya hari berganti. Jadi sebaiknya sih bikin resolusi jangan tiap akhir tahun tapi bikin tiap hari, hahaha. Biar ga lupa tempel di dinding kamar (tapi ya jangan dibaca aja, dikerjain dong *note to myself).

Saya sih malas bikin banyak resolusi. Tahun 2013 ini saya merasa cukup senang bisa meraih beberapa target, meski tidak semuanya berhasil dan ajeg. Contohnya, lari pagi. Baru ajeg ketika jelang-jelang akhir tahun. Tadinya sih resolusinya hanya ingin rajin olahraga (senam lantai, nyapu, ngepel, *lho). Alhamdulilah lumayan bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Berkat ada partnernya, saya jadi semangat buat lari.
Apa saya butuh partner hidup kali ya biar makin dan makin semangat (hahaha..)

Tahun ini saya berhasil.. Jalan-jalan! Memang sebelumnya belum pernah jalan-jalan gitu? Haha,,ya udah sih, hanya saja tahun 2013 ini berasa seru karena hampir tiap bulan mengunjungi beberapa destinasi. Beberapa diantara kegiatan jalan-jalan saya dilakukan bersama-sama dengan teman-teman arlpasca, teman-teman Tengtong Family 43, sisanya dengan keluarga dan teman sekolah. Haha,,,entah mungkin berkah berada di arlpasca jadi bisa lebih terbuka banyak peluang. Meski beberapa merupakan bagian dari praktikum perkuliahan, saya bersyukur bisa menikmati beberapa petak bumi untuk dikunjungi dan dinikmati :D Yang paling menyenangkan tentunya ketika pengalaman ke negeri Sakura pada akhir Agustus lalu..modal paspor-visa-bahasa Inggris cekak..hihi.. akhirnya saya go international... *berasa Agmon :P

Selain Jepang, saya  juga sempat menikmati destinasi baru yang seru seperti ke Pulau Bali yang dari dulu pengen banget kesana (masa kalah sama bule-bule wkwk), ke Kota Bunga (ini sih bagian praktikum kuliah tanaman, wkwk), ke Riung Gunung-Telaga Warna-Gunung Walat (seru ini, sekalian praktikum dan jelajah kawasan Bocimi), ke Teluk Penyu Cilacap-Nusa Kambangan lalu lewat jalur Daendels yang berbatu, ke Telaga Sarangan yang dingin di kaki Lawu, mengunjungi makam mantan Presiden Bapak Suharto di Karanganyar, wisata ke Gunung Pancar Sentul, snorkeling dan belajar berenang di Kepulauan Seribu lalu terombang-ambing ombak (seruu :D), main ke Safari, serta ditutup dengan mengunjungi Malang karena berkah ikutan lomba sayembara desain. Selain wara-wiri ada juga acara kondangan bareng TengTong Family :D

Semuanya terasa kebetulan? Bisa jalan-jalan terus-terusan itu kebetulan? Ah tidak. I dont believe in coincidence because nothing happens without the reason. Kalau memang sudah waktunya pasti bisa jalan-jalan. Hehe..
Tahun ini saya sudah selangkah lebih maju,, udah berani wawik-in keponakan. Bahaha,,apakah ini disebut prestasi ya? Dulu awal-awal memang masih ogah. Namanya juga anak kecil, ga mungkin disuruh wawik sendiri. Sempet belajar nyetir mobil juga, tapi udah nggak lagi.haha..pokoknya mesti belajar lagi buat persiapan nanti setelah lulus diasingkan sama negara ke pedalaman, hehehe.

Tahun ini saya belum berhasil ngejar target kolokium, semacam seminar prapenelitian. Haha,,yasudahlah. Sebenenernya pengen banget desember ini udah dikerjain. Yep, semua akan indah pada waktunya. Biar terasa indah jalanilah proses dengan baik. Pada enam bulan awal tahun 2013 ini, saya juga masih diliputi rasa kesal karena kuliah. Bukan karena beban kuliahnya, tetapi beban mengatur orang di dalam kelompok. Namanya kerja kelompok ada aja anggota kelompok yang ga kontribusi dan yang malasnya minta ampun (haha). Yasudahlah, saya mau jadi orang yang susah kesal dan cepat memaafkan saja biar lega.

Akhirnya, tahun ini saya tutup dengan harapan semoga hal-hal yang baik bisa saya kembangkan dan hal-hal buruk bisa saya kurangi dan buang. 

Target 2014: ponakan bisa baca; nulis, cerita,nge-blog, hahaha :D

Kamis, 26 Desember 2013

I Don't Care

Seringkali saya berpikir bahwa menjadi orang yang terlalu peduli adalah sebuah sikap aneh yang saya pelihara.

Bermula ketika beberapa waktu lalu, saya mendapati kelas tempat saya belajar dalam kondisi yang penuh dengan sampah: kertas, botol, bungkus permen, kantong plastik, bahkan pernah kulit buah, semua berserakan di dalam ruang kelas. Tak ada janitor yang bertanggung jawab. Laporan sudah dilayangkan, bosan malah. Tak ada tanggapan. Hingga saat ini sudah ada angkatan baru di bawah kami yang menempati, kondisi kebersihan kelas pun tak juga membaik.

Saya rasa mahasiswa bukanlah orang sembarangan. Mereka punya prestasi akademis yang bagus. Sebuah kebanggaan gilang-gemilang bisa menempuh pendidikan di kampus ternama ini. Tapi sayang, acapkali saya melihat rekan-rekan akademik amat mudah meninggalkan sampah di kelas :(

Berkali-kali saya mencoba membersihkan kelas, dan keesokan harinya kelas kembali kotor. Harapan di dalam pikiran saya, mungkin akan ada timbul kesadaran untuk menjaga kondisi kelas tetap bersih ketika berada dalam suasana kelas yang bersih rapi. Setidaknya tidak menambah kekotoran. Kursi-kursi berantakan pun tak mengapa, setidaknya kelas tidak ada sampahnya. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Uji yang saya diam-diam lakukan tidak berhasil. Kelas hanyalah ruang publik tak bermakna (sepertinya... ).

Aktivitas kami memang lumayan banyak menghabiskan di kelas: perkuliahan, mengerjakan tugas kelompok, ataupun browsing internet. Idealnya memang kondisi kelas harus tetap terjaga dalam hal kebersihan. Seandainya kotor amat sangat tidak mengapa, tetapi tetap ada usaha untuk membersihkan.

Saya hanya terngiang kata-kata para guru saya sejak saya sekolah dulu, "jagalah kebersihan", "buanglah sampah pada tempatnya", dan lain-lain.

Saya rasa bukan wewenang saya untuk menegur rekan-rekan akademis untuk menjaga kebersihan, khususnya di dalam ruang kelas. Pernah saya mengingatkan untuk menjaga kebersihan kelas (dan saya menyesal mengatakannya). Terlintas di pikiran saya, saya sok bersih dan mengatur. Whateverlah, saya sudah ingatkan dan lakukan sebisa saya.

Hingga suatu teman saya berkata bahwa usaha saya membersihkan kelas setiap kelas kotor sesungguhnya percuma. Seperti sikap sebatang lilin yang menerangi sekitarnya, namun dia sendiri meleleh. Saya terdiam, lalu membenarkan. Perkara yang amat sepele seperti ini, mungkin tak semestinya diangkat atau dipermasalahkan. Mungkin ada yang salah dengan sikap saya. Apa mungkin karena didikan Mama di rumah untuk selalu menjaga kebersihan, meski saya anak laki-laki, itu juga salah? Didikan Mama saya tentunya tak salah.

Lingkungan saya mungkin yang salah. Janitor-nya yang salah, tidak bertanggung jawab dengan tugas. Atasan yang salah, tidak tegas dan peduli dengan kondisi real. Tidak ada controlling. Teman-teman mahasiswa juga salah, tidak peduli dan tanggap. Salah semua pihak.

Akhirnya, haruskah saya bersikap I don't care dan menjadi orang-orang yang merasa biasa saja? 
Mungkin harus.
Jangan ambil pusing, nggak gitu?







Selasa, 17 Desember 2013

Pekan Kolokium dan ada apa dengan mukaku

Wow, udah pertengahan Desember 2013 aja ini. Nggak kerasa ya setahun udah mau berlalu (kerasa banget lah sebenernya, haha). Di ujung tahun ini, saatnya untuk maju untuk membawakan topik bahasan rencana penelitian. Kebetulan sebagian besar temanku sudah berhasil maju, saya belum. masih proses, hahaha.. yeah, semua akan indah pada saatnya :D


Pekan kolokium di kelasku,, hm,, sebenernya aku juga salah fokus sih. Dateng ke kolokium karena pengen icip-icip makanan yang disajikan sebagai cemilan di tengah-tengah acara. Hmm.. yang terakhir yang seru itu adalah lumpia isi daging ayam. Enaaaak..sampe aku nambah 2 kali nyomot si lumpia. Bahkan temenku si Ray begini 'boleh gak ya mas nanya ke dia, beli lumpianya dimana?' hhahahaha.. Selain lumpia, makanan wajib yang ada di kolokium kelasku adalah risol-bercabe-rawit, donat, serta kue-kue enak lainnya. Hmmm... (dasar perut karet -__-)

Di dalam acara yang bertajuk pekan kolokium ini, teman-teman pasca akan membahas usulan penelitian yang nantinya akan dibahas oleh dosen pembahas serta mahasiswa pembahas. Well, well,,ketika kolokium pertama, aku yang menjadi mahasiswa pembahas. Dan,,jeng jeng,,ternyata makalah yang hendak disajikan Icha, temanku, berbahasa Inggris. Dan usut punya usut, powerpoint Icha pun berbahasa Inggris dan dipresentasikan dalam bahasa Inggris,,Bhahahaha.. Entah berkah entah musibah, yang pasti aku berusaha membahas isi makalah Icha semampuku. Dan ujung-ujungnya, dosen pembahas juga pakai Bahasa Inggris (langsung muncul aura international di dalam kelas :D ). Seenggaknya udah tingkat kayak gini memang harus membiasakan dengan bahasa asing sih,, Temen-temenku senyam-senyum saja melihatku yang masih belum sadar kalau makalah yang hendak ku bahas berbahasa Inggris. Akunya baru ngeh pas buka makalah, haha.. *tepok jidat.

Untunglah udah jadi mahasiswa pembahas paling pertama di kelas (dan bahasa Inggris pula). Peranku sekarang tinggal jadi penanya aja.

Di lain kesempatan pekan kolokium berikutnya, kebetulan aku beberapa kali mengajukan pertanyaan. Yeah, tipikal pertanyaan remeh sih, paling nanya 'apa maksud ini', 'apa maksud itu'.. Mau nanya yang ribet akunya juga ogah. Udahlah itu tugasnya bapak ibu dosen aja, aku mau jadi penanya yang simpel-simpel aja. Kasian nanti yang maju pusing, hehe.

Dan kemudian pada pekan-pekan berikutnya, mungkin sudah ada tiga minggu belakangan ini, sang moderator acara selalu memintaku untuk jadi penanya, hahaha. Entah ada apa dengan mukaku ini ya,, kata temenku mukaku ini muka-iseng-pengen nanya. Ada lagi temenku bilang mungkin karena berkacamata (??). Ah masa gitu, ga ada korelasinya dan belum teruji klinis statistik. Buatku, aku akan nanya kalo materi yang dibawakan oleh presentatornya nggak ku mengerti dan itu udah level parah banget (apasih).

Yeah, intinya ikut kolokium itu menyenangkan...karena ada kue-kuenya. Hadeuh...


Jumat, 06 Desember 2013

Halo Malang! :)


Awalnya, aku dan beberapa teman sekelas sudah merencanakan untuk jalan-jalan ke Malang beberapa hari sebelum Lebaran Haji pada Oktober lalu. Tetapi rencana kami tidak terlaksana. Kebetulan aku dan empat teman lain ikut sayembara redesain alun-alun Malang. Alhamdulilah,, kami berhasil masuk nominasi untuk kategori mahasiswa dan diminta untuk presentasi di Balai Kota Malang J. Aku, Refi, Ray, Hanni, dan Mas Rizki tergabung dalam satu tim yang bernama “Sasaji” alias salam satu jiwa. Konseptornya adalah si Mas Rizki yang memang lulusan Malang sana. Temanku, Jo dan Yudha, juga berhasil masuk nominasi kategori umum. Jadilah kami berencana untuk sama-sama berangkat ke Malang. Mungkin karena ramean ya, trio Titis-Aini-Ami juga ikutan ke Malang. Mereka nggak ikutan lomba sih, Cuma pengen jadi penggembira kami saja, hehe. Anyway meski demikian, kehadiran mereka emang bikin rame suasana gitu. Nggak kebayang kalo ga ada mereka bertigam ahahha *tiba-tiba terharu*


Tanpa mereka, langit tak berbintang *jjiaaahhahaha

Kami semua pesan sembilan seat untuk kereta kelas ekonomi Matarmaja.

Kondisi perekeretaapian Indonesia sedikit demi sedikit memang mengarah ke lebih baik. Yes, patut diacungin jempol. Udah nggak ada lagi yang namanya ekonomi tiket berdiri uwel-uwelan di gerbong. Ber-AC pula. Tapi kemarin itu AC nya nggak berhasil mendinginkan gerbong yang kami naiki. Walhasil kami semua sauna. Beberapa dari kami sengaja membuka jendela untuk membiarkan angin masuk, meski akhirnya petugas menyuruh kami menutup lagi (biar ada kerjaan petugasnya, haha). 

Perjalanan kereta malam kami lancar (kemudian joget kereta malam -__-), hingga pada akhirnya ketika kereta memasuki wilayah pantura setelah Tegal, kami dihebohkan oleh penemuan ular sanca di pojok bangku kereta salah satu penumpang di gerbong kami. Grrrr.. sumpah nyebelin dan ngagetin. Satu gerbong panik, langsung naik ke bangku. Khawatir kalau-kalau masih ada uler lain di situ. Hii.. Mendadak inget film snake on the plane. Entah siapa yang bawa. Mungkin karena anget ya, jadi si uler melingker aja di pojokan sampai petugas mengambil dan membawanya keluar gerbong. Fyuh,,alhamdulilah

Masuk Semarang, kami disambut oleh ringtone khasnya stasiun Semarang Tawang. Kereta melaju kencang. Setibanya di Solo Jebres, kereta berhenti cukup lama. Huaaah.. aku dan beberapa teman turun untuk merilekskan badan. Wow, bangku kereta ekonomi memang didesain nggak nyaman. Bangkunya tegak lurus sembilan puluh derajat. Pegel pegel dah..haha. Aku langsung pesan teh panas. Mas Rizki dan Yudha ngopi. Ah,,Solo Jebres. Hanya selangkah lagi ke rumah Mbah Sani dan rumah Mbak Muk. Pengen banget mampir sebentar, sambil nyicip nasi liwet hehe.


Let's go to Malang guyss!! :D
Kereta lanjut berjalan. Tiba di Madiun, dua orang penumpang yang duduk di hadapan kami turun. Lumayanlah jadi ada ruang untuk kaki selonjoran. Baru pada pukul tiga aku berhasil lelap sempurna sampai Kediri.

Pertama kalinya aku menempuh perjalanan dengan kereta api melewati Madiun. Biasanya hanya sampai Madiun. Kereta melewati kota-kota kecil, diantaranya Kediri dan Blitar. Pemandangan yang disuguhkan adalah lanskap pertanian, lanskap perkotaan skala mikro, perkampungan. Yang seru adalah ketika melewati dua terowongan serta pemandangan bendungan (bendungan apa ya itu namanya). Akhirnya pada pukul delapan kereta tiba di Stasiun Malang.

Kesan pertama ketika tiba di Malang adalah bersih. Hampir tidak ditemui sampah di pojokan jalan-jalan di Malang. Hawanya juga lumayan sejuk. Masih banyak dijumpai pepohonan tua di tiap sudut kota. Median jalannya juga lebar dan hijau, ditata dengan taman jalan yang apik. Lokasi yang bagus untuk kuliah lapang anak lanskap, hehe. 


Alun-alun Malang yang akan direvitalisasi

Malang adalah kota kolonial. Banyak bangunan tua dengan fasad khas Eropa yang tersebar di seantero kota. Ada kawasan Idjen Boulevard, yaitu kawasan permukiman kolonial yang terawat dengan median jalan yang lebar. Lanskap jalan ditata dengan baik dan rapi sehingga memberikan identitas kawasan. Tidak hanya di kawasan Ijen, pada kawasan lain juga ditata dengan baik, meski tetap ada daerah urban sprawl yang tampak pada pinggiran kota.

Kota memang ruang yang dinamis; perubahan dapat terjadi sewaktu-waktu. Menurut teman-temanku yang orang Malang dan sering ke sana - Mas Rizki, Aini, dan Ray – Malang sedang mengalami hal tersebut. Tata ruang kota banyak yang berubah karena alasan pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Banyak muncul ruko-ruko dan perumahan baru. Sama halnya Bogor. Malang mungkin masih lebih beruntung jika dibandingkan Bogor yang mengalami kemacetan parah, bukan hanya pada jam berangkat dan pulang kerja, tetapi juga pada akhir pekan. Sebenarnya sih Malang juga mengalami hal itu, namun belum separah Bogor. 

Jakarta-Bogor-Puncak terhubung oleh Tol Jagorawi, seumpama urat nadi yang mengalirkan orang dan barang dari hilir ke hulu. Sama seperti Surabaya-Malang-Batu. Belum ada jalan tol-nya sih, entah mungkin sudah ada planningnya. Hmm..nggak kebayang kalau ada jalan tol.

Kedua kota tersebut memang sama-sama dekat dengan kota besar: Jakarta dan Surabaya. Menjadi destinasi favorit warga dari wilayah dataran rendah yang mencari suasana khas pegunungan, udara yang lebih sejuk, serta nuansa pertanian dan atraksi wisata. Puncak dan Batu, keduanya adalah wilayah yang lebih tinggi dari Bogor dan Malang. Sama-sama menjadi destinasi wisata dan daerah pertanian tanaman dataran tinggi. 

Bogor dan Malang sebenarnya sama-sama dirancang oleh arsitek yang sama, Thomas Karsten. Kedua kota tersebut terletak pada ketinggian yang cukup nyaman sebagai lokasi kediaman orang-orang Belanda. Menurutku, Bogor agak tertinggal dibandingkan Malang dalam hal pemeliharaan aset budaya, benda-benda sejarah/kolonial, pengembangan tata ruang kota, regulasi, serta kebersihan. Itu pengamatanku lho pembaca, hehe. Kalau sudah pernah mengunjungi kedua kota tersebut, mungkin pembaca dapat merasakan perbedaannya. Tapi memang nggak adil membandingkan Bogor dan Malang. Tiap daerah memang punya plus minus nya masing-masing. Aku tetap suka Bogor, dengan segala kekurangan dan kelebihannya :D

Malam pertama, kami menginap di rumah kakak Mas Rizki di daerah atas yaitu di Kecamatan Dau. Titis-Aini-Ami menginap di asrama putri di dekat kampus Aini dulu. Perjalanan ke sana mirip dengan suasana jalan dari Jogja ke Kaliurang. Menanjak. Dari rumah kakaknya, aku bisa melihat pemandangan Malang yang terletak di bawah kami, seperti di lembah. Beberapa gunung mengelilingi Malang. Diantaranya Gunung...hem,,ga apal saya. Belum buka peta lagi. Hihihi. Yang pasti suasana di atas lebih sejuk lagi. Ada dua ponakan Mas Rizki yang lucu-lucu, Beda setahun tapi seperti anak kembar. Mereka tampak senang dengan kehadiran kami, enam orang om-om dari Bogor, hahaha.

Setelah Jumatan dan tidur siang, kami meluncur naik mobil rental ke daerah Sukarno Hatta: nyari bakso. Sebenernya baksonya enak sih, tapi sayang kelewat asin menurutku. Bakso pentolnya enak. Bakso ati-ampelanya kurang enak karena asin. Tak lupa kami membeli bakso beku buat oleh-oleh arl pasca 2012 di Bogor, hehe.





Perjalanan dilanjutkan menuju Batu. Mas Rizki berinisiatif mencari rute alternatif ke sana. Ternyata ada hajatan warga desa sehingga kami memutar melalui jalan kampung..dan kami semua hampir nyasar. Di depan kami ada jalan muat satu mobil dan amat gelap dengan pepohonan. Untunglah nggak jadi kesana, dan memang itu bukan jalan ke Batu. Coba kalau kami nerus kesitu.hihihi..

Kami tiba di Batu, dan langsung masuk ke Batu Night Spectacular (BNS)..Woww..ini toh Batu, kotanya KD sama Yuni Sara,haha. Semacam Dufan-nya Batu. Ada beragam permainan seru disini. Ontang-anting sama piring muter-muter. Wahana terakhir yang kami coba adalah rumah hantu, tapi masih kalah seru dibandingkan rumah hantu Taman Safari, hahaha..



Di Batu Night Spectacular. Seruuu :D

Selepas dari BNS, kami mengunjungi alun-alun Batu. Wow, bentuk toilet umumnya bentuk apel. Alun-alun Batu sangat menarik menurutku. Ada zona bermain anak-anak, zona permainan air, zona untuk perokok, serta tempat untuk duduk-duduk. Sculpture-sculpture menarik juga ditampilkan di alun-alun ini. Salah satu yang menarik adalah sculpture singo edan+bola. Yeah, singo edan merupakan ikon klub Arema yang kesohor itu. Di sisi Barat terletak Masjid. Di sisi lainnya tidak menganut konsep alun-alun. Hanya terdapat ruko dan kedai. Kami bersembilan mencicipi makanan khas Batu, yaitu ketan. Aku dan Ray juga beli cilok. Tak lupa teh panas karena hawanya lumayan dingin. 


Ini enaaaaak

Batu dulunya masuk wilayah Malang dan kemudian lepas membentuk kota mandiri bernama Kota Batu. Seharusnya kita juga menyebut Apel Malang sebagai Apel Batu sih, tapi memang orang sudah terlanjur mengenal Malang sebagai kota Apel, hehe.

Esoknya, perjalanan kami lanjutkan menuju Guest House Kota Malang. Kami drop barang bawaan kami disana, lalu kami menjemput trio macan (hehehe) di asrama putri. Kami menuju alun-alun Merdeka, yaitu alun-alun yang disayembarakan itu. Sesaat kami berkeliling untuk feel the land. Nah, kebetulan ada penjual tahu petis di pojokan dekat dengan Mesjid Agung, jadilah kami bersembilan menyerbu si bapak penjual tahu petis. Muantap rek,, tahu goreng dibelah, diisi saus petis, rawit, dan garam. Pedes-pedes asin enak, hahaha. 

Selepas zuhur, kami lanjut mencari makan siang. Khasnya Malang ada yang disebut dengan Tahu Telor dimana telur digoreng dadar dengan tahu didalamnya disiram saus kacang dan sayuran ala pecel + nasi dan kerupuk. Murah meriah dan enak :D

Destinasi berikutnya yaitu Lawang. Sebelum mencapai Lawang, kami sempet nyasar gara-gara liat plang ‘memorial park’. Yeah, Mas Rizki sangka itu adalah taman yang gimana gitu,,ternyata,, itu adalah pemakaman untuk warga keturunan Tionghoa, hahaha. Puter balik lagi dah, ikuti jalan yang lurus, menuju Lawang :D Setibanya di Lawang, kami masuk ke outlet Republik Telo, yaitu pusat oleh-oleh serba telo alias ubi. Ubi ungu sih tepatnya. Ada es krim telo, ada keripik, ada mi, ada bakpia, ada pia, ada juga teman-teman si telo seperti stroberi, wortel, dll. Bahkan dijual juga mukena warna ungu telo. Ada mobil mister bean juga. Serba ungu, seperti telo, hehe. Recommended buat kamu yang lagi melintasi jalan raya Surabaya-Malang.

Malamnya, kami makan di warung tenda Stadion Gajayana. Nasi goreng ayam pedes, dan berhasil bikin perutku mules, hehehe. 

Besoknya kami presentasi di Balai Kota. Seharian, kami hanya berkutat di Gedung Balai Kota yang jadul abis. Untung paginya aku sarapan dua piring: tahu telor dan rawon (ya ampon dah,,).


Pemandangan dari Balaikota Malang
Gedung Balai Kota Malang keren, kolonial banget gedungnya. Meski pada akhirnya kelompokku tidak berhasil menyabet juara, kami merasa bangga dan senang bisa tampil di Balai Kota Malang :D Kami jauh-jauh dari Bogor, dapet nominasi, wuih senangnya Alhamdulilah, hehe. Jo dan Yudha berhasil mendapat juara II untuk kategori umum. Selamat! :D


Refi menunggu undian presentasi dari panitia

Mas Rizki sedang presentasi

Sedikitnya ada rasa kecewa karena kelompokku tidak berhasil mendapat juara. Manusiawi banget kok. Aku pun kecewa. Satu tim kami kecewa. Ada banyak pertanyaan dan protes yang kami lontarkan selepas pengumuman. Hal yang lumrah. Saat presentasi, contohnya, kami mengenalkan tanaman-tanaman berkarakter Malang, tapi juri sama sekali nggak ada yang nanya (mungkin nggak ngerti ya). Lalu untuk serapan air hujan, kami mengubah sedikit lahan untuk dibuat basement sebagai area parkir. Kami juga buat pedestrian tunnel, tapi salah seorang juri kalau ada pipis dan menimbulkan bau bagaimana,,,Kasih aja pengharum buatan, hahaha.. Yeah meskipun tidak dapat juara, semoga penyelenggara bisa memakai konsep tanaman yang kelompok kami usulkan, biar alun-alun yang nanti dibuat secara ekologis bermanfaat,, dan berkarakter. Sebenarnya hal aneh dalam kompetisi kemarin adalah tidak ada perwakilan ahli arsitek lanskap atau ahli lingkungan dan sejenisnya. Kebanyakan arsitektur. Memang tim lain gambarnya bagus-bagus banget sih,, apa efek kosmetik ya? Jadinya ada persepsi yang berbeda di dalam memandang alun-alun sebagai ruang terbuka hijau. Yah sudahlah, tidak apa-apa (sini puk-puk dulu, yuk makan bakso yuk, hehe). 
Trio Kacamata, hahaha
Kami tak banyak bicara sepanjang perjalanan kembali ke guest house. 

Setelah istirahat sejenak di kamar penginapan, kami berencana untuk jalan-jalan. Tanpa sepengetahuan trio macan, kami berenam para lelaki (bahasanya,,hahaha) keluyuran keliling kota mencari makan malam. Malang kala malam memang tampak semakin kolonial dan pusaka. Ada banyak tempat gaul dan makan jajan di sini. Semuanya tampak seru dan rame, meski jalanan mulai sepi. Kampus-kampus terhubung oleh banyak spot makanan asyik (bah, aku ngiri banget sama kampus-kampus di sini,,, hehe). Oya FYI di Kota Malang ini zonasi ruangnya sudah baik lho, jadi kampus-kampus itu membentuk suatu cluster yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ada Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, UIN, ITN, dll. Kalau kampus asalnya Mas Rizki dan Aini yaitu Universitas Tribhuana Tunggadewi. Ada jurusan Arsitektur Lanskap-nya lho, hehe (promosi :P ). Mahasiswa disini kata Mas Rizki doyan nongkrong. Pulang kuliah,,ngupi-ngupi,,malem juga. Asyik yeuh. Pengen deh kampus Darmaga ada tempat nongkrongnya.. selain LSI, Bara, korido-koridor, dll.hehehe

Aku coba pesan capcay di salah satu kedai depan SOB di jalan apa gitu lupa, dan hmmmmmm lezaaat. Pas banget dengan kondisiku yang lagi masuk angin karena seharian di balai kota (ndesonya..). Ada daging ayam, udang, bakso, serta sayuran segar sebangsa wortel, brokoli, kol kacang kapri,, kuahnya juga ringan, nggak terlalu asin atau rasa mecin. Hmm..meski nunggunya lumayan lama, puas banget bisa nyobain capcay panas di tengah malam :D

Esoknya, aku, Refi, Mas Rizki dan Ray menuju Surabaya. Ayahnya Mas Rizki datang menjemput kami dengan jeep *kemudian empet-empetan bertiga*. Joe, Yudha, Tish, Aini dan Ami pulang naik Matarmaja lagi ke Jakarta. Kami pulang naik pesawat. Sambil nyobain Bandara Juanda seperti apa, hehe. Kalau aku karena mengejar kuliah esok hari,, hiks udah absen dua kali soalnya.

Sebelum ke bandara, saya, Ray, dan Refi diajak ke rumah Mas Rizki di kawasan Kejapanan. Di perjalanan kami sempat mampir istirahat shalat di Mesjid Muhammad Cheng Hoo. Wih..serba meraah.. mesjidnya chinese banget.hehe. 


Masjid Muhammad Cheng Hoo, Pasuruan

Ini nih namanya kupang :D

Tiba di rumah Mas Rizki sudah sore. Kami juga diajak ziarah ke pusara almarhum ibunda Mas Rizki. Tak lupa kami nyicipin kupang, makanan khas lokal. Guriih. Saya dipinjamkan motor, jujur agak ngeri. Jalanan provinsi, lebar-lebar gitu dan banyak truk. Tapi seru sih :D
Sayang kami melalui kawasan lumpur Sidoarjo kala malam, hanya tampak tanggul tinggi serta rangkaian kereta api yang melintas. Sebelumnya tak lupa kami mencicipi kulinernya Sidoarjo yaitu Kupang (lontong ditabur kerang-kerang kecil, petis, dll), serta Rawon (nasi+empal dengan kuah hitam kluwek,, biasanya juga pakai telur asin). Mantep segerr..haha. Emang beda ya kalo makan makanan khas di tempat asalnya tu rasanya membahagiakan hehe.

Bandara Juanda sebenernya terletak di Sidoarjo, bukan Surabaya. Ya sama kasusnya seperti Bandara Sukarno-Hatta yang sebenanrnya ada di Tangerang, Banten, bukan di Jakarta. Bandara Juanda bagus, beda sama Soetta yang sepertinya butuh sentuhan desain biar agak menarik,hehe. 

Pertama kali ke Malang, pertama kali ke Sidoarjo, dan pertama kali naik Citi*link, hahaha.. 

Perjalanan ke Malang kali ini memang berkesan, haha. Kulinologi, geografi, sejarah, budaya, sosial filsafat, agama,,banyak pelajaran bisa kuambil (cieeh.. *lempar diktat kuliah). Semoga berkesempatan ke Malang lagi dalam acara dan nuansa yang berbeda, aamiin...

Love you guys! :D

Selasa, 26 November 2013

Safari dulu broo

Partner in crime-nya ARL Pasca 2012: bro Refi, teh Icha, Kak Ami, Mas Glory, aku, mbak Tish, dan Kak Ray (photo by Refi)


Siapa tak tau Taman Safari Cisarua? Kalau kalian berkunjung ke kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, sempatkan untuk main ke taman wisata edukatif ini. Bisa lihat binatang dari berbagai negara lho. Yep, Taman Safari ini termasuk lanskap kebun binatang yang bagus menurutku. Kalau kata dosenku, kebun binatang bagus buat anak-anak (yang dewasa atau orang tua juga boleh kok dateng, hahaha). Namanya anak-anak, umumnya seneng banget sama dunia hewan. Biasanya mereka senang berinteraksi langsung dengan hewan. Disini kamu bisa foto sama baby zoo, melihat hewan lebih dekat dengan naik kendaraan, serasa di hutan rimba :D

Dasar kelasku memang asyik dah, hahaha,, ujug-ujug bikin acara ke Safari. Aku tadinya males ikut, dan entah karena bisikan mereka atau apa, ikut juga jadinya. Kapan lagi dot kom. Dua jam perjalanan kami tempuh dari Darmaga menuju Cisarua. Lumayan seru lah, lihat-lihat hewan, gelar tiker makan di parkiran, sampai teriak-teriak gajelas gara-gara naik wahana yang memang seru.

Konsep lanskap kebun binatang ini menurutku bagus, jadi pengunjung ada trekking yang jelas. namanya sudah menunjukkan: 'safari'. Safari itu sebenernya kalo ga salah bahasa Arab dah,,safar,,perjalanan. Yeah, memang kesini untuk wisata alias jalan-jalan. Jangan sia-siakan waktu disini,,cobain semuanya. Ada untuk zonasi hewannya, ada zonasi untuk fasilitas seperti permainan, tempat makan (pujasera), atraksi satwa, serta museum-museum tentang hewan yang disajikan secara atraktif. Mantap dah

Jadi teringat kebun binatang Ragunan, hiks :D




Keluarga Gajah Sumatera (Elephan sumatranus)

Ngedeketin pengunjung yang ngasih-ngasihin makanan

Bhihi,.dia nempel-nempel ke kaca mobil. Lucu mirip sapi (ini apa ya namanya lupa)

Jerapah si leher panjang

Gagah banget ini Singanya.. Singo edan.. (itu mah Malangers ya, wkwk)

Badak!

Kudanil,, bhihihi,,mirip batu

Ini beruang. Karena buas ada pagar listriknya

Pelikan

Pelikan lagi

Bocah-bocah di arena permainan lagi naik kereta-keretaan


signage ala Taman Safari Cisarua

Spot yang ini bagus buat interpretasi.. pake poster2.. :)

Yang ini hewan kesukaanku, pinguin :D

Rombongan gajah pulang