expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 21 Januari 2016

Selektif

Memilih teman sama halnya memilih baju yang pas untuk dikenakan. Kita bisa menyukai baju jenis apa saja, tetapi kita harus memilih baju yang pantas untuk kita pakai. Benar bahwa ada istilah 'carilah teman sebanyak-banyaknya'. Menurut saya, tidak bisa kita menuntun semua teman kita benar-benar menjadi 'teman'. Ada pemeringkatan kedekatan. Bisa jadi karena aktivitas yang selalu bersama (alasan pekerjaan), atau karena punya hobi yang sama, atau karena sejak lama sudah berteman.

Saya pernah menjadi seseorang yang berpikir 'temanku, temanmu juga'. Dan ternyata, bukan hal yang mudah mempersepsikan seperti itu. It is not an easy task. Ada banyak tipe teman: ada yang introvert, ekstrovert, ada yang kedua-duanya. Perlu untuk mengenali karakter teman-teman yang kita punya agar kita tidak serta-merta membuatnya tersinggung, canggung, marah, dan sebagainya. Bukankah kita berteman dengan alasan khusus? 

Bahkan jatuh cinta pun pasti ada alasannya.

Saya berniat membelajarkan diri untuk dapat lebih menghargai, meskipun itu hal yang tidak mudah. Banyak kejadian ketika saya harus sering-sering memahami teman tetapi teman tersebut tidak memahami saya. Kadang saya stress juga sih. Tidak memungkiri juga bahwa terkadang saya juga tidak bisa memahami teman saya (yang mungkin sudah berteman sejak lama). Teman saya yang lain pernah berkata, pertemanan layaknya pasangan kekasih. Kadang ada cemburu, kadang marah, dll. Hahaha..

Pada akhirnya memahami teman-teman seperti membaca tanda-tanda. Berulang-ulang. Proses yang tiada henti. Bagaimanapun teman-teman adalah anugerah yang Tuhan turunkan untuk kita agar kita menjadi orang yang lebih baik bukan? 

Ada banyak nasehat lama tentang pertemanan, salah satunya adalah berteman dengan pandai besi terkena cipratan api, berteman dengan tukang minyak wangi terkena cipratan minyak wangi.

*kemudian temenan sama tukang minyak wangi, hehe --