expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 12 Maret 2015

Selamat Ulang Tahun!

Usia 27 tahun setara dengan 9.500 hari.

Jujur saya awalnya bukan orang yang berharap pada ucapan ulang tahun. Dulu saya adalah orang yang sangat mengharapkan hal itu. Sampai saya menginjak bangku SMA kelas 3, saya selalu mendapat ucapan selamat. Menginjak masa bangku kuliah saya sudah hilang rasa akan hal itu. Entah kenapa. Tidak ada yang istimewa setiap saya ada di dalam tanggal saat saya dilahirkan. Sebatas ucapan dari Mama dan Bapak, saudara-saudara saya, dan beberapa teman dan sahabat. Sudah.

Ulang tahun sebenarnya adalah momen introspeksi diri. Saya makin tua. Yah, saya merasa memang kadang masih kekanakan. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan - kata orang-orang. Bukan kewajiban merayakan ulang tahun. Hanya momentum kita bertambah usia secara angka.

Apa mungkin hidup mulai terasa begitu menyeramkan? Semakin berkurang usia. Semakin menua. Beberapa literatur menyebutkan bahwa usia-usia saya ini adalah usia optimal. Usia dewasa yang sedang matang-matangnya secara fisik. Mungkin, dalam kapasitas psikologi belum. Usia yang disaat teman dan sahabat saya sudah punya keluarga atau bahkan memiliki (banyak) anak. Usia dimana banyak orang bertanya kapan menikah kapan berkeluarga dan kapan-kapan lainnya.

Dan saya mulai malas menanggapi ucapan orang-orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Mungkin saya sedang ada dalam momen malas menanggapi kala itu.

Hingga pada tahun-tahun belakangan saya mulai sadar, orang-orang di sekitar saya sejatinya hanyalah tulus mengucapkan ulang tahun sebagai suatu bentuk pengakuan akan eksistensi saya di dunia ini. Tiada maksud mencoba menghibur, atau maksud basa-basi. Seharusnya memang saya-lah yang harus mengerti mengapa mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada diri saya ini. Adalah kerangka berpikir yang harus diubah. Mereka... mungkin mencoba mendoakan saya. Tidak selalu materiil yang membahagiakan seseorang bukan? Ucapan langsung, kiriman pesan, dan entah apapun wujudnya, adalah cara seseorang memberikan perhatian mereka kepada yang berulang tahun. Dan saya sekarang merasa berbahagia dan bersyukur bisa mengenal mereka, bahkan mengingat detail diri saya.

Konyol rasanya, pada hari ke-9.500 saya ada di dunia, teman-teman kampus saya datang ke kosan saya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan cara mereka. Mereka mencoba membuat momen bahagia untuk saya. Saya sangat senang. Tidak akan setiap hari saya mengalami hal-hal konyol, pikir saya.


Ada banyak cara untuk berbahagia. Menerima dengan senang hati ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai cara adalah salah satunya.  Selamat ulang tahun!

Senin, 09 Maret 2015

Cap Go Meh - Pesta Rakyat Bogor 2015

Ni hao ma?

Cap Go Meh - Pesta Rakyat Bogor 2015 ini adalah kali ketiga yang saya ikuti. Yang pertama saya ikuti adalah saat saya dan teman saya, Tish, iseng nyusul teman-teman kami yang praktikum pengamatan kegiatan Cap Go Meh di Suryakencana. Mereka adalah trio pelestarian Ray-Refi-Aini featuring Sapu beserta asisten Kak Zaini dan Bu Nunung. Nggak berhasil nemu mereka dimana, kami cuma nonton dari ujung depan Vihara Dhanagun sambil minum sekoteng panas :v Koplaknya, si mamang penjual sekoteng ngajak ngobrol tentang sejarang Cap Go Meh, Kaisar Pu Yi, dll. Si mamang ngakunya keturunan Tionghoa dan udah lama leluhurnya berbaur sama orang Bogor, hahaha (mabok budaya). Habis mabok budaya, kami ketemuan sama beberapa orang teman kami, magrib bareng, trus bubar makan (jadi intinya saya nggak begitu notice ama pawai budayanya).

Yang kedua, tahun 2014 lalu. Kali ini saya beneran niat mau lihat. (Cerita lengkapanya di sini ya). Cap Go Meh 2014 saya rasa sangat puas dan capek karena beneran nonton segala kembang api pun ada, ahahaha.

Yang ketiga di tahun 2015 ini. Awalnya sih malas karena udah dipastikan akan nonton atraksi budaya, pawai, benda-benda pusaka, dll, akan dikirabkan dari kawasan pecinan Jalan Suryakencana. Entah kenapa hari itu saya yang sebenarnya malas mendadak pengen ikut. Soalnya ada yang nyari momen gitu, haha. Jadilah saya dan teman-teman saya pergi ke Bogor Kota.


Menunggu si master Ray tiba dari Jakarta. Ngumpul di Kampus IPB Baranangsiang


Underpass Jalan Pajajaran. Ada galeri keren di sini. Jangan lewatkan yes.
 Sambil nunggu si Ray, kami menelusuri Jalan Otto Iskandardinata (Otista) menuju Vihara Dhanagun. Kondisi udah sangat ruame. Jujur saya capek banget jalan kaki nanjak, mungkin karena banyak orang jadi susah buat jalan dengan cermat. Ada banyak petugas keamanan. Mungkin karena ada Pak Jokowi nonton karena belakangan ini beliau demen tinggal di Istana Bogor. Beberapa lama kemudian Bro Ref inisiatif agar kami mutar lewat belakang Pasar Bogor, yaitu Jalan Roda. Cara jitu agar kami bisa tiba di kawasan Suryakencana bagian tengah.


Jalan Roda, jalan tembusan menuju Jalan Suryakencana dari belakang Pasar Bogor. Katanya Hanni sih kaya di Korea dan keren gitu. Jadilah grufie di sini, wkwk


Bikin momen buat teman baru kami ini, ahaha. Before she go abroad we want make her comfort with us  :D

Jelang maghrib, pawai sempat berhenti lumayan lama. Mungkin macet dari ujung Suryakencana sana. Ray pun mengabari kami bahwa dia terjebak macet di Sempur. Yasudahlah kami balik ke Botani janjian di sana. Hanni dan Aini sempet membeli buah naga di Pasar Bogor. Mungkin dalam suasana Imlek atau apa mereka beli buah naga, ahahahaha *ngarang.

Yang datang buanyak banget, katanya sih ada Jokowi. Entah di sebelah mana. Yakali Pak Presiden ikut nyempil-nyempil nonton ini, ahahahah

Pas Magrib si Ray baru nongol, kelewatan dah nonton bareng pawai budayanya. *langsung membelot ke dalam Botani*


 Ray bete karena postingan saya di grup, ahahaha. Maap broo. Emang gak niat bikin dia iri soalnya dia terlambat hadir. Jadilah grup watsap kami isinya foto-foto kami semua (saking rajinnya, di kelas saya ini apa-apa dibikin grup watsap).

Kami berenam tiba di Tugu Kujang. Menimati jamur dari Pekalongannya Mariski dan ngeliatin ogoh-ogoh yang udah sampe di Tugu Kujang. Setelah bingung-bingung mau ngapain lagi akhirnya kami magriban ke Mesjid Alumni IPB di dekat Pool Damri. Beres magriban, entah siapa yang mencetuskan, kami pergi ke lot*te*ria demi nukerin promo buy 1 get 1. Dasar mahasiswa gak mau rugiii,,ahahahah. Jadilah kami berenam ke sana mesen ayam+nasi. Yang penting kenyang.



Nyelfi ama dosen ilmu budaya dan pusaka saya, Master Ray, ahahahah. Saking budayanya dia nonton pawai pake baju batik coba.

Tugu kujang dan hotel amaroosa. Entah kenapa selalu inget tragedi kelas Esling dimana itu tugu dipindahin ke atas hotel dan presenternya juga bingung sendiri, bhuahahahaha

Xie-xie!
Yeah, festival kaya gini sebenarnya andalan untuk wisata Kota Bogor sih. Jujur Kota Bogor udah keren banget bisa mengadakan festival budaya kaya gini. Semoga makin banyak festival budaya di kota hujan ini dan semoga makin keren.. aamiin. Usul saya, coba ada festival kuliner gitu ya, dijamin saya akan datang dengan tulus ikhlas, ahaahaaha...

Cap Go Meh kali ini saya senang, bisa kumpul sama teman-teman. Intinya memang berkumpulnya sih. Pawainya mungkin sudah biasa dilihat, tetapi kumpul-kumpulnya itu yang susah. Nikmatilah saat-saat bisa berkumpul dengan kawan ya guys :D