expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 30 Desember 2015

Jalan-jalan ke Taman Spathodea, Jakarta Selatan

Menuju ke Taman Spathodea? Susuri saja Jalan Kebagusan Raya. Taman ini nampaknya selalu ramai. Meski dari luar nampak kecil, ternyata ketika masuk ke dalam, taman ini memanjang ke belakang. Taman ini tergolong taman yang cantik. Ada elemen air, ada plaza, pepohonan juga banyak, ada area bermain anak, bahkan ada area untuk outdoor fitness. Wuih.. :D


Taman Spathodea dan kolam utamanya yang ditumbuhi teratai

Kolam di sisi utara. Saya suka permainan garis lengkungnya. Kesannya dinamis dan menarik gitu :D

Outdoor fitness di Taman Spathodea. Asiiikkk.. 


Idea developer, partner in haters, hahaha.. Temen gw yang paling bisa ngompor-ngomporin gw buat menyadarkan gw untuk 'setia' dengan menggambar. Yeah, Menggambar. Ada pesan yang dapat dibawa melalui gambar. Visual memang salah satu faktor penting dalam memahami suatu makna. Enjoy! :D

Selfie sambil nyeketsa biar nge-hits. Ahahah.. Apa cuma gw yang suka duduk di rumput taman? Cobalah. Seru lho duduk-duduk/guling-guling/tidur-tiduran di taman :D

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Makanya mupuk rumput tu yang bener, jangan lupa disiram jiahahahaha
Area parkir di Taman Spathodea ini agak terbatas, jadi kalo kamu ke sini bawa mobil ya mesti sabar-sabar aja karena ruang terbatas. Kalo motor sih masih bisa nyempil-nyempil.hehe. Fasilitas publik seperti ini menurut saya yang harus digencarkan di ibukota Jakarta. There are too many shopping mal in Jakartal! Kenapa harus selalu pergi ke mal? Pergilah ke taman. Nikmati udara, suasana, angin, suara burung, suara orang ngobrol, suara orang bermain bola, panas, rindangnya pepohonan,,

 Menyelamatkan ruang terbuka yang masih tersisa dengan bikin taman kaya gini setidaknya menenangkan jiwa kita sebagai makhluk alam yang seharusnya 'akrab' dengan ruang luar bukan? :D

Jalan-jalan ke Taman Dadap Merah, Kebagusan, Jakarta Selatan

Taman Dadap Merah ini letaknya memang tersembunyi. Lokasinya ada di Jalan Kebagusan Dalam. Untungnya ada rambu yang membantu kita menemukan taman ini. Tamannya asrii banget. Ada drainase yang inlet airnya berasal dari Lenteng Agung. Sayang, ketika saya datang lagi banyak sampah dan agak berbau. Itu aja kekurangannya sih, faktor luar yang kurang menyenangkan. Hehe..

Rapiii

Saya suka sama drainase ini, mengingatkan saya dengan Arung Jeram di Dunia Fantasi, wahahahah

Lari tiap hari bakalan ngurangin lemak ini. Ahahaha. seger daah

Bersama teman saya sejak S-1 dulu. Bukannya nikmatin taman malah sibuk nyebutin nama-nama tanaman dan kegunaannya di lanskap :D

Yuk kita jaga kebersihan dengan membuang sampah di tempat sampah. Apalagi tempat sampahnya keren kayak gini. Bertahun-tahun sekolah terus masih buang sampah sembarangan?? Ke laut aja dah :D

Variasi tanaman yang lumayan banyak, hamparan rumput, papan peringatan taman, tempat sampah, bangku-bangku taman, fasilitas bermain anak, secara umum sudah bagus di sini :D
Jakarta memang kota yang menyebalkan, macet, polusi, bising, dll. Tapi, dibalik segala kejelekan Jakarta, masih ada pesona yang ia miliki. Salah satunya ya taman kecil ini. Kecil sih, tapi menurut saya pribadi udah luar biasa banget membantu mata pikiran dan hati saya senang, hahaha.. Jadi, jangan cuma main ke mall aja. Mainlah ke taman, oke :D

M.Si

Alhamdulilah saya udah beres sidang M.Si saya pekan lalu. Rasanya lega aja sih, kaya ada yang terbang gitu dari bahu, ahahah. Di hari saya sidang, hujan turun amat deras. Saya dibantu Ray, menerjang hujan naek motor menuju Darmaga. Brrr..dingiin. Tiba di Darmaga kami beli kue-kue sebelum akhirnya tiba di kampus. Hujan masih setia mengguyur hingga akhirnya waktu sidang saya diundur satu jam. Lalu sfshfkjs sfnaeeirudfncnan dncjakjafa (--suasana sidang) dan akhrinya tiga jam kemudian saya dinyatakan lulus. Cukstaw deh ama S-2 di IPB, ahahaha.Nggak mau sidang lagi. Mesti segera revisi, trus angkat kaki :D

Groufie di Plaza Bung Karno

Bersama teman-teman Arsitektur Lanskap yang menunggu saya sidang. Terima kasih ya :D


#2 foto ala-ala. Suka sama foto ini, omomipb sama Sapu 'Sanchai', Ngoahahahaha.. Akhirnya kedudukan Titish sebagai sanchai arlpasca tergeser. Syukurlah *lho

Wajah iseng para omomipb, nyiapin kejutan. Grrrrr

Akhirnya gw kena juga dikerjain ama bocah-bocaah.. Disuruh catwalk di Plaza Bung Karno,, pake aksesoris macam pemilihan kontes ala-ala.. diliatin dosen entah dari jurusan apa.. diketawain.. buset..serba pink pula :v


Minggu, 20 Desember 2015

Akhirnya ke Sam Poo Kong Juga

Jreng jreeeng.. Halo pembaca! Wuah senangnya saya kembali mem-posting tentang ibukota Provinsi Jawa Tengah ini. Semarang! Kali ini saya alhamdulillah bisa main lagi ke kota yang puanas tapi asik untuk wiskulan ini. Selepas November 2014 lalu, saya langsung suka sama kota ini. Kota besar sih, tapi asik karena jajanannya sama banyak tempat unik, bersejarah, dll yang bisa saya dinikmati. Sempet pake acara bete-betean pula, ama temen saya yang pengen banget ke Sam Poo Kong padahal saya lagi capek banget karena cuaca panas. Ceritanya temen saya itu setengah maksa  saya untuk pergi ke Sam Poo Kong siang bolong (fyi Semarang pas siang-siang itu puanassse polll).. Akhirnya temen saya itu aja yang ke Sam Poo King. Saya tidur di penginepan, zzz. 

Dan setelah itu, saya jadi bete sama "Sam Poo Kong" karena teringat bete nya temen saya itu sama saya, ahahahah..

Dan tepat setahun kemudian, November 2015, saya ke Semarang lagii,,horreeiii


Sam Poo Kong sebenarnya tempat ibadah, tapi juga umum dikunjungi sebagai destinasi wisata yang mulai digaungkan oleh Kota Semarang (lebih lengkap infonya klik di sini ya). Ada keterkaitannya juga dengan Laksmana Cheng-Ho, penjelajah muslim dari daratan Tiongkok sana (klik lagi di sini ). Lokasi Klenteng Sam Poo Kong n ggak begitu jauh \dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Mau wisata yang ala-ala Tiongkok? Mau merasakan nuansa merah-merah menyala keren? Mau coba cosplay ala-ala pangeran dan putri Tiongkok? Menurut saya sih, kamu mampir ke sini aja. Hehehe. Tiker masuknya juga murah, sekitar Rp 3.000,-


Pakem merah-merah memang jadi ciri khas klenteng. Selain Sam Poo Kong, dimana-mana pasti selalu merah. Di lokasi ini kamu bisa melihat berbagai jenis bangunan dengan gaya arsitektur China yang oke. Banyak warga Semarang merupakan keturunan dari negeri Tiongkok sana yang berbaur dengan masyarakat lokal. Jadi, jangan heran kalo kamu muter-muter Semarang banyak koko dan cici sliweran.

Temen saya nyangka saya pergi ke China beneran lho, hihihi. Foto aja di sini, ga ada yang tau ini di Semarang :D

Hmm,, wajah-wajah Mongoloid yang menurut literatur sejarah berasal dari Yunnan, China Selatan. *apaan sih

Berlatih kung-fu. Chiaat..chiattt..eaaaa
Di Sam Poo Kong ini, tamannya rapii banget. Dipangkas-pangkas gitu si Syzygium oleana alias si pucuk merah. Ada penggunaan elemen air juga (elemen air klo di ecodesign bagus untuk menurunkan suhu *lah) jadi bisa ngadem-ngademin suasana. Saya dan dua teman saya hanya mampir sebentar di Sam Poo Kong. Nyesel, belom kesampean cosplay pake baju ala-ala pemeran drama Mandarin, hahaha.

Jadi, mau wisata murmer dan seru, jangan lupa kunjungi Sam Poo Kong :D


Terbawa suasana klenteng -__-* Btw itu namanya Ir Priambudi Setiakusuma. Mungkinkah dia leluhur saya? Entahlah

Kamis, 17 Desember 2015

The Last Samurai

Pada akhirnya saya menjadi the last samurai diantara omomipb yang lain. Yeah, tidak mengapa. Banyak gejolak dalam masa-masa penyelesaian studi saya. Ada hal-hal menyenangkan, menyedihkan. Berganti-ganti. Dari Darmaga yang luar biasa sumpek, saya kabur ke kota yang ternyata justru sepi di kala malam tiba.

Mencoba menikmati.

Menikmati tiap jengkal kota hujan di tiap harinya yang semakin basah di bulan Desember. Menikmati tesis sambil merasakan kehidupan kota. Semakin saya menyelesaikan studi, saya semakin 'menjauhi' Dramaga. Mencari sesuatu dan nuansa yang berbeda. Bosan, sejak dulu mainan saya Dramaga terus. Sesekali, saya mau menikmati Bogor yang 'kota', begitu pikir saya. Walhasil saya jadi suka putar-putar di Bogor bersama teman saya. Putar-putar cari tempat nongkrong (meski akhirnya nemu satu tempat yang nyaman). Tetap dalam kerangka "saya mau menyelesaikan tesis saya".


Bosan dan menjauhi Dramaga, berarti bersiap-siap 'hilang' dari radar peradaban dan homerange teman-teman kampus. Lantas, kehadiran orang-orang yang menguatkan kita adalah hal yang penting. Sangat penting malah. Mencoba kembali menekuni apa yang seharusnya menjadi kewajiban saya: menyelesaikan studi. Di saat itu, kehadiran teman-teman senasib seperjuangan cukup membuat saya bersemangat. Bersyukurlah saya, masih memiliki orang-orang yang berhati baik yang mau membantu.

Sebenarnya, segalanya bisa menjadi lebih mudah. Tapi..kenyataan terkadang tidak seperti apa yang diharapkan. Berkata 'andai', 'jika', lantas tidak menyelesaikan masalah yang sudah terjadi. Berkata memang mudah, menjalankan yang susah. Realitas tak selamanya mulus sesuai rencana. 

Bahkan saya seringkali jengah dengan pertanyaan mereka yang bertanya 'kapan'. Ditanya terus seperti itu, sempat membuat saya senewen. Lambat laun, saya abaikan itu. Bertemu orang-orang yang positif nyatanya mampu membangun semangat saya. Terima kasih semua yang sudah mengingatkan saya 'kapan'. Saya merasa saya diperhatikan dan berarti :D.

Jika bisa memilih, saya tak ingin terlalu lama kok. Saya juga mahasiswa normal yang juga ingin segera selesai. Bagaimanapun rasa jengah yang muncul sudah menjadi proses dan kenyataan yang harus dijalani toh? Kata orang-orang sih, jalani, hadapi, dan nikmati saja. Yep. Masih ada masalah baru di depan sana yang lebih rumit daripada ini semua.




Minggu, 06 Desember 2015

Début Décembre.

Comme un homme, je pense que je dois exprimer les choses clairement. Imprécision fera tout pour être futile. Peut-être que je ne suis pas le genre d'homme qui sait comment communiquer et lire les signes.

Je essayé de courir ce que je l'ai dit. Engagement est important. Une fois que je vécu une impasse de communication. Interlocuteurs Je probablement ne me comprenaient pas, et vice versa. Je peut-être trop traîner espoirs sur lui. Il semble que je ne suis pas quelqu'un qui attend. Peut-être comme ça. Ne devrait pas être trop d'espoir. En fin de compte qu'il peut faire est de prier. Ce est tout.

Jumat, 13 November 2015

KKP Tegal

Agustus 2014, lima tahun setelah KKP 2009

Anak IPB pasti tau sama apa yang namanya KKP. Yep, Kuliah Kerja Profesi. Sepintas mirip dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Bedanya sih KKP lebih dituntut bekerja sesuai latar belakang keahlian. Kalo KKN lebih luas dan umum. Ya intinya tetep terjun ke lapangan (*ayo terjun dulu, syuuut..), bertemu dengan masyarakat lokal dan belajar tentang kehidupan (halah..).

Kedapetan lokasi di Tegal, saya masih ingat rasanya. Dua bulan jelang KKP, kami dikumpulkan di Auditorium Thoyyib Faperta. Pengumuman lokasi. Jreng..jreeng.. saya kedapetan lokasi nun jauh di pelosok Kabupaten Tegal. Tepatnya di Kecamatan Bojong. Entah dimana itu, saya belom pernah ke sana. Ngelewatin Tegal Kota sering kalo mudik, hehe.

Dulu, lokasi KKP Faperta hanya ada 4: Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor. What, Bogor lagi Bogor lagi...Bosen bosen dah. Hahaha.. Alhamdulilah dapat di luar Bogor. Anggap ajalah ini acara 'andai aku menjadi'. Belom ada yang namanya 'My Trip My Adventure' (paling ada jejak petualang si Riyani Jangkaru, wkwk). Kebayang-bayang deh merananya di desa KKP nanti, hahaha..

Tim saya ada 6 orang: saya perwakilan ARL, Isol dari HPT, Sobari, Via, dan Linda dari AGH, dan Jessie dari MSL. Kalo Sobari saya sering liat dia sliweran di Faperta. Yang lain saya belom pernah. Jadilah kami silaturahmi bareng. Pokoknya, anak IPB itu, selain stres karena tugas numpuk dan praktikum seabreg, kami juga senang berinteraksi bin silaturahmi. Teman-teman saya itu orangnya lucu-lucu. Isol orang Jakarta, Jessie dari Medan, Linda-Sobari-Via Sunda asli. Saya? Saya half-blood-prince lah, ortu Jawa tapi lahir Jakarta tapi ga bisa ngomong bahasa Jawa (wkwkwk)..

Jelang keberangkatan, mahasiswa dibagi-bagi dan dibekali makanan, eh, ilmu. Ilmu AGH, HPT, MSL, dan ARL. Jeng..jeng.. dipikiran saya adalah kami harus jadi orang yang serba tahu. Ngeriii.. Tapi yasudahlah santai aja, kan satu tim. Harus saling bahu-membahu :D. Awalnya terasa seru, tapi, makin jelang keberangkatan rasanya mumet karena nggak cuma kuliah pembekalan KKP. Rutinitas tugas dan praktikum mah tetep aja jalan apalagi jelang pergantian semester dari 6 ke 7. Hrrrr..

Gerbang bugenvil :D

Rombongan Kabupaten Brebes dan Tegal dapat fasilitas naik bus. Horeee.. Saya masih inget di yellow corner, malam-malam, di awal Juli 2009, kami heboh membawa barang-barang. Cuma KKP dua bulan kurang memang bikin kami harap-harap-cemas. Kayak apa yaa desanya? Apakah ada listrik? Sinyal hape ada nggak ya? Kami dibekali kompor sekam. Ceritanya nanti kami akan demo kompor sekam sebagai alternatif sumber bahan bakar gitu.

Tengtongers yang nggak kebagian lokasi Tegal dan Brebes, melepas kami di yellow corner. Dadah-dadah, jangan lupa kirim kabar, dst dst. Udah kaya ngelepas kloter jamaah haji ke tanah suci bhuahahah.. Sekitar pukul 9 malam bis kami meninggalkan Darmaga, menuju Jawa Tengah. Kami sempat istirahat makan pagi di sekitaran Eretan Indramayu. Hanya dikasih waktu sekejap, lalu lanjut lagi. Setibanya di wilayah Brebes, bis tujuan Kabupaten Brebes berbelok ke kanan, sementara kami yang Kabupaten Tegal lurus. Brrmm..

Kami tiba di Kantor Pemkab Tegal di Slawi. Ada penyambutan gitu dari pemda. Saya nggak tahan nguantuuk.. Zzzz..tau-tau udah beres dan perjalanan dilanjutkan ke Kantor Kecamatan Bojong. Setelah tiba, kami dibagi-bagi sesuai lokasi desa. Desa Kedawung merupakan lokasi kami berenam. Jeng jeng berikutnya adalah..kami harus naik mobil bak terbukaa..hahahaha..wahini..mantaap :D

Kami diantar pak Lurah ke rumah di Dusun Krajan, di rumah Pak Tardjo dan Bu Rotiningsih. Bapak ibu ini berputra dua, dua-duanya lelaki dan sudah merantau ke luar Tegal. Ada dua kamar kosong. Jadilah saya-Sobari-Isol tidur bertiga dan Via-Linda-Jessi tidur bertiga. Geser dikit dong (*berasa angkot, haha). Kamar mandi juga cuma separuh badan, beratapkan langit, ahahaha,, Kompor sekam kami apa kabar? Ternyata warga Kedawung udah punya kompor biogas dari kotoran sapi. Lupakan kompor sekam, ahahaha..

Suhu amat rendah jelang malam hari. Siang hari panas terik dan udara kering. Kami semua hobi berjaket. Kulit mengelupas kaya ular, bahkan sempat berdarah. Sampai-sampai kami cowok bertiga minta body lotion sekaligus pelembab bibir ke Jessie, bhaha, sumpah kami darurat pakai itu produk :D

Ada sejumlah dukuh di Desa Kedawung. Wow ini desa mandiri lho, udah tergolong desa yang tangguh. Ada industri keripik jagung juga malah. Selain padi, ada jagung, kubis, wortel, dan cabai. Desa ini berbatasan langsung dengan kaki Gunung Slamet. Gunung Slamet beda banget sama Gunung Salak. Gunung Slamet masih aktif, masih suka kedengeran bunyi dhar-dher kala malam, bahkan kami sering menyaksikan semburan lava di puncaknya. Serem sih. Kata Pak Tardjo, Desa Kedawung nggak akan kena limpasan lahar karena ada bukit yang memagari desa. Lahar akan mengalir dulu ke wilayah barat yaitu kawasan wisata Guci di Kecamatan Bumijawa. Waduh.

Saya dan teman saya pernah ketemu dengan bapak-bapak di Dukuh Liwung, dukuh yang letaknya cukup jauh dari rumah kami tinggal, dan posisinya di atas - dekat dengan hutan ke Gunung Slamet. Pernah suatu malam saya dan Isol boncengan turun dari Dukuh Liwung. Dinginnya Masya Allah brrrrr.. tulang kerasa ditusuk. Mana jalanan sepi banget, kadang lewat hutan bambu, jalanan menukik, berkelok (jangan bayangkan jalanan beraspal pembaca), syuuut...huaduh.. Saya langsung ngeteh dan minum reject-wind.

Lanskaper 43 yang kebagian lokasi Tegal: Sendok-Ika-Ray-saya-Sisi. Klinik Tanaman di Tuwel ini jadi meeting point kami. Sekalian nyari sinyal hape. Sambil apdet status di facebook. Jaman dulu facebook lagi hot-hotnya, hahaha *alay

Jadi mahasiswa KKP, trus ceritanya perkenalan ke SD gitu pake almamater, aahahahah.
 Tiap malam kami rapat sebelum tidur. Besok mau ngapain, itulah tema utama kami setiap malam, hahahah. Walhasil keluarlah berbagai macam rencana: ngajar ke SD, rencana bikin taman SD, ketemu pak lurah, ketemu ibu-ibu pengurus usaha kripik jagung, ngeliat mekanisme biogas, ngeliat peternakan kambing warga, ngeliat pembuatan pupuk kandang, bantuin memipil jagung, ke lapang liat-liat aneka komoditas lokal, iseng motek-motekin cabe yang penyakitan, mengunjungi rumah-rumah warga, nonton pertandingan bola antar desa, ke Klinik Tanaman di Tuwel, ngeluyur jalan-jalan ke Guci, ngeluyur ke Slawi cuma buat ngenet (*ceritanya refreshing), bantu bapak ke hutan, bantu ibu masak, dll.

Itu sih rencananya.

Padahal, besok paginya kegiatan hanya jalan sampai siang hari. Kami makan siang sama-sama di rumah, nonton Happy Song-nya si Choky Sitohang sampe siangnya kelewat trus tidur..tidur..jadi tidur siang,,tau-tau dah ashar. Huahahhaha,.. Tapi nggak setiap hari kok, kalo target udah kekejar jadi kami leha-leha. Hahahah..

Kunjungan dari teman-teman KKP desa tetangga. Mereka kami ajak ke hutan pinus di belakang desa: nyebur-nyebur, mainan sama anak-anak, nyanyi-nyanyi dll
 Kalo secara umu Desa Kedawung ini udah cukup maju lho. Udah banyak bantuan program dari pemerintah setempat juga. Malah sepertinya, kami-kami ini yang banyak belajar, hahaha.. Menurut saya, mahasiswa IPB seluruhnya memang harus KKP sih, apapun latar belakangnya. Dua bulan kurang itu waktu yang nggak begitu lama, tapi juga nggak singkat. Mahasiswa memang perlu terjun ke lapang sambil mencoba 'meneliti', Seenggaknya, mereka bertemu dengan masyarakat, tahu masalah apa di lapang, didiskusikan ketika di kampus dengan dosen-dosen sehingga nantinya bisa ditemukan solusi.. Ya khan? :D
Ngerjain bu Roti abis ngajar anak-anak. Kegiatan selepas waktu shalat Isya kami adalah: ngajar anak-anak SD (ngajar bahasa, matematika, IPA, IPS, dll) padahal nggak ada rencana ngajar selama di sini. Anak-anak yang ujug-ujug datang, wkwkwk.
Tujuh belasan di Kedawung bersama anak-anak

Wisata ke Desa Rembul. Gitu deh kerjaan kami, iseng bikin-bikin program sampingan (*biasanya untuk anak-anak). Hiking, susur sungai, menggambar, yang penting heppi dah. Hahhahaa..

Terakhir, saya kangen sambal korek buatan bu Roti, hihihi ;D




Kamis, 12 November 2015

Alun-alun Satu Jiwa Malang - Nostalgia Ikutan Sayembara

Lagi iseng ngenet nyari tentang alun-alun, eh, ketemu artikel ini. Hahaha.. Dua tahun lalu, saya, Mas Rizki, Ray, Refi, Ami, Tish, Aini, Joe, dan Yudha rame-rame nge-Malang bareng, ikutan sayembara desain penataan alun-alun Kota Malang. (Cerita lengkapnya udah saya tulis di sini ). Sebenarnya tim saya ada Hanni juga, tapi berhubung Hanni sedang keluar kota, jadinya nggak ikutan. 
Nih saya copy-paste langsung dari http://mediacenter.malangkota.go.id/2013/11/alun-alun-satu-jiwa-dipamerkan-di-balai-kota/. *saking senengnya saya copas aja semuanya, buat kenang-kenangan, hehe*

Klojen, MC – Bagaimana masa depan alun-alun Kota Malang pada masa yang akan datang mulai semakin terlihat tanda-tandanya. Dari lomba desain alun-alun dan patung singo yang digelar Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang, ada 114 peserta yang mengikuti, Senin (25/11).


Pengunjung menyaksikan pameran di Balai Kota Malang, Senin (25/11)
Pengunjung menyaksikan pameran di Balai Kota Malang, Senin (25/11)

Dari 114 peserta yang mengirimkan karya, akhirnya diseleksi ketat oleh dewan juri sehingga terkumpul 31 peserta terbaik. Dari 31 peserta terpilih ini, karyanya dipamerkan di Balai Kota Malang, Senin (25/11).
Kepala DKP Kota Malang, Wasto, SH, MH mengungkapkan, 31 peserta yang karyanya ditampilkan di Balai Kota ini sudah melalui seleksi ketat. Seleksi sendiri dilangsungkan selama dua hari mulai tanggal 18-20 November.
“Dari karya yang lolos seleksi ini, akan diseleksi lagi menjadi 13 nominator, dan dari 13 nominator akan dipilih dua pemenang masing-masing kategori,” jelas Wasto, Senin (25/11).
Adapun peserta, disebutkan Wasto, dibagi dalam tiga kategori, yakni dari umum, mahasiswa dan pelajar, serta profesional. Para peserta akan mempresentasikan karyanya di depan dewan juri pada 1 Desember 2013.
“Pengumuman pemenang akan dilangsungkan 2 Desember 2013 ketika apel di Balai Kota Malang. Hadiah total sebanyak Rp 30 Juta,” tegas Wasto.
Peserta sayembara sangat beragam, ada yang dari luar Malang seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, selain dari Kota Malang sendiri. Dalam perlombaan ini, dilibatkan sebanyak sembilan dewan juri yang terdiri dari akademisi, sosiolog, dan budayawan dari perguruan tinggi di Kota Malang.
Salah seorang penonton pameran, Anggita mengaku, dari sejumlah karya yang dipamerkan, ia paling suka dengan karya yang berjudul alun-alun satu jiwa. Sebab, selain tidak banyak mengubah desain alun-alun lama, desain alun-alun satu jiwa bisa lebih banyak mengakomodasi kebutuhan masyarakat.
“Desain alun-alun satu jiwa dilengkapi dengan jalur tunanetra, lapangan futsal, parkir bawah tanah, ini bagus. Tapi kalau hujan tidak nambah banjir enggak ya di Kota Malang,” ujar Anggita.
Meski setuju dengan perubahan desain alun-alun, Anggita mengaku kurang sreg dengan adanya patung singo di alun-alun. Pasalnya, di depan alun-alun ada tempat ibadah seperti masjid jamik dan gereja, kalau nanti singonya buang kotoran, tentu tidak pas ditempatkan di depan masjid dan gereja.
“Kalau boleh usul, patung singo ditempakan saja di Taman Singha Merjosari, sehingga selain alun-alun, Kota Malang punya ikon lagi yang bisa menjadi andalan. Tidak hanya di pusat Kota,” terang Anggita. (cah/dmb)


Sumber: http://mediacenter.malangkota.go.id/2013/11/alun-alun-satu-jiwa-dipamerkan-di-balai-kota/#ixzz3rFBYlflK


Saya senang saat membaca bagian "..ia paling suka dengan karya yang berjudul alun-alun satu jiwa." Cuma baca pas bagian itu saja saya luar biasa senang. Senang pernah menjejak kaki di Malang, pergi sama teman-teman saya yang keren-keren, senaaang.. Alhamdulilah :).

Kapan ya saya dolan ke Malang lagi :D

Rabu, 11 November 2015

Di Udara

Indonesia dari balik jendela pesawat

Naik pesawat terbang adalah salah satu impian saya sejak kecil. Saya rasa bisa naik pesawat itu hebat: seperti menjadi orang keren, di atas langit, menembus awan.. Saat saya kecil dikala pesawat terbang melintas di udara, saya dan dua kakak perempuan saya, langsung beranjak naik ke lantai dua - tempat kami biasa menjemur pakaian, kerupuk, dan barang-barang perkakas milik bapak. Desing suara mesin terdengar, saya langsung berteriak "kapal minta uaaang..." Saya memperhatikan pesawat terbang tersebut yang semakin lama mengecil, lalu menghilang di balik awan. 


Dari Bali menuju Jakarta
 Sempat bercita-cita jadi pilot karena seragamnya bagus dan bisa tiap hari di udara, namun cita-cita itu sudah saya lupakan, hehehe. Sekarang, saya menjadi manusia yang paling beruntung. Saya sudah bisa naik pesawat. Sekian ribu kaki dari permukaan bumi, melewati lautan biru yang terhampar, pemandangan indah yang mempesona.. Mungkin hal ini terasa konyol. Yaelah cuma naik pesawat doang. Hahaha..terserahlah. Tapi bagi saya, naik pesawat adalah bagian dari rezeki hidup saya yang menyenangkan. 



Jumat, 23 Oktober 2015

Anaknya mana, Mas?

Ceritanya baru beres maghriban dan ketemu sama tetangga baru. Mas-mas ikhwan. Persepsi saya ikhwan itu biasanya yang punya jenggot panjang. Saya mah apa atuh, jenggot numbuh seiprit-iprit (mas-mas bakwan :v). Tetangga baru saya itu punya jenggot panjang, lupa namanya siapa, panggil saja dia mas ikhwan.

Kebetulan arah jalan pulang kami searah. Kalo udah jalan beriringan pasti ada aja yang diobrolin.
"Apa kabar Mas, sehat?" tanya saya basa-basi. Menanyakan kabar mungkin amat terasa basa-basi. Tapi daripada membicarakan cuaca atau kondisi perpolitikan yang menyebalkan mending nanyain kondisi kesehatan. General.
"Alhamdulilah sehat. Mas juga sehat?" balas si mas ikhwan itu. "Alhamdulilah, sehat Mas," jawab saya.
"Anaknya mana, Mas? Kok nggak diajak shalat?" tanya si masi ikhwan. Mendadak tampang saya cengo.
"Anak?"
"Itu tadi siang Mas jumatan kan sama anaknya kan?"

---- langsung mikir ----
---- anak yang mana --
---- kapan saya nikahnya ---

"Err.. itu tadi saya jumatan sama anak kakak saya, Mas. Keponakan." Saya baru ngeh.
"Oo..keponakan? O kirain anaknya Mas. Habis mirip banget," ujar mas ikhwan. Sejenak terbayang di benak saya wajah dan tingkah polah ponakan saya gembil.

"Mas ini kerja apa masa kuliah?"tanya si mas ikhwan.
"Hehe.. Masih kuliah" jawab saya.
"Oo..hahahah..saya kira Mas sudah berkeluarga."
"Amin mas, mohon doanya,"

Basa-basi kayak gini emang nyelekit-nyelekit gimana gitu dah, huahahaha *meluk ponakan* *nasib jadi om-om*


KTM-nya ada?

Kejadian yang bikin saya mikir pengen ngilangin kumis dari lanskap wajah saya ini yaitu saat ditanya oleh pak satpam parkiran kampus. Apa hubungannya kumis dengan ditanya satpam parkiran? Jadi kisahnya saat itu saya hendak kumpul dengan teman-teman di kampus Baranangsiang. Seperti biasa, masuk parkiran, terus nyebutin nomor polisi kendaraan sebelum akhirnya membayar seribu perak untuk biaya parkir.
"Mahasiwa apa umum?" tanya pak satpam, curiga.
"Mahasiswa IPB, Pak," jawab saya sambil agak linglung. Perasaan saya dah sering bener kemari. Jangan-jangan bapak satpam ini baru di sini. Auk ah.
"KTM-nya ada?" selidik si bapak itu.
Mendadak kaki saya lemes. KTM mah bawa, cuma ini pertama kali ini saya dicurigai. Mungkin salah saya juga ya pake tas kecil, jeans, sama kemeja. Nyantai abis. Mungkin nggak tampak aura mahasiswa yang niat belajar. Hedeuh..
"Ada," jawab saya segera. Brettt... Isi semua kartu di dompet saya meluncur: KTP, SIM, Kartu member ini-itu. ATM dll. "Ini Pak. Maap pak agak lama, banyak banget isi dompet saya.." -padahal cuma lipetan2 struk ATM, struk ****mart dll.
Si bapak itu tiba-tiba mendadak ramah bin senyum. "Oh oke," katanya. "Silahkan mas ini" kata si bapak itu sambil memberikan karcis parkiran.
Tringg..
Mendadak saya kepikiran iseng pura-pura ga tau arah. 
"Kalo mau ke ruang xxxxxxx itu lewat mana ya Pak, saya mau ketemu dosen saya di ruang xxxxxx?" tanya saya dengan memajang tampang ndeso. Ceritanya mau ngetes pengetahuan si bapak itu.
"Oh lewat ini aja, si masnya nanti lurus bla..bla..bla.. atau lewat sini lebih deket mas bla..bla..bla... atau nggak bisa lewat bla..bla.."
"Ok makasih Pak," kata saya sambil ngeluyur. 

Tampang memang nggak bisa bohong. Ngebiarin kumis biar tampil beda malah berasa jadi om-om nyasar ke kampus. Lulus buruaaannn... :v


Minggu, 18 Oktober 2015

Saat Lanskap Bicara (2)


Lantai 6 Gedung Andi Hakim Nasoetion (Gedung Rektorat) IPB adalah spot terbaik untuk menikmati lanskap Gunung Salak. Gunung yang menjadi lambang Kota Bogor ini sebenanrnya secara administratif masuk ke dalam wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Sukabumi. Naik saja lift atau tangga ke lantai 6 saat cuaca sedang cerah. Sekedar memanjakan mata, tak ada salahnya.

Hampir tujuh tahun yang lalu saya tidak pernah ke lantai ini. Terakhir kali, saya menikmati pemandangan gunung ini bersama beberapa teman saya. Teman-teman saya kini telah kemana-mana. Mungkin lantai 6 ini menjadi salah satu vantage point memori indah saya. Meskipun Gunung Salak saat saya ambil gambar tidak begitu cerah, masih cukup terlihat suguhan keindahan yang membuat saya lupa sejenak akan kemacetan Darmaga yang semakin menjadi-jadi. Don't blame the traffic, we are the traffic.



Kampus ini layaknya benteng terakhir. Rumah, bagi sekian banyak tegakan pohon serta satwa liar yang ada di kawasan Darmaga. Kawasan Darmaga semakin berubah sekarang-sekarang ini. Ruang-ruang hijau perlahan menghilang seiring banyaknya manusia yang bertambah.

Banyak yang memanfaatkan kawasan kampus untuk berolahraga: pagi, siang, sore, bahkan malam. Rasa memang tidak pernah bohong. Rasa nyaman yang tidak mungkin digantikan dengan dinginnya hembusan penyejuk udara. Di kampus ini, masih ada tersisa kesegaran suasana lingkungan yang asri untuk dinikmati. Masih ada arboretum, taman rektorat, taman segitiga, kebun percobaan Cikabayan, hutan belakang asrama, jejeran pepohonan.. Meski panas menyengat,setidaknya tak begitu banyak asap kendaraan dan rentetan klakson kendaraan menyergap di kampus ini.



Saya senang dengan kampus ini. Bagaimanapun juga, saya disuguhkan dengan suasana lingkungan yang masih alami. Misalkan saat saya lulus nanti, dan saya harus bekerja di tengah-tengah kota, saya akan merindukan segalanya. Yang menyenangkan maupun tidak. Pasti.

Rabu, 14 Oktober 2015

Full Minded (2)

Banyak hal yang ingin dikejar dan tercapai dalam hidup yang sebentar ini. Dan kemudian, muncul kata ekspektasi atau pengharapan. Adakalanya yang diharapkan belum tercapai, tercapai, atau bahkan tidak tercapai sama sekali. Lantas setelahnya, tibalah masa dimana pikiran dan fisik akan terasa sangat berat.

Wajar adanya.

Harapan yang dimiliki, mungkin perlu dikaji kembali. Bisa jadi, harapan yang digantung mungkin terlalu tinggi, terlalu jauh, terlalu berat. Hingga pada akhirnya menunda harapan itu untuk tiba, atau bahkan menurunkan harapan itu, hingga pada akhirnya tidak samasekali mengharap. Tidak siap terjatuh, tidak siap dengan kondisi yang terburuk. Hanya berasumsi bahwa segalanya akan sesuai dengan rencana. Lalu, muncul rasa kecewa.

Kecewa adalah keniscayaan dalam hidup. Semua orang pernah mengalaminya. Aku dan kamu. Kita. Hanya saja, ada perbedaan respon yang membuat seseorang dengan seseorang yang lain berbeda. Bangkit dari kekecewaan, entah bagaimanapun caranya. Hingga akhirnya, terngiang firman Tuhan yang mungkin sudah kita tahu semua: berharaplah pada-Nya maka kau tidak akan kecewa.
























Selasa, 13 Oktober 2015

Flona 2015

Foto-foto berikut saya ambil saat mengunjungi Pameran Flona 2015 di Lapangan Banteng Gambir, Jakarta Pusat. Enjoy!

Pedestrian di sisi Jalan Katedral. 


Benda Cagar Budaya, Gereja Katedral

Desain taman oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Can you guess them all? He..he..

Puring kuning

Jakarta Utara

Eye catching

One thousand islands!! Harus pergi ke sana untuk snorkeling lihat taman bawah laut. Hehe..

Begonia

Kembang kancing

Sebenernya kasian sama bunga-bunga ini. Cuaca Jakarta itu extremely hot!! :O

Ipomoea

Welcome Area

Planter box

Lovely composition. Adem liatnya.. :)

Pagar ekologis, dari pucuk merah

Bapak dosen dan mahasiswa-mahasiswanya

Cici kelincii

Petunia

Baru tahu pohon zaytun kayak begini.. :D

Kemuning

Stand-nya IALI 

Bagusnya ini dililitin tanaman-tanaman menurutku.. Ku pikir ini festival payung, he..he..