expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 25 Maret 2015

Poster TL

Saat saya sedang beres-beres kamar kosan yang udah nggak karuan kondisinya, tiba-tiba saya menemukan sebuah poster berwarna dominan biru tertempel di dinding. Nyaris tertutup lemari. Poster jaman saya jadi asisten kuliah Tanaman dalam Lanskap di Departemen Arsitektur Lanskap (ARL). Di tengah-tengah gundukan baju dan buku, mata saya jatuh pada poster. Nyengir sendiri.

Kuliah Tanaman dalam Lanskap adalah kuliah wajib di ARL. Kuliahnya asik, melihat-lihat slide kuliah penuh bunga-bunga, pohon, rumput, dll. Praktikumnya adalah jalan-jalan, bikin laporan, dan presentasi. Saya dan dua orang teman saya mengasisteni adek-adek kelas minor ARL. Minor ARL adalah paket kuliah yang ditawarkan oleh ARL kepada mahasiswa di luar Departemen ARL. Mereka yang mengambil minor ARL dengan mata kuliah pilihan Tanaman dalam Lanskap diharuskan membuat poster sebagai tugas praktikum yang selanjutnya akan dipresentasikan saat jam praktikum. Asyik sih, selama praktikum kamu disuguhi gambar-gambar tanaman aneh-aneh, unik, berasa didongengin. Say good bye rumus kimia, fisika, matematika, kalkulus..di ARL kami nyaris nggak menemukan rumus-rumus ribet *hohoho

Saya masih ingat kebanyakan mereka memilih minor ARL karena mereka mau refreshing *lha. Mereka niat-niat lho. Mungkin niatnya setara dengan mereka yang memang mayor ARL, hahaha. Palingan mereka suka ngeluh karena kerjaannya dikasih nama latin, nama lokal, mengingat jenis-jenis tanaman, fungsi, penggunaan, dll. Tapi secara umum mereka excited dengan ARL karena mereka bisa jalan-jalan. Jalan-jalan di Jalan Padjadjaran, di Kebun Raya Bogor,, demi tugas pengamatan tanaman lanskap hihihi. Enaknya di ARL kebanyakan tugas adalah tugas kelompok. 'Cause you'll never walk alone - filsafat hidup di ARL. Jadi asisten di ARL memang harus bisa bijak. Namanya praktikan, ada aja jurus dikeluarin biar bisa dapat tambahan waktu huahahaha. Ada yang rajin sms (dulu jaman sms cuy), nelpon, minta contoh alias master, dll. Ada yang ijin mau keluar duluan karena mesti ngesot ke kuliah berikutnya, bentrok kuliah (ini lumrah banget di IPB), minta nilah ditambah, macem-macem dah. Namanya juga mahasiswa :v

Oke kembali ke poster. Poster berwarna dominan biru ini adalah poster favorit saya. Entah. Suka dengan layoutnya, bahannya, warnanya, serta gambar-gambarnya yang bagus. Temanya adalah tanaman yang ada di pantai. Yang bikin konyol adalah ada gambar pohon asam nyempil. Sepertinya ini salah kami, asisten tanaman lanskap, ngebaginya kurang jeli :D Tak apalah, secara keseluruhan udah oke punya kok ini poster. Poster ini ibarat benda pusaka bagi saya, bukti bahwa saya - di masa lalu - pernah ikut membantu dosen sebagai asisten.

Salah seorang praktikan saya yang membuat poster ini juga lanjut sekolah di IPB. Melalui teman saya, saya meminta untuk mengabarkan kepada praktikan saya bahwa poster ini akan saya kembalikan. Belakangan saya baru sadar, cuma poster ini yang bersemayam di kamar kosan saya. Praktikan saya yang membuat poster ini mengatakan bahwa poster itu untuk saya. 

Seandainya saya adalah Voldemort, poster ini adalah Horcrux saya *tssaaahh

Kemudian, beberapa minggu berikutnya, teman saya yang mengajar di Kota Malang tiba di Bogor. Kami waktu itu ngobrol nostalgia jaman kuliah di ARL. Dia bilang dia perlu contoh poster tanaman jaman kuliah dulu. Dia perlu untuk bahan ajar mahasiswanya. Hmm.. Akhirnya, poster berwarna biru itu saya berikan padanya. Mungkin dia lebih perlu ketimbang saya, untuk saat ini.

Poster itu sekarang sudah tiba di Malang. Suatu saat, saya akan menjumpainya :)

Selasa, 24 Maret 2015

Es Sekoteng

Sepasang makanan yang bikin nguilerr
Kali ini saya nyobain es sekoteng untuk yang kesekian kalinya. Perasaan saya pernah posting tentang es sekoteng di blog ini, hehe. Kali ini saya makan es sekoteng dalam nuansa yang berbeda dan kesempatan yang berbeda. Spesial gitu deh, eheheh.. :P Kuliner yang ada di Jalan Sawo Jajar Bogor Permai Kota Bogor ini memang selalu bikin nagih. Saat saya menikmati kuliner ini, Bogor sedang turun hujan dengan lebatnya. Lumayanlah pembelinya lagi sedikitkarena hujan. Jadi bisa nyari lapak buat duduk. Biasanya, saat siang terik, buanyak banget pengunjung yang datang hingga mesti cepet-cepetan nyari lapak. Selain es sekoteng, saya juga berhasil nyobain pempek kapal selam yang ternyata rasanya ikan banget. Sedapnya setara saat saya dulu icip di Palembang, hmm.. Untuk harga es sekoteng masih Rp 12.000 dan pempek kapal selam Rp 19.000. Agak nekat juga ini sebenernya, menyandingkan es sekoteng yang manis-dingin dengan pempek yang pedes-asam. Nggak tiap hari ini, sesekali boleh lah makan lupa diri.

Oya masih ada jajanan lain seperti bebek kremes, toge goreng, siomay, mi ayam, bakso dll di sini. Harga memang agak lumayan tetapi banyak teman saya bilang rasanya enak-enak. Jadi, kalau kamu lagi ke Bogor, jangan lupa mampir.


Selamat makan!