expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 22 September 2014

Batal ke Korea

Korea saat musim gugur (Sumber: autumnlightspicture.blogspot.com)
Akhirnya saya memutuskan tidak jadi berangkat ke Korea karena alasan finansial. Well, buat bahan pelajaran bagi saya dan kelompok saya, harus prepare lebih matang dan bisa masukin proposal ke instansi yang terkait. Tapi kabar gembiranya adalah tetap ada perwakilan teman-teman saya yang berangkat ke Korea, salah satunya adalah guru memasak saya, haha.. Semoga sukses, bro!

Jadi asisten memasak

Sup Bakso Abrakadabra. Dimasak saat kepepet. Yang masak kakak saya, yang ngasistenin saya. 

Kata teman saya, Ray, saya berbakat jadi asisten (me)masak. Entah darimana dia bisa menilai. Apa karena saya beberapa kali membantu masak di dapur kosan sehingga saya dapat gelar seperti itu, hahaha. Saya memang nggak bisa masak, lebih bisa makan :D Ternyata memasak itu asik juga, memerlukan ilmu dan seni. Mungkin senada dengan jiwa arsitektur lanskap ya *nyengir. Intinya memasak yang dikerjakan dengan senang hati berpeluang menghasilkan citarasa yang lezat,, hmmm..

Kelas kami beberapa kali mengadakan perhelatan (lebay) masak: mulai dari perayaan cucurak alias makan bareng sebelum Ramadan, buka bersama di rumah teman kami, bahkan halal bi halal. Seru semua, tetapi yang paling seru adalah saat cucurak dimana saya pertama kali menjajal masak. Saya jadi belajar bikin crepes, haha..Selama ini saya cuma tau crepes dan pancake sama aja, ternyata beda! (Mau tau bedanya apa? Klik aja disini). Teman saya penggila pusaka itu emang sabar ngajarin sih, berbakat jadi guru masak. Senangnya punya temen suka masak adalah bagian icip-icip makanan, haha..dan bisa juga nyobain gimana cara bikin crepes.

Asik banget bikin beginian, bro! :D

Memasak tak dapat dipungkiri adalah aktivitas untuk bertahan hidup. Memasak untuk menghasilkan makanan. Melalui memasak juga kita bisa meng-erat-kan tali silaturahim atau kekerabatan, seperti saat saya dan teman-teman mengadakan acara buka puasa bersama di rumah Cete , hehe. Memasak juga bukti rasa cinta lho. Ibu yang memasak untuk keluarganya di rumah sejatinya adalah bukti cinta beliau :D. Memasak juga bisa menghasilkan keuntungan. Selama masih ada manusia, bisnis memasak/katering akan tetap sustain, hehe.

Suasana dapur. Foto diperankan oleh model serta kucing penunggu kosan.
Jadi ngelantur gini ceritanya. Saya kan mau cerita tentang asisten masak, haha. Asisten memasak sebenarnya memegang peran pembantu di dalam kegiatan memasak. Contoh: mengambilkan bumbu di luar jangkauan juru masak utama, menyiapkan peralatan dan mencuci peralatan memasak, pokoknya sesuai instruksi juru masak utama. Harus punya kesigapan juga sih karena asisten memasak ada untuk membantu juru masak utama.

Tapi saya akui, memasak memang merepotkan. Saya bahkan sampai menyalakan dua kompor serta dua tangan bermain: yang satu menumis satu mendadar telur. Ray si juru masak utama sedang sibuk. Walhasil tumisan saya sukses gosong, sementara telur yang harusnya saya dadar menjadi ceplok. Bikin crepes juga lumayan susahnya, dituang adonan,,trus dibalik dengan cara dilempar,, hap hap.. brukk.. jatuh ke tepian kompor. Hahaha.. Beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga ngebalik adonan. Meski akhirnya gosong juga.

Jika berkesempatan ditugaskan menjadi asisten masak (khususnya bagi yang awam memasak seperti saya ini), saran saya adalah:
1. percayalah bahwa kamu sudah memiliki niat yang baik untuk membantu memasak; ingat, kamu adalah asisten - tugas utamanya membantu ya bukan jadi bos-nya hehe;
2. pede aja, tidak semua orang bisa memasak, tetapi semua orang pasti bisa makan (?);
3. pintar-pintar membaca situasi saat juru masak utama sedang sibuk, bantulah; jika juru masak utama sedang mencicipi masakan, jangan lupa dibantu icip-icip juga, hehe.
4. mencuci peralatan yang kotor sesegera mungkin;
5. sebaiknya bisa membedakan ketumbar dengan lada, haha (pengalaman)
6. sigap, cekatan, tangguh;
7. jangan kebanyakan nyicip masakan nanti kekenyangan.

Jangan cuma bisa makan aja, sesekali cobalah ikutan masak hehe (*tepok jidat).



Ketika harus bertengkar dengan teman

Bertengkar merupakan situasi yang sebetulnya paling saya hindari. Bagi saya yang cinta damai, lebih baik menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dan hati yang dingin ketimbang menyelesaikan dengan kepala dan hati yang panas. Tetapi memang benar adanya dalam suatu hubungan entah dalam keluarga, teman, pekerjaan, ataupun komunitas ada masa-masa dimana kita 'harus bertengkar.' Mungkin ini juga jadi bahan renungan juga bahwa ada sisi positif dari pertengkaran.

Saya terlibat dalam suatu pekerjaan yang membutuhkan beberapa orang. Kebetulan kami, satu tim, adalah teman satu kampus. Saat pembagian fee pekerjaan, muncul beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya lontarkan kepada teman saya sebagai project leader. Entah saya yang terkesan mencela atau ada kata-kata yang menyinggung, saya merasakan ada kesan yang tidak baik yang saya tangkap dari teman saya tersebut. Melalui surat elektronik, saya memahami bahwa saya digambarkan sebagai orang yang tidak terima dengan pembagian fee. Benar. Saya tidak terima. Dalam item pekerjaan terdapat kejanggalan pembiayaan dan saya mencoba menanyakan kepada teman saya tersebut.

Sayangnya, saya tidak menemukan solusi dari percakapan kami. Kami bertengkar: melalui surat elektronik. Tak ada telepon maupun kabar darinya. Walhasil keegoisan kami - sepertinya -  menyebabkan kami bertengkar via surat elektronik. Sudahlah, saya pun malas meneruskan masalah. Ujung-ujungnya adalah saya meminta maaf pada teman saya tersebut atas sikap saya yang kurang berkenan.

Dalam pekerjaan, entah itu melibatkan teman ataupun sekedar teman kerja biasa, memang harus ada aturan main yang jelas. Saya juga salah karena tidak menanyakan/negosiasi pada tahap awal sehingga menimbulkan permasalahan di akhir. Yang mengagetkan mungkin dari perubahan sikap saya yang ditangkap oleh teman saya tersebut. "Kamu berubah ya Pram? Kamu sekarang kok lebih blak-blakan.."

Saya langsung berpikir seperti apakah saya yang dipersepsikan oleh teman saya tersebut.

Apakah saya dikenal sebagai pribadi yang baik? Yang tenang dan tidak blak-blakan?

Perilaku seseorang mungkin bisa berubah. Saya merasa sih, dulu saya memang pasif. Cenderung diam. Diam yang parah.Tetapi saya sekarang merasa harus berubah. Setidaknya sedikit-sedikit memperbaiki diri. Jreeeng..berubaaah :D Memang dalam pertemanan selama hidup saya selalu mengalami fase pertengkaran, bahkan dengan teman karib sekalipun. Tetapi, saat bisa menyadari posisi dan mengerti kondisi teman, setidaknya dapat dipahami mengapa dia/mereka bertindak seperti itu. Saya mencoba memikirkan seperti itu kepada teman saya, meski rasanya susah karena terlanjur kesal. Tetapi yah, sudahlah. Saya selalu ingin mengakhiri masalah dengan penyelesaian yang indah. Itu saja. Dan akhirnya memang saya dan teman saya pun kembali tenang seperti biasa.

Secara tidak langsung, saya bersyukur saya pernah bertengkar dengannya.