expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 28 Januari 2012

Nyap-nyapin Jl Margonda Depok


Kota di selatan Jakarta ini umurnya memang seumur jagung. Baru 12 tahun. Tapi, perkembangannya sangat pesat, terutama di bagian tengah yang meliputi wilayah Margonda Raya dan sekitarnya. Perkembangan disini menurutku masih sebatas perkembangan fisik bangunan: mal, ruko, tempat makan, pelebaran jalan. Sedih sih, bukan Depok yang dulu aku kenal. Yah, efek perkembangan zaman. Penduduk tambah banyak. Mereka butuh perumahan, fasilitas pemenuh kebutuhan, transportasi,, maka lingkungan lalu 'dikorbankan'. Depok jadi Jakarta. Depok yang di-Jakarta-kan.

Masih ingat aku akan keberadaan pohon angsana besar dekat Gang Sawo tempat biasa anak-anak UI maupun masyarakat yang mau naik KRL di Stasiun UI. Pohon itu menjadi penandaku setiap aku hendak pulang ke Bogor via Stasiun UI. Atau jejeran angsana dekat Toko Buku Gramedia yang kokoh, yang menjadi aling-aling peneduh kala siang.

Semuanya lenyap. Sejak Pemerintah Kota Depok melakukan proyek pelebaran Jalan Margonda Raya kurang lebih dua tahun terakhir. Puluhan pohon ditebang demi alasan pelebaran. Tidak ada perencanaan jalur RTH jalan. Tidak ada pedestrian yang nyaman. Tidak ada jembatan penyebrangan. Tidak ada median jalan untuk tegakan pohon. Lahan parkir terbatas. Pertokoan menjamur tiada batas. Angkot bertaburan berhenti seenaknya. Pengguna kendaraan pribadi menggila. Merasa berhak seenaknya serobot sana-sini. Pengguna jalan lantas berjalan tidak di pedestrian. Jalur jalan menjadi 4 lajur. 2 lajur paling kiri malah menjadi tempat parkir dan jalur pejalan kaki. Aneh bin Ajaib. Ruwet. Semrawut. Berjalan di tepian jalan terbesar di kota ini, menurutku pribadi, sungguh tidak nyaman. Hardscape terlalu mendominasi. Padahal sejak dulu kota ini masih dikenal dengan lingkungannya yang masih alami. Tapi tidak untuk jalan utama ini. Elemen identitas pun tak nampak. Heran benar-benar heran (ini saya mulai cerewet pemirsa, hehe). Hanya gerbang angkuh "selamat datang" dengan ornamen belimbing. Sudah. Tidak ada sesuatu yang menarik. Bosan. Toko-toko. Mal. Banner. Sama saja. 

Mana pohon belimbingnya? Katanya kota belimbing? *tepoknyamuk

Margonda ibarat beranda, halaman depan, welcome area, tapi entahlah tak ada hasrat pelaksana menyajikan elemen identitas. Elemen identitas yang nampak? Ruko. Mall. Gedung kotak-kotak dengan banner berwarna mencolok. Nama "Margonda" begitu menjual. Sangat bisnis. Lalu entah siapa memulai namanya menjadi dipenggal, "Margo". Ketika saya kuliah saya pun baru tahu bahwa Margonda adalah nama pahlawan. Adakah yang peduli? Sepanjang jalan ini, poros utara-selatan, sungguh,, benar-benar tak menarik dari sisi lanskap. Profit oriented, itu yang saya tangkap di sepanjang jalan ini.Agak memaksakan, pemkot menanam pohon trembesi di median jalan yang ukurannya sekitar 60 cm. Berharap itu pohon-pohon bakal tumbuh sempurna, jreng, ijo gitu? Bagaimana nantinya kalau trembesi itu tambah besar? Perakarannya? Itu median juga kansteen semua. Tanah seiprit. Kenapa ga dari awal disiapin lahan?

No softscape. Just hardscape.

Tengoklah ke Kampus UI. Sungguh berbeda nuansa di areal kampus. Masih ada yang bisa dibanggakan dari kota ini. Kehijauan kampus ini cukup mengobati pilu melihat kenyataan lanskap Jalan Margonda saat ini. Seharusnya berkacalah pada lanskap kampus UI. Tak ada ruginya memperbaiki lanskap jalan menjadi lebih baik, lebih manusiawi. Menjalankan peraturan yang telah dibuat seperti peraturan Damija (daerah milik jalan), GSJ (garis sempadan jalan) + bangunan, perizinan pembangunan, peruntukan jalur hijau jalan.
Kalo mau merubah memang perlu kesadaran semua pihak.

Makin cerewet saya ini :P Saya mengkritisi saja. Payah juga ya,haha..




Gerbang Masjid UI. Bagus ya.

Bloggers mungkin pernah mengunjungi Masjid UI dan disambut dengan gerbang ini. Yap, ini gerbang Masjid UI. Bagus. Seperti gerbang di negara Tiongkok. Apa mungkin ada korelasinya ya, karena daerah ini secara administratif masuk Kelurahan Pondok Cina? Jadi sebagai pengingat bahwa "ini lho, masjid UI ada di Pondok Cina," hehe..ngasal. Emang ada yang mikir kaya aku ini? Mudah-mudahan ada. Apaseeh :P
Masjid ini nyaman banget buat beribadah (saking nyamannya habis shalat dulu saya biasa tidur ayam disini barang 5-10 menit,hehe ). Di tepi danau UI, masih banyak rindang pohon, hamparan rumput, desain masjid dan warna yang kalem,, Subhanallah,, baguus :) Begitu keluar dari lingkungan Kampus UI ke arah Jalan Margonda, jreeeeng,, suasana berubah drastis.. Yah sabar aja dah..

Udah ah kritisninya. Maap terlalu emosional. Ambil positifnya aja, okeh :) Sekian nyap-nyapnya. Nyaaaapp








3 komentar :

Rizki Pradana mengatakan...

mas praam klo gak repot mampir ke blog aku,,aku baru aja share habis jalan-jalan le Schmutzer,,maap waktu itu gak mampir,hehe..
kapan nih ke The Village,,di tunggu lhoo...

Rizki Pradana mengatakan...

mau numpang berbagi
walau ini hasil ane repost,,tapi inspiratif dan semoga bermanfaat

http://rizkipradana.blogspot.com/2012/02/secuil-kisah-dahsyat-dari-kunjungan.html

Anto mengatakan...

haa,, jadi ingat jalan Juanda om, puanas2 malah jalan2, untung ga batal. hehe