expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 03 April 2013

Secret admirer

Secret admirer kalo diartikan secara harafiah adalah pengagum rahasia. Rahasia? Yeah, rahasia. Tidak ada seorangpun yang tahu kalo kita mengagumi seseorang. Hal yang sangat aneh sekaligus mengasyikkan menurutku. Tapi kali ini konteksnya adalah 'menyukai' seseorang.
Dan aku sedang mengalami hal itu.
Dia tak tahu.
Tak ada yang tahu.
(tapi pembaca tahu,,celetuk pembaca) hehe.
Kenapa saya mengaguminya saja juga tak tahu. Rasa itu datang tiba-tiba saja. 

Tak apalah, blog ini rumah pribadi saya. Bebas mau celoteh apa saja, ya kan :D

Sebenernya ini adalah cara teraman buatku. Menyukai seseorang dari jauh. Dan mungkin orangnya juga tidak tahu. Apa tahu ya? Entahlah. Karena menurutku, lebih baik tidak mengutarakan.

Semakin dewasa sejatinya semakin banyak menimbang-nimbang. Apapun itu.
Dulu aku cenderung grasa-grusu. Ceroboh. Dan mungkin masih menempel sifat itu. Tetapi sedikit-sedikit aku coba mulai mengurangi. Dulu aku pernah menyukai seseorang tapi kami berdua memutuskan untuk menyudahinya. Aku belum siap lahir batin untuk meneruskan ke jenjang yang lebih serius. Berusaha gentle. Sadar diri. Ada banyak alasan. Dan alasan-alasan menjadi pertanda bahwa diriku belum siap. Pun dia, sepertinya terburu-buru. Dan memang itulah awal mula kesalahan: menjalin tanpa memikirkan ujung perjalanan dengan kematangan. Kadang ada bayang penyesalan membuat gamang hati pikiran.

Sampai aku menyadari bahwa untuk serius dengan seseorang, rasa cinta harus dibalut dengan tanggung-jawab serta niat dan tekad kuat.

Dan sekarang, aku mengakrabi kesendirianku dengan hal-hal positif yang lain. Berteman dengan banyak jenis orang salah satunya. Yeah, berteman itu lebih aman. Berteman dengan siapa saja, mendapat pengalaman dari mana saja. Mengakrabi pekerjaan dan tanggungjawab nantinya. Sebenernya susah juga lho karena yang kebayang selalu yang indah-indah saja. Padahal banyak hal yang tidak indah (bersikap wajar sajalah :-) ) Berpacaran dalam perspektifku kini berbeda 360 derajat. Aku rasa, tidak perlu mengulangnya lagi. Sementara diriku belum siap, lebih baik mempersiapkan diri saja. Keseriusan diawali dengan persiapan-persiapan. Seserius dulu aku memutuskan melanjutkan sekolah. Yak, sesederhana itu analogi yang kupakai. Semoga rasa ini berlabuh ke seseorang yang benar yang Allah Swt. gariskan untukku. Aamiin.

5 komentar :

ray march syahadat mengatakan...

ihirrrrrrrrrrr...

Dwica mengatakan...

CIYEEE banget nih si pram, ikikik :p

Priambudi Putra mengatakan...

hhahaha... *loncatkijang*

Gieva21 mengatakan...

eh..baru baca gw yg ini :p prikitiw..

Novianti Lufilah mengatakan...

hwaaaa ternyataaa *baru baca >.<