expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 08 November 2014

Jujur

Mengungkapkan sesuatu secara langsung itu perlu adanya. Sampai kapanpun, lawan bicara kita bukan Tuhan yang tahu segalanya, begitu kata sahabat baik saya.  Mengalami kesulitan komunikasi memang pasti dialami oleh semua orang. Ada orang yang tipe kurang peka, ada yang terlalu peka. Ada yang blak-blakan bilang, ada yang tertutup. Tidak ada yang salah, namanya juga tipikal manusia yang sudah pasti tidak ada yang persis identik satu dengan yang lainnya.

Suatu ketika, saya merasakan jatuh cinta pada seseorang. Karena  non verbal saya tak cukup kuat membuktikan (dan bukan hal yang baik mengungkapkan rasa hanya dengan non verbal), akhirnya saya katakan saja. Pernah pula saya merasa kesal dengan tindakan rekanan saya, dan saya diam saja. Berharap rekan saya itu mengerti saya – dan ternyata saya salah besar. Saya beranikan diri saya untuk jujur berkata pada dirinya. Saya pernah merasa keberatan dengan permintaan atasan saya dulu untuk melakukan suatu hal yang di luar jangkauan saya. Langsung saya utarakan ketidaksetujuan saya.

Kejujuran adalah pil pahit yang harus diminum untuk mendapatkan kesembuhan dari suatu penyakit.

Tetapi, dalam pemikiran saya, tidak semua harus kau katakan. Jujurlah pada tempatnya. Lihatlah pada siapa hendak kau bercerita. Simpan rahasia terpentingmu dalam-dalam. Saya pribadi merasa saya ‘aman’ untuk mengungkapkan segala rahasia saya kepada sahabat. Tetapi, sahabat yang baik toh tidak akan memintamu mengungkapkan segalanya pada dia bukan? Bersikap wajar yang utama. Karena setiap orang, selamanya akan memiliki rahasia-rahasia yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.



1 komentar :

ika manan mengatakan...

Hmmmm... maafkan aku :|