expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 08 November 2014

Kondangers

Selamat yaa..

Semoga jadi keluarga Samara.. (sakinah mawaddah wa rahmah)

Doain gw nyusul ya..

Kapan nyusul?

Cepet nyusul yaa..



Usia saya sekarang ini adalah usianya orang-orang untuk menikah. Saya, laki-laki usia 26 tahun, jomblo, dan menerima undangan pernikahan hampir setiap minggunya. Pengirimnya tak lain tak bukan adalah kawan-kawan saya: kawan dari SMP, SMA, hingga kuliah. Bahkan saat ini tren mengirimkan undangan dengan cara yang lebih eco yaitu via whatsapp, message di facebook, atau BBM. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya memaklumi bahwa era saya hidup sekarang ini adalah era paperless. Konyolnya, saya suka lupa dengan tipe-tipe mengundang yang lewat message facebook.

Facebook saya sudah ada sarang laba-labanya.

Apakah saya iri dengan teman-teman yang sudah menikah duluan? Yeah tentu saja. Saya hanya manusia biasa, bukan alien dari planet antah-berantah. Fitrah setiap manusia memang ingin berpasang-pasangan: berkeluarga, memiliki keturunan, melebarkan kekerabatan.

Sebagai laki-laki berusia 26 tahun, dan jomblo, menghadiri resepsi pernikahan teman sendiri nyatanya bukan hal yang mudah pula. Yeah, saya termasuk aliran yang berpikir bahwa menghadiri resepsi pernikahan memang lebih enak berdua dengan yang resmi (ehem), ataupun, dengan teman-teman komplotan satu angkatan.

Menghadiri resepsi pernikahan seorang diri bagi saya pribadi agak ngemalesin.

Bahkan saya pernah mengajak adik saya. Lumayan, makan gratis. Hahaha.

Bertemu teman-teman yang sudah menikah, lalu ditanya-tanya kapan menyusul, bagi saya pribadi itu menjengkelkan (doakan saja ya, begitu selalu jawaban saya sambil nyengir kuda). Jadilah saya selalu datang di awal acara, salaman dengan mempelai, lalu makan sekedarnya, lalu bergegas pulang. Kadang saya salaman di akhir: celingak-celinguk mencari teman-teman yang mungkin saja saya kenal, ngobrol, makan, baru salaman, lalu pulang. Model resepsi ala standing party dengan durasi sekitar tiga jam memungkinkan saya melakukan hal tersebut.

Catatan : nggak ada ketentuan bahwa dalam menghadiri resepsi kita harus salaman dulu atau makan dulu. Kalau saya lapar berat, saya langsung makan. Kalau saya lagi pengen salaman dulu, makan belakangan. Woles aja.

Sebenarnya bertanya kapan menikah itu bentuk perhatian teman-teman. Mungkin semacam cambuk biar cepat juga. Berkali-kali ditanya seperti itu, sekarang saya jadi kebal. Saya jadi berpikir awas aja yang nanya-nanya begitu nanti nggak datang jika saya nanti mengadakan resepsi (*toyor). Dibawa asyik saja lah. Sabarlah, jalan manusia memang beda-beda. Terima kasih atas perhatian Anda semua. Hahaha.  


1 komentar :

Novianti Lufilah mengatakan...

puk puk, katanya taun depan kan? bentar lagi laah.. sabar yaa mas eco :D