expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 29 November 2014

Semarang Kenyang!

Semarang namanya. Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini menurut saya pribadi masih kurang 'terdengar' jika dibandingkan dengan destinasi wisata lain di Indonesia seperti Bali ataupun Jogja. Kota berjuluk Little Netherlands ini terletak di kawasan pantai utara Pulau Jawa (saya curiga para pembaca pun nggak tahu julukan ini, ahahaha). Dijuluki Little Netherlands karena Semarang memiliki banyak peninggalan bangunan Belanda serta kawasan kota tua (Kota Lama Semarang). Kawasan Kota Lama Semarang secara arsitektural dan memang terasa 'Belanda banget'. Menurut teman pusaka saya, Ray, Semarang ini malahan lebih kental suasana heritage-nya jika dibandingan dengan Bogor, bhahahaha.

Selain pusaka berupa fisik bangunan, Semarang punya warisan kuliner yang harus kamu coba. Kali ini, saya mau berbagi sedikit informsi kuliner Semarang yang menurut saya enak-enak dan harus dicoba hehe. Siapkan mental kamu karena dijamin kamu akan penasaran sama makanan-makanan enak berikut ini:

1. Lumpia, Jalan Pandanaran


Sexy banget ini lumpianyaaa. ahahaha


Lumpia, atau Loenpia. Ikon kuliner Semarang ini sudah tak asing lagi. Tapi kau harus coba lumpia di kota asalnya ini, hehe. Lumpia yang saya dan teman-teman saya icip berisi rebung dan daging ayam. Makanan ini merupakan bentuk akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa (*budaya, bhahaha..).Harga lumpia ini Rp 11.000,- per buah. Lumpia disajikan dengan dua jenis saus, saus bawang putih dan gula merah. Kalau kurang pedas disediakan juga rawit (lombok). Menurut berbagai sumber yang saya dengar dan baca, lumpia yang asli pertama hadir di Gang Lombok, kawasan Kota Lama.  Saya sih belum kesana. Bisa juga kok menyusuri Jalan Pandanaran. Di sepanjang jalan ini akan banyak kau temui lumpia, tahu bakso, dan kawan-kawannya, haha.


FYI:  Jalan Pandanaran ini jalanan protokol yang wajib kau susuri saat di Semarang. Pedestrian yang disediakan oleh pemerintah setempat lumayan nyaman dan lebar. Mau bergerombol juga oke. Sambil bingung-bingung mau makan apa, hahaha..


Di Jalan Pandanaran ini kamu akan menemui fenomena adaptive use, yaitu pemanfaatan bangunan bersejarah yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Siapa sangka di balik fasad jendela dan pintu rumah jadul ini ada al*fa*ma*rt. Kabar gembira: kau bisa nongkrong sepuasnya, seperti model di atas yang sedang asik ngobrol tentang pusaka :v

2. Tahu Gimbal, Simpang Lima




Kamu-kamu yang rambutnya gimbal, wajib coba tahu gimbal biar makin gimbal, wkwkwk. Makanan ini banyak tersebar seantero Semarang guys, haha. Makanan ini terdiri atas tahu, kol, lontong (awas, kenyang, hahaha), toge, telur, dan gimbal (kalo nggak salah itu sih). Gimbal adalah tepung yang digoreng sama udang (yang alergi udang gigit jari aja dah). Harga seporsi tahu gimbal ini sekitar 10ribu-an. Kenyang banget! 

Tahu Gimbal ini banyak ditemui di Semarang. Kalau kamu malas, kau bisa langsung berkunjung ke kawasan Simpang Lima Semarang, cari deh warung yang jual tahu gimbal. Setiap malam, akan banyak tempat makan enak-enak bertaburan. Simpang Lima Semarang memang dijadikan sebagai pusat kuliner Semarang, jadi penataan kawasan menurut saya udah keren banget. Dijamin pusing mau makan apa, haha.

Jangan langsung pilih tempat. Cobalah keliling Simpang Lima dulu.. saat kamu mencapai lokasi paling capek, berhentilah di situ dan segera pesan makanan :v 

3. Tahu Pong, Jalan Depok

Hmm.. tahu pong ini enak buat ngemil setelah makan (ebuset, hahaha)
Tahu Pong ini bisa kamu jumpai di Jalan Depok. 'Pong' bermakna kopong, alias kosong. Tahu yang isinya tidak ini digoreng, lalu disajikan dengan sambal petis dan acar lobak. Hmm.. nikmaat.. Baru kali ini saya icip kudapan seperti ini. Saya dan teman-teman saya mencari penjual tahu pong ini modal nekat: menyusuri jalan dari Simpang Lima ke arah Jalan Gajah Mada. Sambil tanya ibu-ibu penjual makanan tepi jalan, hahaha. Wajib nyoba ini ya kalo ke Semarang :D


4. Es Conglik

Es Conglik, lontar, dan tempe. Jangan dicontoh, ini kreasi saya aja. Ahahaha
Es Conglik bisa kau temui di kawasan Simpang Lima. Saya dan teman-teman kebetulan meminta tolong pada driver taksi kami untuk mencari ini. Nemu deh di deretan tenda-tenda, dekat dengan tenda penjual daging ular kobra (alamak,,seraaam..). Conglik merupakan singkatan dari kacong cilik. Kalo nggak salah pembantu yang masih kecil (cmiiw). Dia disuruh majikannya keliling jualan es. Mungkin dia lelah, jadi sekarang es conglik dijual dalam format tenda. Ada varian rasa duren, cokelat, sama dua rasa lagi lupa. Ditabur meises dan lontar. Yang jual bilangnya "ini buah siwalan mas" Tapi dalam pendengaran saya "sialan", jadi saya tanya lagi ini buah apa, "si-wa-lan mas, lontar," jelas si penjual. Wkwkwk..

Buah lontar, bagi yang belum pernah nyoba, mirip nata de coco, tapi rasanya tidak begitu manis, Saya langsung suka dengan buah ini. Saking senangnya saya masukan saja keripik tempe ke dalam mangkuk es congklik saya. Joe, teman saya, malah memasukkan emping. Makin nggak nyambung. Hahaha.. Mengingat cuaca Semarang yang lumayan hot, saya rasa kamu wajib mencoba kudapan ini.

5. Nasi Liwet Lesehan, Simpang Lima

Dua dari lima komplotan saya selama di Semarang :v

Nasi Liwet Simpang Lima. Mengingatkan saya dengan Solo.

Bagi saya yang biasa pulang ke Surakarta alias Solo, nasi liwet adalah menu wajib untuk memanjakan selera makan saya, haha. Ternyata, masih dari kawasan Simpang Lima, ada mbok-mbok yang menjual nasi liwet! Rasanya lumayan sedap. Dan saya suka, saya akhirnya bisa ngeleseh! Yes! Tempatnya dekat dengan Matahari. Di pojokan, samping pos polisi. 

Kalau kamu main ke Semarang saat malam, kamu akan menyadari bahwa sangat jarang tempat makan di Semarang yang menyajikan cara makan dengan gaya lesehan. Gaya lesehan merupakan gaya yang populer di Solo dan Jogja (berhubung saya cuma tahu kedua kota budaya ini (*budaya) jadi contohnya Solo dan Jogja yaa.. :v). Penjual makanan biasa menyiapkan alas tikar dan pelanggan bisa lesehan. Nyantai banget brow. Kaki jadi rileks dan suasana menjadi akrab. Nggak heran Om Katon Bagaskara menyebutkan di dalam lirik lagu Yogyakarta yang apik itu: "Ramai kaki lima..menjajakan sajian khas berselera..orang duduk bersilaaa..."

(Baru sadar ternyata lagu Yogyakarta itu budaya banget, :v)

Tempat ini lumayan rame, tapi nggak bikin kamu berdiri kaya lagi ngantri di kantor pos kok. Duduk manis aja. Dengan sigap, mbok-mbok dan ajudannya akan melayani. Nikmati suasana Simpang Lima sambil makan nasi liwet itu juara banget :D

6. Nasi Pindang Kudus dan Soto Sapi, Jalan Gajah Mada

Daging sapinya lembut, nasinya sih sedikit, tapi lezat! Pengen nambah,, tapi malu. Bhahaha
Dalam pikiran saya, yang namanya 'pindang' itu adalah lekat dengan kuliner ikan. Tapi, di tempat makan satu ini bukan. Yang dipindang adalah daging sapi. Letaknya di Jalan Gajah Mada. Porsinya kecil, cocok untuk sarapan (buat saya,,hedeuh..kurang nampool,, hahaha). Harganya 25 ribu satu porsi. Lumayan sih, tapi memang rasa nggak berbohong (hikss.. menatap dompet). Ada banyak foto artis yang pernah makan di tempat ini. Artis pernah makan, berarti enak. Kalau kata teman saya, Mas Glory, kalau ada orang Cina makan, berarti enak. Aahahaha..

7. Es Dawet Duren Jalan Karanganyar

Saya tampilkan model di atas untuk meyakinkanmu bahwa es dawet ini enak banget :D
Es Dawet Duren. Dawet itu seperti cendol kalo menurut saya (*cmiiw). Minuman ini kami temukan saat putus asa untuk menemukan Leker Paimo. Bagi duren haters, kau bisa pesan tanpa duren kok. Durennya gede-gede banget! Harganya murah pula. Bagi pecinta duren, mari bersama-sama merapat ke Jalan Karanganyar ini. Rasanya enak, segar, dan herannya saya yang biasa batuk kalau jajan es nggak batuk habis minum ini. Aaahahaha.. Saya semakin saktiii..

8. Ngoyang, depan Kolese Loyola Jalan Karanganyar

Ngoyaaaang
Masih dari Jalan Karanganyar, kawasan Kolese Loyola, kau akan nemu makanan ini. Ngoyang. Oriental banget ya kedengarannya. Ngoyang yang ini isinya daging ayam dan sayur, dituang saus pedas dan irisan timun. Hmmm sedaap.. Jangan datang saat hari libur sekolah ya Hari libur sekolah berarti yang jual pun nggak ada, hehehe.

9. Leker Paimo, depan Kolese Loyola Semarang

Masih lupa definisi leker itu apa? Hahaha..buka lagi ya di sini. Leker Paimo ini juga nangkring di depan sekolahan Kolese Loyola. Sayangnya, komplotan saya yang paling cantik, Loli, nggak ada karena dia udah keburu kabur ke Jogja. Padahal dia yang ngidam kudapan ini. Beruntung kami nggak perlu ngantri banyak. Dari blog yang Loli baca, pembeli mesti sabar antre lumayan lama,, waw..

Menatap si mas-mas penjual leker. Lumayan, sambil nungguin si leker jadi. 

Voila, this is it! Leker tuna pesanan saya.. Hmm..

Okay pembaca, mungkin baru itu yang bisa saya ceritakan mengenai sedikit kuliner Semarang. Saya yakin masih banyak kuliner Semarang yang enak-enak yang belum saya ceritakan. Ahahaha,,

Selamat makaaan :D

2 komentar :

Flourentina mengatakan...

Pram, kenapa namanya simpang lima?

Priambudi Putra mengatakan...

karena ada lima jalan yang terkoneksi membentuk pola radial seperti kebun raya bogor mba Indah.. Adapun jalan tersebut yaitu Jalan Pandanaran, Jalan Gadjah Mada, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Diponegoro (akses ke Solo/Yogya). Di tengah-tengah pertemuan kelima jalan tersebut ada semacam ruang terbuka publik (square) yang disebut sebagai Simpang Lima. Tapi ini bukan alun-alun Semarang Mbak.. next time yah aku coba cari, hehe