expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 06 Mei 2015

Bogor Heritage Run 2015

Akhir April lalu, si Ray ngasih informasi bahwa ada acara Bogor Heritage Run (lari-lari Bogor pusaka, wkwk). Seperti biasa, saya malas lari ngelilingin Kebun Raya Bogor. Lumayan itu track-nya. Saya udah ngebayangin, karena pernah ikutan ngiring karnaval ngelilingin Kebun Raya: nanjak di sebelum Tugu Kujang, melandai di Raya Padjadjaran, menurun menuju Sempur, nanjak menuju Istana Bogor, lalu landai-menanjak sampai Suryakencana.


Peserta bejibun. Bujubuneeeng,, maaaakk
Akhirnya, kami rencana lari bertigaan, bareng si Refi. Refi bilang saya dan dia harus gangguin peserta yang lain biar Ray juara. Kebayanglah konyolmya kayak apa. Bhahaha.. Yeah kami berdua larinya jauh dah di bawah kapasitas si Ray. Kami maunya ikut yang kategori umum, tapi si Ray maunya yang profesional karena nanti dapat medali. Okelah, kami pilih kategori profesional.

Malam sebelum hari-H, Refi mengalami musibah sehingga harus pulang ke rumahnya, jadilah tinggal kami berdua yang tersisa. Jadi ragu mau lari, soalnya si Ray kalo lari kaya cheetah. Cheetah cheetahtah. Saya mah, war wer war wer doang. Keberatan lemak.


Asli capeknya, padahal cuma 6,5 km

Nekat mendaftar sebagai kategori profesional, jiper sebenernya ikut acara kaya gini. Bodo amat lah, yang penting lari. Ternyata garis start pun lumayan repot: dari dalam Kebun Raya, ngelilingin sampe deket Istana, keluar di gerbang utama, muter lewat Padjadjaran - Jalak Harupat - Juanda - dan berakhir di Suryakencana. Ray udah ninggalin saya sejak di Kebun Raya. Yowislah. Saya lari biasa aja, Yang penting nyampe, pikir saya. Saya sempet jalan lumayan lama, nggak kuat ama tanjakan. Setibanya di garis finish, saya udah nggak mikir apa-apa. Rasanya cuapeek. Belom pernah ngelilingin Kebun Raya Bogor, lari pula, terseok-seok, bahahaha.. Ray udah tiba lebih dulu, sayang sih dia nggak dapat medali 100 terbaik. Dia mah latihan lari tiap hari. Lah saya, ujug-ujug dateng tanpa latihan dan langsung lari *nekat. Oya, lari ini kami persembahkan buat Bro Ref. Lupa mau bikin tulisan di kertas.



Pada akhirnya, lagi-lagi saya mengakui, bahwa berkeringat karena lari memang menyenangkan dan menyehatkan. Olahraga yang menggerakkan hampir semua bagian tubuh, dan selalu bikin saya pegel setelahnya hehe. I will keep on running!

Kamis, 30 April 2015

Ke Nikahan Bro Ref

Horee..personil om-om IPB menikaah. Yeah, you rock bro! Saatnya beraksi sebagai Maroon 5 di acara resepsinya, bhwehehehe..


Tak afdol tanpa swafoto bersama keluarga Paysage2012 :D
Kalo Maroon 5 hadir di acara pesta pernikahan trus manggung nyanyi-nyanyi, kami hadir di kondangan temen tapi ber-swafoto alias nyelfie. Ha..ha.. Bawa tongsis memang pilihan tepat soalnya kalian pasti butuh cepat buat ngaplot kan.. wkwk. Awalnya saya nggak mau bawa tongsis. Malas. Tetapi Ray bilang bawa aja, ternyata memang banyak berguna. Memfoto orang banyak dengan ringkas, ha..ha..


Refi dan Silvi

Sebenernya saya sejak awal mau naik motor ke Tangerang, tempat resepsi pernikahan bro Ref. Tapi setelah ngecek GoogleMaps dan ternyata jauh banget dan yakin bakal bikin tepos duduk di motor, walhasil saya berpikir buat nyarter mobil bareng  anak-anak Tengtong. Tapi, jelang hari H, malah Glory dan Ray yang inisiatif duluan ngajak naik commuter line ke Tangerang. Kedengarannya menyenangkan! Saya belum pernah ke Tangerang, dan naik kereta api akan lebih cepat dan nyaman.

Boen Tek Bio

Sebelum hari-H nikahan bro Ref, saya nginep di tempat Glory di bilangan Pasar Minggu. Ray tiba lebih dulu dari Bogor naik kereta juga. Rencananya kami bertiga akan berangkat bersama dari Pasar Minggu Baru. Kebetulan tempat Glory ada kamar kosong jadi kami bisa nginep disitu.

Padahal cuman mau kondangan, ampe nginep-nginep segala kalo dipikir :D Hal yang menyenangkan adalah saat kau masih bisa bersama teman-teman mainmu. Kau bisa keluyuran bersama mereka, kemana saja, makan suka-suka, tidak ada yang memarahi. Setidaknya sebelum menikah, kau masih 'merdeka'. Ahahahah. Saya nggak mengatakan bahwa menikah itu 'mengekang', tetapi, saat menikah, kau tentunya harus fokus dengan pasangan bukan? Jadi, bersyukurlah yang sudah menikah. Kau berani bertanggung jawab. Bagi yang belum? Nikmati saja dulu kesendiranmu. Mainlah yang jauh. Nikmatilah momen :D

Walhasil, saya baru tertidur jam 1.30.




 Merah, warna khas masyarakat Tionghoa yang penuh semangat

Sepanjang perjalanan dari Pasar Minggu Baru ke Tangerang yang cuma bayar empat ribu itu (serius, murah banget pakai commuter line), saya menikmati perjalanan. Sudah lumayan lama tidak naik kereta. Bahkan ke Tangerang pun belum pernah. Oya, fyi, jika kau hendak ke Tangerang, dari arah Bogor kau naik commuter line tujuan Jatinegara lalu berganti kereta di Stasiun Duri okeh. Alhamdulilah karena Sabtu, suasana tidak begitu ramai oleh penumpang. Cuaca juga mendung-mendung tipis adem. Trus tidur *lho. Tiba di Stasiun Tangerang, tuh dia, ada janur kuning. Oalah,,deket amat dari stasiun. Eco banget.

Mural di daerah belakang tempat resepsi. Kereeen..

Bisa aja ini Refi milih lokasi resepsi. Kawasan pusaka sepertinya. Setelah akad dan menanti waktu resepsi yang dimulai jam 11 siang, saya dan dua orang kawan saya berjalan menyusuri kawasan Pasar Lama. Menurut Ray kondisi jalannya khas kawasan kota lama gitu. Saya jadi teringat Kota Solo. Memang agak mirip suasananya. Bangunan-bangunan lama juga masih banyak berdiri.

Setelah menyusuri jalan sambil menahan lapar (belom sarapaaaan), kami makan di restoran Cina Medan halal di kawasan pasar. Mie ayam. Uenaak.. Minumnya pun liang teh, Kata yang punya, itu dari rumput-rumput gitu (waduh, bukan zoysia matrella kan bu?). Ternyata rasanya segar, mirip rasa liang teh yang dijual di minimarket. Mie ayamnya juga sedep,.kaldunya...rrrr..

Baguus

Puas makan mi, kami menyusuri Pasar Lama. Ada Boen Tek Bio yang mengingatkan saya dengan Pecinan Suryakancana Bogor. Ada juga museum peranakan Cina Benteng di dalam pasar. Ada banyak penjual kue-kue dan toko-toko khas pecinan. Dan suasananya cukup bersih. Untuk kamu yang punya waktu beberapa jam saja di Tangerang, berjalan-jalan di sekitar pecinan ini bisa jadi alternatif wisata kamu, hehe..

Pohon janda merana (Salix babylonica) yang ditanam sepanjang kawasan bantaran Sungai Cisadane. Got the feeling? Tanaman itu bisa menciptakan nuansa taman bergaya China.
Kembali ke tempat resepsi nikahan Refi dan Silvi. Kami bertemu dengan teman-teman lanskap maupun teman-teman dari manajemen sumberdaya perairan, jurusannya Silvi. Ngobrol, makan,  ketawa hahahihi, foto-foto. Bahkan temen saya Budut sempet nyanyi, ha..ha.. Sudah hampir jam satu dan suasana juga mulai sepi. Dan swafoto pun beraksi. Yeah, kami mungkin hanya akan bertemu pada momen yang terbatas. Momen menghadiri resepsi salah satunya. 



Suasana Pasar Lama sore hari jelang malam minggu


Jumat, 03 April 2015

Lonely Day


It was gonna be a lonely, lonely, lonely, lonely day...


Minggu, 29 Maret 2015

Eco Park Cibinong

Suatu hari saya melihat postingan adek kelas saya di instagram. Dia bersepeda di Eco Park Cibinong. Whew..saya yang rajin melintasi rute Bogor - Jakarta malah nggak ngeh dengan lokasi yang satu ini. Dilandasi oleh rasa penasaran yang kelewat tinggi, jadilah saya mencari si Eco Park ini. Ternyata Eco Park ini 'tersembunyi' di dalam kompleks Cibinong Science Center LIPI.


Namesign-nya aja eco, dibikin dari batu-batu disusun


Cibinong Science Center yang biasa disebut LIPI Cibinong letaknya strategis, di tengah-tengah jalur dari Jakarta menuju Bogor, tepatnya di Jalan Raya Bogor Km. 46. Dari arah Jakarta atau Bogor via Jagorawi, ambil exit Citeureup-Cibinong. Bisa juga via exit Nanggewer. LIPI Cibinong berbentuk kompleks dan banyak pusat penelitian, diantaranya yang saya tahu adalah terdapat Badan Informasi Geospasial (BIG) yang dulu bernama Bakorsurtanal. 

Sebelum saya berhasil nemu taman ini. pas saya rehat di tepi jalan dan bertanya dengan mas-mas yang lagi lewat, dia nyeletuk 'Ooh.. mau ke bakor ya mas? Itu ada tulisan LIPI masuk aja sampe mentok nanti ketemu kok Danau Dora,' ujarnya. Bakor adalah singkatan dari bakorsurtanal. Nah, kalau yang Danau 'Dora' itu entahlah.. check it out

Dalam hati saya ngakak mulai dari gerbang. Sepanjang jalan, banyak main sign alias penunjuk jalan yang mengarahkan ke 'Ecology Park' alias Taman Ekologi. Oh my God, ada juga ternyata Eco Park di Bogor, wuahaha. Yang saya tahu Eco Park ada di Ancol (dan itu cuma lewat, belum pernah masuk). Eco Park Cibinong ini menurut saya lebih sepi - peaceful. Kebetulan saya juga rada malas kalo ke taman tapi suasananya berisik. Tempat ini juga cocok buat gelar tiker dan makan atau tidur siang, ahahaha. Banyak anak sekolah berpasangan lagi asik pacaran. Ada juga yang lagi pemotretan untuk pre-wedding.



Fontasi yang mengingatkan saya dengan papan nama tanaman di Kebun Raya Bogor

Simple but powerful

Menuju tengah danau

Danau 'Dora' yang sepintas mengingatkan saya pada kolam depan Cafe Dedaunan Kebun Raya Bogor. Bedanya, di sini nggak ada teratai gede-nya, hehe

Untuk ukuran, Eco Park ini tidak seluas Kebun Raya Bogor. Di sudut timur ada banyak pepohonan yang sengaja ditanam. Sementara areal rumput (lawn) ada di sisi barat persis dekat pintu masuk pengunjung. Danau 'Dora' di tengah taman ini menurut saya adalah focal point karena hampir semua pengunjung asyik duduk di tepi dek kayu memandang ke arah danau. Saat saya iseng bertanya kepada petugas keamanan, prtugasnya malah berkelakar saat saya bertanya kenapa namanya Danau Dora. "Wah Mas, nama Danau Dora mah pemberian nama dari warga sekitar aja. Yang saya tahu ini Danau Spongebob, tuh Patricknya," ujar si petugas seraya menunjuk petugas taman yang kebetulan tubuhnya agak gemuk (hedeuh... ). Untunglah di sini nggak ada Booth alias monyet-nya Dora, ahhaha..

Saya jadi teringat Garden by The Bay-nya Singapura..  Hey, di Eco Park ini juga nggak kalah indah lho, hehe (Mungkin kurang pemandangan gedung-gedung tinggi seperti di Singapura, ahaha). Oya untuk fasilitas hanya ada gazebo pemirsa. Lebih baik bawa bekal sendiri (ingat, jangan buang sampah sembarangan okeh). Bersih lho di sini, alhamdulilah pengunjungnya sadar, nggak pada buang sampah sembarangan.



Cantik

Ada banyak pepohonan buah di sini, yang pertama saya lihat karena tajuknya yang khas adalah pohon bisbul. Pohon ini banyak di parkiran Rektorat IPB jadi saya hapal banget, hehe. Ada juga rambutan, dan beberapa jenis tanaman hias lainnya. Kamu bisa liat ada beberapa jenis tanaman air, ada juga palem merah yang dulu merupakan tanaman elite jaman dulu. Pas saya datang, beberapa petugas baru beres memangkas rumput. Hmm.. cobalah hirup aroma rumput yang baru dipangkas! Mungkin tak seromantis aroma tanah basah kala hujan turun, tapi tak ada salahnya dicoba, hehe.


Asli, di sini saya pengen tidur, soalnya sepii dan semilir angin. Zzz..

Bisbul! Udah pernah nyobain belum? Coba deh :D

Dek
sketch up your mind in landscape!





Rabu, 25 Maret 2015

Poster TL

Saat saya sedang beres-beres kamar kosan yang udah nggak karuan kondisinya, tiba-tiba saya menemukan sebuah poster berwarna dominan biru tertempel di dinding. Nyaris tertutup lemari. Poster jaman saya jadi asisten kuliah Tanaman dalam Lanskap di Departemen Arsitektur Lanskap (ARL). Di tengah-tengah gundukan baju dan buku, mata saya jatuh pada poster. Nyengir sendiri.

Kuliah Tanaman dalam Lanskap adalah kuliah wajib di ARL. Kuliahnya asik, melihat-lihat slide kuliah penuh bunga-bunga, pohon, rumput, dll. Praktikumnya adalah jalan-jalan, bikin laporan, dan presentasi. Saya dan dua orang teman saya mengasisteni adek-adek kelas minor ARL. Minor ARL adalah paket kuliah yang ditawarkan oleh ARL kepada mahasiswa di luar Departemen ARL. Mereka yang mengambil minor ARL dengan mata kuliah pilihan Tanaman dalam Lanskap diharuskan membuat poster sebagai tugas praktikum yang selanjutnya akan dipresentasikan saat jam praktikum. Asyik sih, selama praktikum kamu disuguhi gambar-gambar tanaman aneh-aneh, unik, berasa didongengin. Say good bye rumus kimia, fisika, matematika, kalkulus..di ARL kami nyaris nggak menemukan rumus-rumus ribet *hohoho

Saya masih ingat kebanyakan mereka memilih minor ARL karena mereka mau refreshing *lha. Mereka niat-niat lho. Mungkin niatnya setara dengan mereka yang memang mayor ARL, hahaha. Palingan mereka suka ngeluh karena kerjaannya dikasih nama latin, nama lokal, mengingat jenis-jenis tanaman, fungsi, penggunaan, dll. Tapi secara umum mereka excited dengan ARL karena mereka bisa jalan-jalan. Jalan-jalan di Jalan Padjadjaran, di Kebun Raya Bogor,, demi tugas pengamatan tanaman lanskap hihihi. Enaknya di ARL kebanyakan tugas adalah tugas kelompok. 'Cause you'll never walk alone - filsafat hidup di ARL. Jadi asisten di ARL memang harus bisa bijak. Namanya praktikan, ada aja jurus dikeluarin biar bisa dapat tambahan waktu huahahaha. Ada yang rajin sms (dulu jaman sms cuy), nelpon, minta contoh alias master, dll. Ada yang ijin mau keluar duluan karena mesti ngesot ke kuliah berikutnya, bentrok kuliah (ini lumrah banget di IPB), minta nilah ditambah, macem-macem dah. Namanya juga mahasiswa :v

Oke kembali ke poster. Poster berwarna dominan biru ini adalah poster favorit saya. Entah. Suka dengan layoutnya, bahannya, warnanya, serta gambar-gambarnya yang bagus. Temanya adalah tanaman yang ada di pantai. Yang bikin konyol adalah ada gambar pohon asam nyempil. Sepertinya ini salah kami, asisten tanaman lanskap, ngebaginya kurang jeli :D Tak apalah, secara keseluruhan udah oke punya kok ini poster. Poster ini ibarat benda pusaka bagi saya, bukti bahwa saya - di masa lalu - pernah ikut membantu dosen sebagai asisten.

Salah seorang praktikan saya yang membuat poster ini juga lanjut sekolah di IPB. Melalui teman saya, saya meminta untuk mengabarkan kepada praktikan saya bahwa poster ini akan saya kembalikan. Belakangan saya baru sadar, cuma poster ini yang bersemayam di kamar kosan saya. Praktikan saya yang membuat poster ini mengatakan bahwa poster itu untuk saya. 

Seandainya saya adalah Voldemort, poster ini adalah Horcrux saya *tssaaahh

Kemudian, beberapa minggu berikutnya, teman saya yang mengajar di Kota Malang tiba di Bogor. Kami waktu itu ngobrol nostalgia jaman kuliah di ARL. Dia bilang dia perlu contoh poster tanaman jaman kuliah dulu. Dia perlu untuk bahan ajar mahasiswanya. Hmm.. Akhirnya, poster berwarna biru itu saya berikan padanya. Mungkin dia lebih perlu ketimbang saya, untuk saat ini.

Poster itu sekarang sudah tiba di Malang. Suatu saat, saya akan menjumpainya :)

Selasa, 24 Maret 2015

Es Sekoteng

Sepasang makanan yang bikin nguilerr
Kali ini saya nyobain es sekoteng untuk yang kesekian kalinya. Perasaan saya pernah posting tentang es sekoteng di blog ini, hehe. Kali ini saya makan es sekoteng dalam nuansa yang berbeda dan kesempatan yang berbeda. Spesial gitu deh, eheheh.. :P Kuliner yang ada di Jalan Sawo Jajar Bogor Permai Kota Bogor ini memang selalu bikin nagih. Saat saya menikmati kuliner ini, Bogor sedang turun hujan dengan lebatnya. Lumayanlah pembelinya lagi sedikitkarena hujan. Jadi bisa nyari lapak buat duduk. Biasanya, saat siang terik, buanyak banget pengunjung yang datang hingga mesti cepet-cepetan nyari lapak. Selain es sekoteng, saya juga berhasil nyobain pempek kapal selam yang ternyata rasanya ikan banget. Sedapnya setara saat saya dulu icip di Palembang, hmm.. Untuk harga es sekoteng masih Rp 12.000 dan pempek kapal selam Rp 19.000. Agak nekat juga ini sebenernya, menyandingkan es sekoteng yang manis-dingin dengan pempek yang pedes-asam. Nggak tiap hari ini, sesekali boleh lah makan lupa diri.

Oya masih ada jajanan lain seperti bebek kremes, toge goreng, siomay, mi ayam, bakso dll di sini. Harga memang agak lumayan tetapi banyak teman saya bilang rasanya enak-enak. Jadi, kalau kamu lagi ke Bogor, jangan lupa mampir.


Selamat makan!

Kamis, 12 Maret 2015

Selamat Ulang Tahun!

Usia 27 tahun setara dengan 9.500 hari.

Jujur saya awalnya bukan orang yang berharap pada ucapan ulang tahun. Dulu saya adalah orang yang sangat mengharapkan hal itu. Sampai saya menginjak bangku SMA kelas 3, saya selalu mendapat ucapan selamat. Menginjak masa bangku kuliah saya sudah hilang rasa akan hal itu. Entah kenapa. Tidak ada yang istimewa setiap saya ada di dalam tanggal saat saya dilahirkan. Sebatas ucapan dari Mama dan Bapak, saudara-saudara saya, dan beberapa teman dan sahabat. Sudah.

Ulang tahun sebenarnya adalah momen introspeksi diri. Saya makin tua. Yah, saya merasa memang kadang masih kekanakan. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan - kata orang-orang. Bukan kewajiban merayakan ulang tahun. Hanya momentum kita bertambah usia secara angka.

Apa mungkin hidup mulai terasa begitu menyeramkan? Semakin berkurang usia. Semakin menua. Beberapa literatur menyebutkan bahwa usia-usia saya ini adalah usia optimal. Usia dewasa yang sedang matang-matangnya secara fisik. Mungkin, dalam kapasitas psikologi belum. Usia yang disaat teman dan sahabat saya sudah punya keluarga atau bahkan memiliki (banyak) anak. Usia dimana banyak orang bertanya kapan menikah kapan berkeluarga dan kapan-kapan lainnya.

Dan saya mulai malas menanggapi ucapan orang-orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Mungkin saya sedang ada dalam momen malas menanggapi kala itu.

Hingga pada tahun-tahun belakangan saya mulai sadar, orang-orang di sekitar saya sejatinya hanyalah tulus mengucapkan ulang tahun sebagai suatu bentuk pengakuan akan eksistensi saya di dunia ini. Tiada maksud mencoba menghibur, atau maksud basa-basi. Seharusnya memang saya-lah yang harus mengerti mengapa mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada diri saya ini. Adalah kerangka berpikir yang harus diubah. Mereka... mungkin mencoba mendoakan saya. Tidak selalu materiil yang membahagiakan seseorang bukan? Ucapan langsung, kiriman pesan, dan entah apapun wujudnya, adalah cara seseorang memberikan perhatian mereka kepada yang berulang tahun. Dan saya sekarang merasa berbahagia dan bersyukur bisa mengenal mereka, bahkan mengingat detail diri saya.

Konyol rasanya, pada hari ke-9.500 saya ada di dunia, teman-teman kampus saya datang ke kosan saya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dengan cara mereka. Mereka mencoba membuat momen bahagia untuk saya. Saya sangat senang. Tidak akan setiap hari saya mengalami hal-hal konyol, pikir saya.


Ada banyak cara untuk berbahagia. Menerima dengan senang hati ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai cara adalah salah satunya.  Selamat ulang tahun!

Senin, 09 Maret 2015

Cap Go Meh - Pesta Rakyat Bogor 2015

Ni hao ma?

Cap Go Meh - Pesta Rakyat Bogor 2015 ini adalah kali ketiga yang saya ikuti. Yang pertama saya ikuti adalah saat saya dan teman saya, Tish, iseng nyusul teman-teman kami yang praktikum pengamatan kegiatan Cap Go Meh di Suryakencana. Mereka adalah trio pelestarian Ray-Refi-Aini featuring Sapu beserta asisten Kak Zaini dan Bu Nunung. Nggak berhasil nemu mereka dimana, kami cuma nonton dari ujung depan Vihara Dhanagun sambil minum sekoteng panas :v Koplaknya, si mamang penjual sekoteng ngajak ngobrol tentang sejarang Cap Go Meh, Kaisar Pu Yi, dll. Si mamang ngakunya keturunan Tionghoa dan udah lama leluhurnya berbaur sama orang Bogor, hahaha (mabok budaya). Habis mabok budaya, kami ketemuan sama beberapa orang teman kami, magrib bareng, trus bubar makan (jadi intinya saya nggak begitu notice ama pawai budayanya).

Yang kedua, tahun 2014 lalu. Kali ini saya beneran niat mau lihat. (Cerita lengkapanya di sini ya). Cap Go Meh 2014 saya rasa sangat puas dan capek karena beneran nonton segala kembang api pun ada, ahahaha.

Yang ketiga di tahun 2015 ini. Awalnya sih malas karena udah dipastikan akan nonton atraksi budaya, pawai, benda-benda pusaka, dll, akan dikirabkan dari kawasan pecinan Jalan Suryakencana. Entah kenapa hari itu saya yang sebenarnya malas mendadak pengen ikut. Soalnya ada yang nyari momen gitu, haha. Jadilah saya dan teman-teman saya pergi ke Bogor Kota.


Menunggu si master Ray tiba dari Jakarta. Ngumpul di Kampus IPB Baranangsiang


Underpass Jalan Pajajaran. Ada galeri keren di sini. Jangan lewatkan yes.
 Sambil nunggu si Ray, kami menelusuri Jalan Otto Iskandardinata (Otista) menuju Vihara Dhanagun. Kondisi udah sangat ruame. Jujur saya capek banget jalan kaki nanjak, mungkin karena banyak orang jadi susah buat jalan dengan cermat. Ada banyak petugas keamanan. Mungkin karena ada Pak Jokowi nonton karena belakangan ini beliau demen tinggal di Istana Bogor. Beberapa lama kemudian Bro Ref inisiatif agar kami mutar lewat belakang Pasar Bogor, yaitu Jalan Roda. Cara jitu agar kami bisa tiba di kawasan Suryakencana bagian tengah.


Jalan Roda, jalan tembusan menuju Jalan Suryakencana dari belakang Pasar Bogor. Katanya Hanni sih kaya di Korea dan keren gitu. Jadilah grufie di sini, wkwk


Bikin momen buat teman baru kami ini, ahaha. Before she go abroad we want make her comfort with us  :D

Jelang maghrib, pawai sempat berhenti lumayan lama. Mungkin macet dari ujung Suryakencana sana. Ray pun mengabari kami bahwa dia terjebak macet di Sempur. Yasudahlah kami balik ke Botani janjian di sana. Hanni dan Aini sempet membeli buah naga di Pasar Bogor. Mungkin dalam suasana Imlek atau apa mereka beli buah naga, ahahahaha *ngarang.

Yang datang buanyak banget, katanya sih ada Jokowi. Entah di sebelah mana. Yakali Pak Presiden ikut nyempil-nyempil nonton ini, ahahahah

Pas Magrib si Ray baru nongol, kelewatan dah nonton bareng pawai budayanya. *langsung membelot ke dalam Botani*


 Ray bete karena postingan saya di grup, ahahaha. Maap broo. Emang gak niat bikin dia iri soalnya dia terlambat hadir. Jadilah grup watsap kami isinya foto-foto kami semua (saking rajinnya, di kelas saya ini apa-apa dibikin grup watsap).

Kami berenam tiba di Tugu Kujang. Menimati jamur dari Pekalongannya Mariski dan ngeliatin ogoh-ogoh yang udah sampe di Tugu Kujang. Setelah bingung-bingung mau ngapain lagi akhirnya kami magriban ke Mesjid Alumni IPB di dekat Pool Damri. Beres magriban, entah siapa yang mencetuskan, kami pergi ke lot*te*ria demi nukerin promo buy 1 get 1. Dasar mahasiswa gak mau rugiii,,ahahahah. Jadilah kami berenam ke sana mesen ayam+nasi. Yang penting kenyang.



Nyelfi ama dosen ilmu budaya dan pusaka saya, Master Ray, ahahahah. Saking budayanya dia nonton pawai pake baju batik coba.

Tugu kujang dan hotel amaroosa. Entah kenapa selalu inget tragedi kelas Esling dimana itu tugu dipindahin ke atas hotel dan presenternya juga bingung sendiri, bhuahahahaha

Xie-xie!
Yeah, festival kaya gini sebenarnya andalan untuk wisata Kota Bogor sih. Jujur Kota Bogor udah keren banget bisa mengadakan festival budaya kaya gini. Semoga makin banyak festival budaya di kota hujan ini dan semoga makin keren.. aamiin. Usul saya, coba ada festival kuliner gitu ya, dijamin saya akan datang dengan tulus ikhlas, ahaahaaha...

Cap Go Meh kali ini saya senang, bisa kumpul sama teman-teman. Intinya memang berkumpulnya sih. Pawainya mungkin sudah biasa dilihat, tetapi kumpul-kumpulnya itu yang susah. Nikmatilah saat-saat bisa berkumpul dengan kawan ya guys :D

Jumat, 06 Maret 2015

SBE

Salah satu metode yang jamak dilakukan oleh jurusan arsitektur lanskap adalah metode scenic beauty estimation alias  SBE. Metode ini adalah pendekatan dalam upaya mengkuantifikasi suatu keindahan objek oleh pengamat tertentu sehingga dapat diperkirakan nilai estetikanya (ebuset..awas mabok). Apapun bisa di SBE-in: taman, hutan, tajuk pohon, gunung, segala objek alam, bahkan mungkin orang yang ditaksir (eaa...).

Hal yang menyebalkan dari metode ini adalah ketika kau harus mengumpulkan responden untuk diminta melakukan penilaian. Pernah disuruh ngisi kuesioner online sama temen? Pernah diminta sama mbak-mbak/mas-mas di tempat umum untuk mengisi semacam angket? Mengisi SBE mirip-mirip seperti itu. Pasti rasanya malas ya?

Sebagian orang merasa sangat malas untuk mengisi.

Padahal, mengisi kuesioner adalah pekerjaan paling gampang sedunia yang mikirnya gak pake lama. Tapi ya tetep aja sebagian orang merasa malas dengan pekerjaan yang paling gampang itu, hahha.
Mungkin karena mereka hanya dibalas dengan ucapan ‘terima kasih’, wkwkwk.
Kebayanglah betapa pusingnya saya mencari responden untuk mengisi SBE penelitian saya. Walhasil temen saya Ray menyarankan saya untuk membuat acara berkedok ‘silaturahmi’ kelas. Jadi saya membuat woro-woro jarkom ke tiap angkatan untuk hadir ke kelas. Saya dibantu Ray juga menyiapkan nasi padang sebagai upah mengisi kuesioner. Gaji dari dosen pembimbing saya habiskan saja untuk beli nasi padang.

Dan ketika di kelas, ketika sebagian besar peserta ‘silaturahmi’ sudah tiba, awalnya saya membuka acara dengan sesi memperkenalkan diri masing-masing. Setelah itu, saya mengumumkan bahwa maksud dibuat acara itu adalah untuk membantu saya sebagai responden SBE. Kontan sebagian besar teman-teman saya protes, ahahaha. Ada udang di balik batu. Yeah, cincailah. Dikasih nasi padang juga nurut. Hahaha.. Akhirnya kuesioner SBE saya berhasil mendapatkan 30 responden.
There is no free lunch. Saya butuh jawaban, responden butuh ‘imbalan’. Beberapa teman mengatakan sambil berkelakar kalau ini ‘penipuan’. Saya balas saja dengan mengatakan bahwa mungkin kalau saya mengundang dengan lugas bahwa saya meminta mengisi kuesioner SBE saya mungkin tidak akan ada yang datang. Teman-teman saya lantas tertawa, nyengir. Mungkin membatin. I don't care.
Setidaknya saya jadi tahu betapa susahnya mengumpulkan jawaban responden via kuesioner. Pelajaran moral: bantulah temanmu yang meminta kamu sebagai responden (meski tanpa imbalan nasi padang). Mana tahu di masa depan kamu yang justru akan meminta bantuan mereka, entah apa pun itu.