expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 25 April 2014

Mengintip Pantai Sawarna

Berpikir untuk jalan-jalan adalah sesuatu yang selalu saya pikirkan setiap hari. Hahaha..yeah sungguh. Selalu ada kepikiran destinasi wisata yang ingin dikunjungi. Bosan banget hidup hanya berkutat di Jabodetabek ini hehe. Ceritanya suatu hari kakak ipar saya menawarkan untuk jalan-jalan ke Pantai Sawarna. Dan itu pake motor - touring! Wow..kebayang sudah asiknya keluyuran ke pantai selatan di Banten itu dengan motor metik pula :D

Pantai Sawarna terletak di wilayah Provinsi Banten, tepatnya di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak. Perlu sekitar 4 jam jika mengendarai motor dari Ibukota. Tim touring kami terdiri dari saya, adik saya, kakak ipar saya dan isterinya (tim touring kecil sih, hehe). Bismillah.. Brrrmmmm..... perjalanan dimulai via Jalan Raya Bogor (dan itu membosankan karena lempeng-lempeng aja treknya, hehe). Memasuki perbatasan Kota Bogor dengan Ciawi, jalanan mulai nggak membosankan. Rute Bogor-Sukabumi yang penun dengan iring-iringan truk tronton dan truk barang seukuran gaban menemani perjalanan. Oya, rute ini juga terkenal macet. Lubang-lubang di jalan menganga menyebalkan. Beberapa kali motor yang kubawa melesap ke dalam lubang (semoga shock breaker ngga kenapa-kenapa). Kami melalui jalur alternatif untuk menghindari wilayah Cicurug yang kesohor macetnya, hehe. Setelah itu kami mengambil jalur Cikidang. 
Jalur Cikidang merupakan jalur alternatif menuju wilayah Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Treknya mantapp..nggak bikin ngantuk! Hahaha..hati-hatilah jangan keasyikan tancap gas ya, banyak banget tikungan tajam yang rawan kecelakaan. Tapi, lanskap yang ditawarkan sepanjang perjalanan memang sungguh menawan: pemandangan Gunung Salak, Halimun, serta perbukitan menghampar luas. Banyak kebun kelapa sawit dan karet juga disini. Nguueeenggg...naik..turun.. Mantap dah. Persiapkan fisik badan, fisik kendaraan, serta kewaspadaan ya teman-teman :D. Setelah kira-kira sejam melalui rute Cikidang, kami tiba di Pelabuhan Ratu dan mengambil ke arah Cisolok. Perbatasan Jawa Barat-Banten itu ternyata sungai lho dan ada miniatur menara masjid banten sebagai tugu perbatasan (sayang, ga kefoto :( )

Ooopss.. indikator tangki bensin menunjukkan sudah separuh bensin yang terpakai. Terpaksa deh ngisi bensin yang seliternya Rp 8.000. Nggak lucu juga kalo motor harus mogok sementara treknya luar biasa serem: naek, turun, nembus hutan, sepi pula. Saran saya sih selalu penuhi tangki bensin ya! Kami tiba di Pantai Sawarna sekitar pukul 18.30 WIB. Kami langsung mencari penginapan murah, lumayan dapet yang tiga ratus ribu semalem.

Trek yang naik-turun-nikung, hamparan sawah, ladang, dan hutan, empat jam di jalan, semuanya terbayar saat melihat pantai. Yeahh! :D
Pantai Sawarna memang kurang 'terdengar' jika dibandingkan dengan tetangganya: Pelabuhan Ratu. Dan yang mulai terkenal, Ujung Genteng. Pelabuhan Ratu terkenal dengan pelelangan ikan dan pantainya yang luas menghampar, sementara Ujung Genteng terletak nun jauh di pesisir selatan Sukabumi dan terkenal karena penyu dan ketenangannya. Sebenarnya sih Sawarna ini hanya masalah publikasi dan informasi aja. Infrastrukturnya juga masih kurang. Nggak perlu infrastruktur yang jor-joran juga. Less is good. Wisatawan domestik memang lebih keren sih menurut saya. Kondisi yang secara teori kurang ini itu, nggak berpengaruh nyata. Pengunjung asyik menikmati lanskap pantai..hmmm.. :D
Dengan akses yang relatif sulit dan menantang, nggak menghalangi pengunjung untuk datang. Lanskap Sawarna sebenarnya 'sederhana': ada karang batu yang menjulang, ada debur ombak, ada orang-orang bule yang surfing. Pesan moralnya adalah, lanskap alami dimana-dimana berlaku sama: memberikan fungsi keindahan, hiburan, dan relaksasi bagi manusia. Nggak heran jika banyak sebagian besar orang-orang kota besar yang datang ke sini.


Pantai Karanghawu, Pelabuhan Ratu
Selepas menikmati Sawarna, perjalanan dilanjutkan ke Karanghawu. Pantai ini terletak di Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat. Deburan ombak, background perbukitan serta cerahnya langit memuaskan visual saya. Entah kemana perginya itu rasa capek, hahaha.. Oya di sini ada hotel legendaris Inna Beach Hotel. Bagus deh, halaman hotelnya laut (Byurrr.,basah dong, wkwk). Sayang nggak saya foto. Padahal bagus lagi sunset, hehehe.
Pualngnya kami melalui rute yang sama, via Cikidang. Brrm... Memang banyak cara untuk berlibur. Nggak perlu mahal. Dan setiap jengkal tanah di Indonesia bisa dibuat wisata. Wisata..I love it!




Selasa, 22 April 2014

Manuver Pemotor dan Jalan Baru Bogor

Akhir-akhir ini tiap perjalanan ke kampus, saya sering liat kecelakaan motor. Yeah, tingkat kecelakaan motor memang paling tinggi. Makanya kakak-kakak perempuan saya nggak diijinin pakai motor sama Bapak. Saya juga kurang setuju sama pengendara motor perempuan..hehe,,maap bukannya rasis, tapi pengendara motor perempuan kebanyakan agak 'mengerikan' dalam artian mereka sering salip sana-sini dan doyan main klakson. Nyalipnya itu woww..nggak pake acara nengok kiri-kanan langsung whusss.. Dan anehnya mereka suka main klakson toet-toet.. Kadang suka memaklumi c kalo mbak-mbak atau ibu-ibu main klakson yang-tidak-pada-tempatnya. Sabar..

Jenis motor yang umum saya temui di jalan yaitu: motor bebek, motor skuter matik, dan motor gede. Sebenernya ada banyak jenis motor sih tapi ya tiga jenis itu yang sering saya temui di jalan. Makin hari, motor memang makin liar sih. Seperti terburu-buru dan tergesa. Mereka umumnya nggak sabar untuk jadi yang terdepan. Lampu lalu lintas belum hijau pun berani mereka terobos,,brmmm.. Waduh. hati-hati aja deh kalo ketemu tipe pemotor yang urakan macam begini.

Fenomena pemotor yang saya sering jumpai adalah tergesa-gesa, serobot sana-sini, nyelap-nyelip. Manusiawi banget kok. Semua ingin cepat sampai ke tempat tujuan. Tapi memang kebanyakan jadi sosok yang beringasan ketika ada di rimba jalan. Manuver yang tidak wajar.

Lingkungan membentuk karakter seseorang. Karakter kota yang keras, serba berelemen keras, serba dituntut cepat dan tingkat polusi tinggi, belum lagi tekanan batin, pikiran, pekerjaan, maupun urusan pribadi, tentunya berperan dalam meningkatnya fenomena pemotor yang beringasan. Nggak usah jauh-jauh, coba deh ke Jakarta. Rasakan sensasinya jalanan di Jakarta.

Yang punya motor nyalahin mobil (huuu..pake mobil sendirian. Bodi gede tapi isinya cuma satu orang..). Yang punya mobil pun nyalahin motor (dasar motor, bawa kendaraan nggak pake aturan..) Begitulah.

Dan menurut saya, Bogor Kota sudah mulai menuju dan 'meniru' Jakarta, khususnya pada kawasan yang bersinggungan dengan titik-titik pembangunan jalan. Yang sering saya lalui adalah kawasan Jalan Baru, dimana tiba-tiba saya seperti melihat "Jakarta" di Bogor Kota. Ada flyover, underpass, jalan tol, gerbang tol, rambu-rambu yang mengancam, lampu jalan yang tinggi-angkuh, tiang-tiang reklame yang mengotori pemandangan. Kawasan ini terasa 'gersang', gersang fisik maupun jiwa. Elemen-elemen keras berterbaran, sementara elemen-elemen hijau yang menenangkan mulai perlahan hilang. Hal ini diperparah oleh perilaku pengendara kendaraan yang juga makin liar. Semua kendaraan memang melalui kawasan Jalan Baru ini. Melimpah ruah. Sebenernya sedih juga liat pembangunan di kawasan ini yang makin bagus. Ironis sih, infrastruktur membaik tapi nuansa 'Jakarta' tampak makin nyata.

Jika kamu pengendara kendaraan, apapun jenisnya, cobalah untuk taat peraturan lalu lintas dan tidak merugikan orang ya. Setidaknya nggak memperburuk keadaan :)


Mabok eco

Beberapa istilah eco yang pernah saya baca, lihat, dengar, dan bikin sendiri (halah..) coba dirangkum dalam catatan nggak penting ini:

Eco-friendly : ramah lingkungan; siapa saja disambut dengan senyuman (mari mas,, mbak,, silahkan dinikmati hidangannya..)
Eco-design : desain yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan (kursi rotan, meja dari bambu, rumah adat, budaya *eh)
Eco-persepi: persepsi seseorang terhadap ekologi
Eco-aesthetic: keindahan yang ekologis, berkelanjutan
Eco-sexy: yang ini mah istilah tetangga blog saya =__= ; kondisi seseorang yang memakai baju batik yang ukurannya kekecilan
Eco-flush: toilet yang bisa membilas dengan takaran air yang efisien
Eco-couple: pasangan yang bisa memanfaatkan alam untuk berkencan (ini nemu di majalah)
Eco-tourism: wisata berbasis ekologi; minim kerusakan agar berkelanjutan (lanjuut..)
Eco-feminisme: hmm,, ini istilah di kuliah.. tapi yang kebayang aini-aini gitu. Mungkin istilah untuk wanita yang feminin yang sadar ekologi kali ya?
Eco-house: rumah yang ekologi
Eco-logy: mata kuliah yang ada di lenskep
Eco-man: manusia yang berpikiran ekologi

Eco Satrio Danakusumo: nama orang =_+

Bipolar feeling

Untunglah ada temen ngasisten yang juga suka doyan makan dan ngemil (terus kenapa..hhaha). Perhatian ke dosen hanya sekelebat mata saja. Kebanyakan curi-curi waktu buat ngobrol. Praktikum kali ini belajar kata bipolar. Yeah, dua kata sifat  yang merupakan lawan kata. Kata bipolar digunakan dalam metode semantic differential untuk melakukan penilaian keindahan. Konyolnya, praktikan di kelas ada bikin kata-kata bipolar yang nggak umum seperti suci - ternoda, indah - seronok.. hrrrr.. Yeah, praktikan saya ini adalah angkatan di bawah saya yang beda banget sama angkatan saya. Mereka sangat rajin dan rajin bertanya. *geleng-geleng kepala *tobat *ada apa dengan mereka ya.

Okey, saya udah dapet materi bipolar ini tahun lalu, pada jam dan tempat yang sama. Kata bipolar..hmm..yeah bipolar feeling yang kurasakan saat ini mungkin:

lapar - kenyang
bosan - seru
sepi - ramai
kampus - kosan
kota - desa
jalan-jalan - nggak jalan-jalan
nulis - nggak nulis
statistik - nggak statistik
ngeblog - nggak ngeblog
ngemil - ngemil
ngemil - ngemil
ngemil-ngemil

Huff..tiga kata terakhir adalah kata yang nggak ada bipolarnya buat saya. Bodo ah, ngemil banyak yang penting besok pagi lari. Seenggaknya perut nggak buncit-buncit amat. 





Menggendut dan instagram.

Sepertinya orang stres itu kemungkinannya cuma ada dua: kalo nggak menggendut, ya mengurus (EYD-nya udah bener belum ya). Tapi sepertinya menggendut yang tepat buat saya, soalnya akhir-akhir ini dan sepertinya untuk beberapa waktu ke depan saya rajin mengemil. Apa saja dicemilin. Dan timbangan pun menunjukkan angka berkepala tujuh,, rrrr..
Lucunya, saya punya partner in crime untuk masalah ngemil-mengemil. Sebut saja Icha, 24 tahun. Teman saya yang baru pulang dari negeri samurai ini doyan banget ngemil. Hahahah..merasa ada teman sependeritaan (apanya yang menderita). Ngemil itu bukan dosa :P Yeah, Icha rajin mengirim foto-foto masakan dan makanan yang seru-seru. Mau nggak mau saya sering merasa lapar. Nggak apa-apalah. Kalo urusan referensi makanan unik dan bernilai sejarah warisan ada tetangga blog saya (hehehe), nah kalo referensi makanan yg tampilan menarik mungkin Icha jagonya. Gantian deh saya balas dengan mengirim makanan-makanan yang sepertinya biasa aja seperti risol, lontong, serba gorengan. Percakapan yang terhubung jadinya kocak sih, selalu dalam kerangka berpikir "makanan/cemilan" bhahaha.. Ternyata hidup ini lucu. Tak cukup berteman dengan tetangga blog saya, dimana saya dan dia selalu terhubung dalam kerangka berpikir "budaya". Budaya,,wisata,,bhahaha *mabok.
Yeah,, jaman makin canggih. Apa-apa di-instagram-in. Diburek-burekin, dikasih frame, dibuat terasa tempo doeloe, seakan-akan bersejarah *eh, dan jadinya tampak elegan. Kebetulan saya adalah pendatang baru yang lagi doyan maenan instagram. Lama-lama saya mikir kenapa foto mesti dipalsukan dengan efek-efek ya?? Ya supaya bagus lah. Dan lama-lama, saya merasa bahwa tanpa filter sejatinya lebih baik. Hanya foto. Efek hanya pemanis, bukan esensi (halah..) Dan kemudian saya jadi malas buka twitter (biasanya rajin liat berita terbaru), malah seneng buka instagram. Dasar, anak sok gahul (note to myself :P). Dan punya instagram memang bikin gendut. Yang difollow malah instagram makanan..cemilan.. rrrrrr....

Senin, 31 Maret 2014

Meet up PARE at Botani

Kakak kelas kami, Doddy, sedang kembali ke tanah air. Saatnya alumni PARE kembali berkumpul! *bacanya pare ala logat inggris ya bukan dibaca pare sayuran :D. Alhamdulilah, beruntung kami semua sedang kumpul di kota hujan Bogor, jadilah Botani Square sebagai venue kami untuk meet up.
Seakan udah seabad nggak ketemu, tempat kumpul kami serasa milik kami aja, hehe. Berisik seru! Gimana nggak, Kak Doddy adalah guide setia kami - kontingen asal Indonesia - saat berkunjung ke Sapporo tahun lalu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu tulisan-tulisan Jepang, hehehe. *saya cuma tahu huruf 'no' yg mirip huruf 'e'.. wkwkwk* Kak Doddy juga yang jadi konselor halal kami selama mencari makan dan jajan di Sapporo. Tempat-tempat seru di sana dia juga yang menjelaskan kepada kami dengan senang hati. Always highways, begitu sih motto hidup dia, ahahaha.. Topik obrolan kami (dan nggak ada bosan-bosannya) adalah seputar perkembangan teman-teman PARE kami yang makin seru aja. Tak lupa kedodolan kami selama di sana: diungkit-ungkit lagi tanpa ampun. Dikupas semua secara tajam, setajam golok. Bahahaha.

Tiga jam ngobrol memang nggak kerasa. Banyak banget yang pengen diobrolin. Alamat bakal diusir Botani kalo ga pergi-pergi. Akhirnya, sesaat setelah Tara, temen Sapu dateng, kami langsung pamit pulang. Kak Doddy juga harus kembali ke Jepang. Pertemuan yang amat singkat di tengah-tengah kesibukan kami (sibuk nggak sibuk sih kalo aku, asal timing-nya bisa mah ayok aja hehe). Temen-temenku yang lain aku juga salut: masih menyempatkan untuk bisa kumpul. Yeah, berkumpul adalah obat mujarab untuk pembangkit mood.
Semoga ada kumpul-kumpul PARE lagi yang lebih seru :-)

Haik chiizuu! Tawakiki smile please! :D



Taman Mini

Liburan singkat kemarin saya bikin taman mini. Bukan Taman Mini Indonesia Indah ya..haha. Ini adalah taman mini dalam artian sebenarnya. Bener-bener mini. Ceritanya rumah kakak halamannya mau didesain ulang. Jadilah saya iseng bikin konsep. Konsepnya sih healthy-natural-minimalist *konsep ngarang-ngarang :P.

Bahan-bahannya adalah:
1) batu koral tabur ukuran sedang (Rp 30.000-40.000/karung);
2) rumput gajah mini (Rp 25.000 per meter)
3) lili paris (Rp 1500/polibag)
4) ophiopogon (Rp 1000/polibag)

Cara membuatnya adalah: ratakan permukaan tanah, lalu tanam lempeng rumput gajah mini dengan jarak 10-15 cm. Untuk area yang akan ditaburi batu, padatkan dulu tanahnya lalu isi dengan pasir setebal 5-10 cm. Padatkan lagi. Tabur deh dengan batu. Perhatikan drainase-nya ya. Drainase ini penting untuk membuang kelebihan air saat hujan ataupun lagi nyiram halaman. Kebetulan area yang akan diisi batu adalah pijakan tangga serta area di bawah teritisan.
Lalu tanamlah lili paris dan ophiopogon sebagai border. Jangan lupa disiram. Beri pupuk kompos, atau air bekas cucian air hujan kalo males beli. Voila... this is it.. Jadi deh taman mini-nya. Bisa buat refleksi lho, atau buat nimpuk orang, hahahaha.. Jalan-jalan aja di atas batu sampe bosen kalo lagi ga ada kerjaan. Gas di rumah lagi habis padahal pengen masak? Bisa bikin api lho ala-ala anak pramuka, adu aja batunya + ranting kering, hihi :D
Selamat mencoba.

Tahap persiapan. Siapkan lahan yang akan ditanam. Ratakan permukaan tanah.

Padatkan tanah pada area yang akan ditaburi batu. Tambahkan pasir lalu taburkan batu. Jangan lupa drainasenya. Bisa pakai paralon diameter kecil untuk buang kelebihan air yang selanjutnya dialirkan ke pembuangan air. Sisa lahan lalu ditanami rumput gajah mini.

Voila, this is it. Taman mininya jadi deh. Budgetnya emang mahal di batunya sih. Kalo tanaman mah murah kok. 

Kamis, 27 Maret 2014

Politik?

Banyak yang berpendapat kalau politik itu kotor. Yaudah, rendem,,, terus kucek,,, jemur :D Sebenarnya pikiran kaya gitu yang selama ini bikin kita terstigma bahwa politik itu kotor. Banyak hal di dalam kehidupan yang kita dapat sebagai dampak dari kegiatan politik. Misalnya, kebijakan untuk beasiswa atau BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Siapa coba yang merumuskan kebijakan beasiswa untuk sekolah kalau bukan para pejabat yang duduk di pemerintahan? Apa tau-tau turun dari langit begitu tringg.. Tentu ndak begitu pemirsa, hehe. Ada politik yang berperan disitu. 
Kemudian terkait jaminan kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ya itu juga hasil dari politik juga. Bikin KTP? Ngurus surat-surat, paspor segala macam. Sebenarnya itu juga politik karena terkait dengan pemerintah asing. Naik pesawat terbang kalau nggak ada perjanjian politik nggak boleh tuh mendarat seenaknya. Misal: saya mau umrah terus kalau kedua belah pihak pemerintah nggak sepakat membuka hubungan diplomatik ya nggak bakal bisa mendarat di bandara sana :D

Yeah, tahun ini (katanya) adalah tahun 'panas' karena masyarakat Indonesia akan melangsungkan pemilihan umum. Sedihnya, banyak teman mahasiswa saya yang notabene sudah mengenyam bangku pendidikan yang cukup baik malah memilih untuk golput, alias golongan putih (putih putih melati alibaba.. merah merah delima pinokio..)
"Semua partai sama aja, korup semua."
"Nggak ngefek milih kok, hidup tetap berjalan.." dan sejumlah alasan-alasan lain mereka kemukakan.

Konsekuensi hidup di negara demokrasi yang berbentuk republik seperti Indonesia ini, akan berdampak pada mekanisme perpolitikan melalui keberadaan sejumlah partai. Tidak ada partai yang tidak korup, begitu asumsi saat ini. Semua partai maupun caleg hanya ngincer duit, ibarat kata kasarnya seperti itu. Yah, tiap hari berita di media massa tiada bosannya melaporkan kasus korupsi. Sampe bosan dah nontonnya.

Saya barangkali beruntung sempat nyicip dunia perpolitikan kampus. Sedikit banyak jadi tahu bagaimana mekanisme pemilihan ketua senat (voting, atau musyawarah, bagian dari perpolitikan), mengevaluasi anggaran dari para himpunan profesi (budgeting, bagian politik juga), bermusyawarah dengan teman-teman dari lembaga lain (politik juga,,). Sempet mengalami juga namanya intrik dan tipu muslihat: saat pemilihan presiden mahasiswa. Black campaign. Representasi Indonesia dalam wujud kehidupan kampus.

Ngomongin politik ngeri banget ya..hehe

Tapi ya itu. Politik yang sekarang dipahami oleh banyak orang hanyalah politik praktis: yang tampak saja. Coba kamu perhatikan, saat kamu di rumah misalnya, merembukkan destinasi jalan-jalan bersama keluarga juga bagian dari politik lho.
"Pa, saya nggak mau ke pantai,, saya mau udara yang segar," kata anak yang satu.
"Pa, saya nggak mau ke gunung, saya pasti kedinginan," kata anak yang lain.
"Pa, Mama nggak mau yang jauh-jauh, nanti capek," Mama turun bicara.
"Yasudah, kita jalan-jalan ke taman kota saja yuk. Dekat dari rumah, udaranya segar, yang pasti juga ga capek," ujar sang Ayah bijak mengakhiri sesi 'lobi politik' bersama anggota keluarganya. Bayangkan, apabila si Mama itu nggak ikut serta dalam lobi tersebut. Apatis.

Nah lho. Politik lagi. 

Udah pada ambil kuliah statistik kan ya? Hehe,, Pasti kamu bisa menilai setiap partai dengan beberapa variabel yang nantinya bisa dipilih mana partai yang sesuai dengan kriteria. Apapun bisa kamu buat menjadi variabel untuk menilai. Pastilah ada partai yang memiliki nilai yang tinggi dong.

Jadi, buat kalian warganegara Indonesia, seharusnya ikut berpartisipasi dengan memilih wakil ralyat untuk duduk di pemerintahan. Kalau kamu apatis, masa bodoh, cuek, golput,,,sebenarnya bisa dipertanyakan status kewarganegaraanmu. Kamu itu WNI atau bukan sih? Jangan-jangan warga planet Mars, hehe... Udah saatnya kita lebih terbuka wawasan dan pikiran.. Banyak baca dan menganalisis informasi. 

"Trus kalo saya milih partai X trus kalah gimana dong? Aspirasi saya gimana? Rugi juga kan jadinya.."
Weits,, lumrah banget seperti itu. Menurutku, dengan masyarakat berjuta-juta kayak gini, peluang dan kombinasi yang muncul mutlak terjadi. Setidaknya dengan berusaha mencari tahu informasi yang benar, kita akan punya dasar untuk memilih partai apa. Gitu. Milih partai aja belum tentu menang, apalagi nggak milih? Sama kaya pakai helm aja mungkin masih mengalami kecelakaan apalagi nggak pakai helm?

Jadi, say no to golput ya :D

soundcloud dan arti mendengarkan

Beberapa teman artis saya di Tengtong Family 43 menyukai soundcloud. Saya mengartikannya sebagai 'suara awan', haha. Nggak minat awalnya dan nggak pernah buka juga itu yang namanya soundcloud. Tetapi saat saya iseng membuka soundcloud teman-teman artis saya itu, saya langsung suka. Lagu yang antimainstream menurut saya. Bagus. Easy listening. Mengingatkan saya pada koleksi kaset jadul Bapak yang ada di almari ruang tamu di rumah. Bapak suka Koes Plus,Teti Kadi, Ebiet, dan artis-artis Indonesia lama lain (saya enggak hapal). Saya menyebut lagu-lagu Koes Plus dan teman-temannya sebagai lagu abadi - legenda.  Bapak dan Mama otomatis mendendangkannya saat stasiun radio tengah memutar koleksi lagu lama.

Mendengarkan memang menyenangkan. Mengapa saya baru menyadarinya ya? Ternyata lewat lagu-lagu yang teman saya mainkan, saya bisa melamun panjang dan berangan-angan. Saya tinggal klik-klik ikon 'play' saja di soundcloud. Selain lagu, bisa juga ternyata ya mengunggah cerita di soundcloud. Mbak Ika, teman artis saya, mengunggah cerita tentang anak berkebutuhan khusus yang mengalami sindrom Down (tuna grahita). Bagus lho. Meski saya tak tahu seperti apa videonya, tetapi cukup mendengarkan saya bisa merasakan dan meresapinya *jjiaah.. Berkat Mbak Ika, saya jadi bisa tau lagu Indonesia jadul, haha.. (suwun mbak Ik). Ada juga teman artis saya, Dicky dan Tish, yang pernah nggonjreng gitar bareng. Menyanyikan lagunya Kotak. Dan itu sangat kocak dan menghibur saya :D Saat saya mendengarkan suara mereka via soundcloud, sekelebat saat itu juga saya seperti melihat mereka dalam pikiran saya. Tish sendiri pernah mengisi narasi untuk video tugas kelas saya lho. Bagus dia mengisinya. Asli, mirip seperti mbak-mbak presenter di televisi :D.

Dalam pikiran saya, bagi banyak orang, mendengarkan lagu mungkin adalah romantisme tersendiri. Berbeda rasanya saat menonton film: visual dan audio dipadukan. Pikiran sudah diarahkan pada visual yang disajikan. Beda ketika kita diharuskan mendengarkan. Sama halnya ketika mendengar suara Ibu menelepon via ponsel, menanyakan kabar. Tidak ada wujud ibu yang tampak: hanya suara beliau saja. Tapi dalam pikiran saya langsung terbayang wajah ibu yang panik. Atau ketika saya mendengarkan suara hujan lebat turun: teringat rumah dan mendadak panik dengan banjir. Atau ketika saya mulai jengah mengetik laporan akhir saya ini: saya lalu menyalakan mp3 dengan macam-macam aliran: dangdut, pop, rock, bahkan instrumental biola yang justru bikin tidur. Atau saat Jumat tiba: terdengar lantunan ayat suci pertanda waktu shalat akan segera tiba.

Jadi orang memang harus mau mendengarkan. Sedapat mungkin dengarkan yang baik-baik ya :D
Listening is not just hearing.